
Chapter 44. Timbulnya Kesalahpahaman
Sebuah pertanyaan yang dirasa wajar Rumi lontarkan pada Arshaka Dean, mengundang kecemasan baru di hati Rumi, karena sikap Arshaka Dean yang menunjukkan kebingungan. Arshaka Dean dan dirinya sudah berada ditahap yang lebih jauh lagi. Rumi merasakan Arshaka Dean juga sudah tidak sekeras dulu.
Rumi bertanya dengan percaya diri, berharap Arshaka Dean memberikan jawaban yang memuaskan, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Maka Rumi sekali lagi bertanya, dan coba menunggu jawaban dengan hati berdebar.
“Sudah sejauh ini, lalu kita ini apa, Ars?” tanya Rumi menatap antusias pada Arshaka Dean.
Rak-rak buku di dalam ruang baca, menjadi saksi kedua insan yang baru selesai memadu kasih, tiba-tiba menjadi hening. Kebersamaan tadi begitu mengasyikkan juga mendebarkan, Arshaka Dean tak henti memandang wajah merah Rumi. Arshaka Dean telah merenggut hati Rumi sejak pertama bertemu, hari ini secara tiba-tiba, Arshaka Dean berani merenggut keindahan di wajah Rumi.
Apakah Rumi bahagia karena keinginannya terwujud? Rumi bahagia, tapi tidak sepenuhnya bahagia, apalagi sebelumnya Arshaka Dean melakukannya terlalu memaksa juga menuntut, hanya emosi yang Rumi terima.
Meskipun pada akhirnya bisa menikmati kala bersama di tengah sunyi ruang baca, tapi tetap saja hati Rumi berkata ini tidak benar. Rumi menuntut sebuah kejelasan di antara mereka, tapi Arshaka Dean hanya mematung, dan masih menempel dengan tubuh Rumi.
Arshaka Dean mematung, tak paham dengan pertanyaan tersirat dari Rumi. Sebenarnya pertanyaan Rumi sangat jelas, tapi memang dasarnya Arshaka Dean terlalu amatir, hal seperti ini saja sulit untuk dicerna dengan baik.
Arshaka Dean menatap penuh tanya pada Rumi, pertanyaan seperti ini tidak perlu ditanyakan lagi, pikir Arshaka Dean. Bukankah hubungan mereka dari awal sudah jelas? Jadi inilah jawaban yang bisa Arshaka Dean sampaikan pada Rumi.
“Kau tanya kita ini apa? Kau dan aku … bos dan anak buah, itu sudah jelas, bukan?” jawab Arshaka Dean tanpa hati.
Rumi tersentak dengan jawaban Arshaka Dean. Di tengah keadaannya yang sudah bahagia dengan ranum yang memerah dan bengkak, seketika dijatuhkan begitu keras oleh jawaban Arshaka Dean. perasaan berdebar tadi, menghilang, digantikan dengan perasaan marah yang tak bisa dikendalikan.
Rumi merasa kecewa, malu dengan harapannya sendiri, tak ada pilihan lain, Rumi menegakkan tubuhnya, kemudian Rumi mengangkat tangannya dan langsung saja menampar wajah Arshaka Dean yang sedang menatap padanya.
“Hey, kau berani melakukan ini padaku?!”
Arshaka Dean terkejut, ia merasa jawaban yang diberikan pada Rumi sudah tepat. Tidak mungkin menimbulkan kesalahpahaman, tapi yang terjadi Arshaka Dean dihadiahi tamparan yang cukup keras dari Rumi.
“Kau bodoh!” sentak Rumi marah. “Aku kira kau sudah berubah, ternyata aku hanya terlalu berharap lebih padamu! Jika kau berpikir kau bersalah, tentu saja kau tidak salah, semuanya salahku!”
Rumi keluar meninggalkan Arshaka Dean sendirian, ia kecewa atas jawaban Arshaka Dean. Rumi sudah melakukan hal yang berani, tapi sedikit pun, Arshaka Dean tidak mengindahkan Rumi.
Arshaka Dean tidak ada niatan untuk merendahkan Rumi hanya karena dirinya seorang perempuan, Arshaka Dean hanya tidak paham dengan jenis pertanyaan Rumi. Arshaka Dean memang cerdas untuk mengalahkan strategi lawan, tapi ia pemula untuk urusan perempuan.
Rumi berpapasan dengan Agatha ketika keluar dari ruang baca. Wajahnya merah bukan karena tersemu malu, Rumi sudah marah dan tak mengerti dengan Arshaka Dean. Agatha melihat curiga ke arah Rumi, melihat Rumi yang terlihat tidak bersahabat, membuat Agatha urung untuk menyapa.
“Ada apa dengan suasana suram ini? Mansion ini memang berdampak buruk bagi orang-orang,” gumam Agatha setelah membiarkan Rumi berlalu.
