
“Albert!” teriak Rumi panik.
“Ada apa, Rumi?” tanya Edmund.
Edmund keluar dari ruang kerja Arshaka Dean, ia tidak tau yang sebenarnya terjadi, apalagi Agatha adalah orang lain menurutnya. Edmund tidak pernah bertemu dengan Agatha sebelumnya, wajar saja jika ia tidak mengenal Agatha.
“Dia siapa?” tanya Edmund.
“Dia adik … adik dari Albert,” ucap Rumi sedikit terguncang.
“Albert!” teriak Rumi lagi, Rumi tidak mungkin mengatasi dua orang sekaligus.
“Adik? Paman mempunyai adik perempuan?” tanya Edmund.
“Edmund, bisa tolong aku untuk panggilkan Albert?” pinta Rumi, mencoba mengalihkan perhatian Edmund.
“Aku membutuhkan dia, secepatnya,” tambah Rumi.
Edmund tak bergeming, ia coba mengingat semua tentang Albert yang ia panggil paman itu. Selama ia bersama dengan Albert, Edmund tidak pernah tau jika Albert mempunyai adik perempuan.
“Kakak …,” lirih Agatha, menatap wajah Edmund, penuh tanda tanya dan ketakutan.
“Aku bukan Paman Albert, kenapa kau memanggilku, Kakak?” kata Edmund.
“Dan, hey, Rumi. Paman tidak mempunyai adik perempuan,” ujar Edmund, setelah berhasil mengingat semua cerita Albert padanya.
“Tidak mungkin … Kakak, kau tidak mengenaliku? Kakak, tidak mungkin.”
Agatha mulai menangis, Rumi semakin kacau, hatinya berdegup kencang, bukan seperti ini yang ia harapkan.
“Albert!” teriak Rumi, frustrasi.
Albert dan Chadla datang bersama, berlari dari bawah. “Rumi?!” teriak Albert.
Pikiran Albert langsung tertuju pada Edmund yang ia sangka melakukan hal-hal yang membahayakan. Rasa cemas itu bukan tanpa alasan, karena Albert pernah beberapa kali mendapati Edmund melukai dirinya sendiri, hingga semua benda yang dapat membahayakan keselamatannya disembunyikan.
Hatinya berpacu, Albert harus segera melihat Edmund, ada dua jiwa yang harus dia selamatkan. Albert dan Chadla masih berjalan di tangga, tergesa-gesa, pikirannya kacau, ia sudah membayangkan darah di mana-mana. Tapi begitu ia tiba di lantai dua, apa yang Albert lihat lebih menyakitkan.
“Albert …,” lirih suara Agatha menyayat siapa pun yang mendengarnya.
“Albert, apa yang terjadi? Albert apa yang kau sembunyikan dariku?” suara Agatha bergetar, deraian air matanya membuat Rumi sesak dan tak kuat menahan tangis.
Edmund hanya menyaksikan semua itu dalam pikiran yang penuh dengan tanda tanya. Di depannya semua orang terlihat panik juga sedih, hati Edmund iba, tapi tetap tak tau apa yang sedang terjadi.
Albert menghampiri Agatha, ia tak kuasa menahan semuanya sendirian, mungkin ini saatnya semua terungkap. Albert memeluk Agatha memberi ketenangan, meskipun itu tidak akan berpengaruh.
“Albert, katakan padaku … katakan padaku apa yang kau sembunyikan dariku? Katakan padaku, Albert. Kumohon katakan padaku,” desak Agatha di pelukan Albert.
Arshaka Dean yang selalu terlihat kuat di matanya, kali ini sungguh terlihat berbeda. Arshaka Dean yang sangat ia sayangi dan banggakan kepada setiap orang yang ia temui, tidak mengenalinya sama sekali. Agatha takut juga kecewa, Agatha keluarganya, tak percaya dengan semua yang ia lihat.
Agatha tak pernah tau kakaknya hidup begitu sulit dan penuh rahasia seperti ini. Cukuplah bagi Agatha untuk menerima kakaknya sebagai mafia terselubung, jangan ditambah lagi dengan kenyataan pahit ini. Tapi tidak ada jalan lain, Agatha harus siap dengan fakta yang akan terungkap di depannya.
“Agatha, bangunlah dulu, aku akan jelaskan semuanya,” pinta Chadla, Albert sudah hilang kata setelah melihat Agatha menangis tak berdaya seperti itu.
“Kalian keterlaluan …! Kalian sembunyikan hal besar dariku, aku ini apa bagi kalian?” teriak Agatha.
“Aku ini adiknya …!” tegas Agatha.
“Kalian tidak berhak jauhkan aku dari kebenaran ini,” lanjut Agatha.
