The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 82. Satu Badai Lagi Harus Terlewati



Setelah hari berkabung dan jenazah Victor sudah dikremasi, hari ini Arshaka Dean baru bisa merasakan istirahat total. Setelah setiap harinya Arshaka Dean hanya berpacu dengan gencatan senjata yang tidak pernah menemui akhir, hari ini akhirnya, ia bisa menatap Rumi dengan tenang.


Sedari tadi, Arshaka Dean tidak melepas tautan tangannya dengan tangan Rumi. Selama ini ia tidak punya kesempatan yang bagus untuk memadu kasih dengan Rumi. Hari ini Arshaka Dean bisa lebih leluasa, di ruangannya hanya ada dirinya dan Edmund, ditemani oleh Rumi, sang pujaan hati.


Kesempatan yang langka ini, Arshaka Dean gunakan untuk mencuri energi dari Rumi, sudah lama ia kelelahan, ia butuh energi baru yang murni, dan hanya bisa ia dapatkan dari Rumi seorang.


Rumi tak sengaja melepas tautan, Arshaka Dean memberengut. “Apa yang kau lakukan? Kau bosan denganku, tidak mau aku pegang? Kau mau mencari yang lain?” tanya Arshaka Dean, dengan wajah sedih dibuat-buat.


Rumi menghela napas, Arshaka Dean sudah seperti bayi yang tidak bisa ditinggal ibunya. Rumi menghadap, memegang kepala Arshaka Dean, mengelus rambutnya dengan gemas. “Aku hanya ingin membawa makanan untukmu, untukku juga, aku sudah lapar,” jawab Rumi.


Arshaka Dean tersenyum gembira. “Jangan menatapku seperti itu, kau terlihat seperti mata-mata yang siap menerkam lawan, berbaik hatilah padaku, Nona Rumi, kau paling cantik, dan hanya boleh cantik untukku seorang,” bujuk Arshaka Dean, ketika Rumi menunjukkan raut wajah yang serius.


Rumi lalu tersenyum, dan sekali lagi mengelus rambut Arshaka Dean, kali ini dengan pelan. “Aku pergi sebentar, aku lapar, kau tidak mau aku kelaparan, bukan? Jadilah anak yang baik, nanti aku beri hadiah menarik,” kata Rumi, menggelikan, tapi tidak untuk Arshaka Dean, baginya suara Rumi bagaikan alunan surga.


“Baiklah, aku ijinkan, tapi bisakah aku mendapatkan hadiah di awal, aku tidak bisa menunggu, ayolah,” ujar Arshaka Dean, memajukan wajahnya dan menutup mata.


“Astaga, apa yang kau inginkan? Memangnya kau tau aku akan memberimu apa?” Lama-lama Rumi berang juga.


“Tau, kau akan memberiku ciuman selamat pagi, aku sudah siap,” jawab Arshaka Dean.


Tidak panjang lebar lagi, Rumi segera mengecup kening Arshaka Dean sekilas, Arshaka Dean bingung, dia sudah menutup mata, sudah tidak sabar bibirnya bertemu dengan ranum Rumi. “Hanya itu saja?” tanya Arshaka Dean, tapi tidak ada jawaban, Arshaka Dean mengintip dan tidak menemukan Rumi di sana, Arshaka Dean menyelidik, dan melihat pintu terbuka, Rumi melarikan diri.


Arshaka Dean tertawa, kemudian menatap Edmund. “Kau lihat, Edmund, aku sudah bahagia, dan punya wanita cantik di sisiku, tidakkah kau ingin melihatku bahagia secara langsung? Jika kau menunjukkan respons, aku akan sangat menghargai itu, kau tidak perlu takut, aku sudah jauh lebih bahagia, Edmund,” katanya pada Edmund yang terbaring dengan alat-alat medis yang masih menjadi penopang hidupnya.


Harapan itu masih sama, melihat Edmund membuka matanya, masih menjadi mimpi terbesar di hidupnya. “Sekali saja, Edmund, aku ingin sekali saja, mendengar kau bicara langsung, sekali saja,” ucap Arshaka Dean berulang-ulang.


***


“Ars sudah boleh meninggalkan rumah sakit, tapi dia menundanya, aku khawatir ia masih merasa bersalah, Chadla,” ujar Albert, di ruangan Chadla.


“Tapi, aku lihat Kakak jauh lebih baik, Albert, mungkin dia ingin berlama-lama saja, dan menemani Edmund,” kata Agatha.


“Selama aku memperhatikan Ars, aku lihat dia bukan orang yang tergesa-gesa, Albert. Dia tidak lagi menanggung rasa bersalah, mungkin ada hal lain yang sedang ia pertimbangkan,” ujar Birdella. “Ah, bagaimana kabar mansion, Albert?” tanya Birdella, kemudian.


“Mansion hancur.” Seketika hati Albert tersentak, bayangan kobaran api itu terlihat lagi dengan jelas, seluruh tubuhnya meremang, karena dari kejadian itu, ia hampir kehilangan Arshaka Dean. “Aku mengusulkan padanya untuk segera direnovasi, tapi Ars tidak menginginkan itu, aku tidak tau apa yang sedang ia rencanakan,” jelas Albert.


