
Kepanikan belum mereda, Edmund belum juga ditemukan. Rumi terus mencari, berlari, berpencar dari orang-orang. Rumi sudah di ujung, ia menoleh ke kanan dan kiri, di pertengahan lorong, hingga ia melihat tangga darurat ke arah *rooftop*, seketika ingat dengan sesuatu. Rumi segera berlari, mencari lift yang siap membawanya ke atas sana, Rumi tekan tombol lift, tidak sabaran.
Rumi tiba, segera saja ia berlari, dadanya berdegup. Kepanikan tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan ketika ia melihat pintu *rooftop* terbuka. Meskipun sudah lelah, Rumi tetap berlari, berharap Edmund tidak ada di sana.
Sedangkan ujung langkah Edmund sudah tak berjarak lagi dengan kaki keduanya, sedikit saja ia bergerak, sudah dipastikan Edmund terjun bebas dari sana. Wajah Edmund yang selalu terlihat damai, hari ini sungguh penuh dengan luka, entah menanggung luka Arshaka Dean, ataukah memang luka hatinya yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
Langkah terakhir, Edmund siap untuk berjarak dengan dunia, sedikit lagi, tinggal mencondongkan tubuh, maka Edmund akan melepas semuanya dari sana, tapi …
“Edmund!” teriak Rumi menghentikan langkah Edmund, tubuhnya kembali lagi ia tegakkan, menoleh ke belakang. Dilihatnya wajah Rumi yang sudah pucat pasi, dadanya terlihat kembang-kempis.
“Edmund … kumohon turunlah,” ucap Rumi, bergetar hatinya.
“Kenapa?” Edmund memainkan kakinya, membuat Rumi gemetar lemas, dan terduduk di lantai.
“Aku tidak dibutuhkan lagi, bukan?” kata Edmund.
Rumi menangis, tak sanggup menghadapi ini sendirian. Edmund masih menatapnya, dan memainkan perasaan Rumi dengan tingkah lakunya. Rumi bingung harus mengatakan apa, ia tidak dalam kewajiban untuk mencegah Edmund, tapi ia juga takut, jika Edmund nekat seperti ini.
Dari ruang keamanan, semua CCTV ditampilkan dari segala penjuru, layar monitor memperlihatkan dua belas kotak informasi. Semua orang fokus mencari, dari yang paling dekat dengan ruang Arshaka Dean, hingga jauh dari luar.
Salah satu petugas keamanan berseru, ia melihat bayangan Edmund meninggalkan lift. Petugas yang mengendalikan fokus, langsung mengikuti dan memperlebar arah bayangan Edmund, hingga berakhir di pintu rooftop.
“Rooftop! Dia pergi keluar! Cepat!” seru mereka panik dan berlarian keluar.
Semua orang berlari, tidak ingin menyesal, apa pun yang akan dilakukan Edmund harus segera dicegah. Mereka terus berlari, sesekali berpapasan dengan petugas yang lain dan segera menyebarkan berita. Rombongan besar langsung menuju rooftop menggunakan tangga darurat, akan sulit jika harus menggunakan lift.
“Albert! Edmund, ada di atas!” seru Chadla, melihat Albert yang sedang mencari di ruang obat.
“Astaga!” Buru-buru Albert bergegas, bergabung dengan yang lain.
Bayangan masa lalu datang kembali, di mana Edmund nyaris tewas di tempat yang sama, beruntung ada Robert waktu itu. Ini merupakan percobaan kedua, dulu, Edmund terguncang karena kesepian yang selalu menderanya.
Saat ini, bukan hanya terguncang, Edmund sudah putus asa dengan semuanya, ia merasa dirinya sudah tidak dibutuhkan, hingga memilih kembali cara yang tidak disukai oleh semua orang itu.
“Siapkan pengamanan di bawah sana!”
“Cepat!”
“Cepat!”
Edmund di atas sana, berdiri dan terus menatap Rumi yang menangis. Edmund berpikir, seberapa besar perjuangan Arshaka Dean hingga membuat semua orang bereaksi seperti ini. Dia selama ini telah merenggut sedikit kebahagiaan dari Arshaka Dean, tapi juga tersiksa akibat pelarian Arshaka Dean. Edmund merasa tak pantas lagi dirinya ada, tapi juga ia tak ingin begitu saja mengembalikan kehidupannya pada Arshaka Dean.
“Kau ada di sana, pada saat Arshaka Dean berkata dia ingin hidup, kau menyaksikannya Rumi, itu artinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi, bukan?” ujar Edmund.
