The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 41. Tawa Yang Mereka Rindukan



Agatha mengurung diri di kamarnya, baru berhenti menangis setelah mendengar kondisi kakaknya, hari ini melelahkan. Sosok yang sangat ia banggakan, ternyata menyimpan luka yang sangat menyiksa.


Agatha merasa tidak berguna, ia memang pernah berada jauh dari Arshaka Dean, dan menyangka Arshaka Dean akan hidup lebih aman di luar mansion keluarganya.


Agatha pernah ada di mansion itu, ia paham bagaimana kerasnya didikan keluarga mereka. Tapi tak pernah terpikir olehnya, jika Arshaka Dean mengalami guncangan yang begitu hebat, hingga menyebabkan jiwanya terpecah menjadi dua kepribadian. Agatha menyesal, karena pernah meninggalkan Arshaka Dean sendirian di mansion itu.


Jika tidak egois sendiri, mungkin Arshaka Dean tidak akan seperti ini. Jika ia tidak keluar dari sana, mungkin saja ia bisa menyelamatkan kakaknya. Agatha tidak bisa membayangkan, apa yang menyebabkan Arshaka Dean jadi seperti ini.


Chadla mengatakan ini semua bisa disebabkan karena trauma yang terjadi di masa lalu, tapi Agatha sama sekali tidak tau apa yang sudah terjadi pada kakaknya.


“Kakak ….”


Suara Agatha serak karena terlalu lama menangis, ia harus bangkit, jika Agatha terpuruk, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Seperti kata Chadla, ia harus kuat, dengan begitu ia bisa membantu pemulihan Arshaka Dean.


Agatha keluar dari kamar, diam-diam berjalan ke kamar Arshaka Dean, ia ingin melihat kakaknya. Agatha diam di tempat, mengatur hati yang sudah terlanjur hancur, ia bahkan beberapa kali memejamkan mata, guna mencari kekuatan.


Sementara itu di kamar Arshaka Dean. Tubuh kokoh itu menggeliat di atas tempat tidur, ini ujung malam, semua orang tengah beristirahat.


Siapa yang terbangun di malam yang sendu ini? Arshaka Dean! Sorot mata ini milik Arshaka Dean, ia tersenyum, dibangunkan oleh mimpi. Meskipun ia yakin, jika harinya dihabiskan oleh orang lain yang bersarang di tubuhnya, ia tetap merasa lega.


Arshaka Dean asyik melamun, tanpa ia ketahui Agatha sedang menahan perasaan di depan pintu kamarnya.


Pintu kamar Arshaka Dean terbuka secara perlahan, Arshaka Dean yang menyadari itu tersenyum sumringah, mengharapkan seseorang yang sedang ada dalam pikirannya masuk ke kamarnya.


Seseorang masuk. Bukan, bukan yang Arshaka Dean harapkan, adiknya yang masuk ke dalam kamar, dengan mata sembab. Agatha masuk tanpa tau Arshaka Dean sudah kembali.


“Kau?!” Tunjuk Arshaka Dean.


Agatha yang baru masuk tersentak dan merasa takut, pasalnya tadi siang dirinya berhadapan dengan Edmund. Ia takut jika Edmund tidak menerimanya, dan bahkan menolak bertemu dengannya, tapi apa boleh dikata, Agatha begitu merindukan kakaknya.


“Kau berani pulang ke mansion-ku?!” sentak Arshaka Dean.


Agatha menatap mata Arshaka Dean, nanar. Sebelum siapa pun menjelaskan, Agatha sudah tau itu Arshaka Dean, kakaknya. Kakaknya kembali dan berteriak lagi padanya, Agatha bahagia, dia lega.


“Kau tau?!” Arshaka Dean masih menunjuk Agatha, ia merasa berang, dua hari yang lalu dirinya tidak sempat melampiaskan kekesalannya.


“Masalah apa yang sudah kau perbuat? Gara-gara ulahmu, aku harus membeli bar, siapa yang akan mengelolanya, aku sudah sangat sibuk,” geram Arshaka Dean.


Agatha tidak membantah seperti biasanya, membuat Arshaka Dean heran. Agatha terlihat sudah menitikkan air mata.


“Kakak …,” lirihnya.


Agatha langsung menubrukkan tubuhnya dengan Arshaka Dean, bahagia kakaknya sudah kembali. Arshaka Dean terdiam, bingung dengan tingkah adiknya.


“Hey, kau?”


Agatha menangis di pelukan Arshaka Dean. “Kau menangis? Hey, kau benar adikku? Ini tidak seperti dirimu, kenapa kau menangis? Ke mana Agatha yang selalu membangkang, kau bukan adikku?”


“Ada apa? Ada masalah lain yang kau tidak ceritakan padaku? Ada yang menyakitimu? Katakan padaku, akan aku selesaikan saat ini juga, cepat katakan,” cecar Arshaka Dean.


