The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 79. Jawaban Atas Semua Harap



Pagi hari pun tiba, Rumi dan Agatha masih menunggu Arshaka Dean untuk dipindahkan ke ruangan yang ditempati Edmund. Semalam tidak jadi dipindahkan, karena Arshaka Dean tidak menunjukkan perkembangan yang baik, jadi dokter butuh observasi lebih lama, dan pagi ini rencananya Arshaka Dean akan dipindahkan.


Pada saat mereka termenung menunggu kabar dari dokter, Albert dan yang lainnya datang. Begitu melihat Agatha dan Rumi bersandar pada kursi dengan wajah yang terlihat pucat dan lesu, Albert langsung berlari. “Agatha?” panggil Albert.


Agatha terperanjat, dan seketika bangun dari kursi, melihat Albert yang berlari padanya. Agatha langsung lari ke pelukan Albert, menenggelamkan wajah lelahnya di dada Albert. “Kau sudah datang?” tanya Agatha, suaranya terdengar masih lemah.


“Aku baru saja tiba, semua orang ada di sini,” jawab Albert, mengelus punggung Agatha, ia mendekapnya lebih erat, dan baru ia sadari, tubuh Agatha terasa hangat. “Kau demam, kau harus istirahat,” ucap Albert lembut.


“Aku tidak apa-apa, biarkan saja, tidak akan lama,” kata Agatha.


“Istirahatlah dulu,” kata Albert.


“Nanti saja,” jawab Agatha. Albert paham, pasti sulit sekali bagi Agatha, tapi ini juga situasi yang mengambang bagi semua orang, jadi Albert tidak akan banyak menuntut kali ini, karena bila terus memaksakan, situasinya akan semakin runyam dan tidak terkendali.


“Baiklah, bagaimana kabar Ars?” tanya Albert, ini yang sedari tadi ingin ia tanyakan, tapi melihat Agatha begitu rapuh, ia perlu memberi perhatian pada Agatha terlebih dahulu.


“Tidak ada perkembangan, dan masih belum tersadar juga. Pagi ini, dia akan dipindahkan ke ruangan Edmund. Aku sudah meminta ijin dokter, agar mereka menempati ruangan yang sama. Menurutku mereka harus bersama, Albert, aku yakin mereka membutuhkan keberadaan satu sama lain,” jawab Agatha.


Keputusan yang paling tepat, Arshaka Dean dan Edmund Dean dari awal memang tidak bisa dipisahkan, bahkan pada saat salah satu dari mereka tidak berada di sisi yang lain, keduanya saling memanggil. Itulah mungkin yang pada akhirnya dikatakan sebagai hubungan sehidup semati.


Agatha dan Rumi menyadari hal itu ketika mendengar cerita tentang Edmund yang berkunjung ke mimpi Arshaka Dean. Seperti kebanyakan orang bilang, saudara kembar mempunyai cara berkomunikasi dan cara mendukungnya sendiri, yang bahkan di luar nalar kita, itulah yang menjadi pedoman mereka untuk menyatukan mereka.


Albert terdiam, ia kini paham tentang hubungan persaudaraan, mereka akan saling mendukung di mana pun mereka berada, bahkan dalam kasus Arshaka Dean, masing-masing dari mereka, mampu menghadirkan satu sama lain dalam bentuk yang tidak dipahami banyak orang.


Rumi yang terduduk di kursi, melihat Agatha yang tengah menyalurkan kelelahannya pada Albert. Hatinya semakin hampa, karena orang yang bisa ia mintai kehangatan, tengah berjuang di ruang tertutup sana. Rumi menunduk, tak kuat menanggung sepi sendiri, ia pegang erat kursi yang ia duduki, menyalurkan rasa sesaknya di sana.


Dokter menghampiri mereka. “Maafkan aku mengganggu kalian, tapi Tuan Ars—“


Begitu mendengar nama Arshaka Dean disebut, Rumi langsung bangun. “Ada apa dengan Ars?” tanya Rumi, nyaris berteriak, memotong perkataan dokter.


Albert dan Agatha langsung berlari, wajah mereka panik, jantungnya berdetak lebih hebat dari biasanya. “Bagaimana, Dok? Kakak saya ….” Agatha menenggelamkan lagi wajahnya di pelukan Albert, ia menangis di sana.


“Tenang Nona, sebenarnya Tuan Ars ….”


Waktu terasa melambat, dengan hati yang sesak dan cemas, ketiganya berharap dan berdoa. Mengharapkan jika ini masih belum waktunya Arshaka Dean jauh dari mereka, berharap sang Pemilik Semesta berbaik hati sekali lagi pada mereka.


“Tuan Ars, sudah menunjukkan perkembangan yang bagus, dan sudah siuman.” Dokter itu memberi senyuman, setiap informasi yang datang, pastinya menjadi berita besar bagi keluarga pasien, ia paham akan itu, dan kali ini, untunglah ada kabar baik yang bisa ia sampaikan. “Kami akan segera memindahkan Tuan Ars, kalian sudah boleh menjenguk,” jelas dokter itu.


“Terima kasih, Dokter, terima kasih sudah menyelamatkan Ars untuk kami,” ucap Albert, ia kini bisa bernapas degan lega.


Rumi menjatuhkan diri. “Astaga, syukurlah, syukurlah, terima kasih banyak,” ucapnya lega, sungguh lega, mendengar penuturan dokter.


“Nona Rumi!” Dokter itu terkejut dan memegang bahu Rumi, memastikan Rumi tidak terluka.


“Aku tidak apa-apa,” ucapnya, menangis.


