
Semilir angin sejuk, menerpa wajah mereka, Arshaka Dean dan Rumi masih tertahan di taman belakang kampus. Arshaka Dean sudah mengatakan dengan seluruh perasaannya, tapi Rumi tidak mengatakan apa-apa, meskipun binar di matanya mengatakan segalanya, tapi seperti kebanyakan pria lainnya, Arshaka Dean juga butuh validasi dari Rumi atas perasaannya.
“Tetaplah bersamaku, Rumi,” ucap Arshaka Dean.
“Aku bingung, Ars, tapi aku juga tidak bisa melupakan perasaanku begitu saja, aku tidak pantas bersanding denganmu yang sempurna ini, tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku sendiri, jadi aku akan egois atas dunia, aku akan memantaskan diri, karena aku tidak bisa lagi menunggu,” jelas Rumi dengan perasaan penuh, Rumi sudah terlanjur jatuh cinta, jadi apa pun resiko yang akan terjadi, ia akan berkomitmen dengan tetap konsisten dengan pilihannya itu.
Arshaka Dean tiba-tiba bangun, kemudian berlutut di depan Rumi yang duduk di depannya. “Rumi, maukah kau hidup bersamaku yang tidak seberapa ini?” tanya Arshaka Dean, menatap mata Rumi lembut.
Arshaka Dean mendekatkan wajahnya dengan wajah Rumi, Rumi paham dengan tindakan ini. Arshaka Dean melihat kedua mata Rumi, ia membelai wajah Rumi dengan lembut, ranum merah itu masih tetap menjadi kesukaan Arshaka Dean.
Arshaka Dean mengusap ranum itu, ia menelan ludahnya sendiri, ia sudah lama tidak melihat ranum Rumi sedekat ini. Arshaka Dean terus mendekatkan wajahnya. “Rumi, ikutlah bersamaku,” bisik lembut Arshaka Dean di depan ranum Rumi, berdesir tubuh Rumi.
Arshaka Dean menatap Rumi dengan tatapan bahwa ia sangat menginginkan dirinya saat ini. “Aku tidak punya bunga untuk membujukmu, Rumi, jadi terimalah ini sebagai gantinya,” ucap Arshaka Dean. Arshaka Dean menarik wajah Rumi agar lebih dekat lagi dengannya, dan ia langsung menyapukan ranum miliknya dengan milik Rumi dengan kelembutan setara bulu angsa.
Rumi merasakan setiap sentuhan Arshaka Dean, setiap gerak lembut di ranumnya, terasa sangat indah. Rumi merasakan dada mereka saling berdebar, saat jemari Arshaka Dean meraba punggungnya. Mereka terus saling menyesap, merasakan kelembutan masing-masing, Arshaka Dean berhenti sejenak, menyatukan kedua kening mereka.
“Hiduplah bersamaku, Rumi.” Rumi terlihat sangat cantik, membuat Arshaka Dean terpesona sekali lagi padanya.
Tak lama-lama, Arshaka Dean dekatkan lagi ranum miliknya dengan milik Rumi, menyalurkan segala rasa pada Rumi, menyalurkan segala kerinduan yang tertahan selama satu minggu itu.
Perut Rumi terasa seperti taman bunga, banyak kupu-kupu di dalamnya, gelenyar aneh namun nikmat menambah setiap sensasi yang diberikan oleh Arshaka Dean padanya. Meski menutup kedua mata, tapi Rumi dapat merasakan jika Arshaka Dean tengah tersenyum kepadanya.
Mereka seakan tidak memperdulikan dunia di sekitarnya, rasanya sangat indah, membuat keduanya enggan untuk menghentikan kenikmatan itu. Arshaka Dean terus menyatukan ranum mereka, menekannya, dan sesekali menyesapnya, merasakan semua manis yang tercipta dari ranum indah milik Rumi.
Semilir angin yang terus berhembus, seakan ikut bergembira atas pertemuan dua insan yang sedang memadu kasih ini. Perasaan Rumi membuncah, hatinya berdebar nikmat, ranum milik Arshaka Dean sangat pas, benar-benar terasa nyaman. Rumi tidak akan melepaskan tautan, ia akan memburunya ke mana pun Arshaka Dean bergerak, Rumi suka.
Mereka menghentikan gerak, bukan untuk melepaskan tautan, melainkan untuk meraup oksigen yang sudah menipis karena terlalu terhanyut dalam permainan mereka sendiri. Keduanya tertawa, Arshaka Dean mempertemukan ujung hidungnya dengan ujung hidung Rumi. Arshaka Dean mencium dahi Rumi begitu dalam, kemudian kembali lagi pada Ranum Rumi yang sudah terlihat mengkilat juga basah, akibat ulahnya.
***
“Ibu, ikutlah bersama kami, aku akan pastikan menjagamu, tidak akan ada lagi yang akan mengusikmu, Ibu,” ucap Arshaka Dean, di tengah makan siang mereka yang telat.
