The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 69. Mencari Arti Cinta



Satu minggu sudah, Arshaka Dean ditinggalkan Rumi pulang bersama Birdella. Rumi tidak punya pilihan lain, Birdella memintanya untuk pulang, misi sudah selesai, jadi Birdella rasa, sudah waktunya Rumi pulang bersamanya.


Birdella tidak tau saja, bahwa tindakannya membuat Rumi sedih juga takut, tapi Rumi tidak bisa mengatakannya, belum, belum tau harus bicara seperti apa pada Birdella. Sedangkan Arshaka Dean, selama satu minggu ini jadi sering melamun, juga sering marah tidak jelas, hampir semua orang salah di matanya.


“Laporan macam apa ini?!” Arshaka Dean melempar laporan ke sembarang arah. “Salah! Ulangi!” sentak Arshaka Dean pada salah satu karyawan di perusahaannya, kebetulan Arshaka Dean hari ini ada jadwal di perusahaannya.


Si karyawan melirik Albert, seakan bertanya, ‘Kenapa dia?’ dan dijawab gelengan kepala oleh Albert. Perangai Arshaka Dean sudah tidak tertolong lagi, dari semenjak Rumi pergi dari mansion, membuat Albert juga serba salah.


Si karyawan tak banyak bertanya, ia langsung membalikkan tubuhnya, kembali lagi ke ruang kerjanya untuk memperbaiki laporan yang dilempar Arshaka Dean. Wajah Arshaka Dean ditekuk, rahangnya tegas, tatapannya benar-benar menakutkan, membuat semua orang segan kepadanya, bahkan untuk sekadar melewati ruangannya saja para karyawan takut, dan memilih mundur kembali.


“Ya! Kenapa kau meninggalkan laporan sampahmu itu?! Bawa kertas-kertas tak berguna itu!” teriak Arshaka Dean lagi, ketika karyawan tadi tidak sengaja meninggalkan tempatnya begitu saja.


Si karyawan langsung berlari membereskan berkas-berkas yang berserakan di mana-mana, ia memungutnya sembari dirundung ketakutan, takut tiba-tiba Arshaka Dean menendang punggungnya. Setelah semua bersih, tanpa ada yang tertinggal si karyawan membungkukkan tubuhnya pada Arshaka Dean dan langsung pamit undur diri dari ruangan panas itu.


Albert menatap Arshaka Dean, ia menyadari sesuatu, meskipun Arshaka Dean tengah marah, tapi tatapan matanya terlihat kosong, itu membuat Albert khawatir. “Ars, apa harus sampai seperti ini?” tanya Albert.


Arshaka Dean menoleh, mengernyitkan dahinya, heran dengan pertanyaan Albert. “Dia melakukan kesalahan, Albert, apa aku salah jika ingin dia memperbaiki diri? Aku bosnya di sini? Apa aku tidak boleh membuat kewenangan di perusahaanku sendiri?” Arshaka Dean balik mencecar Albert.


Albert menghela napas, ternyata benar, ada yang salah dengan tuannya ini. “Bukan itu yang kumaksud, aku mengkhawatirkan dirimu. Ada yang salah denganmu, Ars? Apa aku perlu memanggil Chadla ke sini? Kau sudah berjanji akan membagi setiap kesulitan dengan kami,” jelas Albert, mencoba mencari celah.


“Kau selalu seperti ini, Albert, kau tidak perlu berlebihan, Albert! Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja!” sentak Arshaka Dean.


“Apa mungkin, kau bertindak tidak jelas seperti ini karena Rumi?” selidik Albert.


Arshaka Dean tidak menjawab begitu nama Rumi disebut, sejujurnya, hatinya tengah risau, ia takut tidak bisa lagi bertemu dengan Rumi. Hari di mana Rumi pamit kepadanya ia sangat marah, marah pada dirinya sendiri, marah karena tidak bisa melarang Rumi untuk pergi, marah karena dirinya tak kunjung mendapat jawaban atas perasaannya pada Rumi.


“Apa aku terlihat seperti itu, Albert?” tanya Arshaka Dean, terdengar putus asa.


Arshaka Dean merenung, tiba-tiba hatinya merasa hampa, apakah ini yang dinamakan cinta? Apa ini yang memang seharusnya ia rasakan terhadap Rumi? Arshaka Dean masih belum bisa menemukan itu, bagi Arshaka Dean, lebih baik menggali berlian di dalam gunung dibandingkan mencari tahu perasaan dirinya sendiri, sulit sekali, dan membingungkan.


Sudah banyak musuh yang berhasil ia taklukkan, termasuk ayah dan temannya sendiri, tapi perihal menaklukkan hatinya sendiri dia tiba-tiba menjadi pengecut. Hatinya meskipun sudah terbuka dan sudah merasakan kehangatan, masih saja tak dimengerti oleh Arshaka Dean. Hingga timbullah sebuah pertanyaan, benarkah sampai sesulit itu? Ataukah Arshaka Dean memang tidak mempunyai perasaan lebih pada Rumi?


“Ars, bukankah lebih baik jika kau menemuinya langsung?” tanya Albert, memberi saran.


“Aku bingung, Albert,” ujar Arshaka Dean.


“Apa yang membuatmu bingung?” tanya Albert.


