
Dokter yang menangani Edmund dari awal, berlarian, memburu ke ruangan Edmund, setelah alarm darurat berbunyi dari ruangan itu. Situasi darurat itu sudah pasti, ini menyangkut hidup dan mati seorang Edmund Dean.
Pemandangan darurat dan mencekam, seyogyanya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dokter-dokter di rumah sakit itu, tapi berbeda dengan hari ini, semuanya terlihat mengernyitkan dahi. Pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal mulai berdatangan di kepala mereka, sejatinya dokter sudah pasti mempunyai pikiran yang rasional, tapi kali ini, seakan semua yang pernah mereka pelajari dibantah begitu saja.
“Siapkan semuanya, ini akan menjadi sejarah, fokus, semuanya fokus!” seru ketua dokter di rumah sakit itu, yang dikenal dengan nama Carl Gustav.
“Pastikan kalian mencatat kejadian ini!” seru dokter yang lain. “Rumah sakit ini akan mejadi pusat dari semua penelitian,” lanjutnya.
Semua alat-alat disediakan, alat pencatat mereka pegang, dan alat-alat dokumentasi mereka bawa. Situasi kali ini sudah pasti akan terjadi, tapi tetap saja semua ini tidak akan terjadi, jika tidak ada tangan-tangan tak kasat mata yang membantu mereka.
“Ini keajaiban, ini keajaiban, keajaiban itu nyata,” gumam salah satu perawat.
Begitu masuk ke dalam ruangan, semua orang fokus, hening, tapi sarat akan debaran yang memicu adrenalin, ketua dokter langsung bertindak.
Keberadaan Edmund menjadi saksi untuk mereka yang terus berkembang, terus mencari metode terbaik untuk menangani Edmund, agar Edmund terus bertahan, meskipun dengan bantuan alat-alat medis.
Keberadaan Edmund di sana menjadi standar mereka untuk merawat pasien yang lain, dan keberadaan Edmund juga yang menjadikan beberapa penemuan alat-alat medis terus berkembang. Edmund sangat banyak membantu dan mendukung terciptanya beberapa alat uji klinis, dan telah menyelamatkan pasien lain yang senasib dengan Edmund.
Hari ini ketika alarm berbunyi dan Arshaka Dean berteriak histeris melihat pergerakan halus dari tangan Edmund, semuanya langsung berlarian, meninggalkan waktu istirahat mereka, memburu pasien yang membuat mereka terus berusaha ini.
Sejujurnya, bukan hanya Arshaka Dean saja yang menaruh harapan besar, Carl Gustav selaku ketua dokter di rumah sakit itu, adalah orang pertama yang menantikannya. Ketika rekan-rekannya sibuk mempertanyakan situasi ini, tidak demikian dengan Carl Gustav. Dia selalu percaya Edmund bisa bertahan hidup lebih lama, bisa menyapa dirinya dengan tawa, itulah yang menjadi landasan dia tidak menyerah pada Edmund.
Carl mendekati tubuh Edmund, mulai meraba, dan merasakan suhu tubuh Edmund. Carl juga melakukan beberapa test pada motorik Edmund, juga menguji pendengaran Edmund denga menjentikkan jarinya. “Edmund, kau bisa mendengarku?” tanya Carl dengan suara bergetar, ketika menyenteri satu persatu mata Edmund.
Respons dari Edmund sangat dinanti, dan Carl melihat itu, bergetar hatinya. Edmund mengejapkan matanya, menggerakkan tangannya, walaupun hanya gerakan kecil. Carl berpacu dengan waktu, melihat gerak dada Edmund yang kembang-kempis tanpa bantuan alat medis. Riak tubuh yang seketika meremang, menjadi pertanda, jika Carl benar-benar menantikan kehadiran Edmund, dan ini adalah cara yang paling hebat.
Bak bayi yang baru dilahirkan, mata Edmund menjelajah, mengikuti gerak cahaya senter yang menyenterinya.
Semua orang yang melihat respons Edmund, terenyuh, menahan tangis agar tidak langsung pecah, mereka sedang mendokumentasikan, jadi sebisa mungkin harus bisa menahan segala emosi, tapi Carl tidak bisa menahannya. Carl meneteskan air matanya, membasahi wajah Edmund.
Terkejut dengan sesuatu yang menyapa wajahnya, Edmund mengangkat tangan, membuat semua orang langsung bergerak. Edmund memegang wajahnya, pecahlah semua, tangisan tak dapat dibendung lagi.
“Ed-Edmund … kau mendengarku …?” tanya lirih Carl, dengan air mata yang tidak berhenti, tapi Carl tetap profesional.
Mata Edmund sudah terbuka sempurna, melihat Carl yang menangis, lalu kembali mengangkat tangannya, ia lihat tangannya itu, kemudian menggerakkan jemarinya, ragu-ragu. Edmund melirik orang-orang yang mengerumuninya, bingung karena semuanya menangis. Edmund menatap kembali Carl, seakan bertanya dengan keadaan ini. “Ka ….” Satu suku kata yang diucapkan dengan begitu lemah dan nyaris tak terdengar itu, mampu membuat semua orang diam.