Meja makan penuh dengan makanan yang sengaja Birdella siapkan, Birdella bahagia melihat anak-anaknya kembali dengan suasana hati yang bagus, terutama Rumi yang sudah terlihat cerah kembali.
“Jangan meminta maaf, Ibu.” Rumi yang menyela, Rumi tidak mau meninggalkan Birdella seorang diri, tapi hatinya lebih tidak siap berjauhan dengan Arshaka Dean, jadi Rumi merasa lebih bersalah. “Aku yang tidak tau diri, meninggalkanmu sendirian, maafkan aku,” ucap Rumi, sesak hatinya.
“Oh, Rumi, anakku sayang, Ibu tidak apa-apa, Nak, jangan khawatir, Ibu bisa menjaga diri, Ars juga mengirim banyak pengawal untuk Ibu. Di sini juga Ibu tidak sendirian, banyak kegiatan. Kau pergilah bersama Ars, penuhi kebahagiaanmu, Ibu tidak akan melarang,” jawab Birdella.
Suasana di meja makan tiba-tiba sendu, tapi Arshaka Dean juga tidak bisa ikut berkomentar, karena di sini, Arshaka Dean lah yang menjadi alasannya. Birdella mungkin baru pertama kali ia lihat, tapi Rumi adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada cinta. Jadi, meskipun merasa bersalah, Arshaka Dean tetap akan memperjuangkan Rumi, memuja Rumi, juga memegang kendali atas segala hal tentang Rumi.
“Berbahagialah, Nak, karena hanya itu yang akan membuat Ibu terus menginginkan kehidupan,” ucap Birdella.
Rumi bangun dan memeluk Birdella, menangis di pelukannya, Birdella tak menolak, Birdella kecup pucuk kepala Rumi. Birdella sudah membesarkan Rumi dengan begitu apik, dan sekarang ia bangga dengan dirinya sendiri, karena sudah mempertemukan perempuan sempurna kepada anak kandungnya.
Birdella tidak menyesal jika pada akhirnya Rumi memilih Arshaka Dean dibandingkan dirinya, karena Arshaka Dean jauh lebih membutuhkan Rumi, malah Birdella berterima kasih karena Rumi mau bersama dengan anaknya yang sudah lama ia tinggalkan itu.
Setidaknya rasa bersalah yang ia rasakan, sedikit-sedikit bisa ia obati dengan keberadaan Rumi di hidup Arshaka Dean. Terdengar egois memang, tapi Birdella tidak paham lagi harus menebus kesalahannya seperti apa kepada anak-anaknya, terutama pada Arshaka Dean.
***
Tangan Rumi dan Arshaka Dean saling menyamankan diri pada genggaman masing-masing. Mereka berada di dalam mobil yang melaju, setelah makan siang tadi, Arshaka Dean dan Rumi pamit pada Birdella. Rumi sempat menangis dan tak enak hati meninggalkan Birdella, tapi ketulusan Birdella membuat Rumi akhirnya bisa tersenyum kembali.
“Ayo kita pulang, Rumi,” ucap Arshaka Dean, mencium punggung tangan Rumi yang berada di genggamannya.
Rumi tidak menjawab, ia sibuk melihat wajah Arshaka Dean dari samping, pesona Arshaka Dean sungguh menyihir. Kacamata hitam yang bertengger di depan matanya, membuat Rumi sekali lagi tersadar, jika Arshaka Dean adalah seorang mafia. Ia jatuh cinta pada seorang mafia! Rumi menelusuri wajah Arshaka Dean dengan matanya, rahang tegasnya semakin terlihat jelas, Rumi memuja Arshaka Dean dalam hatinya.
Arshaka Dean yang sedang menyetir dengan satu tangannya, sungguh menggoda, membuat gelenyar aneh dari tubuh Rumi mengusiknya, hingga tak sadar ia menggeliat di tempat duduknya. Penglihatan Rumi turun ke tangan kekar Arshaka Dean, urat-urat yang terlihat jelas itu, menambah kesan perkasa, membuat Rumi ingin terus merasakan disentuh oleh tangan itu.
Puas dengan tangan Arshaka Dean, ia turun lagi, dan melihat gundukan menyembul yang tertutup di tubuh bagian bawah milik Arshaka Dean. Rumi menelan ludah, jika bukan sedang di perjalanan, ia sungguh ingin merasakan bagian itu, ia ingin saat ini juga. Rumi bahkan membayangkan jika dirinya berada di pangkuan Arshaka Dean saat ini, Rumi tak sadar mulutnya terbuka.
“Rumi?”
Rumi tersentak dan buru-buru menyadarkan diri atas fantasi liarnya itu. Apa yang sedang kupikirkan, Rumi kau kacau sekali, rutuknya dalam hati.