
Arshaka Dean telah kembali, semua orang mendengar teriakannya, membuat seisi mansion kegirangan, meskipun Arshaka Dean tidak lembut seperti Edmund, tapi kehadirannya justru yang paling dinantikan oleh semua orang.
Albert mencoba untuk memberi pengertian kepada Arshaka Dean, bukan tanpa alasan Arshaka Dean baru kembali dari tidur panjangnya, sudah pasti ia khawatir dengan apa yang terjadi nantinya. Albert tahu bahwa perusahaan yang didirikan Arshaka Dean sedang membutuhkan dirinya, mungkin itu juga yang membuat Arshaka Dean terburu-buru ingin pergi ke perusahaannya.
Arshaka Dean memang seorang mafia, tetapi di luar sana Arshaka Dean dikenal sebagai pengusaha batu permata yang masyhur namanya. Ia mendirikan perusahaan ini bukan karena kamuflase semata, tetapi karena dirinya memang menggeluti dunia bisnis perhiasan yang bahan dasarnya adalah batu permata. Perusahaan ini juga masih berhubungan dengan pekerjaan utamanya sebagai mafia, karena ia bisa dengan mudah mendapatkan batu permata dari hasil yang tidak legal. Sudah banyak keuntungan dari bisnis batu permata ini, hingga orang-orang tidak akan menyadari jika Arshaka Dean sesungguhnya adalah seorang mafia.
“Ars, kau masih harus melakukan pemeriksaan, biarkan Chadla memeriksamu terlebih dahulu, kau baru saja kembali, aku takut hal buruk terjadi,” kata Albert.
“Karena itu, aku harus pergi ke perusahaan, Albert. Hal buruknya ada di sana!” bentak Arshaka Dean.
“Dan satu hal lagi, Albert, aku bisa mengendalikan diriku, anak itu sudah pergi, aku bisa hidup sekarang,” tambah Arshaka Dean.
“Chadla, apa ini tidak apa-apa?” tanya Albert pada Chadla yang masih fokus dengan pemeriksaannya terhadap Arshaka Dean.
“Ijinkan aku untuk menyelesaikan pemeriksaanmu, Ars, hanya sebentar saja, setelah itu kau bisa pergi ke mana saja,” pinta Chadla.
“Kau dengar, Ars. Kumohon, sekali ini turuti Chadla,” pinta Albert.
“Terserah kalian saja!” dengus Arshaka Dean.
“Aku akan lanjutkan, aku berjanji tidak akan memakan waktu lama,” kata Chadla.
“Percepatlah, tidak perlu banyak bicara,” ucap Arshaka Dean.
“Albert, jangan berdiri seperti itu, segera siapkan keperluanku,” desak Arshaka Dean.
“Baiklah, aku akan segera siapkan semua kebutuhanmu, Ars,” kata Albert.
“Cepat!”
Albert segera meninggalkan Arshaka Dean dan Chadla untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Arshaka Dean, juga berkas-berkas pekerjaan yang tiga hari ini ia tinggalkan. Setelah Albert berlalu, Chadla melanjutkan pemeriksaannya terhadap Arshaka Dean, ia memeriksa seluruh tubuhnya, dari mata hingga gerak motoriknya juga tak luput ia periksa.
“Bagaimana perasaanmu, Ars?” tanya Chadla.
“Tidak ada yang berubah,” jawabnya.
“Kudengar, sebelum kau tertidur, kau mengalami kesakitan yang hebat, apakah sekarang kau merasakannya lagi?” tanya Chadla lagi.
“Untuk sekarang, tidak terasa apa pun,” jawabnya lagi.
“Ars, apa kau membagi ingatanmu dengan Edmund, atau kau mengingat apa yang dilakukan oleh Edmund?” tanya Chadla memastikan.
Arshaka Dean merenung, bimbang untuk menjawab, karena sejatinya bukan ingatan yang Edmund bagi kepadanya, melainkan perasaan tulus orang-orang kepadanya, serta terbukanya hati Edmund, secara perlahan juga dapat ia rasakan ketika dirinya tertidur. “Tidak, tidak ada yang kuingat, Chadla,” jawabnya sembari membuang tatapan ke arah lain.
Chadla melihat itu dan menyadari sesuatu, ia yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arshaka Dean, sekali lagi Chadla akan mengingat itu.
“Apa pemeriksaannya sudah selesai? Aku harus segera pergi, Chadla,” kata Arshaka Dean.
“Aku tidak bisa menjamin,” katanya. Arshaka Dean turun dari tempat tidurnya, menghampiri Albert yang sedang menyiapkan pakaiannya.
“Albert!” teriak Arshaka Dean memanggil Albert.
“Aku di sini, Ars. Semuanya sudah siap,” jawab Albert santai, ia sudah kenal betul dengan sikap Arshaka Dean yang dingin ini, sudah tidak perlu terkejut lagi.
