
Chadla seketika berdiri, dan berlari menghampiri Arshaka Dean yang sudah masuk ke ruangannya. Chadla merasa bersalah karena ketika Arshaka Dean telah sadar, Chadla tidak ada di dekatnya.
“Astaga! Ars!” serunya.
Arshaka Dean melihat sekeliling ruangan Chadla, putih, semua dipenuhi warna putih serta berbagai alat-alat kesehatan terlihat memenuhi ruangan itu.
*Tak kusangka, aku harus berada di ruangan ini lagi, apa aku masih pantas untuk hidup? Kenapa, Kau bangunkan aku lagi? Apakah benar ini kehidupan milikku, ataukah miliknya? Aku kuat, tapi*, batinnya, berbagai tanya ia lontarkan dalam hati.
“Kenapa kau tidak memanggilku?” tanya Chadla penuh sesal.
“Aku bisa berjalan sendiri, Chadla,” ujar Arshaka Dean.
Arshaka Dean melangkah, Chadla sigap membantu, ia bimbing Arshaka Dean hingga ke tempat pemeriksaan. Arshaka Dean terduduk di sana, tempat yang sudah lama menjadi temannya beberapa tahun terakhir ini. Selama yang ia ingat, ia lebih lama terbaring di tempat Chadla dibandingkan dengan kamarnya.
“Kau baru saja sadar, Ars. Aku tidak keberatan untuk membantumu, itu sudah pekerjaanku,” kata Chadla.
“Aku masih kuat, tidak butuh bantuan orang lain,” ujarnya, padahal siang tadi dirinya terkulai lemah tak berdaya.
Rumi ada di sana, ia mengikuti Arshaka Dean hingga ke dalam ruangan Chadla. Ia sudah menawarkan diri untuk membantu Arshaka Dean, tetapi ia juga mendapat penolakan. Keras kepalanya masih sama, Rumi tidak mengerti. Arshaka Dean seperti kehilangan ingatan, ataukah Arshaka Dean hanya berpura-pura kuat? Nyatanya, memang Arshaka Dean paling ulung dalam menyembunyikan luka.
“Kau harus memeriksaku, bukan? Cepatlah, jangan banyak bicara, aku sudah berjalan ke sini dengan kesediaanku, jangan membuatku berubah pikiran,” kata Arshaka Dean.
Ini pertama kalinya Arshaka Dean datang ke ruangan Chadla tanpa paksaan dari orang lain, Chadla baru tersadar akan hal itu. Rasa bersalahnya tergantikan dengan senyum penuh kemenangan di hatinya.
“Baiklah, kau bisa membuka bajumu, aku akan mulai memasang alat ini.” Chadla membawa alat yang biasa ditempelkan di tubuh Arshaka Dean.
Arshaka Dean mulai membuka kancing kemejanya, satu per satu secara perlahan-lahan. Rumi masih ada di sana, melihat semuanya, melihat Arshaka Dean membuka bajunya. Kulit putih Arshaka Dean begitu memikat, bahkan Rumi kini melihat tubuh atletis Arshaka Dean secara nyata. Sempurna, semua yang ada pada Arshaka Dean semuanya sempurna.
Arshaka Dean melirik Rumi. “Kau belum puas melihat tubuhku, Rumi? Apa kau mau menyentuhnya?” goda Arshaka Dean.
“Kau! Keterlaluan, sejenak aku melupakan jika kau baru sadarkan diri,” dengusnya.
“Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Bukankah itu yang kau pikirkan saat ini? Menyentuh tubuhku dari atas hingga ke ujung.” Arshaka Dean masih menggodanya, Rumi terlihat marah bercampur malu, di sana ada Chadla, ia tidak mungkin mengutuk Arshaka Dean begitu saja.
“Cukup!” Rumi berjalan keluar, sudah cukup ia dipermalukan begitu, karena apa yang dikatakan Arshaka Dean benar, semuanya benar. Rumi memang sudah pernah membayangkan tubuh Arshaka Dean sebelumnya, biar bagaimanapun ia wanita dewasa, punya ketertarikan.
“Aku senang kau sudah kembali, Ars, terima kasih dan kumohon teruslah bertahan,” ucap Chadla setelah Rumi keluar dari ruangan itu.
“Dan kulihat, kau bersikap terlalu keras pada Rumi,” ujarnya.
“Apa aku pernah bersikap ramah kepada orang lain, Chadla?” tanya Arshaka Dean dengan senyum sinis.
“Aku tau, tapi apa tidak terlalu berlebihan? Dia seorang perempuan, Ars,” kata Chadla.
“Menurutku tidak, Chadla, dia menarik,” jawab Ars, santai. Chadla mulai memasangkan alat pada kedua sisi dada Arshaka Dean.
Chadla tersenyum tanpa ia sadari. “Apa kau tertarik padanya? Aku senang sekali kau akhirnya mau berinteraksi dengan orang lain.”