“Perasaan apa yang aku rasakan pada Rumi ini, Albert? Hatiku selalu bergetar ketika mengingat namanya. Rumi sudah mengatakan padaku jika dia mencintaiku, tapi sampai saat ini, aku tidak bisa menerima perasaan Rumi, Albert, aku bingung dengan perasaan ini, aku tidak mengerti dengan perasaan ini,” aku Arshaka Dean.


“Jatuh cinta? Tapi karena apa, Albert? Apa perasaan ini yang disebut cinta, Albert?” Arshaka Dean terpaksa mencecar Albert agar ia menemukan jawaban atas pertanyaannya itu.


“Lihat dirimu, Ars, kau berubah banyak setelah bertemu dengan Rumi. Kau luapkan kemarahanmu pada orang lain ketika Rumi tidak ada. Kau tetap mencari Rumi, padahal kau tau dengan jelas jika Rumi sudah pulang. Apalagi jika bukan perasaan cinta, dan apa lagi yang kau cari, Ars?” jelas Albert, membeberkan semua yang dilihatnya dari Arshaka Dean selama ini.


“Tapi, Albert, aku merasa perasaan ini tidak tepat, haruskah aku menerima perasaan Rumi, albert?” ucap Arshaka Dean.


“Apa lagi ini, Ars, hatimu berdebar ketika memikirkan Rumi, kau bersenang-senang ketika dengannya, dan kau terlihat nyaman bersamanya, apa lagi jika bukan cinta.” Albert gemas dengan sikap Arshaka Dean yang lambat seperti ini, semuanya sudah jelas jika Arshaka Dean sedang jatuh cinta. “Begini saja, Ars, bayangkan jika saat ini dia bersenang-senang dengan pria lain, apa kau akan baik-baik saja jika begitu?” Albert memberi jackpot paling mujarab.


Arshaka Dean langsung menegakkan tubuhnya, menatap tajam pada Albert, matanya membulat. “Brengsek, Albert!” Hatinya meradang mendengar penuturan berani dari Albert, udara panas bahkan sampai menusuk ke hatinya. Arshaka Dean menggelengkan kepalanya, tidak mau membayangkan Rumi dengan pria lain, ia tidak terima dan tentu tidak baik-baik saja.


Albert bersorak dalam hati, Arshaka Dean tentunya tidak akan melepaskan Rumi begitu saja, Albert berhasil menembak tepat di titik paling lemah dari diri Arshaka Dean. “Apa salahnya? Kau saja tidak memberi kepastian pada Rumi, tentu Rumi juga masih bebas pergi dan tidur dengan siapa saja.” Albert sengaja menambah pemicu lainnya, berharap dengan begitu Arshaka Dean segera menyadari tentang perasaannya pada Rumi.


“Jangan bicara sembarangan, Albert! Rumi bukan perempuan seperti itu, kau tidak berhak mengatakan kata-kata sampah seperti itu terhadapnya,” hardik Arshaka Dean, marah.


“Lalu, buktikan jika begitu, buktikan jika kau memang menginginkan Rumi, sebelum dia melangkah ke pelaminan dengan pria lain,” pungkas Albert.


***


Arshaka Dean terlihat merenung di depan penangkaran kupu-kupu, padahal malam ini cuacanya sangat dingin, bahkan tidak ada manusia satu pun yang keluar, tapi Arshaka Dean masih betah berdiri di sana.


Malam ini kupu-kupu terbang dengan bebas, mengitari lampu di dalam penangkaran, warnanya indah, membuat Arshaka Dean asyik mengikuti arah terbangnya dengan matanya. Sekilas ia melihat ukiran di atas penangkaran itu, ukiran yang mempunyai arti “terbang dengan indah” itu menarik perhatiannya.


Terbang mempunyai banyak arti bagi Arshaka Dean, dan dia tiba-tiba saja teringat perkataan Albert tadi siang, tentang perasaannya pada Rumi. Terbayang lagi wajah Rumi di benaknya, di tempat ia berdiri, merupakan tempat pertama kalinya Rumi mengungkapkan cinta padanya.


Rumi memang sudah memproklamirkan diri padanya, tapi bagaimana jika Rumi tiba-tiba terbang karena dirinya tak kunjung bertindak? Bagaimana jika Rumi berubah pikiran dan memilih pria lain dibandingkan dirinya? Bagaimana jika semua yang dikatakan oleh Albert menjadi kenyataan dan dirinya tidak mempunyai kesempatan lagi dengan Rumi?


“Tidak, ini tidak boleh terjadi,” gumamnya. “Tunggu aku, Rumi.”


Arshaka Dean tampaknya sudah membuat keputusan, ia bergegas masuk ke dalam mansion, untuk menjernihkan hati dan pikirannya, dia butuh tidur, ia ingin keputusannya kali ini benar-benar tepat untuknya.


Arshaka Dean menaiki tangga, setengah berlari, ingin cepat sampai di kamarnya, ia tidak sabar menunggu hari esok. Tapi begitu tiba di lantai atas, Arshaka Dean membelalakkan matanya, melihat dua orang tengah bercumbu rayu di depan pintu.


“Berani-beraninya kalian melakukan itu di tempatku?!” Arshaka Dean berang.


Dua orang yang tengah asyik, seketika melepaskan tautan, menoleh pada Arshaka Dean yang sudah merah padam wajahnya. “Kakak,” ucapnya, tersenyum dengan mata berbinar, dan bibir yang mengkilat, merah merekah.