Air matanya berjatuhan di lantai rumah sakit, hatinya akhirnya lapang, kecemasannya akhirnya terbang, dan kini ia bisa mengucap syukur dengan perasaan penuh ketenangan. Pemilik hatinya akhirnya kembali lagi padanya, rindu Rumi, sungguh rindu dengan segala tingkah laku Arshaka Dean.


“Rumi,” sapa Arshaka Dean, begitu Albert, Agatha dan Rumi masuk ke ruang rawat. Arshaka Dean merentangkan tangannya, mengundang Rumi untuk datang ke pelukannya. “Rumi, kau tidak apa-apa?” tanya Arshaka Dean, yang jelas-jelas baru saja siuman.


Rumi ragu untuk melangkah, hatinya berbunga-bunga, bisa melihat lagi Arshaka Dean membuka matanya, tapi entahlah, masih tak percaya jika orang yang memenuhi pikirannya bisa menyapa dan bertanya lagi.


“Ars …,” ucap lirih Rumi.


Seakan paham dengan situasi yang baru saja terjadi, Albert dan Agatha memilih untuk diam. Mereka senang bukan main, melihat Arshaka Dean akhirnya bisa berkumpul lagi dengan mereka, tapi mereka ingin memberikan waktu kepada Rumi untuk saling mengisi lagi, merenda hatinya agar kembali berbahagia lagi.


Rumi sudah berada di pelukan Arshaka Dean, alat bantu pernapasannya sudah dilepas, tinggal infus saja yang masih tertancap di lengan kirinya. Rumi mengusap dada Arshaka Dean. “Aku merindukanmu, aku takut, Ars, takut sekali kau tidak kembali lagi,” ungkap Rumi, jujur.


Mereka baru saja saling mengungkapkan rasa, hati mereka perlu saling bertaut, karena hanya itu yang mampu menyembuhkan hati yang terluka. Arshaka Dean menyandarkan kepalanya di kepala Rumi, mengecup pelipisnya dengan penuh kasih sayang. “Aku di sini, aku tidak akan ke mana-mana lagi,” ucap Arshaka Dean.


Arshaka Dean pun sempat tak percaya bisa kembali lagi, karena pada saat dirinya berada di alam pertemuan, ia sudah merasa nyaman. Kemudian Arshaka Dean akhirnya menyadari, jika semua orang masih mengharapkan kehadirannya. Itulah, mungkin yang membawa Arshaka Dean kembali lagi ke tempat di mana seharusnya dia hidup.


“Kau sudah meninggalkanku, kau jahat, Ars, kau jahat,” ucap Rumi, memukul pelan dada Arshaka Dean, menyalurkan rasa khawatirnya.


Arshaka Dean menangkap tangan Rumi, dan menciumnya lama. “Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Albert dan Agatha menjadi saksinya, kau boleh marah padaku, jika aku melanggarnya,” ujar Arshaka Dean, menatap Rumi, tulus.


Dirasa Rumi sudah tenang, Arshaka Dean beralih pada Agatha dan Albert yang setia menunggu, Arshaka Dean menatap kedua orang itu, melihat dari atas hingga ke bawah, syukurlah tidak ada kekurangan apa pun. “Kau baik-baik saja, Agatha, Albert?” tanya Arshaka Dean, memastikan pengamatannya, dengan Rumi yang masih di pelukannya.


“Kami baik-baik saja, Ars, kau tidak perlu khawatir,” jawab Albert, lega.


“Kau yang terluka, Kakak, jangan khawatirkan orang lain,” semprot Agatha.


“Aku baik-baik saja, aku hanya tertidur sebentar, kau tidak perlu seperti itu padaku, aku bukan orang yang lemah,” balas Arshaka Dean, paham karena sudah banyak membuat banyak orang khawatir, jadi ia berusaha untuk memperbaiki itu semua, meskipun caranya salah, tapi mau bagaimana lagi, seperti itulah kepribadian Arshaka Dean, menebus rasa bersalah dengan cara yang keras.


“Sudahlah. Bagaimana yang lainnya, Albert? Semuanya aman?” tanya Arshaka Dean, ia butuh laporan, agar dirinya bisa memastikan kedaan semua orang.


“Semuanya dalam keadaan baik-baik saja, Ars, tapi tidak dengan mansion. Mansion hancur, dan harus segera direnovasi,” jelas Albert.


“Itu tidak penting, asalkan kalian semuanya aman, itu sudah cukup. Kalian sewa hotel dulu untuk sementara waktu, akan kupastikan semuanya kembali, jangan khawatir,” kata Arshaka Dean, memberi arahan.


“Semua orang ada di sini, Ars, akan kusampaikan nanti,” jawab Albert.


“Bagus, kalian sungguh bekerja sangat keras, istirahatlah,” kata Arshaka Dean.


Di tengah perbincangan hangat itu, Chadla masuk, ragu-ragu. “Ars?” panggil Chadla.


“Chadla, ada masalah? Kenapa kau terlihat gelisah?” tanya Albert, menangkap gerak-gerik mencurigakan dari Chadla.


“Ada, Albert, sungguh aku meminta maaf padamu, aku tau kalian dan Ars baru saja bertemu, tapi ada sesuatu yang darurat, dan aku meminta waktunya Ars dari kalian,” jelas Chadla, membuat semua orang bertanya-tanya.


“Ada apa sebenarnya? Katakan saja, aku bisa mendengarnya di sini,” kata Arshaka Dean, bingung.


Chadla menghembuskan napas, menenangkan hatinya yang tengah gusar. “Ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap Chadla, membuat semua orang diam.