
Kediaman Arshaka Dean terang benderang, diselimuti api, semua orang panik dan langsung menghubungi pihak pemadam kebakaran. Suasana bertambah tegang, ketika Arshaka Dean sudah berada di dalam mansion dan tidak bisa mereka cegah.
Semua orang harap-harap cemas, dan beberapa dari mereka mulai berinisiatif memadamkan api secara mandiri, tapi api bukannya padam, malah semakin membesar, membuat mereka terpaksa mundur, karena terlalu berbahaya.
Sedangkan di dalam mansion, asap tebal memenuhi seluruh area mansion, menyebabkan kesulitan bernapas juga mengaburkan pandangan. Api terlihat meranggas di segala arah dan langsung menjalar begitu saja, menyala sangat terang begitu cepat juga membahayakan. Suara ledakan terdengar, mungkin dari beberapa fasilitas yang berada di mansion.
Rumi terjebak di tengah kepungan asap ketika ia akan keluar setelah mendengar ledakan yang mencurigakan dari atas kamar Arshaka Dean. Rumi berlari dengan cepat, coba melarikan diri, tapi ternyata telat, api sudah terlalu besar, sehingga Rumi, mau tidak mau harus tertahan di pojok mansion.
Rumi merasa bertahan tidak akan membuahkan hasil, ia coba mencari jalan keluar, tapi ia tidak tahu arah, karena terhalang asap hitam yang menggumpal di dalam mansion. Rumi panik, seluruh tempat yang terlihat oleh matanya, sudah terhalang oleh api dan asap tebal, pikirannya kacau, tak tau harus lari ke arah mana.
“Tutup mulutmu, Rumi, coba tenang, semuanya pasti ada jalan keluar,” gumam Rumi, menenangkan dirinya sendiri.
Rumi coba melangkah, menuruni tangga, tapi tiba-tiba saja sebuah barang jatuh dari atas, membawa api lebih dekat lagi padanya. Rumi semakin panik, tubuhnya mulai merasakan panas, karena api semakin menyebar di sekitarnya, melihat itu, Rumi merasa putus asa, tidak ada kesempatan untuknya menyelamatkan diri.
Tapi, kemudian suara teriakan terdengar memanggil namanya. “Rumi?!” teriak seseorang yang amat dikenal oleh Rumi, memunculkan harapan baru untuk Rumi. “Rumi, kau di dalam? Rumi jawab aku!” teriaknya lagi, Rumi sangat mengenal suara itu, suara itu milik Arshaka Dean, dia tidak akan salah.
“Ars!” teriak Rumi menjawab Arshaka Dean. “Aku di sini!” teriak Rumi memberitahu keberadaan dirinya.
“Bertahanlah, aku segera datang!” tegas Arshaka Dean.
Arshaka Dean melangkah di tengah kobaran api dengan hati-hati, pujaan hatinya terjebak di dalam mansion-nya, tidak mungkin Arshaka Dean berdiam diri. Ini bentuk tanggung jawabnya pada Rumi, juga pembuktian jika dirinya benar-benar membutuhkan Rumi di hidupnya, hingga ia rela menembus panasnya api yang menyala-nyala untuk menyelamatkan Rumi.
Arshaka Dean terbatuk-batuk, karena terlalu banyak menghirup asap, dadanya terasa sesak, tapi ia tidak mungkin keluar lagi. “Rumi, kau melihatku?!” tanya Arshaka Dean, masih berteriak.
Rumi mendengar suara Arshaka Dean semakin dekat, dan Rumi kemudian melihat bayangan Arshaka Dean mendekatinya. “Ars!” Rumi menarik tangan Arshaka Dean, begitu melihat tangannya merayap.
“Rumi, kau tidak apa-apa? Syukurlah, astaga, aku takut sekali,” ucap Arshaka Dean.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Rumi.
Wajah mereka sama-sama dipenuhi noda berwarna hitam, kobaran api semakin meninggi. Arshaka Dean memeluk Rumi sebelum mengambil tangan Rumi dan menuntunnya untuk melewati api dan asap bersama-sama. “Rumi, ikuti aku, dan tutup mulutmu dengan baju,” kata Arshaka Dean, Rumi menurut.
Mereka melangkah mencari jalan keluar, pemadam kebakaran belum juga datang, mungkin karena jarak mansion Arshaka Dean jauh dari pusat, sehingga perjalanan terhambat. “Awas, Ars!” teriak Rumi ketika lampu gantung terjatuh tepat di depan mereka. Rumi memeluk erat Arshaka Dean, di dalam mansion semakin mencekam.
“Tidak apa-apa, mari kita lanjutkan, uhuk … uhuk … uhuk ….” Arshaka Dean terbatuk lagi dengan begitu hebat, membuat Rumi semakin khawatir.
“Ars?” ucap Rumi, lirih.
“Aku tidak apa-apa, Rumi.” Arshaka Dean melingkarkan tangannya di pinggang Rumi, memberi elusan lembut di sana, agar Rumi tetap tenang.
Rumi bisa berjalan lagi dengan tenang, tapi tanpa sepengetahuan Rumi, napas Arshaka Dean mulai sesak. Asap yang terus bertambah, membuat mereka terpaksa menghirup udara yang penuh dengan asap, menyebabkan sulit bernapas, juga mengaburkan pandangan.
