
Malam yang bergairah penuh kebahagiaan, seketika berganti menjadi penuh ketegangan dan juga kecaman dari semua sisi. Mansion Arshaka Dean dikepung dari segala penjuru, lawan datang dengan menggunakan mobil besar juga motor-motor besar. Kedatangan mereka langsung ditahan oleh para tukang pukul dan para bibi, membentuk barikade, menghalangi mereka agar tidak langsung masuk ke mansion.
Suara-suara bising yang keluar dari kendaraan mereka, memacu adrenalin siapa saja yang mendengar. Ini seperti panggilan perang pada singa yang sedang terlelap, asap yang dihasilkan dari kendaraan lawan, mengepul dan membumbung tinggi, mengaburkan penglihatan mereka. Halaman luas di mansion milik Arshaka Dean dipenuhi pasukan lawan, sepanjang mata memandang, hanya bisa melihat orang-orang bermotor dan berbaju serba hitam.
“Di mana si bocah tengik itu!” teriak seorang pria yang terlihat sangar, namanya Foras, berbadan besar dan seluruh tubuhnya bertato. “Turun kau, bajingan tengik! Ars turun!” teriaknya lagi. “Perlihatkan batang hidungmu, di depanku!” katanya lagi. “Lawan aku! Kau pikir setelah Victor tidak ada, kami akan diam saja, tidak mungkin! Kau tetap anak ingusan tengik bagi kami! Jangan sok jagoan, keluar kau! Tuntaskan sekarang juga!” tantang Foras.
Suasana mencekam tidak terelakkan lagi, Foras sudah mulai memanaskan para tukang pukul dan juga para bibi. Dilihat dari jumlah, baik lawan maupun pasukan Arshaka Dean, terlihat seimbang, mereka bisa bertarung dengan leluasa.
“Diam kau, Foras! Untuk apa kau datang ke tempatku, Foras!” teriak marah Arshaka Dean terdengar menggelegar. Tanpa perlu melihat orangnya, Arshaka Dean sudah tau jika itu Foras, hanya dari suaranya saja.
“Di mana kau, Arshaka Dean? Keluarlah! Jangan bersembunyi!” balas Foras.
Barikade pasukan Arshaka Dean, tiba-tiba terbuka, menampilkan Arshaka Dean yang tengah berjalan dengan jubah warna hitam, matanya seakan menyala, sudah kepalang marah. Arshaka Dean berjalan mendekati lawan yang berada di seberangnya. “Kenapa kau jauh-jauh ke tempatku! Kau hanya akan mati, Foras!” teriak Arshaka Dean lagi, memekakkan telinga.
“Mati? Cuih, kau yang akan mati malam ini, Ars!” tegas Foras, tertawa diikuti oleh pasukannya.
Arshaka Dean juga tertawa. “Kau bergurau? Kau tidak lihat bagaimana nasib bosmu itu? Kau hanya akan menjadi seperti dia, jika melawanku. Kau bilang, aku yang akan mati? Jangan besar kepala, lihatlah pasukanmu menundukkan kepala. Cih, kau pengecut, kalian pengecut!” ledek Arshaka Dean.
“Jangan banyak bicara! Datanglah lawan aku!” tantang Foras.
“Buang-buang wak—“
Tanpa ancang-ancang, Foras memukul wajah Arshaka Dean dengan cepat, memaksa Arshaka Dean untuk berhenti berbicara.
“Kau berani juga, rupanya,” ucap Arshaka Dean, tertawa jahat.
Arshaka Dean maju, mengangkat tangannya dan memberi instruksi pada pasukannya, yang tentunya hanya dimengerti oleh pasukannya saja. Semua orang bersiap, kode merah sudah diaktifkan, dengan hitungan ketiga dalam hati mereka, semua orang langsung berpencar dan memburu lawan dengan beringas.
“Kau ingin bertarung denganku? Tatap aku, lihat mataku,” tantang Arshaka Dean, mulai maju dan terus mendekat pada Foras.
“Kau, enyahlah!” teriak Foras, yang sudah terpojok, mulai menyerang Arshaka Dean.
Foras melancarkan serangan, tapi berhasil ditangkis oleh Arshaka Dean. “Ini saja yang bisa kau lakukan? C’mon man, kau benar-benar mengganggu waktuku yang sedang bersenang-senang, jadi lihat aku dan rasakan ini.” Tanpa aba-aba, Arshaka Dean memukul Foras dengan membabi buta, kejam juga tak kenal takut.
Di lain tempat juga sama, mereka tengah bertarung, memamerkan hasil latihan mereka selama ini. Suara erangan, juga dengusan melengkapi perkelahian pada malam ini, beberapa orang terlihat sudah tergeletak tak sadarkan diri. Pasukan Arshaka Dean sangat terlatih, jangan coba-coba membangunkannya, akan fatal akibatnya, apalagi mereka sudah lama tidak bertarung, semangatnya sangat murni.
