
Mereka berhenti serempak, baik Albert maupun Chadla terkejut mendengar teriakan Ashaka Dean. Albert sepertinya paham apa yang terjadi, Arshaka Dean pasti sudah melihatnya, ia pasti sudah menyadari ada sesuatu yang baru di mansion-nya, jika dari atas seperti ini memang akan terlihat sangat jelas.
Inilah saatnya, semua orang bahkan akan mendengar teriakan lebih keras lagi jika Arshaka Dean tahu apa yang ada di dalamnya. Albert bernapas dengan tenang dan siap menerima semuanya, sebelum Arshaka Dean melakukan sesuatu yang lebih fatal, ia menoleh ke arah Arshaka Dean.
“Apa itu, Albert?!” tanya Arshaka Dean tak sabaran, lantang sekali.
“Itu—“
“Bangunan apa itu, Albert, kenapa ada di tempatku? Siapa yang membuatnya? Untuk apa itu, Albert?” cecar Arshaka Dean memotong perkataan Albert yang hendak menjelaskan.
“Itu sebuah penangkaran—“
Belum selesai Albert menjelaskan, Arshaka Dean sudah bergegas terburu-buru, menuruni anak tangga setengah berlari. Albert dan Chadla mengikutinya dari belakang, penghuni mansion yang lain saling berpandangan melihat Arshaka Dean berlari seperti itu. Tampak depannya memang tidak terlihat, tetapi meski tidak dilihat pun sudah dipastikan wajah Arshaka Dean merah padam.
Arshaka Dean sampai di depan bangunan kaca yang sangat dibanggakan oleh Edmund ini. Iya, Arshaka Dean berdiri di depan penangkaran kupu-kupu tepat di tempat ia biasanya bermeditasi, ia ternganga melihat penampakan bangunan ini. Penangkaran dibangun dengan indah, meskipun begitu, keindahannya tidak sampai mengetuk hati Arshaka Dean. Terlihat dia sangat ingin menghancurkan penangkaran indah itu.
“Apa ini, Albert?! Apa ini?!” Arshaka Dean bertanya dengan mata bulat melotot.
“Tenang, Ars,” kata Albert mencoba menenangkan.
“Bagaimana bisa, Albert?! Lihat ini, ada bangunan aneh di mansion-ku, siapa yang akan bertanggungjawab, Albert?” tanya Arshaka Dean frustrasi.
“Edmund, Ars,” ucap Albert santai sekali, sebenarnya ia takut menghadapi kemarahan Arshaka Dean, tetapi semuanya sudah terlanjur dibangun, jadi Albert mencoba tenang menghadapinya.
“Edmund, ingin membuat sebuah penangkaran, aku tidak bisa menolaknya, Ars. Kau tau sendiri, bagaimana jika keinginannya tidak dituruti, jadi aku tidak bisa berbuat banyak, selain mengijinkan kemauannya. Dan untuk yang bertanggungjawab, tentu saja kau, Ars,” jelas Albert.
“Apa?! Kau … Argh …!” Arshaka Dean benar-benar terlihat frustrasi, ia geram bukan main, baru saja ia bangun dari tidur panjangnya, ia sudah dihadapkan dengan masalah yang menurutnya tidak bisa diselesaikan dengan mudah ini.
“Albert, ikuti aku, sebelum kuhancurkan bangunan aneh ini,” ujar Arshaka Dean.
“Ini sangat indah, Ars, kau tidak akan menemukan penangkaran kupu-kupu seindah ini,” ucap Chadla menambahkan.
“Chadla, aku mohon padamu, jangan menambahkan masalah di hidupku,” kata Arshaka Dean.
“Aku hanya berpendapat, Ars,” jawab Chadla.
“Sudahlah.” Arshaka Dean berlalu, ia berjalan menelusuri pekarangan rumahnya, hendak masuk ke dalam penangkaran kupu-kupu diikuti oleh Chadla dan Albert.
Harum berbagai bunga dan tumbuhan tercium begitu Arshaka Dean membuka pintu penangkaran kupu-kupu. Tidak ada yang berani bersuara, Arshaka Dean tampak tertekan melihat keindahan yang tersaji di dalamnya. Albert dan Chadla melihat-lihat sekitar, warna-warni bunga memanjakan pandangan mereka. Pagi ini cahaya matahari yang masuk memantulkan warna-warni dari hiasan kaca yang mengelilingi penangkaran, menambah kesan indah dan mewah.
Arshaka Dean masih terdiam, ia semakin masuk ke dalam, penasaran juga rupanya dengan apa yang ada di dalamnya. Ia masih terlihat biasa saja, tetapi tidak terlalu terganggu dengan keadaan di dalamnya, hingga ia melihat sesuatu yang tampak tidak asing, ia mengernyitkan dahinya. Ia melangkah lebih maju lagi untuk meyakinkan diri tentang apa yang tertangkap oleh penglihatannya itu.
“Apa itu, Albert?” tanya Arshaka Dean, bukan ia tidak tau dengan apa yang ia lihat, hanya saja ia butuh kepastian tentangnya.
