The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 70. Jawaban Hati



Rumi memeluk lututnya, sendu, ia duduk di atas jendela, menatap keluar, berharap seseorang yang diharapkannya tiba-tiba datang. Seminggu pulang bersama Birdella, membuatnya seperti orang mati, lemas dan tidak bergairah. Kehidupannya seakan tertinggal di mansion Arshaka Dean, wajah Arshaka Dean tiba-tiba terbayang, air matanya pun menetes.


Dengan air mata yang menderai di pipinya, wajah Arshaka Dean semakin nampak jelas di matanya. Hatinya akan semakin hancur jika seperti ini, Rumi menutup mata, berusaha menghalau bayangannya, tapi semakin terasa saja sentuhan Arshaka Dean.


Rumi tak sanggup, Rumi runtuh, ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Menangis tersedu, meratapi perasaannya yang tertinggal sejauh empat jam perjalanan darat.


Ia sudah berjauhan dengan Arshaka Dean, tentu rasa rindu sebentar lagi membunuhnya, tapi apakah boleh ia seperti ini? Arshaka Dean sudah jelas masih bingung dengan perasaannya, apakah dia punya kesempatan, jika Arshaka Dean akhirnya menyambut perasaannya.


Tiba-tiba saja sebuah pemikiran buruk tercipta di benak Rumi, ia memikirkan Arshaka Dean tengah bersenang-senang dan tidak peduli terhadapnya, membuat ia semakin tenggelam dalam kesedihan.


“Rumi, kau menangis?” tanya Birdella yang tak sengaja melewati kamar Rumi, pintunya tidak tertutup sempurna.


Rumi tersentak, dan melihat siapa yang bertanya, air matanya masih berderai, hatinya terasa nyeri. Birdella masuk ke dalam kamar Rumi, wajahnya menegaskan bentuk kekhawatiran terhadap Rumi. Birdella buru-buru mendekat, putrinya menangis, tidak seperti biasanya, ini kali pertama Birdella melihat Rumi menangis seperti itu.


“Astaga, Rumi, kau kenapa, Nak? Kau sakit? Mau kupanggilkan dokter untukmu?” Birdella sesak dadanya, tak tega melihat Rumi yang terlihat menahan sakit seperti itu.


“In-ni … aku … sakit ….” Rumi kembali menundukkan diri, tak sanggup, ia tak sanggup mengatakannya langsung.


“Astaga, dadamu nyeri, Rumi, mari kita ke rumah sakit, itu berbahaya, Rumi, ikut aku Rumi,” ribut Birdella, panik. Birdella menarik tangan Rumi, ini berbahaya, Rumi harus segera mendapat tindakan medis, tapi Rumi tak juga beranjak, Birdella salah paham, bukan sakit itu yang Rumi rasakan.


“Di sini.” Rumi menunjuk dadanya. “Di sini sakit, Ibu, sakit sekali, aku merasa kosong, Ibu,” adu Rumi, tangisannya semakin menjadi, rasa sesak itu kembali lagi datang menyerang hati Rumi yang sedang rapuh-rapuhnya.


Ah, Birdella mengerti sekarang, ini sangat berbahaya, penyakitnya tidak mudah disembuhkan, meskipun ada lega di hati Birdella, tapi tetap saja, penyakit rindu anaknya ini tidak akan mudah ditangani.


“Aku mencintai dia, Ibu. Aku mencintai anak kandungmu …,” lirih Rumi, ia tidak bisa diam saja, Birdella harus segera tahu, dia tidak peduli jika nantinya Birdella tidak merestui perasaannya pada Arshaka Dean.


Birdella datang mendekat, merangkul Rumi dan mengelus rambutnya penuh ketulusan, tersenyum simpul. Birdella sudah menduganya, tapi ia berusaha pura-pura tidak menyadarinya saja, menunggu kejujuran Rumi.


“Ternyata, Ars yang membuatmu seperti ini, Rumi, sayangku, maafkan ibumu ini,” ujar Birdella.


Hati Rumi tersentak, itu bukan jawaban ke arah yang baik, risau hatinya, ini sinyal bahaya, Birdella pasti akan melarangnya. Arshaka Dean pria yang sempurna, Birdella pasti berpikir jika dirinya tidak pantas bersanding dengan anaknya itu, tapi Rumi tidak bisa, hatinya tetap jatuh pada Arshaka Dean.


