
Terhitung sudah dua kali, Albert dikejutkan dengan sebuah berita pagi ini. Ia tidak ingin berlebihan, tetapi ia juga tidak bisa menahan segalanya sendirian. Belum sempat ia bernapas dengan lega, Edmund sudah memberinya beban baru. Tidak ada yang bisa Albert lakukan, ia hanya mengacak rambutnya frustrasi.
Permintaan Edmund memang tidak seberapa, tetapi dampak yang ditimbulkannya, akan lebih beresiko dari keputusan Robert. Menerima keputusan Robert saja sudah terlalu sulit dan cenderung dipaksakan, Edmund sudah menambah beban baru. Ini menyadarkan kita semua, bahwa kehidupan itu sulit dan kadang terlalu jauh dari ekspektasi kita.
“Kenapa, Paman?” tanya Edmund heran.
“Ada yang salah, kau tampak sangat kusam hari ini?” tanya Edmund lagi.
“Apa yang kau minta barusan, Edmund?” Albert tidak menjawab setiap pertanyaan Edmund, ia sudah tak sanggup lagi mencerna semuanya sekaligus, tetapi bagaimana lagi Edmund juga atasannya, ia harus melayaninya juga.
“Aku ingin penangkaran kupu-kupu, Paman,” kata Edmund dengan senyuman indah di wajahnya. Hati Edmund sangat menggebu-gebu ketika mengatakan keinginannya, bahkan ia sudah merinci tentang apa yang harus disiapkan untuk sebuah penangkaran kupu-kupu. Berbeda dengan Edmund, Albert saat ini sedang dirundung bingung dengan apa yang diminta oleh Edmund, ia sempat memikirkan cara untuk menolak keinginan Edmund, yang urung dilakukan Albert.
“Robert, kau juga bisa membantuku,” ujarnya pada Robert yang masih mencerna setiap kata yang diucapkan Edmund.
“Tapi, untuk apa?” tanya Albert di tengah kebingungannya.
“Aku ingin melihat perkembangan kupu-kupu dan masih banyak lagi yang ingin aku pelajari,” jawab Edmund.
“Kau bisa melihatnya di berbagai video, Edmund. Kenapa harus repot-repot membangun sendiri?” tanya Robert.
“Aku ingin melihatnya secara langsung, Robert. Dengan mata kepalaku sendiri. Bisakah kau mengijinkannya, Paman?” desak Edmund kepada Albert.
“Tidakkah, kau mempunyai keinginan yang lain, Edmund?” tanya Albert putus asa, meskipun tidak mungkin Edmund mengganti permintaannya, tetapi Albert tetap berusaha.
“Aku hanya tertarik dengan kupu-kupu saja, Paman.” Hancur sudah benteng pertahanan Albert, sudah tidak ada lagi celah untuk membuat Edmund berubah pikiran, mau tidak mau Albert harus mengijinkannya.
“Baiklah, jika begitu. Tapi, Edmund, pertama-tama, kita harus membuat perencanaan dan mencari tempat yang tepat,” usul Albert.
“Ah, itu sudah aku pikirkan dengan matang, tempatnya aku pilih di dekat tempat Kakak biasa meditasi, bagaimana, Paman?” Kejutan ternyata belum usai, Albert berulang kali mendapat hantaman telak, tempat yang diminta Edmund adalah tempat sakral, tidak ada seorang pun yang berani menjamah tempat itu. Tidak ada yang bisa menahan keinginan Edmund, meskipun itu taruhannya adalah kemarahan Arshaka Dean.
“Aku sudah semangat, Paman, ayo segera siapkan semuanya!” seru Edmund.
“Aku akan dapat masalah, Robert,” ucap Albert lirih.
“Maafkan aku, aku tidak bisa mencegahnya, Albert,” kata Robert.
“Ayo, Paman, tunggu apa lagi?” Matanya sudah berkeliling mencari penghuni mansion lainnya, pekerja di sana banyak, pasti akan cepat selesai, itu yang dipikirkan Edmund.
“Apa boleh buat. Ah, ayo Edmund, apa saja yang harus kita persiapkan?” Albert pasrah.
“Apa tempatnya sudah disetujui, aku memaksa?” tanya Edmund.
“Boleh, kali ini aku ijinkan,” jawab Albert.
“Aku tau kau pasti bisa mengatasi, Kakak. Ayo cepat, Paman, aku sudah tidak sabar,” ujar Edmund.
“Presentasi?” tanya Albert dan Robert bersama.
“Iya, betul, kenapa semua orang terkejut, aku akan presentasi dan itu juga harus dihadiri oleh semua orang di mansion ini. Kita harus mengadakan rapat, Paman, dengan begitu aku bisa memberitahu semuanya secara langsung,” jelas Edmund.
“Ruang rapat selalu sedia, bukan? Kakak pasti sering mengadakan rapat di mansion ini, aku ingin meminjam tempatnya sebentar,” katanya lagi.
“Baiklah, Edmund, ayo kita lakukan.” Albert, Edmund dan Robert mulai bergegas.
