The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 21. Si Keras Kepala



Beberapa hari berlalu, suasana kediaman Arshaka Dean semakin ramai, bukan hanya dipenuhi dengan puluhan tukang pukul dan pekerja mansion, tetapi juga ada satu perempuan cantik, ia seperti Arshaka Dean versi perempuan. Mungkin sebelumnya juga ramai, tetapi sedikit sekali kita akan melihat keceriaan di mansion ini.


Lalu lalang pekerja mansion sudah mulai terbiasa dengan adanya Agatha, sesekali Agatha berkomentar karena sikap dingin para tukang pukul. Andai saja Agatha tau, seberapa keras para tukang pukul menahan diri agar tidak membentak dirinya, pastilah Agatha akan semakin sering mengganggu mereka, Agatha tidak kenal takut.


Kedatangan Agatha tidak mengganggu, tetapi mulai membuat ketenangan mereka terancam, seperti saat ini, ketika para bibi sedang menyiapkan makanan, Agatha tidak bisa diam, selalu bertanya ini dan itu.


“Bibi, kenapa harus dua kali dibersihkan?” tanya Agatha melihat pekerja membersihkan lemari yang dipenuhi hiasan antik.


“Agar tidak cepat rusak, Nona,” jawabnya.


“Bibi ini repot-repot sekali, kenapa tidak didiamkan saja, Ars tidak akan peduli dengan semua itu,” ucap Agatha.


“Ini sudah pekerjaan saya, Nona,” jawabnya lagi sembari melanjutkan pekerjaannya.


“Kalian, terlalu takut pada Kakak, dia tidak akan membunuh kalian, tenang saja,” kata Agatha.


Tiba-tiba saja, salah satu tukang pukul melewatinya, ia tak sempat berlalu karena lebih dulu tangannya disambar oleh Agatha, mau tidak mau, tukang pukul ini berhenti, padahal dalam hatinya ia sudah melontarkan sumpah serapah.


“Hey, kau? Kenapa kau tidak menyapaku? Kau tidak melihatku, aku cantik seperti ini, tidak kau lihat? Wah, sepertinya ada yang salah dengan mata kalian,” cecar Agatha.


“Maafkan aku, Nona, tetapi saya sedang terburu-buru. Permisi,” katanya.


Tangannya dicekal oleh Agatha, lagi. “Tunggu dulu, hal penting apa yang membuatmu mengabaikan perempuan cantik sepertiku?” tanya Agatha percaya diri, ia melepas tangannya dari tukang pukul itu, ia menatap tajam.


“Maafkan aku, Nona,” jawabnya, sesungguhnya tukang pukul ini sudah jengah, ingin sekali dirinya berlari saat ini juga. Sungguh bagaimana mungkin ia bisa mengabaikan Agatha yang begitu cantik bak bidadari, tidak akan mungkin, tetapi ia harus menjaga martabatnya sebagai tukang pukul sejati.


“Kau!” bentak Agatha. “Apa semua laki-laki di sini, tidak pernah mengenal perempuan? Apa kau juga tidak pernah melihat para bibi di sini? Kalian kacau sekali.” Agatha berkacak pinggang.


Arshaka Dean yang sedari tadi duduk di depan meja kerjanya, bangkit dan keluar mendengar keributan di bawah. Suara Agatha yang sedikit berteriak mendominasi ruangan itu, Arshaka Dean menuruni tangga.


“Ada apa ini? Agatha ada apa denganmu? Biarkan mereka bekerja? Kenapa kau ribut sekali?” geram Arshaka Dean.


“Ya! Semua orang dingin karena dirimu, mereka mengabaikanku, mereka tidak bisa diajak bermain sebentar saja. Kau harus bertanggung jawab, atas sikap dingin mereka,” kata Agatha.


“Kau diamlah! Jangan ganggu mereka! Ini yang aku tidak suka darimu, kau selalu membuat masalah, berhentilah sebelum aku mengusirmu lagi,” pungkasnya.


“Kau, aku tidak suka denganmu!” Agatha berlalu, ia meninggalkan Arshaka Dean yang masih di atas tangga.


Sebelum kedatangan Agatha, Arshaka Dean hanya disibukkan dengan pekerjaan dan keadaannya saja, tetapi setelah Agatha berada di tempatnya, ia harus membagi fokusnya. Agatha adalah tanggung jawabnya sekarang, meskipun ia enggan sekali berurusan dengan masalahnya lagi, mau bagaimana lagi.


Agatha kembali lagi, ia melewati Arshaka Dean yang masih mematung. Agatha sudah berganti pakaian dan membawa tas kesayangannya, memakai sepatu model kekinian yang biasa ia pakai.


“Mau ke mana kau?” tanya Arshaka Dean.


“Bukan urusanmu!” ketusnya.


