
“Tunggu aku, Rumi,” gumam Arshaka Dean.
Arshaka Dean menyusuri malam, menuju orang terkasih yang dibawa pulang oleh ibunya, meskipun itu tidak sepenuhnya salah Birdella, tapi tetap saja itu menjadi satu-satunya alasan, karena Arshaka Dean enggan menyalahkan diri.
Perjalanan akan memakan waktu empat jam, ini akan menjadi perjalanan panjang, tapi tak masalah, karena tujuannya jelas. Arshaka Dean sudah memiliki jawaban untuk Rumi, Arshaka Dean siap untuk menyambut hangat hati Rumi.
“Kau tidak boleh memilih orang lain, Rumi, hanya aku yang boleh menyentuhmu, hanya aku, tunggulah aku.” Arshaka Dean memancarkan aura dominannya. Untuk orang yang sudah jelas ia butuhkan, Arshaka Dean akan melakukan apa saja, termasuk melakukan perjalanan jauh seperti saat ini.
Dinginnya malam yang menusuk hingga menyentuh tulang rusuk, tidak menjadi halangan bagi Arshaka Dean, demi bertemu dengan orang yang selalu menghiasi angan-angannya. Rumah ibunya terlalu jauh, Birdella pandai bersembunyi, itu bagus untuk keselamatan Birdella, tapi tidak dengan hati Arshaka Dean yang menggebu-gebu ingin cepat bertemu.
Arshaka Dean beberapa kali menglakson kendaraan-kendaraan yang menghalangi laju mobilnya. “Menyingkirlah, kau brengsek!” serunya, di dalam mobil. Hari semakin malam, semakin membuat Arshaka Dean tak sabaran, siapa saja menjadi sasaran. Orang yang sedang ia perjuangkan lebih dari sebongkah berlian, jadi maklum saja jika dirinya harus bersikap arogan.
***
“Chadla, kau memanggilku?” tanya Albert.
Kita biarkan dulu Arshaka Dean berjuang di jalanan sana, ada yang ingin Chadla diskusikan terlebih dahulu dengan Albert. Setelah melihat Edmund yang terbaring dengan alat-alat medis yang menjadi penopang hidupnya, membuat Chadla harus mendiskusikan sesuatu dengan Albert.
“Albert, masuklah,” jawab Chadla di dalam ruangannya.
Albert masuk, kemudian duduk di depan Chadla. “Ada apa, Chadla, sepertinya sangat penting?” tanya Albert.
Chadla menghembuskan napas, bahasan kali ini tak kalah berat dari bahasan yang biasanya, Chadla menatap Albert. “Bagaimana perkembangan Edmund, Albert?” tanya Chadla.
Setelah keberadaan Edmund telah semua orang ketahui, Albert segera menugaskan orang kepercayaannya untuk siap siaga di rumah sakit tempat Edmund dirawat. Setiap hari, Albert akan meminta laporan perkembangan Edmund dari dokter yang merawatnya, jadi lebih mudah mendapatkan informasi.
“Tidak ada perubahan yang signifikan, masih sama setelah melewati masa kritis waktu itu,” jawab Albert, suasana di ruang Chadla jadi hening, ini pembahasan yang sungguh sensitif bagi siapa saja.
“Albert, kau tau tentang mimpi Ars?” tanya Chadla.
“Aku tau, bagaimana menurutmu, Chadla, apa ini artinya Ars sembuh dari kondisinya, dan ia tidak akan berganti jiwa lagi?” tanya Albert, penuh harap.
“Ini yang sangat diharapkan semua orang, Albert. Ars sembuh dari penyakitnya adalah tujuan kita selama ini, bukan? Tapi, apakah akan semudah itu? Penyakit DID tidak mudah disembuhkan, jika si penderita tidak mempunyai tekad yang kuat. Melihat kasus Ars, itu tidak akan mudah terjadi, apalagi kita tau bagaimana trauma masa lalu yang sudah membuat kondisinya lebih buruk. Apakah kau tidak mencurigai sesuatu, Albert?”
Chadla menspekulasikan keadaan Arshaka Dean dengan sangat tepat, meskipun Arshaka Dean sudah menuntaskan semua dendamnya, bukan berarti semuanya akan berjalan dengan mudah, tapi apa arti dari mimpi Arshaka Dean ini?
“Maksudmu? Mimpi Ars sangat banyak makna, aku menyimpulkannya, jika Ars akan segera terlepas dari penyakitnya, aku tidak punya kesimpulan lainnya, Chadla,” jawab Albert.
“Aku mengkhawatirkan sesuatu, Albert, dan ini bukan tentang kesembuhan Ars, ada hal lain yang harus lebih kita persiapkan,” ujar Chadla, menggantung.
“Itulah yang aku takutkan, Albert. Mimpi Ars tentang menghilangnya Edmund yang Ars ceritakan pada kita, memiliki dua arti. Arti pertama, sangat kita harapkan kebenarannya, Ars kemungkinan sembuh dari penderitaannya selama ini, dan yang kedua ….” Chadla terdiam. “Ini akan sulit, Albert, kondisi Arshaka Dean mungkin akan lebih buruk dari kondisinya yang sekarang, jika semua terjadi,” jelas Chadla, membuat Albert cemas.
