The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 68. Memulai Hidup Baru



Arshaka Dean samar-samar mendengar suara aneh dari bawah, ia mempertajam pendengarannya, sembari terus berjalan. Langkahnya semakin gusar kala Arshaka Dean mendengar suara dentingan gelas dengan sendok, seperti seseorang tengah mengaduk sesuatu dengannya.


Arshaka Dean sudah di bawah, suasana malam ini sedang sepi, entah ke mana semua penghuni mansion pergi. Arshaka Dean terus mendekat, hingga terlihatlah seorang pria tengah mengaduk teh, membelakanginya.


“Siapa kau?” tanya Arshaka Dean, penuh selidik dan hati-hati.


Si pria yang tengah mengaduk segera menoleh, mata mereka saling bertemu dan mengunci. “Edmund, kau kah itu?” tanya Arshaka Dean, memastikan.


“Kakak, bagaimana kabarmu? Apakah nanti aku akan sering ke tempat ini, Kakak?” tanya Edmund. Wajah Edmund terlihat berseri, cerah, rambutnya juga disisir rapi. “Kemarilah, Kakak,” pinta Edmund.


Arshaka Dean datang mendekat. “Kenapa kau ada di sini? Kau datanglah langsung ke kamarku, kau sudah tau tempatnya, bukan?” tanya Arshaka Dean.


Edmund menatap Arshaka Dean. “Minumlah ini, Kakak,” ucap Edmund, menyerahkan teh yang tadi ia buat. “Kakak, aku sudah merepotkanmu, selama ini, maafkan aku, Kakak,” ucap Edmund.


Arshaka Dean menerima teh yang diberikan Edmund, menyesapnya sedikit, lalu kembali lagi pada Edmund. “Kenapa kau berkata seperti itu? Aku ini kakakmu, wajar saja jika aku ingin membuatmu bahagia,” jawab Arshaka Dean.


“Tapi, hidupmu berantakan karena ulahku, Kakak,” kata Edmund.


“Tidak, Edmund, kau hidupku, jika kau meminta separuh nyawa dari kehidupanku, aku tidak akan menolak, Edmund, kau pantas mendapatkan itu. Dari pertama kali kita diciptakan, kau dan aku memang ditakdirkan memenuhi kehidupan atas satu sama lain, di antara kita. Aku senang bisa membagi itu denganmu, Edmund,” jelas Arshaka Dean.


Arshaka Dean membalikkan tubuhnya, memandang pemandangan di luar sana, ke mana pun mata memandang, penangkaran kupu-kupu lah yang memenuhi penglihatan. Terlihat indah juga sejuk di mata.


“Pernahkah, Kakak berkunjung ke penangkaran kupu-kupu buatanku?” tanya Edmund.


“Ah, aku dengar itu hadiah untukku, terima kasih. Aku akan sering berkunjung, tapi nanti ketika aku tidak takut lagi pada mereka,” jawab Arshaka Dean.


“Kau tidak akan takut lagi, Kakak, percayalah padaku,” kata Edmund. “Tujuanku datang hari ini, adalah untuk membawa pergi semua keraguan-raguanmu dan juga kegelisahanmu itu, Kakak. Kau tidak seharusnya mengemban semua rasa bersalah, biarlah aku membawa itu semua, dan meleburnya menjadi kehidupan untukmu.”


Edmund melirik Arshaka Dean. “Kakak tidak bersalah, memang akulah yang lemah pada saat itu, aku sudah lama mengambil kehidupanmu, Kakak. Kali ini aku ingin serahkan semua kehidupanmu seutuhnya,” jelas Edmund, membuat Arshaka Dean bertanya-tanya, tidak paham.


“Aku tidak mengerti, Edmund, maksudnya apa?” tanya Arshaka Dean.


“Kakak terima kasih sudah meminjamkan separuh hidupmu kepadaku, aku bahagia, meskipun perjalanannya sedikit berliku, tapi aku senang bisa mengenal kehidupan darimu, Kakak. Aku pamit untuk mencari kehidupanku sendiri, kau tidak sendirian lagi, jadi ini waktunya aku pergi, sekali lagi terima kasih, Kakak,” kata Edmund, tersenyum penuh rasa syukur.


“Kau, ini tidak nyata, bukan? Kau tidak boleh pergi dari hidupku, Edmund, kau tidak boleh pergi!” Tiba-tiba saja, Arshaka Dean merasakan sesak. “Jangan, Edmund, jangan pergi dariku!” Padahal Edmund tepat di depannya, tapi Arshaka Dean tetap saja berteriak.


“Ini sudah waktunya, Kakak, sampaikan salamku pada yang lain, terima kasih, aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik, Kakak, sampai bertemu lagi.” Tubuh Edmund tiba-tiba memudar, bagian-bagiannya berubah menjadi kabut asap, sedikit demi sedikit menghilangkan sebagian tangannya. “Aku bahagia, Kakak, aku bangga padamu.” Kabut asap itu membawa sebagian tubuh Edmund pergi, perlahan-lahan ia tersenyum, senyuman yang paling indah yang pernah Arshaka Dean lihat.


“Tidak jangan pergi, Edmund! Jangan tinggalkan aku!” Arshaka Dean menyaksikan bagaimana proses itu berlangsung, tidak, Edmund benar-benar menghilang, Edmund tidak terlihat lagi.


“Edmund …!”


