The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 48. Senjata Tersembunyi



Matahari mulai menampakkan kegagahannya, cuaca sudah mulai berganti hangat dari dingin yang mendera. Gagah terang mentari, membuat Albert tersadar, jika misi sebentar lagi akan segera berada di titik temu. Albert sesekali melihat ke arah jendela, tiba-tiba saja, fokus Albert menangkap sepucuk moncong senjata yang diarahkan ke arah Arshaka Dean, Albert langsung tersadar.


Albert melihat sebuah tembakan dilancarkan, timah panas meluncur dengan bebas, terlihat lambat mengarah pada Arshaka Dean. Beberapa detik, pikiran Albert mengawang, melihat ujung peluru yang berputar. Sadar dengan tindakan dari mobil di seberang sana, Albert langsung menarik Arshaka Dean, kemudian menunduk menyelamatkan tuannya.


“Awas!” teriak Albert. Arshaka Dean tersentak, tak siap dengan tarikan Albert, hingga kepalanya membentur belakang kursi mobil.


Beruntung mobil langsung melaju dengan kecepatan paling tinggi, sehingga mereka bisa menghindar. Albert panik, tidak mungkin bersikap tenang jika sebuah tembakan langsung mengarah kepada Arshaka Dean. Mobil tengah melaju kencang, ditambah Arshaka Dean tidak pernah menggunakan senjata, sehingga tidak ada senjata di mobil mereka, tidak bisa melawan balik. Saru-satunya cara adalah menghindar.


“Sialan!” berang Arshaka Dean.


“Ars, kau tidak apa-apa?” tanya si pengemudi.


“Jangan lengah, terus maju! Jangan sampai mereka mendahului kita!” tegas Arshaka Dean.


“Ars, kau masih ingat bahwa aku ada di sini, bukan? Kau tidak memperdulikan keselamatanku?” tanya Watson, masih sempat-sempatnya membuat drama di situasi genting seperti ini.


“Berisik! Diamlah, bantu aku lihat sekeliling,” balas Arshaka Dean tegas.


“Albert, konfirmasi pada Pram, laporkan padanya untuk berjaga dan berhati-hati, terus awasi pergerakan,” titah Arshaka Dean.


“Baik.” Albert langsung meneruskan sambungan telepon pada Pram, salah satu tukang pukul yang sudah berada di tempat.


“Sialan, dari mana mereka tau rute ini?” Mata Arshaka Dean terlihat sangat mengerikan.


“Ars, mereka bertambah, hati-hati! Banyak senjata!” teriak seseorang dari mobil paling belakang, mereka masih tersambung.


Mobil musuh sudah semakin mendekat, aksi saling kejar-kejaran tidak bisa dielakkan lagi. Arshaka Dean terus memerintahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga, ia juga pastikan semua yang ada di dalam mobil bersamanya, dalam keadaan aman. Umpatan demi umpatan lancar dilontarkan, serangan musuh benar-benar tidak terduga, dan membuat Arshaka Dean jengkel.


“Berhenti sekarang juga!” teriak Arshaka Dean.


“Ars, kau yakin?” tanya Albert, khawatir.


“Jangan menahanku, Albert. Segera kumpulkan yang lainnya, kita bertarung saat ini juga, aku sudah muak!” tegas Arshaka Dean.


Segera setelah Arshaka Dean memberi komando, mobil berhenti seketika, tanpa aba-aba, membuat terkejut musuh yang mengikuti mereka. Arshaka Dean tidak ingin buang-buang waktu saling kejar di jalan, itu membuat mereka terhambat lebih lama. Maka tidak ada cara lain, mereka harus bertempur.


Di dalam mobil Levon, mereka tampak terkejut dengan keberanian Arshaka Dean. Levon melihat ini sebagai peluang, ia berpikir jika Arshaka Dean sudah menyerahkan diri. Levon antusias, tersenyum mengerikan, seakan kemenangan sudah di tangannya.


“Mereka berhenti, Bos!” teriak anak buah Levon.


“Bagus, aku bisa menghabisi mereka sekarang juga, itu akan lebih mudah,” jawab Levon, tertawa.