Arshaka Dean terus menyerang, memukul wajah juga tubuh bagian samping dari Foras, tapi Foras tidak tinggal diam, ia mengeluarkan gerakan yang sama dengan Arshaka Dean. Foras melawan, mengelak dari serangan Arshaka Dean yang tidak kenal ampun, Foras melihat celah dan menyerang balik dengan pukulan keras ke perut Arshaka Dean.
“Kena kau, Ars,” ucap Foras tersenyum bangga.
“Aku tidak akan menyerah, aku akan membuatmu mati di tanganku, aku tidak terima dengan kekalahan Victor, akan kubalas dengan kematianmu, nyawa dibayar dengan nyawa, Ars!” ujar Foras.
“Oh, ya … wow … orang tua itu pasti terharu, tapi maaf-maaf saja, aku tidak peduli.” Arshaka Dean memburu Foras, menendang kakinya, hingga Foras terjatuh karena tidak siap dengan serangan tiba-tiba Arshaka Dean. Arshaka Dean menindih tubuh Foras, dan melancarkan pukulan-pukulan keras pada wajah Foras, sementara Foras tidak bisa melawan, tubuhnya sulit digerakkan.
Suasana menjadi semakin panas, pasukan Foras sudah mulai kehilangan fokus melihat Foras tidak berdaya di tangan Arshaka Dean. “Kau tidak tau penderitaanku! Kau tidak sebanding denganku! Kau pikir aku hanya ingin merebut kekuasaannya saja, tidak, semua itu tidak ada artinya bagiku. Aku hanya membalas perbuatan orang tua itu padaku dan pada saudaraku dulu,” ucap Arshaka Dean, tanpa menghentikan pukulannya. “Kau bangga pada iblis kejam itu? Kau salah memihak, dia tidak bukan manusia, dia tidak butuh manusia! Argh …!”
“Ars … am-ampun … kumohon ….” Suara Foras nyaris tak terdengar, napasnya juga sudah tersengal-sengal, berbeda sekali dengan Arshaka Dean yang masih terlihat beringas, dan siap membunuh siapa saja.
“Dari awal kau sudah salah melangkah, Foras! Kau sudah bilang ingin menuntaskan semuanya, maka akan kutuntaskan sekarang juga.” Arshaka Dean berdiri, menendang tubuh Foras, juga menginjaknya dengan keji. Belum puas dengan semua serangannya, Arshaka Dean meninju wajah babak belur Foras dengan sikutnya. Darah segar sudah tak terbendung lagi, tapi Arshaka Dean tidak banyak urus.
“Siapa lagi yang ingin menantangku!” teriak Arshaka Dean. “Maju!” teriaknya lagi.
Foras sudah terkapar, begitupun dengan pasukannya, tinggal beberapa saja yang masih berdiri. Pemandangan itu membuat mereka tiba-tiba terdiam melihat Foras tak berdaya dan tidak bangun lagi. Berbahaya, mereka akan habis di kandang lawan jika terus melancarkan aksinya. Sisa pasukan Foras berlarian, menyambar motor masing-masing.
Arshaka Dean tersenyum pada pasukannya. “Kalian berhasil, kalian hebat!” teriak Arshaka Dean mengacungkan jempol. “Kalian menang, berpestalah setelah ini,” katanya, yang disambut riuh oleh semua pasukan. Tapi tiba-tiba…
“Api!” teriak Albert.
“Mereka membakar mansion!”
“Awas! Hati-hati! Menjauh dari mansion!”
Arshaka Dean langsung menoleh, api sudah menyala besar di bagian atas, entah apa yang pihak lawan lakukan, sehingga api menjalar dengan cepat dan besar. Arshaka Dean menyisir semua orang, beruntunglah semuanya sudah berada di luar, bahkan Agatha pun sudah bergabung dengannya.
Tapi dia tidak melihat seseorang, ia terus memutar matanya, tidak, tetap tidak ditemukan. “Rumi?!” teriak Arshaka Dean panik. “Rumi, kau di mana?!” teriaknya lagi. “Ada yang melihat Rumi?” Arshaka Dean berkeliling dan bertanya pada semua orang.
“Dia sepertinya masih di dalam, Ars!” teriak Albert.
“Apa?!” Tanpa pikir panjang Arshaka Dean berlari ke dalam mansion yang sudah terbakar itu.
“Ars, jangan!” teriak Albert.
“Kakak, jangan masuk!” teriak Agatha.
“Berbahaya, Ars!” teriak semua orang, tapi Arshaka Dean terus saja masuk, tidak menghiraukan semua orang, ia tetap masuk ke dalam mansion.
“Rumi?!” panggilnya. “Rumi bertahanlah, aku datang,” ucapnya.