Albert semakin mengeratkan pelukannya pada Agatha, Albert sudah putus asa mendengar kalimat-kalimat yang Agatha ucapkan. Albert tau ini semua hal yang menggemparkan bagi Agatha, ia juga pernah di posisi yang sama. Sulit menerima kenyataan, bahkan tidak ingin percaya dengan semua itu.
“Agatha, aku janji ceritakan semuanya dan alasan di balik keadaan ini, aku janji,” ucap Albert, berat, hatinya berat harus mengulang ini semua.
“Agatha, kau bisa ikut ke ruanganku, akan aku perlihatkan semuanya padamu. Semua ini pasti akan lebih menyakitkan, tapi kupikir kau lebih baik tau semuanya. Menanam luka memang sangat sakit, tapi jika kita berjuang sama-sama, aku yakin kita akan panen semua bahagia. Jadi, Agatha, ikutlah denganku, kau boleh menangis sepuasmu,” kata Chadla.
“Albert, bantu Agatha,” pinta Chadla.
Albert tak banyak berkata, ia menggendong Agatha, tak ada cara lain untuk membawa Agatha ke ruangan penuh kisah pedih itu. Setelah ini semuanya tak akan sama lagi, pandangan Agatha pada Arshaka Dean tidak akan seceria dulu. Hari ini semuanya akan terungkap, kepedihan yang tertutup rapat di mansion mewah itu, harus terungkap dengan cara yang tidak pernah diinginkan semua orang.
Chadla menghela napas, ia siap mengisahkan kehidupan Arshaka Dean sekali lagi, kali ini pasti lebih sulit. Agatha adalah adik Arshaka Dean, pasti lebih sulit, tapi semua ini tergantung padanya. Penjelasannya yang akan menentukan Agatha bisa menerima kondisi Arshaka Dean atau menyangkal kebenarannya.
“Chadla, apa aku juga berhak tau tentang semua ini?” tanya Edmund. Rumi yang berada di sampingnya terkejut, ia melihat Chadla.
“Sepertinya tidak perlu, Edmund, biarkan Albert yang mengatasinya, kau lanjutkan saja kegiatanmu. Maafkan kami sudah mengganggumu,” jawab Chadla.
“Sepertinya aku tidak bisa melanjutkannya, Chadla.” Edmund melirik Rumi. “Rumi sedang tidak baik-baik saja, aku tidak bisa memaksanya,” kata Edmund.
“Aku bisa mengatasinya, Edmund,” ujar Rumi.
Chadla sudah berada di ruangannya, Agatha masih berderai air mata, terisak dan memeluk Albert. Satu kisah yang akan segera terungkap akan menjadi cerita paling kelam di hidupnya.
“Agatha, aku tidak memintamu berhenti menangis, aku mau kau tabah mendengar penjelasanku. Aku akan memulainya.” Chadla membawa jurnal sebagai pelengkap kisah, juga beberapa laporan terakhir tentang Arshaka Dean. Agatha tak banyak merespons, hatinya hancur, tak ada hal lain yang ia inginkan, hanya penjelasan yang ia harapkan.
“Pertama-tama, nama asliku, Chadla Martiva, aku adalah seorang psikiater yang membantu kakakmu,” ungkap Chadla.
“Agatha, seperti yang kau lihat, kakakmu tidak mengenalimu, bukan? Kakakmu tidak mengalami hilang ingatan, dia ….”
Chadla menunjukkan riwayat kesehatan Arshaka Dean pada Agatha, ia jelaskan semuanya pada Agatha. Seperti yang Chadla bilang ini semua tidak akan mudah, Chadla susah payah menjelaskannya di tengah tangisan dan raungan Agatha. Siapa yang akan diam saja, ketika mengetahui kondisi kakaknya seperti ini.
“Kakak …,” lirih Agatha.
“Kenapa dia bungkam? Apa ini alasan dia pergi dari tempat itu?” ucapnya.
“Kakakku yang malang ….”
Chadla masih terus menjelaskan keadaan Arshaka Dean pada Agatha. Ia paham banyak pertanyaan yang ada di benak Agatha tapi tak sanggup ia ucap, maka dengan telaten Chadla kerahkan pengetahuannya.
Sementara di ruang kerja Arshaka Dean, Edmund berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Melihat Rumi yang masih menitikkan air mata, ia tak enak hati untuk bertanya lebih lanjut, terlebih ia tidak tau bagaimana menangani seorang perempuan.
“Di mansion Kakak, kenapa banyak orang baru?” tanya Edmund pada dirinya sendiri.
“Apa ini waktunya aku pergi dari sini?”