“Tapi kita harus melapor pada Bos Besar, Bos,” ujar anak buahnya.


“Sialan! Kenapa kau ingatkan aku?” berang Levon.


Arshaka Dean langsung keluar dari mobil, kemarahan sudah di ambang batas, Arshaka Dean membanting pintu mobil. Albert dan yang lainnya, menyusul keluar membentuk formasi, mendampingi Arshaka Dean.


Rombongan Arshaka Dean, serempak berhenti dan langsung menyerbu, menempati posisi masing-masing. Arshaka Dean menghadap depan, menunggu datangnya lawan. Arshaka Dean terlihat sangat marah, dengan wajah yang sudah memerah, ia tak akan menjatuhkan kata menyerah.


Rombongan musuh berhenti beberapa meter di hadapan mereka, Levon turun dari mobil, diikuti kelima anak buahnya. Keadaan tidak seimbang, pasukan Arshaka Dean lengkap, sedangkan Levon hanya beberapa saja. Semunya terlihat meremehkan, tapi tiba-tiba, pasukan Levon yang lainnya bermunculan, memenuhi ruas jalan di seberang Arshaka Dean.


Arshaka Dean menghitung jumlah, mereka aman, meski sudah seimbang, tetap saja ada satu hal yang tidak bisa dihindari, mereka memiliki senjata. Arshaka Dean dari dulu tidak pernah menggunakan senjata dalam setiap misinya, ia dan pasukannya hanya mengandalkan kekuatannya.


Arshaka Dean kemudian menatap Levon penuh kebencian, ternyata benar dugaannya, masih orang yang sama dan itu-itu saja. Levon dan Arshaka Dean sudah sering bertemu, juga sering bertempur, tujuan Levon tidak pernah berubah. Arshaka Dean sudah paham tabiat itu, ia sempat menyesal tidak membuat Levon lumpuh waktu itu.


“Kau terlihat bugar, bocah sepertimu memang sedang tumbuh dan berkembang, kenapa kau tidak diam saja di mansion mewah itu? Jalanan bukan tempatmu, dasar bocah,” kelakar Levon.


“Kau pikir, kau ini siapa? Kau hanya bocah tengik yang bergantung pada uangmu saja, anak buahmu tidak akan ada yang setia jika bukan karena uangmu yang berlimpah itu. Kau masih hidup sendirian, kau pasti ditinggalkan, kau tidak tau saja, kau masih bodoh rupanya,” cibir Levon.


Mendengar kata-kata Levon yang begitu arogan, Albert maju satu langkah, tapi belum sempat ia melanjutkan langkah berikutnya, tubuhnya sudah ditahan oleh Arshaka Dean.


“Kau pikir, rute ini hanya milikmu? Jangan bangga dulu, masih banyak yang percaya padaku, informasi sekecil ini, mudah saja aku gali. Tidak perlu mengeluarkan sepeser pun, kau berada di ujung tanduk, Ars. Enyahlah dari hadapanku,” tambah Levon.


“Kau tau apa tentang hidupku? Aku tidak sendirian sekarang, aku tidak kesepian,” tegas Arshaka Dean.


“Mimpi, kau hanya bermimpi, tapi tidak masalah, teruslah bermimpi, Ars, aku suka melihatnya. Teruslah hidup dalam bayang-bayang semu itu, sampai kau terbangun dan menyadari tidak ada satu orang pun yang ada di pihakmu,” katanya.


“Apa yang kau cari kali ini, Levon?” tanya Arshaka Dean, santai.


“Wah, sebuah kehormatan namaku disebut oleh seorang mafia yang katanya hebat dan sakti ini. Apa yang kumau, tentu saja, membunuhmu saat ini juga,” jawab Levon, tertawa diikuti anak buahnya.


Rahang Arshaka Dean mengeras, dadanya digempur gemuruh yang dipicu oleh ucapan Levon. Levon ingin sebuah pertarungan, Arshaka Dean siap dengan itu, tapi syarat yang pasti dari Arshaka Dean tetap sama, jatuhkan senjata.


