The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 38. Pertemuan Rumi Dan Edmund



Rumi tak kuasa menahan tangis, Rumi terduduk menunggu di depan ruangan Chadla. Hari ini seharusnya ia senang, dan menghabiskan hari dengan senyuman, setelah keinginannya terwujud. Tapi semuanya berubah seketika, teriakan Rumi membuyarkan kesunyian di mansion.


Semua orang panik, mendapati Arshaka Dean terbaring di depan penangkaran kupu-kupu. Rumi tak henti menangis, ia melihat dengan jelas bagaimana Arshaka Dean tak sadarkan diri tepat di depannya, ia panik.


“Ars! Jangan seperti ini.”


“Ars …!”


“Kumohon, Ars. Bukan seperti ini yang aku inginkan, Ars …!” teriak Rumi.


“Ars …!’


“Rumi, bersabarlah,” ucap Albert.


“Tolong dia, Albert. Lakukan apa pun padanya, Albert!” Rumi mengguncang-guncang tubuh Albert.


“Chadla, sedang melakukan yang terbaik, Rumi, bertahanlah,” kata Albert.


“Albert, kumohon ….” Rumi mulai terisak, dan mendudukkan diri.


“Albert, katakan ini bukan salahku …,” lirihnya.


“Memang bukan salahmu, Rumi. Kejadian seperti ini memang selalu terjadi tiba-tiba, jangan menyalahkan diri sendiri. Tenanglah, Chadla sedang melakukan yang terbaik, berdoalah,” hibur Albert.


Padahal Albert sama paniknya dengan Rumi, tapi ia tidak mungkin menyalahkan Rumi, bukan? Meskipun ia sempat terpikir hal-hal yang tidak baik tentang Rumi, karena mendapati tuannya tak sadarkan diri ketika bersama Rumi.


“Albert, aku tidak melakukan apa-apa padanya, aku hanya berdiri di sana, dia yang menghampiriku, Albert. Aku tidak ….” Rumi semakin terisak, ia baru teringat dirinya dan Arshaka Dean berdiri di depan penangkaran kupu-kupu, di mana menurut Chadla bisa saja itu menjadi pemicu baru dari kondisi Arshaka Dean, Rumi semakin merasa bersalah.


Albert tak bisa berpikir jernih, ia memang tidak seharusnya memiliki pikiran buruk kepada Rumi, tapi ia tidak bisa mencegahnya. Albert berjalan ke sana kemari, mencoba menenangkan hati. Baru kemarin Arshaka Dean sadar, ini terasa semakin sering, Albert bingung dengan situasi saat ini. Kejadian seperti ini terjadi berurut-turut, hingga ia berpikir jika mungkin harus ada yang menggantikan Arshaka Dean terlebih dahulu, Arshaka Dean benar-benar tidak stabil.


Chadla keluar dari ruanganya, Albert dan Rumi langsung berlari menghampirinya. Melihat ekspresi wajah Chadla, Albert bisa simpulkan jika kondisi Arshaka Dean memburuk.


“Bagaimana, Chadla? Dia tidak apa-apa, bukan?” Rumi bertanya sembari memegang tangan Chadla.


“Albert.” Chadla tidak menjawab pertanyaan Rumi, Chadla menatap Albert. Albert paham dengan tatapan itu.


“Dia sadar, Albert, tapi bukan, Ars,” kata Chadla, Albert sudah menduganya.


Albert menghela napas panjang, ia bawa Rumi menjauh dari ruangan Chadla. Rumi harus tau situasinya.


“Rumi, dengarkan aku baik-baik. Aku minta kau tenang untuk saat ini. Rumi, kau masih ingat kenapa kau berada di mansion ini?” tanya Albert, memastikan.


“Membantumu, Albert,” jawab Rumi lemah.


“Lebih tepatnya?”


“Aku ha-harus, mengajar Edmund,” jawab Rumi ragu.


“Bagus. Rumi yang ada di ruangan Chadla, adalah Edmund. Aku harap kau bisa bersikap seperti biasa, jangan terlihat mencurigakan, kau sanggup, Rumi?”


“Ed-Edmund … aku akan bertemu dengannya? Ars?”


“Kau tidak perlu melakukan apa-apa, lakukanlah seperti yang sudah Robert jelaskan padamu. Kau tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja, selama kita tidak terlihat mencurigakan di depan Edmund. Kau mengerti, Rumi?” jelas Albert. Rumi menganggukkan kepala, sebagai jawaban.


“Baiklah, bersiaplah Rumi, bersikaplah seperti biasa,” pungkas Albert.


“Paman?” sapa Edmund begitu Albert masuk ke dalam ruangan Chadla.


