
Arshaka Dean kembali lagi ke tempat di mana dirinya bisa bertemu dengan Edmund. Tempat yang paling misterius, tempat yang tak pernah mereka kunjungi, tempat pertemuan antara ruang kehidupan dan ruang kematian. Pertemuan yang tidak akan pernah terjadi, jika keduanya tidak saling terikat, tidak saling percaya.
“Siapa si adik itu, Kakak? Apakah itu aku? Apakah, orang tua yang kau sebutkan itu juga ayahku?” tanya Edmund.
Kisah masa lalu itu juga dilihat langsung oleh Edmund, tapi Edmund tak paham dengan anak kecil yang bersama dengan Arshaka Dean itu, karena setiap kali Edmund ingin melihat ke arah anak kecil itu, wajahnya selalu menunduk, tak jelas terlihat.
Arshaka Dean tak langsung menjawab pertanyaan dari Edmund, dia melihat Edmund, ia perhatikan dari atas kepalanya, hingga bawah kaki. Arshaka Dean senang, bisa melihat Edmund dengan keadaan berdiri dan berbicara, tidak seperti hari-hari yang ia lalui yang hanya bisa berkomunikasi melalui grafik dari alat kesehatan di rumah sakit, sedangkan Edmund terbaring tak merespons.
“Rahasia paling besar dari hidupku, bukanlah kondisiku yang tak biasa, Edmund, aku menaruh hal lain yang paling besar untuk diriku sendiri,” ujar Arshaka Dean.
Edmund duduk menghadap pada Arshaka Dean, menanti kisah lain yang pasti akan membuat hidupnya lebih bermakna lagi. Arshaka Dean menatap fokus mata Edmund, semilir angin sejuk datang lagi, menghibur hati keduanya yang sedang risau.
“Pada saat itu aku tidak berdaya melawan orang tua itu, Edmund, tubuh kecilku tak mampu melawan orang tua yang kejam itu.” Arshaka Dean menjeda perkataannya, untuk menarik napas, dan menenangkan pikiran.
“Kau terbaring koma selama beberapa minggu, dan tidak pernah terbangun lagi, hingga sekarang. Orang tua itu tidak pernah tau jika aku membawamu keluar dari sana. Ibu pergi setelah pertengkaran besar dengan orang tua itu, meninggalkan kita dibawah asuhan senjata dan kata-kata kasarnya,” lanjut Arshaka Dean.
Arshaka Dean melihat Edmund kembali, menatapnya penuh kasih sayang. “Rahasia terbesarku, bukan karena aku mempunyai jiwa lain, Edmund, rahasiaku adalah kau, Edmund. Kau adik kandungku, kita saudara kembar, kau memintaku untuk menjadi kakakmu, tapi aku tidak menjagamu dengan baik, aku gagal, Edmund.”
Arshaka Dean dan Edmund Dean sejatinya pernah hidup bersama sebelum kekejaman itu merenggut keceriaan keduanya. Arshaka dan Edmund merupakan anak kembar yang dilahirkan dari seorang wanita hebat, tapi kemudian ibu mereka tidak sanggup lagi menahan setiap perlakuan kasar dari ayah mereka, dan memutuskan meninggalkan Arshaka dan Edmund di tangan ayahnya.
“Kau masih hidup Edmund, kau masih bersamaku, aku yang merawatmu hingga hari ini, aku pastikan kau aman dalam pengawasanku, Edmund. Aku berjanji padamu, aku akan menebus kesalahanku waktu dulu.”
Edmund masih koma hingga detik ini, sudah berpuluh-puluh tahun lamanya Arshaka Dean menanggung semua rasa bersalahnya. Setiap kunjungannya ke rumah sakit, Arshaka Dean selalu menangis di samping tempat tidur Edmund yang terpasang alat-alat medis lengkap di tubuhnya.
Itulah yang menyebabkan Arshaka Dean sulit melupakan trauma itu, bagaimana tidak, ia melihat perkembangan tubuh Edmund, tetapi Edmund tidak kunjung tersadar. Tubuhnya sudah hampir sama dengannya, tapi Edmund tidak pernah membuka matanya. Bagaimana mungkin Arshaka Dean baik-baik saja jika melihat saudaranya masih lemah seperti itu.
Frustrasi dan depresi atas guncangan itu, membuat Arshaka Dean mulai kehilangan dirinya, dan memaksa tubuhnya untuk bekerja dengan keras, sehingga tanpa sadar ia menciptakan Edmund pada dirinya sendiri.
“Edmund, kau masih hidup,” ucap lirih Arshaka Dean.
Setelah mengatakan itu dirinya hilang, tertelan oleh pusaran misterius, meninggalkan Edmund yang tersenyum pada Arshaka Dean. Dalam pusaran hitam itu, seakan Arshaka Dean dapat merasakan tubuhnya kesakitan, juga mendengar teriakan-teriakan yang entah dari mana datangnya.
***
Kumpulan anak buah Victor melihat dengan jelas bahwa Edmund telah menutup mata, tak berdaya, namun Victor masih menjambak rambut Edmund begitu erat. Suasana sudah tidak terkendali, anak buah Victor mundur, ruangan itu terasa begitu dingin, menusuk setiap tulang mereka.