“Dan itu artinya, aku tidak seharusnya ada di dunia ini lagi,” tambahnya.
“Edmund!”
Semua orang telah sampai, Albert yang pertama maju ke depan. Albert pelan-pelan mendekat padanya, melihatnya dengan penuh kekhawatiran, tuannya sekali lagi berjuang dari kehilangan nyawa. Sungguh beban yang berat, Albert salut, Arshaka Dean bisa menahannya hingga detik ini.
“Kau sangat peduli padanya, bukan?” kata Edmund pada Albert.
“Aku tau, kalian semua sangat menginginkan aku menghilang, bukankah begitu, Paman?” tanya Edmund.
“Aku akan membantu kalian, ini akan memudahkan pekerjaan kalian,” kata Edmund.
Albert menelan ludah, benar, Edmund sudah menyadari keberadaannya, ia harus memberi pengertian pada Edmund. Albert berpengalaman dengan Edmund, tapi kali ini tentu saja berbeda, ia tidak boleh memaksa, karena itu akan membangkitkan luka-luka lainnya.
“Edmund, aku tau kau pasti marah pada kami, tapi Edmund, kau tentu masih mengingat tentang janjiku itu, bukan? Kau juga pasti ingat tentang hadiah yang ingin kau persembahkan pada kakakmu itu, apa kau tidak ingin melihat perkembangan itu? Kau bilang, penangkaran kupu-kupu itu bermakna sangat besar untuk kakakmu, lalu, apa kau tidak ingin melihat hasil dari jerih payahmu itu, atas pulihnya, Ars?”
“Tapi dia ingin aku menghilang!” seru Edmund.
Albert maju satu langkah, mengulurkan tangannya ke arah Edmund. “Apa kau hanya mengartikannya seperti itu? Ars mengatakan seperti itu, karena dia membutuhkanmu, Edmund.” Albert maju lagi.
“Ars sadar jika dia berjuang sendirian, dia tidak bisa merasakan kehidupannya, dia membutuhkanmu, Edmund.” Albert menatap tangan Edmund, jika Edmund menolak, terpaksa ia harus menarik tangannya.
“Mari, turunlah denganku, ada kupu-kupu yang sudah lama kau tidak lihat, aku sudah siapkan tempat, agar kau bisa leluasa memajangnya. Kami membutuhkanmu, Edmund, kumohon, tetaplah bersama kami, bersama Ars,” jelas Albert.
Edmund terlihat merenung, sepertinya hatinya mulai terketuk, sebuah keinginan akhirnya tersampaikan. Edmund tidak salah mengira, karena sejatinya, dirinya memang harus menghilang dari dunia ini, tapi tidak seperti itu jalan ceritanya.
Jika dirinya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di dunia ini, itu artikan kehidupan itu milik dirinya, bukan milik Arshaka Dean, karena ketika dirinya berpikir untuk berakhir, itu justru mengakhiri hidupnya atas egoisnya sendiri.
Sedangkan, kehidupan Arshaka Dean tidak akan terganggu sama sekali. Tindakan Edmund, akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, ia sampai kapan pun akan terus menanggung rasa bersalah.
Edmund mendudukkan diri, semua petugas bersiap, khawatir jika tiba-tiba Edmund melompat dari atas sana. Edmund membalikkan tubuhnya, membelakangi orang-orang yang tengah menatapnya, mengayunkan kedua kakinya di udara. Agatha langsung berlari, ini sinyal bahaya, Agatha harus mencegahnya, tapi Albert menahannya.
“Kakak!” teriak Agatha.
“Aku bukan dia,” kata Edmund.
“Edmund, aku mohon padamu, aku butuh bantuanmu.” Agatha tiba-tiba berlutut. “Edmund, lihat aku, aku berlutut padamu, kumohon Edmund, bantu kami,” kata Agatha.
Air mata Agatha akhirnya terjatuh, ia tidak berbohong, ia sangat ingin melihat kehidupan mereka lagi. Agatha tidak peduli, jika kakaknya tidak akan kembali lagi, asalkan ia masih bisa melihat sosoknya.
“Mau kau Edmund, ataupun Arshaka Dean, aku tidak peduli, aku akan tetap menerimanya,” kata Agatha.
Edmund tidak beranjak dari sana, ia tetap membelakangi semua orang. Edmund tidak butuh putus asanya Agatha, ataupun air mata Rumi, karena ia sudah memutuskan hidupnya. Edmund melihat lurus ke depan, melihat gedung-gedung tinggi di hadapannya, lalu ia menghela napas panjang.
“Sekali ini saja, biarkan aku egois,” kata Edmund.