Arshaka Dean masuk ke dalam ruangan pakaian di mana suara Albert terdengar, di sana Albert sudah menyiapkan pakaian yang akan Arshaka Dean kenakan. Arshaka Dean sangat berbeda dengan Edmund, Arshaka Dean tidak suka pakaian yang terlalu mencolok, seperti saat ini, Albert menyiapkan jas panjang berwarna biru gelap dipadukan dengan kemeja berwarna hitam serta celana bahan warna senada. Jas panjang merupakan ciri khas dari Arshaka Dean, jika sudah berpakaian seperti itu, kharisma Arshaka Dean akan sangat kuat terpancar, membuat semua orang terpana.
“Albert, anak itu tidak melakukan kekacauan, bukan?” tanya Arshaka Dean sembari dirinya berpakaian. Meskipun tidak suka dengan kehadiran Edmund, Arshaka Dean sadar bahwa dirinya sendiri yang memanggil Edmund keluar, maka dari itu, Arshaka Dean perlu tahu apa saja yang dilakukan Edmund untuk meminimalisir akibat yang ditimbulkan nantinya.
Albert tertegun, pertanyaan ini yang ditakutkan oleh Albert, karena pada kenyataannya bukan hanya kekacauan, tetapi Edmund sudah membuat sebuah karya, bagaimana cara memberitahu Arshaka Dean? Pasti sangat sulit, Albert memutuskan untuk tidak membahasnya terlebih dahulu, Arshaka Dean harus melihatnya secara langsung.
“Sejauh ini tidak terlalu buruk, Ars. Bagaimana keadaanmu, kau pergi hampir tiga hari, Ars, apa yang kau lakukan di dunia sana?” tanya Albert, ia juga penasaran rupanya, pertukaran informasi antara Edmund dan Arshaka Dean menjadi topik utama di antara dirinya dan Chadla, apakah bisa terjadi? Tentu saja tidak ada yang tahu pasti, kecuali jika Arshaka Dean berkata yang sebenarnya.
“Tidak pernah terlalu lama, bukan? Aku tidak merasakan apa-apa, Albert, di dunia sana aku hanya tertidur, aku juga tidak mengerti,” jawab Arshaka Dean.
“Aku harap tidak akan terjadi hal buruk denganmu, Ars,” ujar Albert.
“Tidak akan mungkin, kau percayalah padaku,” katanya percaya diri, tetapi terasa sakit bagi Albert yang mendengarnya.
“Aku senang jika kau seperti ini. Omong-omong, apa kau akan langsung ke perusahaan atau menunggu Watson terlebih dahulu?” tanya Albert mengalihkan pembicaraan.
“Aku harus langsung pergi ke sana, Albert, biarkanlah dia saja yang menemuiku. Kuharap, dia tidak menambah kekacauan, dua hari lalu aku mendengar harga dunia mulai kacau akibat pertempuran tak berkesudahan di seberang negeri sana, merepotkan sekali,” jelas Arshaka Dean.
“Aku juga mendengar itu, selama menangani Edmund, aku terus memantau perkembangannya, sejauh ini dampaknya tidak terlalu besar untuk perusahaan kau, Ars, hanya saja jadi semakin sulit untuk bertransaksi,” kata Albert.
“Untuk masalah itu, kita bisa memakai cara kerja mafia, Albert. Kau lupa aku ini apa, Albert?” tanya Arshaka Dean.
“Tentu saja tidak, Ars, kau tetap mafia hebat, aku tidak akan khawatir tentang itu,” jawab Albert.
Arshaka Dean sudah selesai berpakaian. “Lanjutkan nanti, Albert, aku harus mengisi energi, kuharap mereka menyiapkan sesuatu yang menggugah selera,” ujar Arshaka Dean.
Arshaka Dean dan Albert keluar dari ruang pakaian untuk turun dan sarapan.
“Chadla, turunlah denganku, mari kita sarapan,” ajak Arshaka Dean.
“Ah, kau sudah selesai. Baiklah, Ars, mari kita sarapan,” jawab Chadla.
Mereka turun, Arshaka Dean menahan napas sejenak, biar bagaimanapun dirinya sudah lama tidak berada di mansion-nya sendiri, ia butuh menyesuaikan diri sebentar. Seperti halnya orang baru, matanya tak lepas untuk menatap satu persatu keadaan di mansion. Semuanya tampak sama, meskipun ada satu hal yang tidak biasa ia lihat di tempatnya ini.
Tunggu dulu, Arshaka Dean berhenti tiba-tiba, ada sesuatu yang menarik perhatiannya, ia yakin tidak salah lihat. Ia mencoba melebarkan matanya, mencari titik fokus demi melihat sesuatu itu, begitu menyadarinya.
“Albert!”