“Bangun kau bocah tengik!” teriak Victor.
“Bos, dia sudah—“
“Diam kau! Jangan menghalangiku!” teriak Victor.
Tangan yang tengah menjambak rambut Edmund, tiba-tiba diremas kuat, Victor tersadar. Ia perhatikan jejak tangan itu, tidak mungkin, itu tangan Edmund, jelas-jelas Edmund tengah tak berdaya dan terikat, tidak mungkin.
“Jangan pernah kau sentuh dia lagi,” ucap suara berat yang amat dikenal oleh Victor.
Benar, Arshaka Dean terpanggil, ia penuhi janjinya pada Edmund, mulai sekarang ia akan menjaganya. Ini adalah kisahnya, akan ia tuntaskan hingga akhir, ia tidak peduli lagi siapa yang sedang ia hadapi.
Arshaka Dean memutar kuat tangan Victor, tanpa aba-aba, membuat Victor sedikit meringis, tapi sedetik berikutnya Victor membalas Arshaka Dean dengan tamparan yang sangat kuat.
“Kau sudah kembali?” Tawa Victor menggelegar, merasa di atas angin sudah mengeluarkan Arshaka Dean dari dunia sana.
“Ayah sudah kembali, Nak,” ucapnya pada Arshaka Dean.
Arshaka Dean mendengus, ia tak pernah menginginkan ayah seperti Victor, tidak pernah. Baginya tidak ada lagi ayah di dunianya, setelah Victor membuat Edmund tak kunjung sadar hingga detik ini. Arshaka Dean sudah memutuskan hubungannya, begitu ia keluar dari tempat yang bagai neraka itu.
“Ars?” pekik keras pria yang sudah membawanya ke hadapan Victor ini.
“Kau, kau yang membawaku ke sini?” tanya Arshaka Dean tak menyangka, tapi tak membuatnya terkejut.
“Apa yang dia janjikan, hingga kau seperti ini padaku, Watson?”
Watson? Benar, pria yang mengelabui Edmund sejauh ini adalah Watson, orang yang dipercaya oleh Arshaka Dean, orang yang telah berteman dengannya dari lama. Watson menatap Arshaka Dean, topengnya terbongkar, raut wajahnya tak lagi bersahabat.
“Kenapa? Apa kau pikir aku akan selamanya di sisimu? Tidak, kau hanya bermimpi selama ini, aku tidak pernah ada di sisimu, Arshaka Dean,” jawab Watson.
Pengkhianat dari tubuhnya ternyata temannya sendiri, tapi Arshaka Dean hanya tersenyum. “Kau pikir, jika kau ada di pihaknya, dia akan menuruti keinginanmu? Tidak, Watson, bahkan anaknya sendiri dia bunuh!” teriak Arshaka Dean.
“Ternyata kau bisa cerewet seperti ini, Nak, sudah tidak ada lagi main-main, kembalilah padaku, Nak,” ucap Victor.
“Untuk apa?! Agar kau bisa melampiaskan semuanya padaku lagi, seperti waktu dulu! Jelas-jelas kau ingin membunuhku.” Arshaka Dean berang, ia segera berdiri, seolah tak pernah merasakan luka di sekujur tubuhnya. “Kau tidak seharusnya hidup!” Arshaka Dean angkat kursi yang didudukinya, dan menghantamkannya ke tubuh Victor.
Arshaka Dean berhasil meloloskan diri dari ikatan kuat itu, selama dirinya berbicara ia berhasil mengulur waktu, dan menggunakannya untuk melepaskan ikatan di kakinya. Semua orang terlalu fokus dengan perkataan Arshaka Dean, hingga tak menyadari pergerakan kaki Arshaka Dean yang cepat.
“Habisi dia!” seru Victor.
“Aku tidak akan mendiamkanmu kali ini, kau bedebah!” teriak Arshaka Dean.
Victor terlihat terkejut saat Arshaka Dean tiba-tiba meninju wajahnya dengan keras, Arshaka Dean terus memukul Victor. Beberapa anak buah yang mendekat padanya berhasil ia halau dengan enteng, meskipun sendirian Arshaka Dean tetap tidak akan terkalahkan.
Arshaka Dean jelas tau tujuan penyekapan dirinya ini, ayahnya sudah lama ingin menghabisi nyawa Arshaka Dean. Setelah Levon berhasil dilumpuhkan oleh Arshaka Dean, rupanya ayahnya memutuskan untuk terjun langsung dan menggunakan Watson sebagai umpan.
Watson sudah lama berada di kubu Victor, mereka bisa saling mengenal karena tujuan keduanya sama, yaitu untuk menjatuhkan Arshaka Dean.
Perkelahian mereka terus berlanjut, hingga wajah-wajah mereka tak berbentuk, pada saat itu, tiba-tiba pintu terbuka, seseorang masuk dengan cepat, nyaris melayang menghalau orang-orang yang mendekati Arshaka Dean.
“Ars! Kami di sini!”
“Rumi!”