“Aku yakin dia sedang menyusun rencana paling baik, Albert. Menurut pengamatanku ini, Ars dalam keadaan mencoba untuk siap menerima, trauma yang dialaminya mungkin sedikit-sedikit sudah mulai pulih, tapi sepertinya ia sedang menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk. Berkaca pada Victor yang memilih jalan pintas, mungkin saja, Arshaka Dean sedang menguatkan hatinya atas kabar lain yang kita semua tidak mungkin siap untuk menerimanya,” ungkap Chadla.


“Kupikir aku paham maksudmu, Chadla, ini tentang Edmund, bukan? Kakak sudah lama menunggu, dan berharap, aku setuju jika kemungkinan Kakak sedang menata hatinya, meskipun aku selalu berharap ada keajaiban lainnya yang datang kepada Kakak, dan Edmund,” kata Agatha.


“Ibu, aku sudah lama hidup berjauhan dengan Kakak, tapi Kakak tidak pernah meninggalkanku, meskipun sikapnya selalu menyebalkan, tapi Kakak selalu bertanya tentangku dari anak buah ayah, secara diam-diam. Jika Ibu bilang, aku lebih mengerti Kakak, itu salah, karena aku justru tidak mengetahui tentang Edmund, aku sama sekali kehilangan jejak tentang Edmund, Kakak tidak pernah membawa kisah Edmund kepadaku. Aku merasa gagal jadi saudaranya, tapi Kakak tentu mempunyai alasan, dan aku bisa menerimanya, meskipun awalnya sangat terkejut,” ungkap Agatha.


“Kami pun tidak pernah mengetahui ini, Birdella, aku dan Albert telah lama bersamanya, menanganinya di saat paling buruk sekalipun, tapi Ars tidak pernah membawa Edmund, kecuali kondisinya yang memang terjadi gangguan yang diakibatkan trauma masa lalunya, selain itu kami tidak mengetahuinya,” jelas Chadla.


Sementara Arshaka Dean dan Rumi di ruang perawatan, Albert, Chadla dan Birdella bertandang ke ruangan Chadla, mengistirahatkan diri di sana. Tapi kemudian, mereka tidak beristirahat, mereka sibuk membicarakan ini dan itu.


Pembicaraan mereka terlalu dalam, tapi memanglah itu yang selama ini mereka resahkan, mereka mengkhawatirkan Arshaka Dean, khawatir jika Arshaka Dean terlalu menyalahkan dirinya kembali.


“Semoga keajaiban datang lagi pada kehidupan kita,” ucap Birdella, yang diamini oleh semua orang.


Arshaka Dean sedang berjuang di dalam titik terendah dirinya, berjuang untuk siap mengikhlaskan tentang apa yang mungkin terjadi dalam hidupnya. Arshaka Dean tidak merasakan dirinya membaik, tapi berada dekat dengan orang-orang yang selalu mendukungnya, setidaknya memberi kekuatan yang lebih besar lagi padanya.


Arshaka Dean tidak menuntut, tapi sedikitnya dia mengharapkan belas kasih sang Pemilik Semesta untuk memberinya kesempatan atas semua usaha yang ia perjuangkan. Arshaka Dean beberapa kali sudah menegaskan, jika dirinya bukan orang yang suci, tapi semoga dengan ketulusannya merawat Edmund, ada balasan yang setimpal dari sang Pemilik Semesta yang Maha Pemurah itu.


***


“Kenapa kau lama sekali? Dari mana saja?” tanya Arshaka Dean, ketika Rumi baru saja kembali dari luar mengambil makanan untuk Arshaka Dean.


“Sudahlah, kau makan dulu.” Rumi segera membuka makanan yang baru ia bawa, menyendok nasi dan langsung menyuapinya Arshaka Dean.


Arshaka Dean membuka mulut dan menerima suapan pertama dari Rumi, tersenyum sambil mengunyah makanan. “Kau cantik,” ucap Arshaka Dean.


Rumi menoleh. “Tiba-tiba saja?” tanya Rumi heran.


Arshaka Dean memegang tangan Rumi dan menariknya pelan, wajah Rumi mendekat, melihat Arshaka Dean yang semakin menawan setiap harinya. “Apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam, Ars,” ucap Rumi, memperingati.


“Aku tidak akan melakukan itu di rumah sakit, meskipun aku sangat ingin, tapi aku akan menahannya. Jadi kau tidak perlu takut, tapi mendekatlah lagi,” pinta Arshaka Dean, wajah Rumi tiba-tiba panas.


“Ada apa Rumi, kenapa dengan wajahmu? Apa kau membayangkan tubuhku lagi?” goda Arshaka Dean, Rumi menepuk pipi Arshaka Dean, malu.


“Ti-tidak … mmhhh ….” Ranum Rumi langsung dibungkam oleh ranum Arshaka Dean, ia bermain-main di sana. Arshaka Dean memegang tengkuk Rumi, dan memperdalam dirinya di sana, menyesap ranum Rumi lebih rakus dari biasanya, merasakan manis yang selalu ia rindukan setiap harinya.


Arshaka Dean melepaskannya sebentar, demi melihat wajah Rumi yang sudah semerah kepiting rebus, ia selalu suka dengan reaksi Rumi yang selalu seperti ini, tidak berubah dan selalu membuat Arshaka Dean menginginkannya lagi dan lagi. “Tidak akan kulepaskan kali ini,” ucap Arshaka Dean, lebih mendekatkan wajahnya.


Baru saja ia akan bermain kembali, sudut matanya melihat sesuatu, membuat Rumi bertanya-tanya. “Ada apa, Ars?” tanya Rumi.


“Edmund!”