Semua orang menahan napas, berucap syukur dalam diam, Edmund lebih dari pasien untuk mereka. Edmund sudah seperti keluarga yang mereka rawat berpuluh-puluh tahun, dan sekarang keluarga mereka ini, bisa mengucapkan satu suku kata, betapa bahagia dan membuncah hati dan jiwa mereka. Mereka menjadi saksi keajaiban yang benar-benar nyata, di depan mata mereka.
Tidak ada jawaban dari satu kata yang diucapkan Edmund itu, Edmund yakin dia sudah mengatakannya dengan benar, tapi semua orang hanya terdiam. Edmund kemudian melirik Carl kembali. “Ka … kak … di-dia … di … a … na?” tanya Edmund berusaha, meskipun sangat kesulitan.
Carl menangkap itu, Edmund mencari kakaknya, itu sudah pasti, Edmund mencari Arshaka Dean, ia tidak mungkin melupakan Arshaka Dean.
Carl sudah di luar, melihat ke arah orang yang sedang menunduk dan terlihat bergetar tubuhnya. Itu dia, Arshaka Dean di sana, Carl langsung berlari, dia harus segera menyampaikan berita ini, dia harus cepat.
“Tuan Ars!” serunya.
Arshaka Dean yang sedang menunduk seketika bangun, Albert dan yang lainnya pun langsung menghentikan khidmat doa yang mereka sedang kerjakan.
Melihat Carl datang padanya dengan langkah cepat dan terlihat menangis membuat hati mereka sesal, bercampur cemas.
“Tuan Ars,” ucap Carl, seketika memeluk Arshaka Dean.
“Dok …,” lirih Arshaka Dean. “Edmund?”
“Tuan Ars, keajaiban itu nyata, Tuan!” seru Carl. “Edmund ingin bertemu, Tuan Ars,” ucap Carl.
Arshaka Dean tak merespons, riuh, ribut dan gemuruh di hatinya, membuat dirinya terdiam, tak berdaya, karena luapan bahagia, yang sulit ia percaya. “Edmund?” ucapnya.
Arshaka Dean bergerak, Carl paham dan dia melepaskan pelukannya, membiarkan Arshaka Dean melangkah pada saudaranya itu.
Arshaka Dean berlari, diikuti semua orang yang juga telah lama menanti. Hatinya bahagia, tapi juga ragu, takut ekspektasinya diterjunkan lagi oleh realita. Arshaka Dean sudah bertahan sejauh ini, tidak tau akan seperti apa, jika semesta memberi fakta yang lebih menyakitkan lagi. Tapi kali ini Arshaka Dean patut percaya pada semesta, karena semesta mulai berkata damai pada kehidupannya.
Dokter dan perawat yang ada di ruangan Edmund, memberi jalan pada Arshaka Dean, memberi kesempatan padanya untuk bertemu dengan seseorang yang sangat ia nantikan kehadirannya.
Dengan debaran jantung yang seakan siap melompat keluar, Arshaka Dean masuk ke dalam ruangan itu. Arshaka Dean mendekat, matanya nanar, dan air matanya siap menetes, Edmund ada di depannya, bisa ia lihat mata Edmund terbuka, napasnya terhenti seketika, meyakinkan diri, jika ini bukanlah mimpi.
“Edmund?” panggil Arshaka Dean pada adiknya yang lama tak bisa bertegur sapa itu.
Edmund kemudian melirik Arshaka Dean yang memegang tangannya, Edmund meragu, tapi ia yakin, bahwa orang yang ada di depannya ini adalah kakaknya, Arshaka Dean. “Ka … kak?” Edmund seakan bertanya, apakah benar dia itu, Arshaka Dean, kakaknya.
“Ini aku, Edmund, ini aku, kakakmu, ini aku Arshaka Dean,” ucapnya dengan derai air mata yang terus mengalir, membasahi pipinya dan juga tangan adiknya ini.
Orang-orang mundur, tak kuasa melihat pertemuan penuh kasih ini, mereka memilih keluar dan menangis, saling berpelukan dengan rekannya. Kejadian langka ini, menjadi sebuah mujizat yang datang kepada semua orang yang berada di rumah sakit itu.
Semua perawat menjadi saksi, bagaimana pilunya setiap kali Arshaka Dean berkunjung, yang membuat Arshaka Dean menjadi tolak ukur pendukung paling sempurna untuk adiknya. Kini, semuanya telah mendapat jawaban, keraguan yang selalu semua orang rasakan, seakan terbawa terbang oleh bahagia yang kemudian datang.
Arshaka Dean berhasil, selamat, selamat karena telah berani untuk menunggu. Selamat, selamat karena selalu percaya pada janji sang Pemilik Semesta. Selamat, kebahagiaan kini sempurna, perjuangan panjang tidak ada yang sia-sia.
Sekali lagi selamat, dan terima kasih sudah berjuang untuk menaklukkan ujian semesta ini, meskipun ia bukanlah dari kalangan manusia suci, tapi selama semesta mengijinkan, kebahagiaan berhak ia dapatkan, selamat.