“Edmund … tidak Edmund, jangan seperti ini padaku.” Napas Arshaka Dean tersengal-sengal, udara di sekitarnya tiba-tiba saja menjadi dingin, membuat Arshaka Dean kehabisan napas. “Tidak … Edmund ….” Napasnya semakin berat, dan tiba-tiba penglihatan Arshaka Dean menghitam.


“Edmund!”


Kepalanya bergerak tak beraturan, mata Arshaka Dean menutup rapat, tubuhnya berkeringat dan napasnya tersengal-sengal.


“Ars, Astaga. Ars bangunglah.”


“Tidak apa-apa, itu hanya mimpi, Ars,” kata Rumi, menenangkan.


Arshaka Dean sudah kembali ke mansion, ia memang selalu merasa bersalah ketika meninggalkan Edmund seorang diri di rumah sakit. Meskipun banyak perawat yang membantu Arshaka Dean, tapi tetap aja ia merasa bersalah, mungkin itulah yang menyebabkan Arshaka Dean bermimpi buruk hari ini.


“Turunlah, Ibu menunggumu,” bisik Rumi.


***


Arshaka Dean, Agatha juga Birdella, sudah berada di sofa, mereka menghabiskan waktu dengan berbagi cerita sebelum Birdella pulang dari mansion Arshaka Dean. Kemarin, Birdella diminta Edmund untuk datang ke mansion-nya, berkenalan dengan yang lain, termasuk Chadla.


Arshaka Dean juga mengatakan kondisi yang sesungguhnya kepada Birdella, dengan bantuan Chadla. Birdella merasa terpukul, tidak tau lagi harus meminta maaf seperti apa, anak-anaknya hidup dengan bayangan masa lalu dan kesulitan.


“Kalian adalah penyesalan paling besar dalam hidup, Ibu,” ucap Birdella, masih, mengelus wajah kedua anaknya.


Birdella terus memeluk kedua anaknya yang terpaksa ia tinggalkan dulu, hati Arshaka Dean perlahan-lahan menerima kehangatan lagi. Setelah Rumi berhasil menghancurkan gunung es dalam hatinya, kini hati Arshaka Dean akhirnya dapat merasakan kehangatan yang lebih nyata.


“Kau cantik, Agatha,” ucap Birdella.


Agatha tersenyum, malu-malu, tiba-tiba memukul lengan Arshaka Dean, Agatha salah tingkah. “Kau dengar, Kakak? Aku cantik, kau harus akui itu,” ucap Agatha, bangga.


“Kau cantik jika sedang diam saja, tapi itu jarang sekali, jadi berhentilah membanggakan diri, dan berhentilah membuat masalah,” ujar Arshaka Dean, membuat Agatha cemberut.


Agatha semakin merapatkan tubuhnya pada Birdella, merangkul lengan Birdella dengan erat, wajahnya masih cemberut. “Ibu, lihatlah, Kakak selalu seperti itu padaku, dia tidak sayang padaku, Ibu,” adu Agatha, persis seperti seorang anak kecil yang meminta perhatian.


“Kau! Ibu juga akan berpikiran sama denganku, jika tau bagaimana kau hidup selama ini, kau sudah mengacaukan satu bar, menyiksa satu pria, dan sering tidak pulang, entah berkeliaran ke mana.” Arshaka Dean tak ingin disalahkan, ini saatnya ia membongkar sifat asli Agatha pada Birdella. Ibunya baru saja kembali lagi padanya, ia tidak ingin mendapat pandangan buruk dari Birdella.


Birdella diam-diam tersenyum, mengucap syukur dalam hatinya, Birdella beruntung masih mendapat kesempatan untuk berkumpul dengan mereka tanpa rasa takut. Ancaman dan teror pernah Birdella terima dari Victor setelah dirinya keluar dari tempat Victor, menyebabkan Birdella tidak bisa leluasa bertemu dengan anak-anaknya.


Kini setelah mendapat kabar jika Victor dan komplotannya berhasil ditaklukkan, Birdella akhirnya berani keluar dari persembunyiannya. Birdella menangis, kali ini karena gembira, akhirnya bisa bertemu dengan anak-anaknya, meskipun keadaannya tidak seperti yang ia harapkan, tapi dengan penerimaan anak-anaknya itu sudah cukup bagi Birdella.


“Ibu tinggallah di mansionku, tinggallah bersama kami,” ujar Arshaka Dean.


Birdella menganggukkan kepala dengan pasti. “Ibu akan pastikan sering berkunjung,” ucap Birdella.


“Ars?” seseorang memanggil.


“Rumi?” Arshaka Dean segera bangun, dan menatap Rumi.


“Ibu, aku harus berbicara padanya, aku pinjam sebentar,” ucap Rumi, Agatha dan Birdella saling bertatapan, tapi kemudian Birdella menganggukkan kepalanya.


Arshaka mengikuti Rumi yang berjalan ke arah halaman belakang jauh dari orang-orang. “Mau ke mana kita?” tanya Arshaka Dean, karena Rumi terus saja membelakanginya.


Rumi tidak menjawab, ia masih terus memandang jauh ke depan, hari ini Rumi dilanda kebingungan, tapi tidak bisa menolak. Rumi berhenti di dekat penangkaran kupu-kupu, sekarang sudah ada tempat berteduh di sampingnya, Rumi duduk di salah satu kursinya.


Rumi, melirik Arshaka Dean, yang dibalas senyuman oleh Arshaka Dean. “Ada apa? Kau merindukanku, jika begitu, aku pun juga sama,” kata Arshaka Dean, menggoda.


“Ars, aku harus pulang,” lirih Rumi.