
Penangkaran kupu-kupu selesai dalam sehari. Berkat kerja keras semua pihak, sebuah penangkaran kupu-kupu yang sekarang telah resmi berganti sebutan menjadi rumah kupu-kupu telah berdiri kokoh. Sebuah bangunan kaca berbentuk setengah lingkaran dengan hiasan berbagai ornamen tanaman dan kupu-kupu, terlihat indah menyatu dengan kemegahan mansion yang mereka tempati. Semua orang akan dibuat takjub melihat kemegahannya, memang mereka bekerja tidak main-main. Ini bukanlah sebuah penangkaran kupu-kupu biasa, ini adalah sebuah maha karya luar biasa.
Jika kalian telah puas hanya dengan melihat bentuk dan hiasannya saja, kalian akan lebih terpana melihat bagian depannya, di sana terukir indah sebuah kalimat “Volar Maravillosamente” yang berarti “terbang dengan indah” dalam bahasa Spanyol. Kalimat itu diminta langsung oleh Edmund kepada pengukir kaca paling handal di kotanya, kalimat yang begitu dalam maknanya, kalimat yang menandai keberadaan dirinya.
Semua orang berjejer melihat hasil kerja keras mereka, orang-orang yang sejak awal meragu dengan rencana Edmund ikut takjub melihat keindahannya. Ketakutan yang tadi diam-diam menyelimuti, kini berganti harap agar Arshaka Dean menerima karya megah ini, karena akan sangat disayangkan jika karya seindah ini harus dihancurkan.
Edmund melihat ke arah rumah kupu-kupu ini, ia tersenyum merasakan perasaan bahagia yang meluap, belum pernah Edmund merasakan euforia seperti ini. Albert yang melihat ke arahnya ikut senang. “Kau berhasil, Edmund,” ujar Albert, ia tatap wajah Edmund, perasaan bahagia juga ikut ia rasakan, tetapi Albert tidak bisa menyangkal, ada perasaan hampa di hatinya, bagaimanapun Albert juga ingin melihat Arshaka Dean tersenyum bahagia seperti itu, mungkin suatu hari nanti.
Edmund menatap Albert. “Ini berkat semua orang, Paman. Maafkan aku membuat semua orang kerepotan,” kata Edmund.
“Kau bahagia, Edmund?” tanya Albert.
“Lebih dari yang terlihat, Paman. Belum pernah hatiku terasa penuh seperti ini,” jawab Edmund.
Perasaan itu bergejolak di dada Edmund, seakan siap meledak kapan saja. Ia belum siap menerima perasaan penuh seperti ini, Edmund hilang keseimbangan hingga ia limpung, untung saja Albert berada di dekatnya. “Edmund!?” seru Albert panik, berbeda dengan Edmund yang tersenyum memandang Albert.
“Aku tidak apa-apa, Paman, hatiku rasanya penuh, aku bahagia, Paman,” ucap Edmund.
Sekali lagi hati Albert tercabik melihat senyuman itu, Albert mengepalkan tangannya kuat demi menahan perasaannya sendiri. “Apa kau ingin istirahat terlebih dahulu, Edmund?” tanya Albert.
“Tidak perlu, Paman.” Edmund segera berdiri, menahan dirinya agar tidak terjatuh lagi, ia sekali lagi mengamati karya indah yang kokoh di hadapannya.
Chadla mengamati perubahan Edmund, ia segera mencatatnya, sedikitnya sudah ada dua kesamaan antara Arshaka Dean dan Edmund Dean. Sebagai dokter pribadi dari Arshaka Dean, Cadhla tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengungkap alasan dibalik terpecahnya dua jiwa itu. Ternyata perasaan senang juga mempengaruhi Edmund, meskipun tidak berdampak langsung. Chadla menyimpulkan bahwa, perasaan senang dari Edmund tidak mempengaruhi kesadarannya, berbeda dengan ketika perasaan itu hadir di hati Arshaka Dean.
“Albert, tanaman sudah siap untuk dipindahkan ke dalam penangkaran, apa langsung saja kita masukkan semuanya?” tanya salah satu tukang pukul.
“Bagaimana, Edmund?” tanya Albert meminta pendapat.
“Langsung saja, Paman,” jawab Edmund.
“Pindahkan semuanya, dan pastikan kau mengikuti instruksi dari para ahli,” kata Albert kepada tukang pukul itu.
Begitu perintah telah didapat, semua orang bergerak kembali, sudah cukup bagi mereka memandangi keindahannya, sekarang ada bagian akhir yang harus mereka selesaikan. Berbagai tanaman mulai dipindahkan, tidak sulit mendapatkan semua tanaman ini, Ekuador berada di garis khatulistiwa sangat memungkinkan menemukan banyak jenis tanaman di negara ini. Bangunan kaca itu kini mulai dipenuhi warna-warni bunga, dengan arahan para ahli, di dalam sana dipisahkan antara tempat perkembangbiakan dan tempat hidupnya kupu-kupu, semua ini dilakukan untuk memudahkan penelitian yang akan dilakukan oleh Edmund.
