The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 84. Harapan Mereka Yang Dipertemukan



“Kakak,” ucap Edmund lirih, Edmund meraba lengan Arshaka Dean, memegang wajah Arshaka Dean, seakan mencari tau apa yang sebenarnya telah terjadi.


Arshaka Dean terus menangis, ini adalah pencapaian yang paling ia tunggu di kehidupannya. Arshaka Dean hari ini dapat mendengar suara Edmund, meskipun masih lemah, tapi itu sudah cukup meyakinkan dirinya jika usaha yang ia perjuangkan membuahkan hasil yang paling bahagia.


Arshaka Dean menatap mata Edmund, menelusuri semua kenangan yang ia habiskan berdua di masa lalu. Masa yang membuat ia ingin kembali, juga masa yang juga ingin ia hilangkan dari ingatannya.


“Edmund … astaga, akhirnya kau kembali, Edmund, kau kembali padaku, terima kasih … terima kasih.” Suara Arshaka Dean bergetar, mengundang orang lain yang tidak ingin menangis, ikut sedih dan menangis bersamanya.


Alat bantu pernapasan yang masih terpasang, Edmund buka, ia merasa tidak nyaman karenanya. Edmund terus memegang alat itu, Arshaka Dean meraih, tapi tidak langsung Edmund gubris. “Jangan Edmund, kau masih butuh ini,” tegur Arshaka Dean.


“No,” jawab singkat Edmund.


Carl segera mendekat, meraih tangan Edmund, agar tidak melepas alat pernapasan itu, tapi Edmund melawan, terpaksa Carl biarkan, dan ia langsung melihat monitor, dan keajaiban lainnya baru saja terjadi.


Perkembangan Edmund sungguh sangat pesat, pernapasannya normal, denyut jantungnya sempurna, dan aliran darahnya nyaris tidak ada kendala. Carl sekali lagi mencatat ini dalam ingatannya, ia merasa beruntung masih diberi kesempatan untuk melihat langsung keajaiban ini.


Carl kembali memegang tangan Edmund, memeriksa suhu tubuhnya, dan seperti yang ia sudah yakini, jika sistem-sistem dalam tubuh Edmund, kembali bekerja dengan normal, selayaknya manusia pada umumnya.


Arshaka Dean masih di sana, setelah Carl beralih tempat, Arshaka Dean memegang tangan Edmund kembali, menempelkan keningnya dengan kening Edmund. “Aku selalu percaya jika kau akan kembali padaku, aku senang, terima kasih karena sudah mendatangiku di dunia ini, terima kasih karena kau tidak memutuskan tinggal di dunia mimpi dan jauh dariku. Edmund, aku bahagia, tetaplah bersamaku, Edmund, tetaplah ….”


Rasa bahagia Arshaka Dean tidak terbendung, tak ada yang bisa menggambarkan kegembiraannya dengan apa pun, Arshaka Dean benar-benar bahagia, ia mengucap beribu syukur dan doa kepada sang Pemberi Nikmat, sungguh kabar gembira, memberi alasan lain untuknya hidup lebih lama lagi.


Keputusan untuk melanjutkan hidup yang Arshaka Dean ambil, ternyata paling tepat dari keputusan-keputusan lainnya.


***


“Ini sudah tangan Tuhan yang bekerja, Tuan Albert, dan dukungan yang terus-menerus Edmund terima membuat Edmund bertahan hingga ia bisa terbangun kembali,” ucap Carl.


“Itu tidak akan melenceng, Dok, dan untuk masalah dukungan, Ars benar-benar melakukannya, dan tidak pernah kami ketahui sebelumnya, ini lebih mengejutkan dari kami, Dok. Ars sangat percaya pada Edmund, yang akan kembali terbangun, dan inilah yang akhirnya terjadi, terima kasih sudah merawat Edmund selama ini, para dokter, dan tim perawat di sini, sangat hebat,” ungkap Albert.


Beberapa waktu sudah berlalu, tidak terasa, mereka sengaja meninggalkan Arshaka Dean bersama dengan Edmund. Mereka yang paling tau bagaimana perasaan Arshaka Dean, dan mereka sengaja memberi kesempatan kepada Edmund untuk mengenal lebih jauh lagi kakaknya itu.


Saat ini di ruangan Edmund, sedang berlangsung tayangan video tentang tumbuh kembang dari Edmund. Dimulai dari Edmund yang datang untuk pertama kalinya, sampai pada terbangunnya Edmund yang penuh keajaiban itu.


Seperti yang sudah dibahas berulang-ulang, keadaan Edmund itu istimewa, dan kondisinya sangat langka, bahkan mungkin baru Edmund saja di dunia ini yang mengalaminya, bahwa dalam keadaan koma pun perkembangan fisiknya berkembang dengan sempurna.