“Astaga, aku tidak ingin membayangkannya, sakit sekali rasanya, Chadla,” lirih Albert.
“Tak ada cara lain, Albert, kita harus siap dan mulai observasi untuk penanganan trauma baru yang mungkin akan muncul setelahnya,” terang Chadla.
Di kehidupan Arshaka Dean seakan tidak pernah ada kemudahan, selalu dikejar-kejar dengan kabar yang tidak menyenangkan. Diskusi ini meskipun hanya sebatas perkiraan semata, tidak menutup kemungkinan, jika hal yang tidak diinginkan terjadi.
Ini akan mejadi perhatian semua orang dengan akhir dari kisah ini. Apakah semesta pada akhirnya mengijinkan Arshaka Dean hidup bahagia, ataukah berjalan sebagaimana mestinya seperti yang orang-orang pesimis pikirkan? Kita lihat saja perkembangannya bersama-sama.
\*\*\*
Meskipun di perjalanan banyak dihabiskan dengan menggerutu sendirian, akhirnya Arshaka Dean bisa melewati rute terberat dalam perjalanannya menuju yang dipuja. Tinggal tiga puluh menit perjalanan tersisa, hati Arshaka Dean berdebar, tak sabar ingin segera mendekap Rumi.
Arshaka Dean sudah putuskan untuk membawa Rumi terbang bersamanya, merangkai untaian kisah yang hanya ada cerita mereka berdua di dalamnya. Arshaka Dean berujar ingin segera melamar, meskipun di tangannya tak ada setangkai mawar.
“Rumi aku datang,” gumamnya dengan suara detak jantung yang bergemuruh.
Arshaka Dean memasuki satu-satunya jalan masuk menuju tempat Birdella, rindang pohon di kiri dan kanan jalan menambah kesan asri, segar bila kita menghirup udara di sekitarnya. “Indah, sama seperti dia.” Arshaka Dean tersenyum, membayangkan wajah berseri Rumi, ia tidak sabar untuk mengungkung tubuh Rumi, melihat semburat merah di wajah Rumi lebih dekat.
Akhirnya rumah Birdella terlihat oleh kedua matanya, Arshaka Dean menghela napas, menenangkan diri. Hatinya terlalu membuncah, itu tidak baik bagi keberlangsungan hidupnya, ia harus hidup lebih lama, jika ingin membuat kisah bahagia dengan Rumi.
Arshaka Dean berhenti di depan rumah mewah bergaya Eropa, rumah Birdella satu-satunya yang memiliki arsitektur seperti itu. “Indah, semua yang berkaitan dengannya memang indah,” ucap Arshaka Dean, sembari melihat rumah Birdella, sepertinya Arshaka Dean memang sudah benar-benar dimabuk cinta Rumi.
Arshaka Dean turun dari mobilnya, berjalan ke arah rumah Birdella, sembari memakai kacamata hitam yang menambah kadar ketampanan darinya. Arshaka Dean sengaja memancarkan kharismanya untuk memikat Rumi sekali lagi. Ketegasannya seakan memberi peringatan kepada setiap orang, bahwa tidak boleh ada yang mengganggu kepunyaannya itu.
Arshaka Dean semangat, ia terus saja berjalan, tapi sesuatu terasa mengganjal di hatinya. Rumah Birdella terlihat sepi, seperti tak ada penghuni, mungkinkah Rumi dan Birdella pergi? Tapi pergi ke mana, ini masih pagi, tidak mungkin Rumi dan Birdella memutuskan pergi menemui Arshaka Dean, bukan?
Arshaka Dean tak punya pilihan lain, ia tidak ingin membuang waktu dengan pemikiran yang hanya akan membuatnya marah, jadi ia putuskan membuka gerbang rumah itu. Arshaka Dean masuk. “Rumi?” panggilnya, berharap Rumi akan segera keluar dari rumah Birdella. “Rumi?” panggilnya sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam sana.
Arshaka Dean gusar, dia sudah jauh-jauh datang untuk menemui Rumi, sangat disayangkan jika pada akhirnya mereka tidak bisa bertemu. Demi menghalau pikiran buruk itu, Arshaka Dean terus mengetuk pintu, lalu berlari ke tepian rumah, keluar lagi dan terus mencari keberadaan Rumi.
Arshaka Dean berlari dari ujung barat ke ujung timur, tetap tidak menemukan siapa pun di rumah besar itu. Arshaka Dean bingung, ke mana lagi harus mencari. “Rumi, di mana kau?” tanyanya pada udara kosong yang melewatinya.
“Ibu?” Arshaka Dean mengetuk pintu lagi, kali ini memanggil ibunya, berharap ibunya datang bersama Rumi. “Ibu?” panggilnya lagi, nihil, tidak ada siapa pun yang keluar. “Tidak mungkin, dia tidak mungkin meninggalkanku.” Arshaka Dean menjatuhkan diri, berlutut di lantai yang terasa dingin di kakinya. Ia sudah lelah melawan setiap gelisah, Arshaka Dean mengusap wajah, mencoba meredam rasa marah. “Tidak, aku tidak boleh menyerah,” tekadnya.