
Tangan Edmund ditarik oleh pria itu, karena Edmund terlalu lama merespons dirinya, Edmund tiba-tiba merasa terseret, agar tidak menimbulkan keramaian, Edmund akhirnya menuruti keinginan pria itu untuk mengikutinya.
Si pria tiba-tiba datang tanpa ijin yang jelas membawa dirinya pergi, ada rasa khawatir di sana, tapi Edmund coba untuk tenang, karena dia yakin, kenalan Arshaka Dean ini tidak akan menyakitinya.
“Paman pasti bingung dan mencariku,” ucap Edmund, setelah dirinya masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh pria itu.
“Aku akan menghubunginya, jangan khawatir soal itu, ada yang lebih mendesak, dan kau patut khawatir tentang ini, jika tidak, perusahaan Arshaka Dean akan hancur,” jelas si pria.
“Apa aku harus ke sana? Bukankah mereka akan kecewa karena yang datang bukan kakakku?” tanya Edmund.
“Wajah kalian sama, tidak akan ada yang menyadarinya, kau ikuti saja arahanku,” jawab si pria.
Si pria hari ini terlihat berbeda dari biasanya, Edmund yang melihatnya pun ikut terheran-heran. Pasalnya ia terlihat gelisah dan selalu melihat ke arah belakang, seperti sedang dikejar-kejar musuh.
Raut wajahnya pun terlihat panik, berbeda sekali dengan Edmund yang terlihat santai, meskipun mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Edmund harus menahan diri agar tidak terbanting.
Hari sudah mulai malam, sudah sepantasnya Edmund curiga dengan perjalanan mereka. Edmund bahkan tidak memikirkan perusahaan apa yang akan mereka datangi di malam hari seperti ini.
Edmund melihat sekitar, sepanjang jalan yang mereka lalui, sisi-sisinya dipenuhi pepohonan, tidak mencerminkan perjalanan menuju perusahaan mana pun, karena setahu Edmund, perusahaan Arshaka Dean tidak ada yang sampai masuk hutan.
“Apa Kakak membuka perusahaan baru? Ini bukan jalan yang biasa kita lewati untuk ke perusahaan Kakak,” ucap Edmund, masih tenang.
Si pria terlihat jengah dan tertekan, beberapa kali membuang napas kasar, juga mengacak rambutnya. Edmund melihat itu semua, membuat ia bertanya-tanya, apa pertanyaannya salah? Jelas-jelas itu pertanyaan biasa, tapi kenapa si pria terlihat ketakutan juga bingung dengan pertanyaan Edmund.
Si pria meraih kain hitam, lalu melihat ke arah Edmund. “Kau terlalu banyak bicara.” Si pria menutup kepala Edmund dengan kain hitam itu, kemudian si pria ikat bagian bawahnya, tidak menggubris Edmund yang memberontak.
“Tunggu!”
“Jangan!” mohon Edmund.
“Apa ini? Kakak, kau kenapa?” Edmund terus memberontak, tapi telat, tangan dan kaki Edmund yang berusaha menahan pria itu, sudah diikat dengan kencang.
“Diamlah! Jika tidak, aku bersumpah, akan melemparmu dari sini, sekarang juga!” ancamnya.
Edmund ketakutan, panik tidak percaya jika kenalan kakaknya akan bertindak seperti ini. Edmund berusaha membuka ikatan di tangannya, nihil, ikatan yang dibuat si pria terlalu ketat, hingga ia sulit untuk sekadar menggerakkan tangannya.
Dengan kepalanya yang tertutup, Edmund tidak bisa melihat ke mana ia akan dibawa pergi. Edmund dapat merasakan napasnya sendiri, hitam, penglihatan Edmund menghitam, tak nyaman.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Edmund di balik kain hitam.
“Kau teman dari kakakku, kenapa kau seperti ini padaku?” tanya Edmund.
Si pria tertawa, memukul-mukul kursi. “Kata siapa aku teman kakakmu? Kau tidak dapat dipercaya.” Si pria menggelengkan kepalanya dan tertawa, mencibir Edmund. “Aku sudah lama bersama dia, dan kau tidak curiga sedikit pun padaku? Aktingku yang terlalu bagus, atau orang-orang di sana yang terlalu bodoh? Teman, katamu?” Si pria tertawa diikuti dua orang temannya yang berada di dalam mobil itu.
“Aku paham,” kata Edmund. Edmund menyadari sesuatu, selama ini orang kepercayaan Arshaka Dean ternyata mempunyai niat licik, tak bisa berbuat banyak, Edmund akan turuti terlebih dahulu permainannya.
“Lalu, mau kau apakan aku ini?” tanya Edmund.
“Hhmm … tidak menarik jika langsung aku habisi di sini, aku ingin bersenang-senang terlebih dahulu denganmu,” katanya penuh kemenangan.
“Apa yang akan kau dapatkan dari semua ini, Kakak?” tanya Edmund, berani.
Si pria berang, sejujurnya ia juga tidak tau apa yang akan ia dapatkan selain kepuasan dirinya sendiri. “Kau berisik!” ucapnya, Si pria menghajar perut Edmund, membuat Edmund mengaduh kesakitan. Bekas operasinya masih belum pulih seratus persen, dipukul secara tiba-tiba seperti itu, menimbulkan efek ngilu yang luar biasa.
