The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 49. Misi Batal!



Arshaka Dean jatuh terkapar di aspal, bersimbah darah juga babak belur. Levon, sama halnya, ia juga babak belur, tetapi seringai kejam tak luntur dari wajahnya, ketika melihat Arshaka Dean terjatuh di depan matanya.


Levon menggunakan kelicikannya lagi, peraturan bertarung dengan tangan kosong, ia langgar. Albert dan anak buah Arshaka Dean lainnya, tidak ada yang menduga hal itu akan terjadi, karena mereka melihat semua orang tengah bertarung.


Tidak sulit bagi Levon untuk berbuat curang, ia sudah menyewa penembak jitu. Posisinya hanya Levon yang mengetahui, ia sudah rencanakan dari jauh-jauh hari. Jika dirinya tak mampu melawan Arshaka Dean seorang diri, maka cara apa pun akan ia tempuh, termasuk menyewa penembak jitu dari luar negeri.


Siasat busuk telah berhasil dilancarkan Levon, hingga ia sendiri melihat bagaimana Arshaka Dean terhuyung-huyung setelah tertembak. Levon menganggukkan kepala pada penembak jitu yang masih di posisinya, melihat hasil kerjanya. Setelah mendapat anggukan kepala dari Levon, penembak jitu pun menghilang dari tempatnya, misi untuknya telah selesai.


“Ars!” Albert berteriak, berlari kencang.


Albert panik, Arshaka Dean tidak bergerak sama sekali, pikirannya kalut. Tidak mungkin Arshaka Dean kalah begitu saja, ia terus berharap di tengah aliran darah di pelipisnya. Jarak Albert dan Arshaka Dean tinggal satu meter lagi, dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat darah mengalir di aspal dari tubuh Arshaka Dean. Hati Albert sakit, bagai diiris-iris sembilu, hancur sudah, jika yang ada di bayangan Albert benar terjadi.


“Ars! Bertahanlah!” seru Albert, panik.


Albert meraih tubuh Arshaka Dean, ia membalikkan tubuh Arshaka Dean, hati-hati. Albert menatap Levon penuh kebencian, sungguh ia tidak menduga ada senjata yang lolos dari pengamatannya.


“Kau!” teriak Albert pada Levon.


“Apa? Ah, si pesuruh paling setia. Dia sudah tamat, Albert, kemarilah, datang padaku,” kata Levon.


“Dia sudah tak berdaya lagi, kau sebenarnya tidak percaya padanya, bukan? Ayo, datanglah padaku, Albert, aku berjanji akan memperlakukanmu sesuai dengan keinginanmu, bahkan lebih baik dari bocah tengik itu,” lanjutnya.


Tangan Levon melambai-lambai, berharap Albert berlari padanya, dan berada di kubunya. Levon tau reputasi Albert sangatlah hebat, ia juga tau Albert merupakan kaki tangan Arshaka Dean yang memegang rahasia paling besar dari Arshaka Dean. Levon bisa menggali informasi apa pun, jika Albert bergabung dengannya.


“Tidak akan, hidupku hanya akan mengabdi pada, Ars. Kau tidak berhak merendahkan tuanku, dia sudah menyelamatkan segala kesusahanku, tak akan ada yang bisa meloloskanku. Kau tidak butuh kesetiaan, kau tidak punya hati, hidupmu penuh kelicikan dan kerakusan, kau tak pantas dibandingkan dengan, Ars. Kau menampung semua kerakusan manusia di dunia ini, kau pengecut, kau lemah, dan kau bedebah!” tegas Albert.


“Wah, wah, hubungan kalian semakin romantis, tapi kau tidak tau satu hal, Albert. Dia tidak bisa menggunakan senjata, dia takut dengan senjata, yang pengecut itu tuanmu, Albert,” balas Levon, tersenyum puas.


“Kau tau apa tentangku?” tanya Arshaka Dean.


“Ars?”


Mata Levon membelalak, mulutnya menganga, tak percaya mendengar suara Arshaka Dean, Levon mengira, Arshaka Dean sudah tewas. Dia tidak tau, Arshaka Dean tadi hanya ingin membuat Levon merasa bangga, lalu sedikit-sedikit ia rencanakan untuk menjatuhkan kepercayaan dirinya secara mendadak.


Albert sebenarnya sudah mengira jika Arshaka Dean belum tewas. Sewaktu Albert memegang tubuh Arshaka Dean, Albert mendengar suara napas halus dari Arshaka Dean. Albert dapat simpulkan, jika Arshaka Dean sedang menghasut Levon, Albert pun tidak banyak kata, ia ikut dalam permainan Arshaka Dean.


Arshaka Dean bangun, dan berdiri, peluru dari penembak jitu itu mengenai sisi kiri perut Arshaka Dean. Darah masih belum berhenti mengalir dari tubuhnya, tapi Arshaka Dean masih mampu untuk berjalan ke arah Levon.


