
“Ars ….” Albert menggoyang-goyangkan tubuh Arshaka Dean yang sudah terkulai lemah di tangannya.
“Albert kita harus cepat membawanya ke dalam,” sahut Chadla.
“Argh ….” Suara Arshaka Dean terdengar lirih, tangannya masih ia gunakan untuk meremas rambutnya. Arshaka Dean melepaskan diri dari Albert, lalu ia berguling di lantai, menahan segala sakit.
“Ars …! Jangan seperti ini.” Albert mendekat lagi, ia tahan lagi tubuh Arshaka Dean, sekali lagi Albert hatinya terluka.
“Albert, kupu-kupu itu terus mendatangiku … usir mereka, Albert,” ucapnya.
“Tidak ada kupu-kupu di sini, Ars,” ucap Albert, bergetar suaranya.
“Mereka terus berputar-putar, Albert ….” Arshaka Dean menekuk badannya, seperti orang yang bersembunyi dari serangan musuh.
“Ars, lihat aku. Di sini tidak ada kupu-kupu, lihat wajahku, Ars,” bujuk Chadla.
“Lihat aku, Ars,” pinta Chadla, Arshaka Dean menatap wajah Chadla, ragu-ragu, ia tatap kedua mata Chadla “Bagus,” ujar Chadla.
“Sekarang dengarkan aku, hanya dengarkan suaraku,” pinta Albert lagi. “Ars, tarik napasmu pelan-pelan,” lanjutnya.
Arshaka Dean melihat Chadla sekali lagi, lalu ia ikuti instruksi Chadla. Ia menarik napas pelan, lemah sekali.
“Hembuskan perlahan.” Chadla terus memberi intruksi. “Sekarang lihat sekitarmu, Ars. Kupu-kupu itu terbang jauh darimu, mereka perlahan terbang, terus ke atas.”
Arshaka Dean menatap ke atas langit. “Lihat ke arahku lagi, Ars.” Ia mengikuti instruksi Chadla. “Kupu-kupu itu tidak pernah keluar, Ars, mereka tetap di dalam bangunan kaca, mereka tidak akan menyakitimu.”
Arshaka Dean menggelengkan kepalanya, ribut. “Mereka ada! Mereka mendekatiku lagi. Usir mereka, Albert! Usir mereka, siapa saja usir mereka, jauhkan dariku, kumohon.” Chadla memegang tangan Arshaka Dean yang hendak memukul kepalanya, dibantu oleh Albert yang setia berada di samping Arshaka Dean.
“Tatap aku lagi, Ars. Fokuskan padaku lagi. Sekarang apa yang kau lihat, Ars?” tanya Chadla.
“Mereka beterbangan lagi, mereka datang lagi. Singkirkan mereka! Singkirkan mereka!”
Tubuhnya menegang, Arshaka Dean tak bergerak. “Ars …,” lirih Albert.
“Albert, bawa dia ke dalam,” kata Chadla.
Albert semakin panik melihat tubuh Arshaka Dean tidak lagi bergerak, Albert goyangkan perlahan tubuh Arshaka Dean, nihil, tidak ada respons darinya.
“Apa dia akan baik-baik saja, Chadla? Cepat katakan padaku, dia akan baik-baik saja, bukan?” cecar Albert.
“Ia tak sadarkan diri, Albert. Kita harus membawanya ke dalam, aku tidak bisa memeriksanya di sini, bantu aku, Albert,” jawab Chadla, memohon.
Arshaka Dean menyerah, melawan kupu-kupu yang hadir sebagai delusi. Semua kekuatannya ia kerahkan untuk mengusir jiwa yang tiba-tiba merasa dikejar, nyaris tak pernah berhasil, tetapi ia tetap tak menerima keadaannya.
Memang siapa yang akan menerima kenyataan pahit seperti ini? Arshaka Dean sudah lelah dengan pertarungan itu, bila bisa memilih ia lebih baik ada di medan pertempuran selamanya, melawan hal yang nyata terlihat, dibandingkan melawan sesuatu yang tidak ia harapkan seperti ini.
Arshaka Dean dibawa oleh Albert, tubuhnya lemah, kekuatannya habis. Albert dan Chadla membawanya langsung ke kamar Arshaka Dean. Albert rebahnya tubuh Arshaka Dean di tempat tidur dengan hati-hati. Semua penghuni mansion melihat itu, mereka dipenuhi rasa cemas di hatinya, mereka tak menyangka akan menyaksikan hal mengerikan seperti ini lagi.
Sudah lama mereka tidak menyaksikan Arshaka Dean seperti ini. Terakhir kali Arshaka Dean mengalami guncangan hebat seperti itu, terjadi pada waktu yang sudah lama. Pada saat itu, ia juga mengalami guncangan yang hebat, ketika mendengar nama ayahnya disebut, hingga terbentuk sebuah aturan yang melarang siapa pun menyebutkan nama ayahnya. Kali ini, sepertinya terjadi hal yang lebih buruk, bahkan sangat buruk, hingga menyebabkan Arshaka Dean menyerah pada dirinya sendiri.
“Rumi, kau baik-baik saja? Maafkan aku, kau pasti tidak nyaman, bukan? Istirahatlah, Rumi,” kata Albert.
Awalnya ia tidak menyadari keberadaan Rumi, bahkan panggilan Rumi saja ia tidak dengar, hatinya tengah risau, Albert tidak bisa membagi fokus kepada hal lain. Hingga sebuah tepukan halus di bahunya menyadarkan Albert dengan keberadaan Rumi di sana.