Keinginan Edmund begitu menggebu-gebu, semuanya telah terangkum dalam benak Edmund, bagaimana bentuknya, apa yang harus ada di dalamnya, hingga detail apa yang harus dibubuhkan pada penangkaran kupu-kupu yang sangat diinginkannya. Albert langsung mengerahkan semua pasukan yang berada di mansion itu, untuk segera mempersiapkan diri.
“Kumpulkan semua orang di ruang rapat, sekarang,” pinta Albert pada salah satu pasukan tukang pukul Arshaka Dean yang sedang menyamar jadi bodyguard.
“Siap!” serunya, ada pertanyaan tentang tujuan perintah Albert kali ini, tetapi urung ditanyakan ketika melihat raut wajah Albert begitu keruh dan terlihat tidak bersahabat, tidak seperti biasanya. Daripada mendapat getah dari keingintahuannya, lebih baik jika ia segera bergegas untuk mengumpulkan semua orang.
Edmund dengan riang mulai memasuki ruang rapat yang biasa dipakai Arshaka Dean untuk menyusun rencana penyerangan maupun rencana penyusupan. Ruangannya luas, mewah dan didominasi dengan warna hitam, baik meja panjang yang melintang di tengah-tengah ruangan itu, maupun kursi-kursi yang melingkar di antara meja panjang itu, meskipun semuanya hitam tetapi ruangan selalu terang dengan cahaya lampu yang bisa diatur sesuai kebutuhan. Ketika memasuki ruangan rapat itu, kesan pertama yang akan dirasakan adalah mencekam dan formal, menghipnotis semua orang untuk bersikap siap dan patuh.
Semua penghuni mansion telah berkumpul di ruangan rapat, sesuai instruksi dari Albert. Edmund sudah menyiapkan bahan presentasinya, sebelum semuanya berkumpul, Edmund menyiapkan semuanya dengan cepat membuat Robert dan Albert takjub. Semua yang datang berharap-harap cemas, juga khawatir dengan rapat yang tidak biasa ini. Sebelumnya mereka kira Arshaka Dean sudah kembali, tetapi ketika melihat senyum di wajah Edmund, mereka bisa memastikan jika Arshaka Dean belum kembali. Kendatipun demikian, mereka masih diliputi kekhawatiran, karena tidak ada yang tau dengan rencana Edmund selain Albert dan Robert.
“Semuanya sudah berkumpul, Edmund,” kata Albert mengingatkan.
“Ah.” Albert melihat sekeliling, ternyata banyak juga penghuni mansion jika dikumpulkan dalam satu ruangan.
“Terima kasih sudah meluangkan waktunya. Aku butuh bantuan banyak orang, bolehkah aku meminta tolong?” ucap Edmund memulai pembicaraan.
“Katakan saja Edmund, kami akan berusaha sebisa kami,” ujar salah satu tukang pukul.
“Ah, baiklah, begini aku ingin membuat sesuatu.” Edmund menampilkan rancangan penangkaran kupu-kupu di layar besar yang terhubung dengan laptopnya. “Aku ingin membuat ini, sebuah penangkaran kupu-kupu,” lanjutnya.
Semua yang hadir terkejut seketika, mereka mulai riuh dan saling lempar tatapan mata satu sama lain. Salah satu dari mereka bahkan mengonfirmasi kepada Albert dengan gerak halus yang cepat dipahami oleh Albert, sedangkan Albert hanya menjawab dengan anggukan kepala. Edmund memperlihatkan sebuah penangkaran kupu-kupu berbentuk setengah lingkaran, dengan dinding yang dikelilingi oleh kaca dan detail yang menakjubkan, serta ditutup dengan pintu kaca yang dihiasi lukisan bunga dan kupu-kupu. Jika ini berhasil, ini akan menjadi penangkaran terindah yang pernah ada di Ekuador.
“Itu indah sekali, Edmund. Di mana kau ingin membuatnya?”
“Ada satu tempat yang aku suka, itu di tempat biasa Kakak bermeditasi, di sana pencahayaannya bagus, udaranya juga baik, aku ingin membuatnya di sana,” jawab Edmund.
“Edmund?” Suasana tiba-tiba berubah mencekam, sebagian besar yang menghadiri rapat kali ini, mengetahui bagaimana kesakralan tempat yang disebutkan oleh Edmund. Tidak pernah ada yang berani mengusik tempat itu, mendengar Edmund akan membangun sebuah penangkaran di sana, membuat semua orang tercengang dan merasa terancam secara tiba-tiba.
“Ada yang salah, Paman?” tanya Edmund kepada salah satu tukang pukul yang berujar tadi.
“Tidak bisakah kau pertimbangkan kembali untuk tempatnya,” jawabnya.
“Aku sudah memikirkan ini dengan matang, aku tidak ingin tempat yang lain, aku hanya ingin tempat itu. Jika kalian keberatan, aku bisa membuatnya sendiri.” Semuanya merasakan intimidasi yang biasa Arshaka Dean perlihatkan, tidak ada yang bisa menolak lagi, tidak ada yang bisa mengemukakan pendapatnya lagi.
“Ada yang keberatan lagi? Lebih baik bicara dari sekarang!” tegas Edmund.