The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 72. Masih Ada Kesempatan



Arshaka Dean masih di sana, menatap sendu pintu yang tertutup rapat, mengenyahkan segala macam firasat, agar dirinya tetap kuat. Menanti bukan perkara yang mudah bagi Arshaka Dean, tapi dia akan buktikan jika dirinya sudah bertekad untuk memperjuangkan Rumi, dan akan menghadapinya secara jantan, walaupun banyak aral melintang.


Matahari mulai naik dari tempat kedatangannya, Arshaka Dean menghela napas, ia kecewa, kecewa karena tidak bisa menyadarinya lebih cepat. Ia berbalik arah, mencoba sekali lagi berharap pada angin yang berhembus, yang ia yakini akan membawa terbang setiap kerinduan pada Rumi dengan tulus.


“Ars!” Arshaka Dean mendengar teriakan, suaranya familiar, tidak mungkin salah dengar, Arshaka Dean segera menoleh.


“Ars!” teriaknya lagi.


Arshaka Dean segera bangkit, menunggu yang berteriak mendekat padanya, secercah harapan bisa terlihat. Arshaka Dean terus menatap, debaran hatinya semakin kuat, ini harus terwujud, meskipun gelisah di hatinya belum sepenuhnya mereda.


Mereka saling tatap, salah satunya mengulaskan senyum dan mengernyitkan dahi, jantung Arshaka Dean tak karuan. Ini waktu yang dinantikan oleh Arshaka Dean, tapi kenapa hatinya masih meragu? Apa yang sedang terjadi sebenarnya?


“Kapan kau datang? Astaga, kenapa kau pucat sekali?” tanyanya, khawatir, sembari ribut merangkul Arshaka Dean.


Benar, Arshaka Dean memang terlihat kacau, rambutnya yang biasa tertata rapi, hari ini terlihat berantakan, wajahnya pucat, dan matanya terlihat sedikit cekung, mungkin karena dirinya melakukan perjalanan jauh, dan hampir satu minggu ini Arshaka Dean kurang tidur.


“Ibu …,” lirih Arshaka Dean. Bukan, ternyata bukan Rumi yang baru saja datang. Kali ini pun Arshaka Dean masih harus bersabar, semesta masih belum mengijinkan mereka untuk saling bertemu. “Ibu, aku ingin bertemu dengan Rumi,” ucapnya, terdengar bergetar suaranya, ia bahkan lupa tak bertanya kabar pada ibunya, mohon dimaklumi saja, Arshaka Dean tengah kacau hatinya, isi kepalanya dipenuhi oleh Rumi.


Birdella memegang lengan Arshaka Dean, tak tega harus menyampaikan berita, Arshaka Dean sudah cukup menderita, tapi mau bagaimana lagi. “Rumi pergi,” ucap Birdella, membuat Arshaka Dean seketika lemas. Birdella merasa iba, ia tidak bermaksud membuat Arshaka Dean sedih seperti ini.


“Pergi …,” lirihnya. Dunia Arshaka Dean seakan runtuh, jatuh berkeping-keping, Rumi yang ia perjuangkan sudah pergi, hancur hati Arshaka Dean, kenapa Rumi pergi di saat dia sudah memahami perasaannya. “Pergi ke mana, Ibu?” tanya Arshaka Dean, suaranya tiba-tiba serak, matanya menatap Birdella lekat-lekat. “Ibu, kenapa dunia tidak adil padaku,” ucap Arshaka Dean, putus asa, padahal Birdella belum mengatakan apa pun.


Aduh, sepertinya Birdella harus segera menyelamatkan perasaan Arshaka Dean, Arshaka Dean menunjukkan tanda-tanda tidak baik. “Eh, astaga, maafkan Ibu, Nak,” ucap Birdella, sulit berkata melihat anak laki-lakinya terpuruk seperti itu. “Ibu tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini. Ah, aku kali ini membuat kesalahan juga, ya? maafkan aku, Ars,” ucap Birdella, penuh sesal.