“Ini semua mukjizat dari Tuhan, aku tidak akan menyesal merawat Edmund selama ini, semua yang ada di sini, sudah tumbuh bersama Edmund, rumah sakit ini pun, berkembang berkat adanya Edmund dan bantuan dari Tuan Ars, kami hanya menyambungkan harapan, karena semuanya itu kembali lagi pada kerahasiaan sang Pencipta,” jelas Carl.


“Benar, Dok, dan Ars benar-benar saudara yang sabar,” ucap Albert.


“Edmund tidak mungkin mengingat semuanya, meskipun ada kasus di mana pasien bisa kembali menyambungkan jaringan memori mereka, sehingga bisa mengingat kembali kisah hidupnya. Tapi Edmund, adalah kasus yang langka, di mana fisiknya berkembang hampir sempurna, dia pasti banyak terkejut dan bertanya. Maka dari itu kita harus membimbingnya secara pelan-pelan, selayaknya seorang bayi yang baru bisa merangkak,” terang Carl.


“Tuan Ars beruntung, banyak orang yang mendukung, kami akan secara totalitas membantu Edmund kembali pulih, kami pasti akan bersamanya,” tekad Carl.


“Terima kasih, sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas kerja keras semua pihak, terutama padamu, Dok,” ujar Albert.


“Tidak bisa seperti itu, Tuan Albert, mari kita berjuang sekali lagi, Edmund membutuhkan banyak bantuan,” pungkas Carl, Albert tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui saran dari Carl.


***


“Ibu?” panggil Edmund ketika Birdella mendekatinya.


Birdella masih dalam kondisi menangis ketika masuk ke dalam ruangan, Birdella menatap wajah anaknya itu. “Edmund … kau masih mengingat Ibu, Nak, kau mengingat Ibu?” tanya Birdella, ia padahal sudah menyiapkan hati yang lapang, mempersiapkan diri, jika Edmund tidak mengenalinya.


“Kau ibuku, aku ….” Edmund mengulurkan tangan, ingin memegang ibunya.


Birdella paham, Edmund masih sulit untuk berbicara, ia dekatkan tubuhnya, wajahnya, dan terakhir ia mengecup kening Edmund, lama ia berada di sana, mengucapkan doa-doa dan kesyukuran dalam hati. Birdella merangkul, Birdella dekap, dan ia peluk tubuh hangat Edmund, pemandangan kali ini penuh haru.


“Kakak?” Edmund menoleh, ada suara baru yang asing ia dengar, ia tidak pernah melihat sosok perempuan ini, Edmund terus menatap di dalam dekapan Birdella.


“Dia, Agatha,” terang Arshaka Dean. “Kau punya adik perempuan cantik, Edmund, kau selalu ingin mempunyai adik, bukan? Dia, adikmu,” tambahnya.


“Aga … ad-dik?” Edmund tersenyum, indah sekali, meluluhkan siapa saja yang melihatnya, Edmund semakin merasakan jika dirinya sudah berada di dunia lagi.


“Ha … lo … Aga … cantik,” ucap Edmund, terbata-bata, tersenyum pada Agatha.


Jika situasinya tidak dalam keadaan yang sendu, sudah dipastikan Agatha akan heboh mendengar Edmund memujinya, pasti ia sudah berputar-putar kegirangan, tapi dalam kondisi ini, Agatha hanya mampu mengangguk dan tersenyum, kemudian menangis.


Arshaka Dean mendekap Agatha, paham dengan perasaan adiknya itu, sejujurnya perasaan itulah yang sedang Arshaka Dean rasakan, perasaan yang paling senang, paling membahagiakan, dan paling menghidupkan.


“Kakak, kau berhasil,” ujar Agatha, memberi selamat pada Arshaka Dean.


Arshaka Dean mengelus rambut Agatha. “Kita berhasil, Edmund kembali lagi berkat semua orang, dan kau termasuk salah satunya, terima kasih sudah pulang padaku, kau sama berartinya bagiku, Agatha,” ungkap Arshaka Dean.


Agatha mengangkat wajahnya, ia tak percaya kakaknya mengucapkan itu padanya, kakaknya yang selalu marah dengan apa pun yang Agatha lakukan, ternyata peduli padanya, Agatha menangis.


Tatapan Arshaka Dean padanya sangat tulus, selama ini semua yang Arshaka Dean lakukan pada adiknya adalah bentuk perhatian, mungkin tidak bisa ditangkap baik oleh orang lain. Maklum saja, Arshaka Dean selalu memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kepeduliannya, termasuk pada adiknya sendiri.


Agatha menyadari semua itu sekarang, jika Arshaka Dean memang sangat tulus, kata-katanya yang diucapkannya keluar dari hati, hingga sampai pada hati Agatha dan membangun benteng lebih kuat lagi di hati Agatha.