
Rumi masih terus menatap Watson, hatinya berisik, seakan-akan tabuhan genderang yang dipukul memenuhi setiap ruang di hatinya, tanda peperangan siap dimulai. Ia juga tak sadar dirinya diperhatikan oleh Watson. Dari awal Watson menangkap sosok baru, dirinya sudah menaruh perhatian lebih pada Rumi.
Watson lalu mendekat pada Rumi, mengulurkan tangan hendak berjabat dengan Rumi.
“Perkenalkan, aku temannya, Ars. Watson Varun, panggil saja aku, Watson. Senang bisa berkenalan denganmu,” ucapnya, Watson mencoba untuk menebar pesonanya, tetapi sayang, Rumi tidak peduli.
Bukan membalas sapaan Watson, Rumi malah menebar jaring waspada terhadapnya. Rumi masih menatap Watson, matanya silih berganti menatap wajah Watson dan uluran tangannya.
Tak kunjung mendapat sambutan, Watson tersenyum tengil ke arah Rumi sembari menggerak-gerakkan tangannya.
“Aku Watson, siapa namamu?” ulangnya lagi.
“Ah, maafkan aku.” Setelah lama memindai, dengan terpaksa Rumi menyambut jabatan tangan Watson, yang dibalas tersenyum senang bukan main.
Watson tak menyia-nyiakan kesempatan, ia genggam erat tangan Rumi, mengelus punggung tangannya.
“Aku, Rumi, senang berkenalan denganmu,” lanjutnya lagi, ia dengan cepat melepaskan jabat tangannya, risih.
“Watson, ada apa kau kemari? Apakah Ars mempunyai janji denganmu?” tanya Albert.
“Astaga, aku lupa, Albert,” pekiknya.
“Ada apa, Watson? Sesuatu terjadi pada perusahaan?” tanya Albert lagi.
“Bukan, dia mengajakku bersenang-senang kemarin, aku ke sini hendak mengajaknya bermain golf,” jelas Watson. “Aku tidak tau jika dia sedang tidak baik-baik saja,” lanjutnya.
“Benar, Watson. Kau lihat sendiri, saat ini, Ars begitu rapuh, aku sakit melihatnya,” ujar Albert.
Chadla merasa terusik dengan perbincangan mereka. “Jika aku meminta kalian untuk berbincang di bawah sana, apa tidak keberatan?” ucap Chadla.
“Ars sepertinya butuh ketenangan, bolehkah aku meminta kalian untuk berbincang di luar saja?” tanya Chadla lagi penuh dengan kelembutan.
“Itu akan sangat membantu, Chadla. Mari Watson, kita turun saja,” ajak Albert.
Benar yang dibutuhkan Arshaka Dean selain dukungan dari orang-orang adalah ketenangan. Arshaka Dean membutuhkan setidaknya ruangan yang khusus untuk dirinya, tetapi jika ia dipindahkan ke tempat Chadla, ia pasti akan menolak.
Seperti kita ketahui, Arshaka Dean tidak menerima keadaan dirinya yang seperti ini, jika ia dibawa ke dalam ruangan khusus, bukan tidak mungkin dirinya akan berontak lagi dan ditakutkan tidak bisa dikendalikan.
Sudah lama mereka tidak memberikan obat penenang kepada Arshaka Dean. Obat penenang bersifat sementara, sedangkan Arshaka Dean terlalu sering bereaksi seperti ini. Mereka takut, jika kesehatan tubuhnya terganggu akibat terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan, itulah mengapa Chadla menyarankan untuk segera dilakukan terapi, karena jika tidak melakukan terapi, bukan tidak mungkin mereka memberikan lagi obat-obat penenang untuk Arshaka Dean.
“Haruskah aku ikut turun?” tanya Watson, anggukan kepala dari Albert menjadi jawaban atas pertanyaannya.
“Baiklah, aku akan meninggalkan temanku. Ars, jangan khawatir, aku ada di sini untukmu, aku merindukanmu,” ujarnya mencoba untuk menghibur yang lain.
Albert dan Watson keluar dari kamar Arshaka Dean, Rumi yang masih berada di sana juga ikut turun bersama mereka. Sebelum turun Rumi menyempatkan diri untuk melihat sekilas ke arah Arshaka Dean yang terbaring. Wajah Arshaka Dean terlihat pucat, tetapi tak menyurutkan ketampanannya, yang sukses membuat hati Rumi berdetak tak karuan. Sudah puas melihat tuan hatinya itu, Rumi putuskan untuk turun mengikuti yang lain.
Anak tangga demi anak tangga mereka turuni, berbagai rasa bercampur aduk di sana. Albert, meski sudah lebih tenang, pikirannya tetap saja pada keselamatan tuannya itu, sedangkan Watson ia masih terus banyak pertanyaan tentang Rumi.
“Kau berasal dari mana, Rumi?” tanya Watson pada Rumi yang terdengar melangkah di belakangnya.