Api membara dan panasnya sudah tidak bisa ditolerir lagi. “Aaa …!” teriak Rumi, terkena bara api, bajunya sedikit terbakar, Arshaka Dean berpacu dengan nyala api, terus menepuk dengan jubahnya yang langsung ia buka.
“Tenang, Rumi, kita akan segera keluar,” ucap Arshaka Dean, bertelanjang dada.
Pintu sudah terlihat, mereka bisa sedikit lega, tinggal berlindung dari material yang berjatuhan. “Rumi, setelah hitungan ketiga, kita akan lari, bersiaplah dan lindungi kepalamu.” Arshaka Dean menahan napas, karena jika terus bernapas dadanya semakin sakit. “Oke, Rumi bersiap, satu … dua … tiga … lari!”
Mereka akhirnya berhasil keluar dari mansion yang terbakar hebat, semua orang histeris ketika Arshaka Dean dan Rumi keluar dari kepungan api. Albert dan Agatha langsung mendekat dan segera membawa mereka jauh dari mansion, untuk mendapat pertolongan pertama.
“Ars!” teriak Rumi dan Agatha, mengundang kerumunan.
“Chadla?!” teriak Albert.
Chadla yang terus menghubungi pemadam kebakaran juga tenaga medis, tersentak dan langsung melihat ke arah kerumunan. “Albert!” teriak Chadla.
Suasana kacau, semua orang berlarian mencari apa saja untuk mengurangi api, Arshaka Dean semakin sesak terlihat. Akhirnya Chadla berada di antara kerumunan. “Ars!” Chadla langsung mendekat, memberikan pertolongan pertama pada Arshaka Dean. “Cari alat pernapasan yang biasa dipakai!” teriak Chadla pada siapa saja.
“Semua ada di dalam mansion,” ucap lirih seorang bibi.
Arshaka Dean sudah semakin kesulitan bernapas, asap yang terlalu banyak dihirup membuat Arshaka Dean semakin lemah dan berakhir tak sadarkan diri.
“Ars!” semua orang berteriak, panik.
“Panggil ambulance! Cepat!” teriak Agatha.
“Mereka segera datang,” ucap Albert.
“Bawa Ars, dan jauhkan dari asap!” teriak Chadla, dan orang-orang langsung mengangkat tubuh Arshaka Dean.
***
Arshaka Dean tersenyum, melihat sekelilingnya, tak menyangka dirinya bisa berada di tempat baru lagi dalam empat hari berturut-turut. Meskipun masih terasa asing, tapi kali ini tempatnya jauh lebih nyaman, dan tidak membuat dia terkejut. Seseorang datang, senyuman Arshaka Dean semakin lebar, terlihat sangat bahagia.
“Kenapa Kakak bahagia sekali?” tanyanya.
“Edmund, aku senang bisa bertemu denganmu lagi,” jawab Arshaka Dean.
“Apa Kakak tidak sadar dengan omongan, Kakak? Itu artinya kau dan aku berada di tempat yang sama,” tegur Edmund.
“Ya, memang benar, memangnya ada yang salah dengan itu? Eh, omong-omong, tempat ini semakin nyaman,” jawab Arshaka Dean membuat Edmund mengernyitkan dahi.
“Kakak, kau masih belum sadar juga, kita berada di tempat yang sama! Ini ruang hitam, antara kehidupan dan kematian, Kakak sudah siap mati kah?” Edmund merasa heran dengan Arshaka Dean.
Arshaka Dean tertawa menanggapi perkataan Edmund yang gemas karenanya. Mereka bertemu lagi, itu memang benar, tapi seperti yang Edmund katakan, itu bukan tempat yang bagus. Itu tempat pertemuan, sebelum akhirnya menghilang dari dunia ini, ruangan yang hanya bisa dikunjungi atas kehendak semesta.
“Aku tidak khawatir dengan semua itu, Edmund. Aku merasa sangat bahagia bisa bertemu denganmu, aku tidak merasakan sakit, dan di sini.” Arshaka Dean menunjuk dadanya. “Di sini rasanya penuh, Edmund, aku senang,” jelas Arshaka Dean.
Edmund akhirnya mendudukkan diri di kursi yang ditempati oleh Arshaka Dean. “Jadi, Kakak sudah mengatakan semua perasaan Kakak padanya?” tanya Edmund.
Arshaka Dean langsung paham dengan arah pertanyaan Edmund. “Apakah terlihat jelas? Kau benar, Edmund, aku sudah mengatakan semuanya, aku membuka diri, aku sudah berbagi kesulitanku dengan semua orang, termasuk membicarakan rahasia terbesarku, yaitu tentang kau, Edmund, aku sangat senang,” jelas Arshaka Dean.
“Kau beruntung, banyak orang yang mendukung, syukurlah, aku senang bisa melihat progress kehidupan Kakak, meskipun aku hanya bisa melihat dari sini,” ujar Edmund. “Tapi, kejadian kali ini mengancam nyawamu, Kakak,” kata Edmund.
“Ya, sepertinya kali ini aku tidak selamat, Edmund. Bagaimana jika kita pergi bersama-sama saja, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian lagi,” ujar Arshaka Dean.
“Begitukah?” tanya Edmund.