“Ini tidak seperti yang aku pikirkan, bukan?” Arshaka Dean mundur selangkah.
Albert melirik Arshaka Dean. “Ah, maksudmu ulat bulu? Jika kau berpikir itu ulat bulu, kau benar, itu ulat bulu, mereka sangat menggemaskan, bukan?” goda Albert, kapan lagi ia bisa menggoda Arshaka Dean jika bukan sekarang.
“Menggemaskan?! Apa maksudmu, Albert? Siapa yang mengijinkan hewan itu berada di mansion-ku?!” Arshaka Dean geram.
“Edmund, ia ingin melihat perkembangan kupu-kupu dari awal, jadi ia memintaku untuk menyiapkan ulat bulu, Edmund juga bilang, ulat-ulat itu akan menjadi kepompong dalam beberapa hari ke depan,” jelas Albert.
“Astaga, Albert!” seru Arshaka Dean mendengar penjelasan Albert.
“Tidak, Albert! Siapa bilang aku takut?! Dan satu lagi, Albert, mafia mana yang memelihara ulat bulu di mansion-nya?!” teriak Arshaka Dean frustrasi.
“Kau, Ars,” jawab Albert singkat, dibalas dengan tatapan tak percaya dari Arshaka Dean, sedangkan Chadla mulai tidak bisa menahan diri, ia tertawa keras mendengar interaksi antara Arshaka Dean dan Albert.
“Kau tertawa, Chadla? Kau menertawaiku? Apa ada yang lucu, Chadla?” tanya Arshaka Dean jengkel.
“Ah, maafkan aku … aku sudah lancang, Ars, tapi coba pikirkan, kau benar Ars. Aku tidak pernah mendengar kisah mafia dengan ulat bulu, itu membuatku terharu, berterima kasihlah pada Edmund, Ars. Kau menjadi satu-satunya,” ujar Chadla.
“Argh …!” teriaknya.
Albert ikut tertawa dengan reaksi Arshaka Dean. “Sudahlah, Ars, kita tidak bisa berbuat banyak, tidak mungkin kita menghancurkan penangkaran ini,” hibur Albert.
“Kata siapa, Albert? Aku bisa membakar tempat ini sekarang juga,” katanya mengancam, Albert dan Chadla terdiam seketika, atmosfer di dalam penangkaran tiba-tiba terasa gelap.
“Ars? Maksudku, kau tidak bersungguh-sungguh, bukan?” tanya Albert canggung dan takut.
“Kenapa?! Sudahlah, aku keluar saja, berada di sini membuatku semakin sakit kepala,” pungkasnya sembari berjalan keluar dari penangkaran kupu-kupu.
“Sepertinya aku salah bicara, Chadla,” ucap Albert.
“Kurasa juga begitu, ada baiknya kau ikuti dia, Albert,” kata Chadla.
“Aku akan segera kembali, Chadla. Hari ini akan menjadi hari yang panjang di perusahaan, apa boleh buat, aku harus selalu siap, bukan?” ujar Albert.
“Kemenangan akan datang, Albert,” hibur Chadla.
“Kuharap secepatnya,” ucap Albert.
Mereka akhirnya keluar bersama, Chadla masih bertahan di sana beberapa waktu, hanya duduk-duduk saja di kursi mewah yang biasa mereka pakai untuk berbincang bersama Arshaka Dean.
Albert sudah berada di dalam mansion, mendapati Arshaka Dean sedang sarapan, masih dengan raut wajah jengkelnya. Albert ragu-ragu mendekat, melihat Arshaka Dean menyantap makanan tidak berselera membuat Albert tidak enak hati.
“Selama anak itu tidak ada, siapa yang akan mengurus binatang itu, Albert?” tanya Arshaka Dean setelah lama diam.
Albert menarik napas panjang. “Kau tidak jadi menghancurkan penangkaran itu?” tanya Albert.
Arshaka Dean menatap Albert malas. “Ya sudah, akan aku musnahkan semuanya, bersiaplah,” ucapnya dingin.
“Oh, ayolah, Ars, aku tidak mungkin menghancurkan hati Edmund, aku sudah berjanji padanya, untuk sekali ini saja, aku mohon, jangan dihancurkan,” kata Albert.
“Albert, aku bertanya siapa yang akan mengurus binatang itu, jawab saja pertanyaanku, tidak perlu berbelit-belit, atau kau ingin aku benar-benar menghancurkan bangunan itu?” ancam Arshaka Dean.
“Ah, tentu saja tidak. Tenang saja, sudah ada yang mengurus mereka, Ars, dan kalau kau sempat kau bisa sesekali melihat perkembangannya, Edmund sudah menjadwalkan semuanya, kau tinggal ikuti saja, petunjuk dari Edmund,” jelas Albert.
“Menyusahkan saja,” jawabnya ketus.
“Bersiaplah, kau ikut aku ke perusahaan, bawa semua berkas,” titah Arshaka Dean.
“Baik, aku akan segera bergegas,” jawab Albert.