The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 64. Pembalasan Dendam



“Awas!”


Arshaka Dean yang lengah karena kedatangan seseorang yang tidak pernah ia harapkan, wajahnya tertinju oleh salah satu anak buah Victor. Untunglah Arshaka Dean segera tersadar dan segera menghabisinya. Setelah melihat sekilas, Arshaka Dean tersenyum pada Rumi dan ia kembali lagi meladeni pukulan-pukulan Victor dengan sangat beringas.


Di tengah gempuran tadi, Rumi tiba-tiba masuk, menjadi kejutan bagi semua orang, termasuk Arshaka Dean. Arshaka Dean sempat terperangah melihat kedatangan Rumi layaknya burung yang terbang dengan ringan.


“Ups, jangan lengah, Nak, apa kau sudah menyerah?” ucap Victor, masih terdengar kuat, padahal wajahnya sudah babak belur dan penuh luka, stamina orang tua itu memang patut diwaspadai.


“Berisik! Akan kubuat kau seperti adikku! Aku sudah berjanji padanya!” teriak Arshaka Dean, melawan kembali.


Tiba-tiba Arshaka Dean teringat kembali dengan kedatangan Rumi. Di tengah perkelahian yang sengit itu, Arshaka Dean menoleh. “Kenapa kau ada di sini?” tanya Arshaka Dean pada Rumi yang juga ikut melawan anak buah Victor.


Arshaka Dean tidak pernah menduga jika Rumi pandai berkelahi, tapi tak ada cukup waktu untuk mencari tau, jadi biarkan saja dulu, tapi ia akan mengingatnya untuk bertanya nanti.


“Kami mencarimu, kami kehilangan Edmund!” teriaknya.


“Kami?” Arshaka Dean bingung dengan jawabannya.


“Semua orang ada di sini, Ars,” katanya menjawab kebingungan Arshaka Dean.


Tangkisan, tinjuan, tendangan masih mewarnai perkelahian di ruangan itu, suara-suara yang menggema menambah atensi perkelahian mereka. Adrenalin Arshaka Dean terpacu hingga titik maksimal, apalagi ketika tau ada orang lain yang sedang berjuang bersamanya.


“Rumi awas!”


Tembakan melesat, tidak, tidak mengenai Rumi, Rumi berhasil berpindah tempat dengan cepat, tembakan pun meleset ke dinding dalam.


“Aku baik-baik saja!” teriak Rumi.


Arshaka Dean tersenyum bangga, kemudian matanya menyorot pada orang yang melepaskan tembakan dengan tatapan tajamnya. Orang yang berani mengkhianati Arshaka Dean sedang main-main, rupanya, ia akan tau akibatnya.


“Watson, jika kau berani menyentuh sumber kehidupanku, kau mati di tanganku saat ini juga,” ucap tegas Arshaka Dean. Rumi mendengar itu, membuatnya merasa hangat.


“Nak, fokuslah padaku saja, apa kau ingin cepat mati di tanganku?” ucap Victor.


“Kau banyak bicara!”


Watson mengarahkan tembakan pada Arshaka Dean yang sedang meladeni tinjuan Victor. “Kau tidak berhak hidup, Ars, kau telah mengambil banyak kehidupan orang lain, kau tidak berhak hidup, argh …!” Perlahan-lahan Watson menarik pelatuknya, mengarah perut bawah dari Arshaka Dean, Watson sudah menemukan celah.


Dor … dor …


Suara tembakan keluar, Arshaka Dean terdiam di tempat, Rumi terperanjat di tengah tendangannya. “Ars!” teriak Rumi, semua orang serempak terdiam, melihat darah yang tiba-tiba menodai lantai.


Bugh …


Suara tubuh yang terjatuh keras, membuat anak buah Victor nyaris membubarkan diri. “Ars!” teriakan seseorang dari luar.


“Bersihkan tempat ini! Cepat!” teriak Albert.


Seketika rombongan tukang pukul masuk dan menyisir setiap ruangan, mengamankan anak buah Victor, satu dua orang melawan dengan mengacungkan senjata, tapi berhasil ditaklukkan dengan satu pukulan telak di wajah mereka.


Sementara para tukang pukul menghadapi anak buah Victor, Albert masuk dan mendekati Arshaka Dean. “Ars, kau baik-baik saja?” Pertanyaannya yang tidak seharusnya ditanyakan, karena Arshaka Dean jauh dari kata baik-baik saja, baik fisik maupun mentalnya.


Arshaka Dean tidak terkena tembakan Watson, karena Albert lebih dulu menjatuhkan Watson dengan menembaknya dari luar. Albert hari ini melanggar peraturan yang dibuat Arshaka Dean, ia tidak bisa menahan diri ketika Arshaka Dean ditodong dengan senjata api oleh Watson, Albert terpaksa memakai cara yang paling dibenci Arshaka Dean itu.


“Albert, sudah lama tidak melihatmu,” ucap Victor.


Arshaka Dean tidak punya waktu untuk basa-basi, ia harus menyelesaikan pertarungan, tanpa aba-aba, Arshaka Dean dorong kuat tubuh Victor. Arshaka Dean terlihat leluasa, karena hanya tinggal Victor saja yang tersisa, anak buahnya tidak ada yang menghalanginya lagi.