“Aku datang bersama Robert,” jawabnya, meski tidak begitu mengarah pada pertanyaan Watson, tapi itulah yang seharusnya Watson tau. Rumi membentengi diri, rupanya.
“Ah, aku paham. Kau sudah lama bersamanya?” tanya Watson lagi, Albert yang selangkah lebih dulu dari mereka hanya menjadi pendengar saja.
“Begitulah, aku sudah bersamanya semenjak aku menjadi seorang pengajar.” Rumi melanjutkan langkah dengan hati-hati.
“Kau teman dari, Ars?” Rumi kini yang bertanya.
“Benar, aku sudah lama sekali berteman dengan dia, aku bisa dibilang belahan jiwanya. Kau pasti tidak akan percaya, jika hidupnya bergantung padaku,” jawab Watson membanggakan dirinya sendiri.
“Kau tidak mengerti perumpamaan.” Watson menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Baiklah, baiklah, aku memang berlebihan. Hey, ayolah, tidakkah seharusnya kau bersikap ramah padaku?” tanyanya canggung.
“Aku tidak kebetulan mempunyai urgensi denganmu, kurasa aku tidak perlu bersikap ramah padamu,” jawab Rumi terus terang.
“Hey, kau, bukankah itu terlalu kejam? Aku ini teman bos besarmu. Ah, sudahlah, lupakan saja,” kata Watson, pasrah.
Albert yang mendengar itu, mengulum senyum.
Dia sudah benar-benar terjerat pesona, Ars. Kuharap kau benar-benar jatuh hati padanya, Rumi, dan semoga saja kau tulus, batin Albert.
“Albert, aku tetap saja kalah olehnya, harus bagaimana ini, Albert?” tanya Watson merasa kalah pesona.
“Untuk yang satu ini, maafkan aku, aku tidak bisa membantumu, Watson,” jawab Albert, tersenyum.
“Kau juga seperti ini padaku, Albert. Tidak bisakah sedikit saja kau menghiburku, Watson? Aku benar-benar kalah,” ujar Watson terdengar sendu.
“Kau pasti akan menemukan pendamping hidup yang sesuai dengan keinginanmu, Watson. Tunggulah,” ucap Albert.
Mereka sudah tiba di bawah, terlihat para bibi sedang berlalu lalang, bekerja. Ketika berpapasan dengan Albert dan yang lain, mereka menundukkan kepala, memberi salam.
Seorang bibi berjalan di antara mereka, tiba-tiba saja, entah kenapa, ia tergelincir, padahal lantai tidak basah. Albert sigap menahan bibi itu agar tidak terlalu menyentuh lantai.
“Bibi …!”
“Kau tidak apa-apa?” tanya Albert, khawatir.
“Tuan Albert, terima kasih banyak,” ucapnya sembari memegang dadanya, ia juga terkejut.
“Syukurlah, kau tidak apa-apa, Bibi. Jika kurang enak badan, kau bisa beristirahat, Bibi, jangan memaksakan diri, biarkanlah orang lain yang menggantikan pekerjaanmu,” kata Albert, bijaksana.
“Aku tidak apa-apa, Tuan Albert, aku hanya terpeleset saja,” jawabnya.
“Begitu rupanya, berhati-hatilah,” ucap Albert sembari berdiri bersama bibi itu.
“Terima kasih, Tuan Albert, aku akan melanjutkan pekerjaanku, permisi,” pamitnya.
“Hati-hati,” jawab Albert.
“Kau baik sekali, Albert,” ucap Rumi tiba-tiba.
“Tidak, aku hanya menjalankan tugasku,” jawab Albert.
Albert selalu seperti itu, Albert selalu merasa, ketika tuanya tidak ada di sana, maka ia yang harus menggantikan sosok pemimpin di mansion itu. Albert bertanggung jawab atas segala hal, di mulai dari keselamatan tuannya, hingga keselamatan orang-orang yang bekerja dengan tuannya, selalu ia prioritaskan.
Setelah kejadian di masa lalu, Albert selalu menempatkan dirinya di urutan kedua. Keselamatan orang-orang di sekitarnya, selalu ia tempatkan di daftar paling tinggi. Begitulah loyalitas seorang Albert.
“Dia memang baik hati, Rumi, tidak seperti seseorang yang katanya tidak punya urgensi denganku,” kata Watson setengah menyindir.
“Aku sekarang tau, jika kau tipe orang pendendam,” ucap Rumi tidak peduli.
“Astaga, aku kalah telak,” ujar Watson.
Sementara Watson meratapi dirinya yang kian tertolak oleh Rumi, Albert di sebelahnya mematung seketika. Pintu mansion perlahan terbuka, sosok yang sudah lama tidak kembali ke mansion datang pada waktu yang tidak tepat.
Pintu terbuka lebar, sesosok perempuan masuk dengan pakaian serba branded. Jantung Albert tiba-tiba berhenti melihat sosok yang masuk, alih-alih menyambut, Albert mematung, ia terlihat melambat dalam mencerna fokus yang sedang berjalan ke arahnya.
“Aku pulang …!” teriak seseorang. Panik, semua orang panik.