“Kau ingin bertarung denganku? Kau sudah siap menerima kekalahan lainnya?” Arshaka Dean tersenyum, memberi tekanan lainnya pada Levon.


“Kau banyak bicara,” kata Levon.


“Baiklah, langsung saja, seperti biasa, jatuhkan senjata yang kalian bawa, kita bertarung dengan tangan kosong, itu pun jika kau berani melawanku,” ucap Arshaka Dean, menantang.


“Kurang ajar!”


Levon panas juga rupanya, ia tegas memberi komando kepada pasukannya untuk menyerang. Arshaka Dean pun tak kalah cepat, segera ia perintahkan anak buahnya maju, kali ini Albert dan Watson bertahan untuk melindungi Arshaka Dean. Arshaka Dean menunggu celah, untuk melawan Levon, ia tidak mau melawan anak buah Levon.


Matahari yang mulai naik, menerangi jual beli adu tinju di tempat yang lapang itu. Meskipun mereka bertempur di jalanan, untungnya, ini bukan jalan yang biasa penduduk lewati, mereka leluasa untuk bertarung.


Suara geraman terdengar, pukulan demi pukulan dilancarkan. Levon mulai bergerak maju, Arshaka Dean segera melangkahkan kakinya.


“Kau harus mati di tanganku!” teriak Levon.


Satu pukulan mentah mengenai Arshaka Dean tanpa aba-aba, suasana menjadi sangat tegang. Albert dan Watson sudah terlibat pertarungan, mereka langsung fokus dengan lawan masing-masing.


Arshaka Dean menatap Levon dengan sinis, tidak menunggu lama, mereka langsung bertarung. Arshaka Dean meninju Levon, hingga Levon terhuyung ke belakang, Arshaka Dean tak gentar, ia terus menggempur Levon.


Levon melawan, menangkap kaki Arshaka Dean dan segera ia jatuhkan Arshaka Dean di atas aspal. Arshaka Dean terus memberi pukulan keras pada Levon, darah di mana-mana, suara raungan juga menjadi pelengkap dalam pertarungan besar ini.


Beberapa anak buah Levon terlihat sudah dilumpuhkan, mereka terkapar dengan tubuh berlumuran darah. Arshaka Dean semakin panas hatinya, pertarungan berlanjut, Arshaka Dean mempiting leher Levon, tak ada ampun. Levon berontak berusaha melawan, hingga napasnya tersengal-sengal.


“Aku … tak akan membiarkan hidupku direnggut oleh orang sepertimu, kau yang pantas mati!” Arshaka Dean berujar geram, masih menahan Levon dengan tangannya.


Arshaka Dean lengah, membiarkan lengan Levon bebas bergerak. Levon mengambil kesempatan, ia sikut bagian perut bawah Arshaka Dean. Arshaka Dean mengerang, bagian paling rawan tubuhnya diserang.


“Kau tak pantas bahagia! Kau pantas mati!” teriak Levon.


Arshaka Dean semakin geram, ia tendang keras tubuh Levon dari samping. Levon terbanting, dan terlempar jauh dari Arshaka Dean. Levon menatap Arshaka Dean penuh dendam dan rasa benci, umpatan-umpatan keras ia teriakan.


Levon sudah percaya diri akan memenangkan pertempuran kali ini, tapi ia lengah dengan kekuatan Arshaka Dean. Begitu merasakan kekuatan Arshaka Dean yang tidak biasa, ia harus melancarkan cara lain untuk menghadapi Arshaka Dean. Tidak mudah menjatuhkan Arshaka Dean dengan tangan kosong yang merupakan keahlian Arshaka Dean.


Levon menyisir semua penjuru dengan matanya, hingga ia menemukan sosok penting yang sedang bersembunyi. Levon tersenyum dan menganggukkan kepala, memberi tanda.


Segera setelah Levon mengangguk, suara tembakan yang datangnya entah dari mana, menginterupsi semua orang yang sedang bertarung. Seketika, pertarungan terhenti, Albert melihat ke arah Arshaka Dean, hening. Suara tembakan tadi membuatnya tersadar akan satu hal, ia langsung memeriksa.


“Ars!”