Si pria menjambak rambut panjang Edmund, menariknya hingga kepala Edmund terbentur pada ujung kursi. “Jika kau tidak ingin kubuat mati di sini, lebih baik kau tutup mulut sampahmu itu!” ancamnya.
Di mansion, suasananya masih tampak biasa saja, belum ada yang menyadari bahwa Edmund tidak ada di sana. Albert tengah meneliti temuan foto misterius yang ditemukan oleh Edmund di ruang baca sana. Albert mencari tau dari informan yang biasa dimintai tolong olehnya, ia juga berencana untuk berkunjung ke mansion keluarga Arshaka Dean, meskipun dicegah oleh Agatha.
Agatha masuk ke dalam ruang kerja Albert, tanpa mengetuk pintu. “Albert, kau sudah mulai melakukan pencarian?” tanya Agatha, memegang pundak Albert.
Albert merasakan desir itu lagi, Albert memegang tangan Agatha yang berada di pundaknya, mengelusnya dengan lembut. “Aku hanya meminta bantuan pada temanku,” jawab Albert, ia membalikkan tubuhnya, menghadap pada Agatha.
“Kau cantik sekali, Agatha,” puji Albert, tiba-tiba.
“Aku akan segera meminta ijin pada kakakmu, aku tidak akan diam saja,” ujar Albert.
Agatha menangkup wajah Albert, tersenyum dengan tulus padanya. “Kau tidak perlu melakukan itu, dia pasti tidak akan keberatan, lagipula semua keputusan ada di tanganku,” kata Agatha.
“Tidak bisa seperti itu, aku mengencani adiknya, aku harus mendapat restu darinya,” kata Albert.
“Baiklah, lakukan, tunggu ia kembali,” jawab Agatha, tersenyum getir.
Albert menangkap kekhawatiran itu, Albert memeluk pinggang Agatha, memberi kenyamanan di sana. “Dia pasti kembali, percayalah. Ars, orang yang kuat, kau tidak perlu khawatir berlebihan,” kata Albert, mengusap punggung Agatha.
Sementara Rumi sedang berada di luar, menatap awan hitam yang bergelayut di langit malam, tampak sangat mengerikan, membuat hatinya tiba-tiba saja cemas. Rumi memainkan bibirnya, dirinya gusar, seakan ada yang memberitahu jika akan terjadi sesuatu yang mengerikan seperti awan hitam di sana.
Rumi masuk lagi ke dalam, firasatnya mengatakan jika ia harus mencari Edmund. Benar, Rumi baru ingat jika ia belum bertemu Edmund lagi setelah ia pergi begitu saja karena merasa dipojokkan oleh Agatha. Rumi memeluk dirinya sendiri, angin dingin berhembus, membuat tubuh Rumi meremang, perasaannya tak enak.
“Edmund?” panggil Rumi.
Rumi menaiki tangga, ia harus bertemu dengan Edmund, Rumi akan ke ruangannya, karena Edmund tidak ada di bawah. Masih memeluk diri dengan kedua tangannya, Rumi berjalan menunduk, dan terus mengusap lengannya karena cuaca tiba-tiba menjadi begitu dingin, apalagi, begitu naik ke atas, semakin membuat Rumi cemas.
“Edmund?” panggil Rumi lagi, tapi masih juga tidak ada jawaban.
Albert yang tengah memeluk Agatha di ruangan kerja, menoleh, mendengar Rumi memanggil nama Edmund. Meskipun enggan, Albert melepaskan tangannya dari Agatha, dirinya seketika merasa tidak enak hati.
“Aku butuh ketenangan Albert, cepat peluk aku lagi,” kata Agatha.
Albert menatap Agatha dengan lembut, memberi pengertian dengan mengusap-usap lengan Agatha. “Sepertinya Rumi butuh sesuatu, aku harus keluar, tunggulah di sini, aku tidak akan lama,” jelas Albert.
Albert keluar, melihat Rumi berjalan di sana, mencari seseorang. “Kau mencari Edmund?” tanya Albert.
Rumi terperanjat, ia segera membalikkan tubuhnya. “Albert, aku tidak bisa menemukan Edmund,” ujar Agatha, terlihat panik.
“Bukankah Edmund ada di halaman depan?” tanya Albert, mencoba mengingat sesuatu.
“Aku tidak menemukannya, Albert. Bagaimana ini? Di mana dia, Albert?” tanya Rumi, panik.
Dalam situasi panik seperti itu, seorang Bibi berlari dari bawah, tergopoh-gopoh, dengan raut wajah penuh ketakutan. “Tuan Albert … tuan Albert … bagaimana ini?” ucapnya.
“Tuan Albert, bagaimana ini?”
“Ada apa, Bibi?”
“Edmund, tuan, Edmund,” ucap Bibi itu tak jelas, sembari menunjuk ke arah luar mansion.
“Kenapa? Ada apa dengan Edmund, Bibi?” tanya Rumi.
“Edmund dibawa pergi ….”