
Seseorang dengan gagah keluar dari mobil yang tiba-tiba berhenti di depan Albert, ia turun diikuti seorang perempuan dan menghampiri Albert. Sudah lama ia tidak datang ke mansion, sudah pasti kedatangannya disambut oleh keterkejutan dari Albert. Ia berjalan, mendekati Albert yang masih diam tak tau arah mana yang harus Albert lihat, ia menatap Albert seraya merangkul dan tersenyum.
“Apa kabar, Albert? Sedang apa kau di luar? Ars, ada di dalam?” tanyanya bertubi-tubi. Albert masih tidak menjawab, Albert masih mencerna, menimbang antara kenyataan dan mimpi.
“R-Robert …?” Suara Albert nyaris tidak terdengar.
“Robert, kau … kau … kembali lagi? Kau akan di sini lagi? Kau tau, betapa bahagianya aku melihatmu?” Robert diberondong dengan pertanyaan dari Albert yang antusias. “Terima kasih sudah kembali, Robert,” tambahnya.
“Sedikitnya kata-katamu ada yang benar, tetapi kurang tepat, Albert. Ars ada di dalam?” tanya Robert.
“Ada,” jawabnya, Albert menyadari sesuatu. “Robert, kau tidak sendiri?” Albert menoleh pada sosok cantik nan tinggi semampai, perempuan muda yang wibawanya bisa Albert rasakan dengan kuat, sorot matanya tajam meskipun terhalang oleh kacamata.
Albert mendekatkan tubuhnya pada Robert. “Siapa dia? Kau tidak mungkin menjodohkan Ars dengannya, bukan? Jika benar, kali ini kau tidak tepat waktu, Ars sedang kesulitan,” kata Albert berbisik.
“Ah, tenang saja, Albert. Inilah tujuanku kemari, Albert. Ada baiknya kita bahas saja di dalam, langsung dengan Ars, bagaimana, Albert?” tanyanya.
Albert sekali lagi melirik perempuan itu, memastikan sekali lagi jika kedatangannya bukan ancaman bagi Arshaka Dean maupun dirinya, Robert menyadari sinyal waspada Albert, dengan tersenyum ia mendekat lagi kepada Albert.
“Tenang saja, Albert, selain kacamatanya, ia tidak membawa apa pun, kau bisa percaya padaku. Jangan khawatir,” ujar Robert.
“Baiklah, silakan masuk, aku yakin, Ars akan senang melihatmu di sini,” kata Albert.
“Baiklah, mari.” Robert mengajak perempuan itu untuk memasuki mansion bersamanya, perempuan itu tidak banyak bertanya, ia menuruti Robert dan masuk ke dalam mansion.
“Ars?” panggil Albert, Arshaka Dean duduk di kursi yang membelakangi pintu masuk, setelah Agatha pergi, Arshaka Dean memutuskan untuk bersantai sebentar di ruang tamu.
“Agatha sudah pergi, Albert?” tanyanya tanpa menoleh.
“Sudah, Ars,” jawab Albert.
“*Good job*, pastikan dia tidak akan berulah, Albert. Perintahkan pengawal yang bersamanya selalu memberi kabar kepadamu, jangan lengah, Albert,” kata Arshaka Dean.
“Akan aku pastikan, kau tenang saja,” jawab Albert lagi.
“Ars, ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar Albert.
“Aku tidak ada janji dengan siapa pun hari ini, Albert,” kata Arshaka Dean.
“Sepertinya ini bukan tamu biasa, Ars,” ujar Albert.
Arshaka Dean seketika beranjak dari kursi, ia melangkah dan mengibaskan jas panjangnya ke belakang. Arshaka Dean menoleh, benar, Robert bukan tamu biasa, ia alasan Arshaka Dean dirundung kemelut keresahan. Bagaimana tidak? Satu-satunya yang bisa mengendalikan Edmund telah pergi dari mansion-nya, dan sekarang ia kembali lagi, Arshaka Dean senang melihat kehadiran Robert.
“Robert?” sapanya. “Kau kembali? Kau kembali mengajar lagi? Kau tau, Robert, aku sudah putus asa mencari guru pengganti untuk anak itu, aku senang akhirnya kau kembali,” ujar Arshaka Dean.
“Apa kabar, Ars? Kulihat kau baik-baik saja, aku senang melihatmu segar bugar, aku nyaris frustrasi karena meninggalkanmu,” akunya.
“Tidak apa-apa, semua orang punya pilihan, Robert. Jadi kapan kau akan kembali mengajar di tempatku, Robert?” tanya Arshaka Dean antusias.
Selama mereka bercengkerama, perempuan yang dibawa oleh Robert tak memalingkan pandangannya dari Arshaka Dean, ia terpesona, jatuh pada pandangan pertama, kharisma yang dipancarkan Arshaka Dean mampu menghancurkan benteng pertahanannya. Ia tidak menyadari, wajahnya merona dan matanya berbinar ketika melihat Arshaka Dean, hatinya berdebar tak karuan. Ia benar-benar mengagumi sosok gagah di depannya ini.