“Kau pikir aku sudah tewas?” tanya Arshaka Dean, tersenyum.


“Kau … tidak … ini tidak terjadi, kau … kau tadi sudah terkapar … tidak … kau tidak …,” ucap Levon, terbata-bata.


“Apa? Kau pikir aku akan dengan mudah ditaklukkan? Kau pikir aku takut dengan senjatamu itu?” Arshaka Dean masih berjalan ke arah Levon.


“Ars …,” ucapan Levon tak sampai, Arshaka Dean memukul Levon dengan membabi buta. Arshaka Dean terus menyerang, Levon tidak membalas, sebelum ini pun, Levon sudah kehabisan tenaga.


“Kenapa kau diam saja! Lawan aku, bedebah!” teriak Arshaka Dean.


Levon sudah kepayahan, wajahnya sudah tidak berbentuk, hancur, penuh lebam. Arshaka Dean berdiri, melihat Levon yang sudah terkapar, untuk terakhir kalinya, Arshaka Dean menendang tubuh bagian samping Levon sangat keras. Anak buahnya tak bisa berbuat banyak, mereka pun sama payahnya, ngeri melihat Arshaka Dean mengamuk seperti itu.


“Rasakan ini!” Arshaka Dean menginjak perut Levon, ditekannya bagian itu hingga Levon tak bersuara lagi. “Kau tak tau hidupku! Aku baru saja ingin hidup!” teriak Arshaka Dean, berang.


“Ada lagi yang ingin melawanku?!” teriak Arshaka Dean, menggelegar.


“Apa kalian pikir aku tidak sanggup melawan kalian semua?!” seru Arshaka Dean.


“Datang padaku, dasar pengecut!”


Watson di seberang sana, melihat ke arah Arshaka Dean, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Watson seakan sudah melihat monster yang keluar dari tubuh Arshaka Dean. Terbuktilah, apa yang dikatakan orang-orang tentang kehebatan dan kesaktian Arshaka Dean. Watson, akhirnya bisa melihat, jika satu-satunya kelemahan Arshaka Dean adalah dirinya sendiri, ia yakin tentang itu, tangan Watson terlihat mengeratkan tinju.


Levon sudah tak sadarkan diri, anak buahnya saling pandang dan menelan ludah melihat bos mereka kelah di depan matanya. Suasana mencekam, meskipun jumlah mereka masih tersisa banyak, tetap saja keadaan mereka sudah babak belur, tidak mudah menjatuhkan anak buah Arshaka Dean yang masih terlihat bugar. Anak buah Levon mundur perlahan, meninggalkan Levon di aspal jalan.


“Ars?” panggil Albert.


“Kita pulang, Albert! Misi dibatalkan!” pungkas Arshaka Dean.


Anak buah Arshaka Dean langsung membersihkan kejadian perkara, meninggalkan Levon seorang diri. Mobil-mobil segera disiapkan, Albert merobek bajunya, melihat darah tak kunjung berhenti dari sisi perut Arshaka Dean.


Albert membebat perut Arshaka Dean secara cepat. “Ini untuk menahannya, kita harus cepat-cepat ke rumah sakit, Ars,” ucap Albert.


Hari ini, perasaan Albert dipermainkan, layaknya menaiki roller-coaster. Sebelum keluar dari mansion adrenalinnya sudah terpacu, karena melihat Agatha sedang berolahraga pagi. Di perjalanan, Albert kembali dipicu ketegangan dengan bocornya rute rahasia dan berakhir dengan saling kejar-kejaran.


Sekarang, ia benar-benar terkuras energinya, melihat Arshaka Dean terkapar, membuat jantungnya berhenti, hingga turun ke bawah, tapi akhirnya ada lega di sana, Arshaka Dean masih bisa melawan Levon.


“Lakukan yang kau inginkan, Albert,” ucap Arshaka Dean.


Albert memapah Arshaka Dean menuju mobil, memastikan tuannya nyaman di kursi penumpang, Albert bahkan menambah bebat di perut Arshaka Dean. Peluru masih bersarang di dalam perut Arshaka Dean, Albert belum benar-benar tenang sebelum Arshaka Dean ditangani di rumah sakit. Tujuan selanjutnya adalah rumah sakit, ini menjadi misi paling penting bagi Albert, misi ini harus sukses.


Sementara di mansion Arshaka Dean, tukang pukul terburu-buru berlari ke dalam mansion. Sepertinya tukang pukul itu mendapat laporan dari tempat kejadian, wajahnya terlihat cemas juga terkejut. Ia sudah di dalam, untunglah di sana semua orang terlihat berkumpul, segera saja ia laporkan beritanya.


“Ars, tertembak!” ucapnya berteriak.


“Apa?!”