Tak berselang lama, Arshaka Dean juga keluar dari ruang baca, memegang pipinya yang tadi ditampar oleh Rumi. Agatha yang masih berdiri sembari menyilangkan tangannya terkejut dan bertanya-tanya.
“Kakak? Kau dan Rumi berduaan di dalam sana?” tanya Agatha.
“Tapi kenapa kalian terlihat mengerikan. Kakak, sepertinya mansion ini menyimpan kutukan, kau harus segera pindah dari sini,” ujar Agatha.
“Hey, Kakak, kalian bertengkar?” selidik Agatha.
“Apa aku terlihat jahat?” tanya Arshaka Dean tiba-tiba.
“Ada apa dengan pertanyaan ini? Kakak, kau tidak mungkin menyiksa Rumi, bukan?” tanya Agatha, bergidik ngeri.
“Kurasa, aku tidak melakukannya,” jawab Arshaka Dean, menggaruk tengkuknya.
Mereka tiba di ruang santai, di sana ada Watson juga Albert yang tengah asyik berbincang. Watson memutuskan untuk tidak ambil hati atas perlakuan Arshaka Dean pada dirinya, ia memaklumi Arshaka Dean yang belum stabil emosinya.
Arshaka Dean mendudukkan diri di kursi paling besar di sana, yang memang dikhususkan untuknya. Albert langsung melirik Agatha, melihat ekspresi yang diperlihatkan keduanya, Albert yakin pasti sudah terjadi sesuatu pada mereka.
“Ars, kau dari mana saja?” tanya Albert.
Watson menyadari keberadaan Arshaka Dean. “Kau! Ada apa denganmu? Kau langsung menghilang setelah menghajarku? Kau benar-benar kejam, Ars, aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti ini padaku,” ucap Watson, berlebihan.
Arshaka Dean melirik Watson, tajam. “Aku tidak pernah menghajarmu, Watson, apa kau ingin merasakannya sekarang?” tantang Arshaka Dean.
“Hey, Agatha, ada apa dengan kakakmu, kenapa dia seperti ini?” tanya Watson.
“Dia sepertinya sudah membuat masalah dengan Rumi,” ujar Agatha.
“Kau berseteru dengannya? Di mana, kenapa aku tidak tau?” tanya Albert.
“Aku bertemu mereka di ruang baca. Sepertinya lebih dari berseteru, Rumi terlihat menangis,” ungkap Agatha.
“Menangis?!” sambar Arshaka Dean.
“Hey, kau yang bersamanya, kenapa kau terkejut seperti itu?” gerutu Watson.
“Kakak, kau yakin tidak menyiksa Rumi?” selidik Agatha.
“Sudah kubilang, aku tidak melakukannya, aku yang ditampar olehnya!” berangnya, tak sadar mengungkapkan apa yang telah terjadi padanya dan Rumi.
“Kau ditampar Rumi? Tidak mungkin, dia sangat menyukaimu, kau pasti sudah membuat dia terluka,” ungkap Albert.
“Dari mana kau tau, Albert? Bisa saja dia menyukaiku,” ucap Watson, percaya diri.
“Itu kemungkinan yang tidak akan terjadi, Watson!” tegas Arshaka Dean.
“Mungkinkah, kau menyukai Rumi, kawan?” tanya Watson, merasa tertarik.
“Tidak mungkin, aku ini bos dan dia adalah anak buahku!” sentak Arshaka Dean.
“Kau, kau sadar dengan kata-katamu, atau mungkin kau sudah mengatakannya pada Rumi? Wah, Kakak, kau benar-benar kejam, kau bukan manusia, aku kecewa padamu,” ucap Agatha, menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa yang salah dengan itu? Aku mengatakan hal yang sesungguhnya, itu faktanya, ada apa dengan kalian?” Rahang Arshaka Dean menegas, urat lehernya terlihat semakin menonjol, dia benar-benar marah.
“Wah, jika seperti ini, aku akan mendukung Watson untuk mendekati Rumi, kau tidak ada harapan, Kakak,” ujar Agatha, membuat Arshaka Dean mengernyitkan dahi.
Arshaka Dean semakin merasa terpojok, kini ia sadar dengan perkataannya. Rumi mungkin bukan ingin mendengar jawaban seperti itu darinya, setelah mereka membagi keindahan di ruang baca.
“Apa yang kalian lakukan di ruang baca? Kalian tidak mungkin hanya mengobrol saja, bukan? Jika kau memang tertarik pada Rumi, kau harus perlakukan dia sebagai perempuan, dia bukan anak buahmu, kau tidak bisa memperlakukan dia seperti itu,” kata Watson, memberi nasihat.
“Terus apa yang harus kulakukan? Aku sudah melakukan semua yang dia inginkan, apa itu saja tidak cukup?” tanya Arshaka Dean menggebu-gebu.
“Kau yakin sudah semuanya?”