“Tapi sebagai gantinya, aku membawa seseorang yang akan membantumu.” Sebelum Arshaka Dean bertanya lebih lanjut, Robert lebih dulu menarik perempuan yang bersamanya.
“Aku membawa dia, kuharap bisa memenuhi kekosongan tempatku di mansion ini,” ujarnya.
“Aku hampir melupakan dia, Robert, siapa dia?” tanya Albert.
“Ia yang akan menggantikanku, Albert. Ini pilihanku sendiri, tidak ada yang lebih baik dari dia, aku pastikan keamanan terjaga olehnya,” jelas Robert.
Albert beralih menatap sosok perempuan itu. “Siapa namamu, Nona?” tanya Albert, yang mendapat pertanyaan tidak langsung menjawab, ia masih mengagumi ketampanan Arshaka Dean yang tidak ada dua. Pandangan matanya tidak bisa lepas begitu saja dari Arshaka Dean, karena tidak kunjung ada jawaban Arshaka Dean meliriknya, pandangan keduanya bertemu, sungguh perempuan itu sudah jatuh. Jerat kharisma menawan dari Arshaka Dean mampu mengunci kewarasannya.
“Robert dia tidak apa-apa?” tanya Albert memastikan.
Robert yang menyadari situasi di belakang sana ikut menoleh ke arah perempuan itu, ia lalu mendekatinya, dengan sedikit tarikan ia mencoba untuk membawanya lebih dekat lagi dengan sang tuan rumah.
“Perkenalkan, Ars, Albert, ia yang akan menggantikan aku, ia sudah teruji dan dia bersih, selain itu keahliannya tidak terlalu jauh dariku, namanya Rumi Ejaz, dia kompeten. Aku langsung yang memilihnya.” Robert melirik Rumi. “Rumi, ini Albert dan ini adalah orang yang sudah aku jelaskan, kau akan mengajarnya nanti menggantikan aku, semoga kau paham,” lanjut Robert.
“Namaku … Rumi, senang bertemu denganmu,” ucap Rumi canggung.
“Salam kenal, Rumi, terima kasih sudah datang.” Albert mengulurkan tangannya, hendak mengajak Rumi bersalaman. Rumi mengulurkan tangannya juga, tetapi bukan menyambut uluran tangan Albert, melainkan ke arah Arshaka Dean. Albert yang merasa diabaikan melirik Arshaka Dean yang hanya melihat sekilas uluran tangan Rumi.
*Dingin, auranya sangat dingin, tiba-tiba suasana di sini menjadi suram*, batin Rumi.
*Ada apa dengannya? Apa ada yang salah denganku? tidak mungkin*, Rumi masih bermonolog dalam hatinya.
“Ars?” panggil Albert. “Ah, sepertinya aku yang harus memperkenalkan diri, Nona Rumi, perkenalkan aku Albert, asisten pribadi Ars, dan yang dari tadi Nona tatap adalah Arshaka Dean. Mungkin Nona akan lebih sering bertemu dengannya dibandingkan bertemu denganku,” jelas Albert.
“Rumi.” Robert yang ambil alih. “Ini, Arshaka Dean, yang akan kau ajar nantinya,” kata Robert.
Rumi seketika terperanjat. “Apa?!” pekiknya.
“Dia orangnya,” ucapnya, tangannya menutup mulut yang menganga karena terkejut mendengar penjelasan Robert.
“Robert, ta-tapi, kau … bilang, yang akan aku ajar anak SMA, aku tidak yakin dia murid SMA, Robert,” ujarnya tak percaya.
“Kau belum menjelaskan keadaanku, Robert?” tanya Arshaka Dean sedikit kesal.
“Maafkan aku, kupikir akan lebih baik jika dia tau dari sini,” jelas Robert penuh sesal.
“Astaga, Robert. Jelaskan semuanya, jika dia keberatan, langsung cari pengganti yang lain!” tegas Arshaka Dean.
Arshaka Dean berpaling dari mereka, meninggalkan Rumi yang masih kebingungan. Kemelut suram itu hadir kembali, Arshaka Dean sudah lama pasrah dengan keadaannya, tetapi ia juga tidak ingin menyia-nyiakan semuanya. Ia kembali ke kursi yang ia duduki tadi, duduk di sana dan bersiap untuk melihat reaksi orang lain tentang keadaannya. Perasaannya campur aduk, ia tidak memungkiri jika dirinya lega ketika mendengar ada orang lain yang akan menggantikan Robert, tetapi rasa khawatir itu masih memenuhi relung hatinya, masih takut akan penolakan.
“Baik, Ars. Maafkan aku.” Robert kemudian melirik Albert. “Albert, bisa bantu aku menjelaskan semuanya pada Rumi?” tanya Robert kemudian.
“Dengan senang hati, Robert,” jawab Albert.
“Rumi, sebelumnya ada yang harus aku jelaskan kepadamu.”