“Maafkan ibumu ini, yang tidak segera menyadari, Nak. Kenapa kau tidak menolak ketika Ibu mengajakmu pulang? Ya Tuhan, pasti sulit sekali untukmu, bukan? Maafkan aku Rumi, sungguh maafkan aku, bagaimana ini aku membuat kesalahan besar? Ah maafkan aku Rumi, karena tidak sengaja memisahkan kalian.” Birdella mengusap rambut Rumi, memeluknya lebih erat, hatinya ikut sedih melihat Rumi yang tidak berdaya.


Eh, ada apa ini? Apa ini artinya Birdella merestui hubungannya dengan Arshaka Dean? Apakah benar seperti itu? Demi melihat Birdella, Rumi menengok ke arahnya, melihat dengan kedua matanya.


“Ayo, Rumi, untuk menebus kesalahanku, Ibu antarkan kau kepadanya, Rumi, anak Ibu harus bahagia, aku tidak boleh memutus kebahagiaan kalian,” ujar Birdella.


“Ibu … tidak marah?” tanya Rumi, ragu.


Birdella menatap Rumi, tak percaya dengan pertanyaan Rumi. “Kenapa Ibu harus melarangmu? Aku justru senang sekali anak-anakku berhubungan baik, kalian bukan saudara kandung, perasaan kalian murni, untuk apa aku melarangmu, Rumi? Lebih lagi, kau perempuan yang baik, cerdas, untuk apa aku menyia-nyiakanmu, Rumi?” jelas Birdella, tersenyum pada Rumi memberi ketenangan.


Rumi memeluk Birdella erat sekali, mengucapkan beribu kata terima kasih di hatinya. “Ayo kita berangkat, Rumi, aku yang akan bicara pada, Ars, dia harus menjagamu, kau permata Ibu, dia harus memperlakukanmu dengan baik. Ayo kita pergi menemuinya,” pungkas Birdella, yang dijawab anggukan pasti oleh Rumi.


Restu sudah didapat, tinggal mendekap Arshaka Dean yang hatinya masih kebingungan, Rumi menghangat hatinya.


Akankah akhirnya mereka saling menyambut hati satu sama lain? Semua tidak ada yang pasti, kita putuskan pada semesta yang mempertemukan mereka.


Arshaka Dean merenggut marah, duduk di ruang rapat yang berada di mansion-nya. Niat ingin tidur cepat, hancur begitu saja, melihat dua orang yang tidak tau tempat melakukan hal yang menyenangkan di mansion-nya. Arshaka Dean marah, memanggil keduanya untuk “disidang” Arshaka Dean tak habis pikir dengan mereka.


“Apa selama aku tidak di sini, kalian sering melakukan ini?!” tanya Arshaka Dean, sedikit meninggi suaranya, Arshaka Dean menyilangkan tangannya di dadanya, menatap keduanya tajam. “Jelaskan semuanya! Apa kau yang memulai, Agatha?” tambah Arshaka Dean.


“Jangan seperti itu padanya, aku juga yang—“


“Jangan berusaha membelanya, Albert! Sekarang jelaskan padaku, sudah sejauh apa hubungan kalian?!” Arshaka Dean tak tahan lagi, hingga ia memotong perkataan Albert.


Arshaka Dean sebenarnya tidak akan melarang keduanya, tapi karena dasarnya, Arshaka Dean sedang tidak baik-baik saja hatinya, jadilah ia melampiaskannya pada mereka berdua. Arshaka Dean merasa diolok-olok, Albert dan Agatha seperti sengaja bergumul mesra di depannya.


“Jika Kakak tidak mengganggu, kami pasti akan melanjutkan ke arah yang lebih manis dan dalam, Albert sangat jago, aku tidak bisa menolak,” jawab Agatha, menantang maut.


“Kau! Bisakah bertindak sewajarnya saja?! Aku tidak mengerti jalan pikiranmu,” berang Arshaka Dean.