“Hey, hey.” Arshaka Dean menggoyang-goyangkan tubuh Agatha. “Apa maksudmu?” tanya Arshaka Dean, bingung.


“Kakak … kau sudah menderita terlalu lama … kenapa kau tidak bilang padaku, Kakak?” Suaranya masih terisak.


“Kenapa kau menanggung ini semua, Kakak?” sesal Agatha.


“Kau tidak harus melewatinya sendirian, Kakak. Kau bisa membaginya denganku, dengan Albert dan orang-orang, kenapa kau seperti ini, Kakak?”


Arshaka Dean terdiam, sepertinya ia langsung paham, apa yang ditangisi oleh Agatha. Hatinya gelisah, ia tidak ingin seperti ini, tapi semua hal tidak bisa ia kendalikan sekaligus. Arshaka Dean memeluk lebih erat, ia mengelus rambut Agatha. Arshaka Dean memilih untuk membiarkan Agatha melampiaskan semuanya.


“Kau ingat, Kakak. Dulu sekali, ketika anjingku mati, kau ada di sisiku, kau menemani aku. Kau hibur aku dengan permen lolipop yang kau beli dari uang tabunganmu, kau ingat itu, Kakak? Jadi … Kakak … kumohon, ijinkan aku juga ada di sisimu, meskipun tak bisa membantu menyembuhkan semuanya, tapi ijinkan aku menghiburmu, Kakak.” Agatha tulus, satu-satunya yang ia harapkan adalah melihat kakaknya bisa tersenyum seperti dulu lagi.


“Kau jahat, kau sudah memutuskan sendiri, kau tidak bisa seperti itu, kau bisa libatkan aku. Aku akan menerimamu, Kakak, mau seperti apa dirimu, aku akan terima itu.” Agatha menenangkan diri sesaat.


“Aku tetap bersamamu, mau kau seorang mafia hebat, maupun manusia biasa, aku tetap akan bersamamu, Kakak. Jangan merasa sendirian, aku, Albert, Chadla dan bahkan sekarang ada Rumi, mereka pasti tidak keberatan. Jadi percayalah pada kami, Kakak.” Agatha mengangkat kepalanya, menatap mata Arshaka Dean.


“Aku mengerti,” ucap Arshaka Dean, membalas tatapan Agatha.


Hati Arshaka Dean terasa hangat, seperti ada sesuatu yang perlahan menutup lubang besar yang telah lama menganga tanpa pengisi.


“Jangan hanya mengatakannya, Kakak,” rengek Agatha.


“Aku akan berusaha,” kata Arshaka Dean.


“Maafkan aku, maafkan aku pernah meninggalkanmu sendirian di tempat itu.” Agatha mulai menangis lagi. “Jika saja aku tidak pergi, kau tidak mengalami ini, Kakak, maafkan aku,” sesal Agatha.


“Ini bukan salahmu, kau tidak perlu menyalahkan diri. Sudahlah. Kau membuatku terkejut, ini tidak seperti dirimu. Jangan seperti ini, aku tidak bisa memarahimu lagi, jika kau bersikap manis seperti ini. Ah, anjingmu, aku berjanji untuk menggantinya, bukan? Aku akan membelikanmu, jadi berhentilah menangis, kau jelek sekali,” gurau Arshaka Dean, menghibur adiknya.


Agatha memukul dada Arshaka Dean. “Aku benci padamu, Kakak. Kau jahat!” gerutu Agatha.


Arshaka Dean tertawa, tawa yang terdengar membahagiakan. “Aku tau, dan aku tidak akan berhenti seperti ini,” kata Arshaka Dean.


“Aku tidak butuh anjing lagi, Kakak, di sini sudah banyak teman, aku tidak butuh yang lain. Aku tidak ingin kehilangan anjingku lagi, jadi kau tidak perlu menggantinya, kau fokuslah dengan kesehatanmu. Dan, tolong, kali ini bagilah bebanmu kepada kami,” kata Agatha.


“Kau sudah tau tentang kondisiku, rupanya,” ujar Arshaka Dean.


“Aku sudah melihat, Kakak versi imut,” ejek Agatha.


“Kau!”


“Jujur saja, Kakak, aku lebih suka kau bersikap lembut seperti itu, kau terlihat lebih tampan dan mudah dikendalikan,” gurau Agatha.


“Apa kau bilang?”


Arshaka Dean tak terima dirinya diolok-olok seperti itu, ia membalas Agatha dengan menggelitik adiknya, seperti yang biasa dulu mereka lakukan. Setelah saling mengungkapkan kepedihan masing-masing, Arshaka Dean dan Agatha tertawa dengan gurauan masing-masing, membuat Albert yang melihat di celah pintu kamar Arshaka Dean, tersenyum bahagia dan merasa lega.