“Tidak sejauh itu, aku hanya senang menggodanya saja, aku ingin tau, sekuat apa dia menghadapiku. Anak itu pasti akan bersikap baik padanya, itu tidak ada tantangan, jadi aku harus mengambil alih peran itu,” jelas Arshaka Dean.
“Aku tetap senang,” ucap Chadla, ia membawa papan pemeriksaan, mulai menuliskan statistik yang ditampilkan dari layar monitor di depannya.
“Kali ini aku mati karena apa lagi, Chadla?” tanya Arshaka Dean.
“Entahlah, itu terlihat samar di ingatanku, aku mengingat perbincangan kita di ruangan ini, setelahnya semuanya samar, tapi … apakah aku berlari?” Arshaka Dean menatap layar monitor di sampingnya, melihat pergerakan grafik dari reaksi tubuhnya.
“Aku mengingat sekilas, ada kupu-kupu di sana,” lanjut Arshaka Dean, mencoba mengingat setiap kejadiannya.
“Ada lagi yang kau ingat, Ars?” tanya Chadla kembali.
“Itu saja yang aku ingat, kupu-kupu itu keluar, Chadla, terbang mengitariku. Apa tempat itu tidak dibangun dengan baik? Kenapa kupu-kupu bisa bebas terbang keluar seperti itu?” tanya Arshaka Dean, heran.
Chadla merenung sesaat, Arshaka Dean ternyata benar-benar mempercayai delusinya. Fakta itu membuat perasaannya sakit, pada saat itu, tidak tau kenapa ia teringat kepada Albert. Albert tidak ada di sana, ia tiba-tiba bisa merasakan sakit yang sering Albert rasakan. Perasaan Arshaka Dean ternyata juga terhubung dengannya.
“Ars, kupu-kupu itu tidak pernah keluar, kupu-kupu itu tidak pernah ada di sekitarmu, itu semua hanya bayangan semu,” ucap Chadla, tersenyum getir.
Arshaka Dean tertawa pahit. “Aku terlihat menakutkan juga pasti terlihat sangat aneh, bukan?” katanya.
“Tidak, tidak seperti itu Ars. Itu semua sering terjadi, itu adalah gejala lain yang ditimbulkan atas kondisimu, Ars. Semua pasien yang memiliki kondisi sepertimu, pernah mengalami gejala itu,” jelas Chadla.
“Chadla, aku sudah lelah … sepertinya aku akan mengikuti saranmu, aku bersedia mengikuti terapi seperti yang kau inginkan,” ujarnya.
“Benarkah?!” seru Chadla.
“Kau benar-benar ingin melakukan terapi? Ini semua kau lakukan tidak terpaksa, bukan?” tanya Chadla, penuh semangat.
“Aku sudah lelah dengan semua ini, aku ingin hidup, untuk pertama kalinya, aku menginginkan kehidupanku, Chadla,” ucap Arshaka Dean yang disambut senyum penuh rasa syukur dari Chadla.
“Kau harus hidup, Ars. Tenang saja aku akan membantumu, Ars,” jawab Chadla.
“Albert pasti akan senang mendengar ini,” ujarnya kemudian.
“Dia belum juga pulang?” tanya Arshaka Dean.
“Belum, acara kali ini dihadiri banyak kolega, ia pasti tengah sibuk berbincang dengan yang lain,” jawab Chadla.
Jadwal Albert malam ini belum juga usai, hingga malam tiba Albert masih tertahan di acara penandatangan sebuah proyek. Albert di sana juga sama, tengah gusar menanti kabar dari Chadla, tetapi sepertinya Chadla melupakan itu.
“Adikku juga belum kembali, Chadla? Aku tidak mendengar suaranya,” katanya.
“Sepertinya belum, Ars. Aku belum keluar ruangan setelah memeriksamu sore tadi, aku juga belum mendengar suaranya,” jawab Chadla.
“Dia satu-satunya keluargaku, Chadla,” ujarnya.
“Ars, adikmu belum mengetahui tentang ini, bukan?” Pertanyaan Chadla dijawab gelengan kepala oleh Arshaka Dean.
“Ars, bukankah lebih baik jika adikmu mengetahui kondisimu yang sebenarnya?” kata Chadla.
“Tidak perlu, biarkanlah dulu,” jawabnya.
Rasa takut itu masih ada, Arshaka Dean masih takut dengan penolakan. Fakta yang telah ia sembunyikan sudah terlalu lama, ia takut adiknya menolak menerima kondisi dirinya. Arshaka Dean pernah sendirian, pernah berada di titik paling jauh, ia tidak ingin merasakan itu lagi, ia tidak sanggup melihat kepergian lagi. Untuk saat ini, cukuplah saja, cukuplah dirinya terlebih dahulu yang menerima keadaannya, sebenarnya ia pun sulit untuk memulai.
“Kapan kita akan memulainya, Ars?”