“Ke mana dia pergi, Ibu? Aku akan mengejar dia, ke mana pun dia pergi,” kata Arshaka Dean. “Aku sudah punya jawaban untuknya, Ibu, aku sudah siap,” tambahnya. Arshaka Dean memegang tangan Birdella, yang menangkup wajahnya, meminta penjelasan.


Ah, ternyata anaknya ini sudah menetapkan hati, Birdella menepuk wajah Arshaka Dean, bangga, entah diperbolehkan atau tidak, tapi Birdella bersorak merayakan kemenangan di hatinya, padahal jelas-jelas anaknya ini sangat kalut, takut perasaannya tidak disambut. “Istirahatlah dulu, nanti Ibu beritahu semuanya,” ucap Birdella, sembari membuka pintu. “Masuklah,” kata Birdella.


\*\*\*


Suara langkah di lorong kampus yang sepi terdengar, Rumi dan seorang pria berlogat British terlihat sedang bercengkerama asyik. Suara tawa Rumi melengkapi perbincangan hangat mereka.


Rumi tiba-tiba saja dipanggil ke kampus tempat di mana biasanya ia mengabdikan diri. Sudah empat tahun lamanya Rumi menjadi seorang pengajar, semua ia lakukan di tengah misi sulit dari pekerjaan utamanya sebagai mata-mata.


Gedung tinggi yang sudah banyak mencetak orang-orang hebat ini, menjadi batu lompatan bagi Rumi untuk menggapai semua keinginannya, termasuk membahagiakan Birdella dengan menjadi seorang mata-mata handal.


“Kau terlihat lebih ceria dari biasanya,” komentar pria itu pada Rumi.


Rumi menoleh, sedikit salah tingkah. “Mungkin karena aku bertemu denganmu, Thomas,” jawab Rumi, tertawa.


“Benarkah begitu, tapi kenapa aku menangkap hal lain darimu, kau tidak bisa berbohong padaku, Rumi,” ujar Thomas. “Pasti sesuatu yang hebat telah terjadi padamu, bukan?” selidiknya.


“Hey, aku mengatakan yang sebenarnya, aku senang bisa bertemu denganmu lagi, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” aku Rumi. “Sesuatu hebat seperti apa yang kau maksud?” lanjut Rumi, tersenyum.


“Ah, kau tidak perlu menyembunyikan apa-apa dariku, tapi kau benar, kita sudah lama sekali tidak bertemu.” Thomas mencoba mengingat masa lalu. “Terakhir kali kita bertemu, itu ketika kau harus berurusan dengan dosen psikopat dan kau hampir terbunuh karena ketahuan memata-matai dia,” ucapnya, membangkitkan ingatan Rumi.


Rumi dan pria British ini sama-sama satu profesi, dan mereka mata-mata yang sangat diandalkan di negaranya masing-masing. Ketika awal-awal menerima misi, atasan mereka selalu menggabungkan keduanya, mereka terkenal hebat dan kejam dalam menyelesaikan misi.


Teman-teman satu profesinya menjuluki mereka dengan sebutan “devil spy couple” karena selalu berurusan dengan musuh-musuh yang membahayakan dan nyaris selalu membuat nyawa mereka melayang.


“Itu sudah menjadi kewajibanku, bukan? Melindungimu dari segala bahaya,” ujar pria British ini.


***


Rumi memukul lengan si pria British, tertawa dengan riang, tanpa menyadari seseorang tengah memperhatikan mereka dari jauh.


“Tertawa dengan siapa dia? Tidak, tidak boleh ada yang melihat tawa Rumi selain aku,” ucapnya, tangannya mengepal dengan erat.


Rumi meneruskan sesi cerita masa lalunya dengan Thomas, senyum di wajah Rumi tak luntur, terus menghiasi wajahnya.


“Astaga, kenapa dia semakin tersenyum, kenapa saat bersamaku hanya marah-marah saja, siapa pria yang bersamanya itu?” gerutunya. “Apa dia tidak melihatku. Rumi, lihatlah padaku saja, ini aku, Arshaka Dean.” Arshaka Dean sungguh sudah tergila-gila, setelah Birdella menjelaskan semuanya pada Arshaka Dean, ia langsung meluncur ke kampus Rumi, menjadi penguntit.