“Itu karena Kakak sudah terlalu lama sendiri, hati Kakak membeku! Kenapa harus marah seperti itu? Kami melakukan hal yang wajar, kami saling mencintai, apa salahnya dengan bermesraan sedikit,” jawab Agatha. “Kau yang salah, Kakak, membiarkan Rumi pulang, padahal jelas-jelas kau menginginkannya, kau pengecut, Kakak,” papar Agatha.


“Kau bilang apa?!” hardiknya, marah.


“Cukup, Ars.” Albert harus menengahi, biar bagaimanapun, dirinya juga yang tidak hati –hati dalam bertindak. “Aku yang bersalah di sini, tapi aku juga tidak bisa menolak, Ars. Aku jatuh hati pada adikmu, aku mencintainya, dan aku juga tidak menyangka, jika perasaanku disambut baik.” Albert menghela napas, dia sudah menggebu-gebu dengan Agatha tadi, sayang Arshaka Dean datang pada waktu yang tidak tepat. “Ars, Edmund sudah memberi restu pada kami, jadi aku juga harus meminta ijin padamu. Ars, hubungan kami lebih serius sekarang, aku ingin bersama Agatha, kuharap kau mengerti,” terang Albert.


Arshaka Dean tampak frustrasi, orang yang selama ini bersamanya, tertangkap basah tengah bergumul dengan adiknya sendiri. Arshaka Dean mengacak rambutnya, dan menatap mereka dengan berang. “Kalian bedebah pengacau!” Padahal bukan seperti itu, Arshaka Dean hanya tidak terima, Albert bisa mengatakan perasaannya dengan semudah itu, sedangkan dirinya masih bergelut dengan resah, sendirian.


“Kakak, jangan mengganggu kami, kejar saja dia, kau mencintainya, bukan? Jika tidak, jangan membuatnya menunggu, biarkan dia terbang dengan pria lain yang lebih peka dibandingkan, Kakak. Aku yakin Rumi sedang bersenang-senang di sana, dan sudah melupakanmu, Kakak,” celetuk Agatha.


Benar, Arshaka Dean memang butuh didorong lebih keras, agar dirinya cepat menyadari perasaannya sendiri, jika tidak, ia akan terus jalan di tempat tanpa melakukan tindakan pasti. Kata-kata Agatha, membuat ia merenung kembali, tadi dia sudah memutuskan, tapi hatinya masih ragu.


Dengan perkataan Agatha yang memprovokasi, membuat Arshaka Dean merasa ditusuk hatinya. Perkataannya tepat, dan menembus hingga hatinya yang kini terus panas, karena memikirkan Agatha dengan pria lain.


“Dia tidak akan ke mana-mana! Jangan mengatakan omong kosong! Kau tidak tau dia!” sentak Arshaka Dean pada Agatha.


“Jika memang begitu, buktikan Kakak, jika hanya bicara saja, apa bedanya dengan burung murai!” geram Agatha.


“Aku akan menemuinya besok, kau tidak perlu sibuk mengurus hidupku, kendalikan saja perangai liarmu itu!” sentak Arshaka Dean.


“Kenapa menunggu besok, kau takut Rumi menolakmu, huh?” balas Agatha tak kalah tinggi suaranya.


“Kau! Argh …!” Arshaka Dean untuk kedua kalinya mengacak rambutnya, benar-benar frustrasi melayani adiknya ini. “Akan kubuktikan padamu, aku akan pergi sekarang juga, aku akan membawa dia ke tempatku lagi!” katanya tegas.


Arshaka Dean beranjak dari sana, membanting pintu, dan langsung bergegas untuk pergi ke tempat Rumi. Ia akan buktikan, jika dirinya memang pria yang paling layak bersanding dengan Rumi, tidak ada yang boleh menggantikan kehadirannya.


Tak berapa lama, Arshaka Dean sudah berada di dalam mobil, memegang kemudi dengan kedua tangannya. Matanya fokus ke depan, ini waktunya, ini waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya. Mobil pun melaju, Arshaka Dean siap menerima hati Rumi, ia berjanji akan mengatakan yang ia rasakan, akan memegang tangan Rumi erat-erat.


Keduanya berjalan pada waktu yang bersamaan, akankah keduanya saling bersambut?