“Kau, kuijinkan tinggal di sini bukan berarti kau bebas berkeliaran di luar sana seenaknya,” tegur Arshaka Dean.


Agatha menatap kakaknya. “Aku hanya ingin bersenang-senang, jadi jangan melarangku,” jawabnya ketus.


“Pergi ke mana?” desak Arshaka Dean, ada khawatir di hatinya.


“Ke mana pun, aku bosan dikelilingi orang-orang dingin sepertimu, aku butuh hiburan,” jawabnya.


“Tidak bisakah kau diam dan tidak membuat masalah? Jangan menambah masalah di hidupku,” kata Arshaka Dean.


“Aku tidak peduli, aku akan pergi, kau tidak perlu tau,” ucapnya. “Dan, satu hal lagi, jangan menghalangiku,” tambahnya.


“Terserahlah,” ketusnya.


“Kau membantahku?” tanya Arshaka Dean marah.


“Aku. Tidak. Peduli.” Agatha menekan setiap katanya.


“Setidaknya bawa satu pengawal, biarkan dia ikut bersamamu,” pinta Arshaka Dean.


“Apa?! Aku bukan lagi anak kecil! Yang benar saja,” tolaknya.


“Tidak ada penolakan!” tegasnya.


“Kau menyebalkan!” geram Agatha.


“Kau yang memilih tinggal di sini, bukan salahku mengatur hidupmu, bukan?” Seringai Arshaka Dean mengejek Agatha, ia puas karena memenangkan perdebatan ini, Agatha tidak mungkin menolaknya.


“Ars, ada apa ini?” tanya Albert yang baru datang dari penangkaran kupu-kupu.


“Ah, kebetulan, panggilkan satu pengawal. Tugaskan dia untuk mengawalnya,” titah Arshaka Dean.


“Kau akan pergi? Aku bisa menemanimu.” Albert tersenyum menawarkan diri.


“Tidak perlu repot-repot, aku bisa sendiri,” tolak Agatha.


“Masih mau membantah?” tanya Arshaka Dean yang dibalas tatapan malas dari Agatha.


Agatha sudah mulai jengah, ia tidak mungkin berdebat lebih panjang lagi, dengan terpaksa dia harus mengalah kali ini. “Aku ikuti kemauanmu, untuk kali ini saja,” pungkas Agatha.


“Albert, panggilkan aku pengawal, aku tunggu di luar,” titah Agatha.


“Kau tidak mau denganku saja, Agatha?” tawarnya.


“Tidak perlu,” jawab Agatha.


“Cepatlah, Albert, jangan banyak bertanya lagi.” Agatha tidak menoleh lagi, ia langsung keluar mansion terburu-buru.


Albert segera memberi perintah kepada salah satu tukang pukul, Agatha sedang muram, tidak mungkin Albert memaksakan kehendaknya. Albert keluar menemui Agatha, ia harus memastikan sendiri, ini menyangkut keselamatan adik dari tuannya, tidak mungkin ia bermain-main.


Tak berapa lama, salah satu tukang pukul berlari menghampiri mereka.


“Agatha, kau akan pergi bersamanya, jika ada sesuatu langsung hubungi aku atau kakakmu, berhati-hatilah,” katanya sesaat setelah bertemu dengan Agatha.


“Kau banyak bicara, Albert. Tidak perlu khawatir terhadapku, aku bisa mengurus diriku sendiri, kau urus saja tuanmu yang dingin itu,” ketusnya.


“Ars hanya khawatir terhadapmu, Agatha, begitu pun aku,” jelas Albert.


“Dia hanya khawatir tentang dirinya, Albert. Sudahlah, kenapa kau selalu berada di pihaknya? Tidak perlu dijawab, Albert, aku pergi,” pungkasnya.


Mobil mewah siap untuk mengantar Agatha pergi, tukang pukul yang hari ini mengemban tugas sebagai pengawal, membukakan pintu untuk Agatha. Tidak menunggu lama, Agatha langsung masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang sedangkan pengawalnya berada di depan bersama supir. Jendela mobil perlahan menutup, menampilkan Agatha yang sedang memakai kacamata hitam, terlihat seolah bergerak lambat di mata Albert.


Albert mematung melihat Agatha, Albert sudah lama tertarik kepada Agatha. Siapa yang akan menolak Agatha, ia sosok yang tegas dan menawan. Albert sudah jatuh, dan sekali lagi Albert jatuh tanpa bisa berpaling darinya.


Albert terus mematung memandang kepergian Agatha, hingga ia tidak sadar ada mobil lain yang memasuki halaman mansion. Mobil tepat berada di hadapan Albert, ia terperanjat dengan suara klakson yang dibunyikan dari dalam. Albert tersadar, ia langsung menghampiri mobil yang baru datang, bertanya-tanya siapa yang datang.


“Kau?!” pekiknya.