“Apa dia tidak apa-apa?” tanya Rumi sembari menatap Arshaka Dean penuh iba.
Saat ini Arshaka Dean tengah mendapat penanganan khusus dari Chadla. Setibanya di kamar Arshaka Dean, Chadla langsung mengambil tindakan, ia periksa semuanya, ia bahkan memberikan cairan infus. Chadla menyadari, jika perkataan dirinya tadi ada yang memicu Arshaka Dean memberontak seperti ini, hingga Arshaka Dean kembali mengalami delusi yang telah lama hilang.
“Kau … kau melihatnya tadi?” Rumi menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Kau pasti terkejut melihatnya seperti itu, kejadian tadi pasti jauh dari bayanganmu, bukan?” ujar Albert.
“Aku … kau … kau terlibat seperti ini setiap saat? Kau ….” Rumi tidak sanggup berkata lebih banyak, hatinya ikut sakit melihat Arshaka Dean terbaring lemah. Semua kesan kuat pada Arshaka Dean di pandangan pertama ia melihatnya, jatuh berkeping-keping, ia tidak sanggup lagi.
“Seperti inilah, Rumi. Seperti inilah, Ars yang sebenarnya. Ars tidak baik-baik saja, tetapi ia terus menekan dirinya untuk selalu berdiri, tegas pada dirinya sendiri, bahkan cenderung mengabaikan semua fakta yang ada,” jelas Albert.
“Oh Gosh, itu terlalu buruk,” ucap Rumi, terkejut.
“Seperti itulah, Rumi, kuharap kau bisa menerima Ars. Aku harap juga ia bisa segera menerima orang lain, dia selalu sendirian, meskipun kami menawarkan diri, dia selalu menolaknya.”
Albert mengusap wajahnya kasar, melihat ke arah Arshaka Dean yang sudah terpasang infus di lengan kanannya.
“Ini bisa saja lebih buruk dari yang kau lihat, kuharap kau tidak keberatan dengan perubahannya.” Albert menatap Rumi penuh permohonan.
“Kuharap kau bisa mengerti, karena yang sesungguhnya Ars butuhkan adalah perasaan diterima baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Jadi, jika boleh aku meminta, bisakah mulai sekarang kau menerima dirinya yang seperti ini? Aku tidak perlu meminta untuk sisi yang lainnya, aku hanya meminta kau lebih memperhatikan kondisi Ars yang jauh dari kata kuat ini. Rumi, kau bisa, bukan?”
Albert tidak menunggu jawaban dari Rumi, ia harus fokus lagi dengan Arshaka Dean, ia juga harus memastikan satu hal kepada Chadla.
Rumi diam mematung, pikirannya kembali pada pertama kali melihat Arshaka Dean, ia langsung terpesona begitu saja dan langsung bisa jatuh begitu saja, lalu dengan kondisi Arshaka Dean seperti ini, ia nyaris tak bisa mempercayai apa yang ia lihat, tapi…
Aku harus kuat, aku jatuh hati padanya, tidak mungkin aku membiarkan dia menderita sendirian. Albert bilang, dia butuh penerimaan, aku sungguh telah menerima semuanya darimu, Ars. Aku akan coba, kau berhasil merebut fokusku, Ars, bahkan aku hampir melupakan misiku. Aku akan membuat kau jatuh hati juga padaku, tunggu aku, batin Rumi mendeklarasikan diri, sekaligus menyatakan ia benar-benar jatuh cinta pada Arshaka Dean.
Fokus kini kembali lagi pada Albert dan Chadla, Albert harus memastikan sesuatu.
“Chadla, aku bukan ingin menuduhmu, tapi Ars seperti ini setelah ia keluar dari ruanganmu. Apa yang terjadi antara kau dan Ars? Sekali lagi aku tidak menuduhmu, Chadla, aku hanya ingin tau.”
Albert sepertinya juga menyadari, memang guncangan pada Arshaka Dean tidak mungkin terjadi begitu saja, pasti ada pemicunya. Albert hanya ingin paham dengan situasi saat ini, biar bagaimanapun ia adalah sekretaris Arshaka Dean, ia ingin terlibat apa pun yang menyangkut tuannya ini.
“Albert, aku tau kau pasti khawatir, tetapi percayalah, aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang dokter. Dan untuk yang terjadi di ruanganku, aku hanya memberi nasihat kepadanya, sama sepertimu, aku juga ingin Ars menerima keadaannya, tetapi respons, Ars.” Sebelum melanjutkan penjelasannya, Chadla melirik Arshaka Dean yang terbaring lemah di tempat tidurnya. “Seperti ini, kau bisa melihatnya tadi, ia tetap dalam zona penyangkalan, ia memilih untuk tidak terbuka, hingga tadi ia meledak. Aku kira, yang tadi itu, ia sudah mulai membuka diri, meskipun samar,” jelas Chadla.
“Lalu kenapa ia seperti ini, Chadla? Ia bahkan mempercayai delusinya lagi,” ujar Albert.
“Pemicunya mungkin perkataanku, tetapi aku ragu ketika dia berusaha menjauh dari kupu-kupu,” ucap Chadla.
“Apa mungkin di masa lalu, ada hubungannya dengan kupu-kupu itu? Apa mungkin kupu-kupu juga menjadi pemicunya? Apakah ini juga yang dimaksud oleh Edmund?”