Edmund datang mengambil alih tubuh Arshaka Dean. Sejujurnya mereka tidak bisa mengatakan Edmund mengambil alih, karena bisa saja Arshaka Dean yang memanggilnya. Yang menjadi pertanyaan, kenapa Arshaka Dean memanggil Edmund? Ia berlari dari apa kali ini?


Itu tidak bisa dijelaskan sekarang, tapi jika melihat dari situasi terakhir, ia bisa saja berlari dari pernyataan cinta Rumi, itu sangat menyakitkan. Seberapa berat beban yang ditanggung oleh Arshaka Dean, hingga pernyataan cinta seseorang saja tidak bisa ia lewati sendiri? Selama Arshaka Dean masih belum menjelaskan detailnya, ini semua akan tetap menjadi misteri.


“Edmund? Kau baik-baik saja? Kau tau, kau tidak sadarkan diri, dan berlangsung lebih lama dari biasanya,” jelas Albert, berusaha bersikap normal.


“Aku tidak tau, Paman,” jawabnya lemah.


“Kau bisa berdiri?” tanya Chadla.


“Bisa, Chadla,” jawab Edmund seraya berdiri.


“Aku bisa, Chadla. Tapi rasanya sangat aneh, aku tadi bermimpi, berdiri di depan penangkaran kupu-kupu, tiba-tiba saja ada pria lain di sana. Aku tidak melihatnya dengan jelas, tapi dari tingginya itu seperti Kakak,” jelas Edmund.


“Kakakmu bahkan belum kembali, Edmund,” kata Albert.


“Aku tidak tau, itu mungkin hanya mimpi saja, tidak ada arti khusus,” balas Edmund.


“Ah, ada yang ingin aku kenalkan padamu, Edmund, kau pasti akan senang,” ucap Albert.


Albert melihat keluar dan memanggil Rumi, ia coba tenangkan Rumi. “Kau pasti bisa, Rumi,” bisik Albert.


Dengan tersenyum, Albert berkata, “Perkenalkan, Edmund. Ini adalah Rumi, dia yang menggantikan Robert, ia akan belajar bersamamu. Kuharap kau akan bersenang-senang dengannya.” Edmund sedikitnya mengernyitkan dahi, ia berusaha mengingat tentang mimpinya, karena wajah Rumi, sekilas seperti yang pernah ia lihat.


“Rumi? Kenapa aku merasa familiar denganmu.” Edmund mengulurkan tangannya. “Aku, Edmund. Senang bertemu denganmu, mari belajar bersama, tenang saja, aku murid yang baik. Oh, sudah melihat penangkaran kupu-kupu? Itu rancanganku, bagaimana menurutmu, cantik, bukan? Ah, maafkan aku, aku terlalu banyak bicara,” kata Edmund, tersipu malu.


Rumi menganga, yang ada di hadapannya, jelas-jelas tubuh Arshaka Dean, kenapa bisa sikapnya berbeda sekali? Jika tidak melihatnya secara langsung, mustahil ia akan percaya dengan semua ini. Arshaka Dean yang selama ini ia lihat dan kagumi, benar-benar berbeda. Ia akhirnya percaya dengan cerita Chadla maupun Albert, jika ada orang yang berkepribadian ganda di dunia ini.


Ia melihat perbedaan yang sangat mencolok antara Arshaka Dean dan Edmund, dari cara berbicara, menatap orang-orang dan ekspresi wajahnya benar-benar berbeda.


Rumi menyambut tangan Edmund. “Apa kabar, Edmund? Kau bisa memanggilku, Rumi, kita bisa berteman, aku tidak sabar belajar bersamamu,” ujar Rumi, berusaha tegar.


“Wajahmu sangat mirip dengan kakakmu, Edmund,” kata Rumi.


“Orang-orang memang selalu berpikir seperti itu. Ah, kau sudah bertemu dengan kakakku?” tanya Edmund, antusias.


“Sudah, Edmund,” jawab Rumi, tersenyum getir.


“Aku iri sekali padamu, kau tau aku sangat ingin bertemu dengan Kakak, tapi ketika aku di sini, Kakak selalu tidak ada,” ucap Edmund, sedih.


“Suatu saat nanti, kau pasti akan bertemu degan kakakmu, Edmund. Untuk sekarang, bersenang-senanglah bersamaku. Omong-omong, aku sudah melihat penangkaran itu, kau benar Edmund, itu sangat cantik, kau hebat,” kata Rumi.


“Baiklah, baiklah, sepertinya kau akan bersenang-senang, Edmund, sebelum itu, aku harus memeriksa keadaanmu, kau bisa berbaring kembali,” kata Chadla.


“Aku mengerti. Rumi setelah ini kau harus belajar denganku,” ucap Edmund.


“Aku akan menunggumu, aku masih lama berada di sini, kau tenanglah,” jawab Rumi, senang.


“Paman, aku sudah tidak sabar,” katanya pada Albert yang berada di dekatnya tersenyum lega.