Rumi di seberang sana menikmati pertemuannya dengan Thomas, sedangkan Arshaka Dean sibuk mengutuk pria yang bersama Rumi itu. “Menjauhlah dari wanitaku,” ketusnya.


Seakan tau sesuatu, Thomas semakin mendekatkan diri dengan Rumi, dan terlihat tangannya diangkat untuk mengelus rambut Rumi.


“Berani-beraninya dia, ini tidak bisa dibiarkan.” Arshaka Dean melangkah cepat, ketika tangan Thomas hendak mendarat di rambut Rumi yang terurai, Arshaka Dean membelalakkan matanya. “Rumi!” teriaknya.


Rumi dan Thomas tersentak, kaget, dan tanpa sadar saling menjauhkan diri. Rumi melihat pada arah teriakan, matanya nyaris terlepas saking terkejutnya melihat Arshaka Dean tengah berlari mengarah padanya.


“Ars?” Rumi mengernyitkan dahi, antara percaya dan tidak, bisa melihat Arshaka Dean di depannya. “Ars, kau kah itu?” Rumi masih bertanya-tanya.


“Rumi …!” teriak Arshaka Dean sekali lagi, memperjelas keberadaannya.


“Ars, astaga!” Rumi berlari, dia Arshaka Dean, Arshaka Dean menemuinya!


Rumi dan Arshaka Dean semakin mendekat, meninggalkan Thomas yang tengah heran melihat mereka berlarian, tidak mendapat ide siapa yang Rumi hampiri dengan ribut berlari itu. Thomas mematung, menjadi saksi hidup dari bertemunya dua insan yang saling memancarkan rasa yang membuncah.


Begitu sudah berhadapan, Rumi dan Arshaka Dean saling merangkul dan memeluk dengan begitu erat, seakan takut dipisahkan lagi oleh hal yang tidak mereka duga. “Ars, astaga, kau di sini,” ujar Rumi, sedikit menitikkan air mata.


Arshaka Dean mengangkat tubuh Rumi, memeluk pinggang ramping Rumi begitu erat. “Aku merindukanmu, Rumi, sungguh,” akunya. Arshaka Dean bertemu wajah dengan Rumi, menatap matanya lekat-lekat, debaran jantung dari keduanya, terasa oleh diri masing-masing. “Aku sungguh merindukanmu, Rumi, sungguh,” ulangnya lagi, menegaskan pada Rumi.


Di atas sana Rumi melihat wajah Arshaka Dean, terharu, ia menangkupnya dengan kedua tangan, meraba wajah Arshaka Dean, masih tidak percaya dengan kedatangannya. “Kau benar-benar di sini?” Suara isak Rumi, membuat nyeri di dada Arshaka Dean.


“Benar, ini aku Rumi, aku, Arshaka Dean,” ucapnya.


Rumi mendekatkan wajah, menyatukan kening mereka. “Aku takut, Ars,” lirih Rumi.


Oh, sungguh Arshaka Dean juga merasakan hal yang sama, takut jika tak bisa bertemu lagi dengan Rumi. “Aku di sini, aku tidak akan ke mana-mana lagi, aku milikmu sekarang,” katanya.


Rumi menjauhkan wajahnya, mendengar ucapan Arshaka Dean. “Milikku?” tanya Rumi, meminta penjelasan.


Arshaka Dean menurunkan tubuh Rumi, lalu ia tatap matanya dengan penuh kelembutan, kemudian Arshaka Dean memegang bahu Rumi. “Rumi, aku sudah ….” Hatinya masih berdebar, sehingga kata-katanya sulit terucap dengan benar. “Aku … ingin kau … jadi mi—“


“Ars!” teriakan seseorang, entah dari mana datangnya, memotong momen sakral yang sudah sempurna Arshaka Dean bangun. Terpaksa Arshaka Dean melepaskan tangannya dari Rumi, dan menoleh melihat siapa yang sudah berani mengganggu momen penting itu.