“Kau tidak pantas hidup, Victor!” Satu tinju Arshaka Dean layangkan ke wajah Victor, tak puas Arshaka Dean terus memukulnya bertubi-tubi, tanpa ampun, hingga Victor nyaris tak bisa melawan.


Napas Arshaka Dean memburu, dadanya sakit, mengingat kembali semua yang dilihatnya dulu. Arshaka Dean di puncak kemarahan, tidak ada yang bisa melerainya, Arshaka Dean merah padam wajahnya, dalam keadaan seperti itu siapa pun yang mendekat akan dianggap musuh olehnya.


Di ujung pertarungan itu, ada deraian air mata yang kemudian membasahi wajah Arshaka Dean. “Kau telah merenggut semuanya dariku, Victor.” Bersama dengan tetesan air mata itu, Arshaka Dean berdiri, mengarahkan kakinya pada sisi kiri tubuh Victor. “Ini yang kau lakukan pada Edmund dulu!” Arshaka Dean menendang tubuh Victor dengan keras.


Arshaka Dean merebut senjata di tangan Albert. “Dan dengan ini kau ….” Arshaka Dean mengacungkan senjata api pada tubuh Victor yang sudah tak berdaya. Tangannya bergetar memegang benda yang begitu ia benci itu.


“Aku akan melakukan hal yang sama, seperti yang kau lakukan pada Edmund dulu.” Arshaka Dean menarik pelatuknya, dan ia arahkan ke kepala Victor. Arshaka Dean memegang erat, air matanya terus mengalir, semua bayangan masa lalu itu hadir kembali.


Sudah tinggal satu tarikan, tapi Arshaka Dean tak sanggup melakukan itu, ia turunkan senjata. “Argh …! Akan kubuat kau mengalami hal yang sama dengan Edmund! Akan kubalas kau!” Arshaka Dean menembak kaki kanan Victor, kemudian dirinya menjatuhkan diri, Albert sigap menangkap tubuh Arshaka Dean.


“Argh ….!” Arshaka Dean menangis dan meraung. “Kau keparat! Kau bedebah!” Arshaka Dean mengutuk tubuh Victor yang tidak bergerak. “Kau tidak pantas menjadi seorang ayah! Kau bedebah!” Arshaka Dean memegang kerah baju Victor. “Kau peras hidupku dan kau hancurkan begitu saja! Kau tidak pantas hidup!” Arshaka Dean membanting tubuh Victor dengan keras.


Albert dan yang lainnya sangat iba melihat Arshaka Dean seperti ini, Arshaka Dean terlihat sangat rapuh dan penuh kepiluan. Albert kini mengetahui alasan dari trauma yang tidak bisa dilupakan oleh Arshaka Dean. Masa lalu Arshaka Dean dan Victor yang tidak Albert ketahui, ternyata menjadi faktor utama.


Tapi, Albert mash tidak mengerti hubungan Edmund dan Arshaka Dean, ketika Arshaka Dean menyebut nama Edmund, Albert tersentak dan tidak percaya Arshaka Dean menyebut namanya.


Arshaka Dean mundur, terduduk dan memeluk lututnya, rasa sesak di dadanya tidak akan pernah sebanding, dengan tubuh Victor yang terbaring tak berdaya berada di depannya ini. Di sana tergeletak Watson si pengkhianat, juga Victor, ayah yang dikenal paling kejam dalam hidup Arshaka Dean.


Posisi Arshaka Dean, sama dengan tahun-tahun yang lalu, ketika melihat tubuh Edmund terbaring lemah, ia juga terduduk sedih seperti itu. Kali ini, ia berkesempatan menyelamatkan hidup Edmund, meskipun Edmund tidak akan pernah tau.


Rumi tak kuasa menahan tangis, Arshaka Dean terluka seluruh tubuhnya, hati Rumi sakit. Andai saja dirinya datang lebih awal, ia pasti tidak akan melihat Arshaka Dean penuh luka seperti itu. Rumi tidak berhenti menyalahkan diri.


Suara dering ponsel di saku celana yang dikenakan Edmund terdengar, Arshaka Dean tidak menyadari jika di sana ada ponsel. “Ars.” Albert merengkuh tubuh Arshaka Dean, hatinya tidak siap melihat Arshaka Dean seperti ini. Dering ponsel itu tidak berhenti, seperti sesuatu yang sangat penting ingin segera dikabarkan pada sang pemilik ponsel.


Arshaka Dean bergerak, perlahan mengeluarkan ponselnya. “Rumah sakit,” lirihnya. “Edmund!” sentak Arshaka Dean. “Kita harus pergi ke rumah sakit, Albert. Edmund … Albert, Edmund ….” Arshaka Dean terlihat panik, air matanya masih belum juga mengering, kini kabar mengejutkan lainnya datang tak kalah memberi luka.


“Edmund tidak ada, Ars,” ucap Albert, sedih. Albert belum tau semua ini, Albert menganggap Arshaka Dean mengalami delusi seperti waktu dulu dengan kupu-kupu. “Itu semua tidak nyata, Ars, lihat aku, kau ada di sini, Edmund sudah pergi, Ars,” bujuk Albert.


“Bawa aku ke rumah sakit, Albert,” perintah telak dari Arshaka Dean.