“Edmund, penangkaran yang kau inginkan telah sempurna,” ujar Albert.
“Belum, Paman, masih ada tahap lain untuk menyempurnakan penangkaran ini,” kata Edmund.
“Maksudmu, belum ada kupu-kupu yang beterbangan di dalamnya. Jika begitu, aku setuju denganmu, penangkaran kupu-kupunya tampak sepi,” kata Albert.
“Itu jadi faktor utamanya, tetapi penangkaran ini dikatakan berhasil jika tujuannya sudah terwujud, mungkin lain kali penangkaran ini akan berguna lebih baik lagi, kita tunggu saja, Paman. Kakak akan mengingatnya atau tidak, ini hadiah dariku untuk Kakak,” jelas Edmund.
Albert terdiam, butuh waktu lama ia mencerna kalimat demi kalimat yang Edmund ucapkan. Albert mencoba mengingat lagi kisah masa lalu Arshaka Dean, nihil ia tidak menemukan hubungan penangkaran kupu-kupu dengan kehidupan Arshaka Dean. “Aku tidak menangkap pembicaraanmu, Edmund. Aku tidak pernah mengingat, bahwa Ars menyukai kupu-kupu, yang aku ingat dia selalu marah dengan semua hal.” Albert bahkan mencurigai jika Edmund sebenarnya mengetahui bahwa dirinya tidak seharusnya hidup di dunia Arshaka Dean, tetapi itu tidak bisa dibuktikan.
“Mungkin bukan marah-marah, Paman, tetapi Kakak mencoba untuk tidak mengakui apa yang sebenarnya terjadi. He is denial, Paman.” Mungkin benar, jawaban yang paling masuk akal adalah Arshaka Dean sedang menyangkal keberadaannya sendiri, menyangkal jika dirinya membutuhkan lebih banyak perhatian. Ia selama ini hanya memperlihatkan sikap tak acuhnya terhadap apa pun, hingga membuat semua orang melihatnya sebagai sosok yang keras.
“Aku paham, Edmund, lalu apa hubungannya dengan penangkaran kupu-kupu ini, Edmund?” tanya Albert yang membuat dirinya harus tau tentang ini.
“Ini akan terungkap nanti, Paman. Aku tidak bisa mendahului, Kakak, aku serahkan semuanya pada Kakak, karena semuanya tergantung Kakak,” jawab Edmund tidak menjelaskan lebih jauh.
“Apa aku tidak bisa memaksamu, Edmund?” Sebagai orang yang sudah diselamatkan hidupnya, Albert bersikeras ingin membantu Arshaka Dean untuk pulih, meskipun pengaruhnya tidak begitu memberikan efek besar.
Edmund tersenyum. “Paman, apakah Paman pernah melihat seorang penjahat menyerahkan diri setelah dituduh? Tidak pernah bukan, pasti mereka menyangkal dan menyalahkan orang lain terlebih dahulu serta membela diri. Begitu pun dengan Kakak, jika Paman terus menekan Kakak, kebenaran itu tidak akan ia ucapkan, lalu dengan memaksaku untuk memberitahu keadaan Kakak yang sebenarnya, itu sama saja dengan Paman memaksa Kakak untuk masuk penjara tanpa kasus yang jelas. Kakak pasti akan memberitahu semuanya, Kakak suatu saat pasti akan jujur, tunggu saja berapa lama Kakak akan kuat dengan dirinya sendiri,” jelas Edmund.
“Kau benar, tidak baik jika kebenaran itu terungkap karena terpaksa, akan jauh lebih baik jika Ars mengungkapkannya karena dia sudah siap. Maafkan aku Edmund, aku tidak berpikir panjang, maafkan aku karena melibatkanmu,” sesal Albert.
“Tidak perlu seperti itu, Paman. Pasti sulit bukan melihat Kakak dalam diriku, aku juga tidak paham kenapa wajahku sangat mirip dengan Kakak, mudah-mudahan dengan hadirnya diriku tidak membuat banyak orang tertekan,” kata Edmund.
Kami tidak tertekan dengan kemiripan dirimu dengan Ars, tapi kami merasa sangat sakit ketika mengetahui kau adalah Ars yang kami inginkan, sulit sekali mengabaikan keberadaanmu, karena kami menginginkan senyum itu terlukis juga di sosok Ars. Semoga kau mengerti Edmund, semoga kau bisa menyembuhkan Ars, dan semoga Ars menyadari bahwa kami membutuhkannya. Edmund bukan maksudku menolak kehadiranmu, tetapi akan lebih mudah jika kau tidak pernah ada, ucap Albert dalam hati, ia tak kuasa mengatakan semua itu secara langsung kepada Edmund.