
Hari ini tidak ada kegiatan yang mendesak, Arshaka Dean berada di mansion sejak pagi. Memang, jika tidak ada sesuatu hal yang mengharuskan Arshaka Dean pergi, ia akan tetap berada di mansion.
Saat ini, Arshaka Dean sedang duduk dengan fokus ke arah laptopnya memeriksa pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh Albert. Arshaka Dean begitu teliti sehingga ia selalu memeriksanya berulang, tetapi kali ini fokusnya terpecah, setelah semalam ia membaca surat dari Edmund, ia banyak merenung.
Arshaka Dean membaca surat Edmund dengan penuh tanda tanya semalam, ia menanyakan pada dirinya sendiri tentang kebahagiaan. Edmund dalam suratnya, mengatakan merasa bahagia hanya dengan diperhatikan oleh orang lain seperti itu, membuat Arshaka Dean termenung. Ia beberapa kali bertanya pada dirinya sendiri, bisakah bahagia dirasakan hanya dengan tindakan sesederhana itu? Mengapa begitu mudah menentukan kebahagiaan? Lalu ia sampai pada pertanyaannya tentang dirinya sendiri, apa yang sebenarnya ia cari? Kebahagiaan seperti apa yang ia cari?
Albert masuk ke dalam ruangan kerja Arshaka Dean, melihat tuannya sedang merenung, sampai-sampai kehadirannya tidak disadari oleh Arshaka Dean. Albert mulai khawatir, bukan hanya sekali ia melihat Arshaka Dean seperti ini. Albert tidak bisa berbuat banyak, ia juga sering menyalahkan diri sendiri. Albert tau apa yang terjadi terhadap tuannya, tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa.
Albert mendekat. “Ars?” panggilnya.
“Hah?!” Arshaka Dean terperanjat dari lamunannya.
“Apa aku mengganggumu, Ars?” tanya Albert merasa bersalah.
“Ah, tidak, Albert. Ada apa, Albert? Apa ada kabar dari Robert?” tanya Arshaka Dean setelah tersadar.
“Maafkan aku, tapi sepertinya Robert belum bisa menghubungi kita,” jawab Albert.
“Kau harus segera mencari guru pengganti untuk anak itu, Albert, jika tidak aku tidak bisa memaafkan kalian semua,” ancam Arshaka Dean.
“Aku tidak bisa mencari guru sembarangan, Ars, aku akan tetap menunggu kabar dari Robert, kau juga tau resikonya, bukan?” jelas Albert.
“Aku tau, Albert, tapi jika bisa dipercepat itu jauh lebih baik. Ah, kenapa kau tidak kerahkan semua kenalanmu saja, Albert, itu akan lebih cepat,” ucap Arshaka Dean.
Guru pengganti adalah prioritas saat ini, karena mereka tidak tahu kapan tepatnya Edmund akan kembali. Kekhawatiran Arshaka Dean memang tidak salah, tetapi mencari orang lain untuk masuk ke mansion mereka yang penuh dengan rahasia itu tidak mudah, mereka harus mempertimbangkan keamanan bagi Arshaka Dean.
“Aku akan segera menghubungi Robert, Ars,” jawab Albert.
“Dia seharusnya sudah punya pengganti jika akan meninggalkan mansion ini. Jika seperti ini jadinya, kau lebih baik tidak lumpuhkan saja kedua kakinya, Albert. Membuatku ingin meledak saja,” gerutunya.
“Aku pastikan Robert segera menghubungi kita, Ars, jika masih belum ada kabar, aku pastikan akan mencari sendiri, Ars,” kata Albert.
“Itu memang sudah tugasmu, Albert!” sentaknya.
“Apa kau juga akan lari dari tanggung jawab?!” tanyanya tegas.
“Bukan begitu, Ars—“ Perkataan Albert terpotong dengan suara teriakan dari luar.
“Ars! Kau ada di dalam?!” teriak seseorang.
“Siapa yang berani berteriak di tempatku, Albert! Usir dia!” titah Arshaka Dean.
Albert segera membukakan pintu, demi melihat siapa yang memanggil tuannya dengan berteriak. Setelah pintu terbuka, Watson tampak dengan senyum cerah di wajahnya, tanpa terlihat merasa bersalah.
“Albert!” Watson masih berani berteriak.
“Ars, ada di dalam, bukan?” tanya Watson.
“Siapa, Albert?!” tanya Arshaka Dean.
Albert tidak menjawab karena Watson sudah lebih dulu masuk. Penampilannya rapi, Watson tak terlihat hanya datang untuk berkunjung. Sepertinya ia membawa kabar setelah dari tempat lain. Meskipun begitu, sekarang waktunya kurang tepat, karena sekarang Arshaka Dean sedang tidak ramah kepada siapa pun.
“Ars?” sapa Watson.
“Kau! Kenapa kau berteriak di tempatku, pergi sana!” usir Arshaka Dean.
Watson melirik pada Albert. “Apa ada yang salah, Albert? Kenapa aku diusir?” tanya Watson tak terima.
“Ah, tidak, Watson, ada apa? Ada yang bisa kami bantu?” tanya Albert.
“Ah, benar, hampir saja. Ars, aku butuh tanda tanganmu, pembangunan di pusat kota sudah tahap penyelesaian, aku membutuhkan tanda tanganmu, kau lihat saja dulu berkas ini.” Watson menyerahkan satu berkas yang lumayan tebal kepada Arshaka Dean.
“Kau bisa langsung mengirimkannya melalui pesan singkat, tidak perlu datang seperti ini, membuatku muak saja!” ketus Arshaka Dean.
“Aku tidak setuju, itu berkas penting dan kau harus menelitinya sendiri, aku tidak ingin ada hal yang tidak-tidak seperti tempo hari,” bela Watson.
“Albert, kau salin berkas ini,” titah Arshaka Dean.
“Baik, Ars, tunggu sebentar,” jawab Albert membawa berkas yang diserahkan oleh Arshaka Dean.
“Omong-omong, kau sudah lihat rumah kaca di luar sana, Ars? Itu luar bisa sekali,” ujar Watson.
“Kau mengetahui itu! Kenapa kau tidak mencegah anak itu?!” sentak Arshaka Dean.
“Wow, santai, santai Ars. Aku ke sini membawa perdamaian, kenapa kau seperti ini? Ah, lupakan saja. Intinya aku tidak tau awalnya seperti apa, mereka sudah membuatnya begitu aku datang ke sini mencarimu, aku tidak bisa mencegahnya. Lagi pula, itu terlihat bagus, tidak perlu dibesarkan seperti itu, Ars, seharusnya kau berterima kasih padanya, setidaknya mansion-mu tidak terlihat menyeramkan,” jelas Watson.
“Kau datang ke sini hanya membuatku semakin sakit kepala!” gerutunya.
“Kau akan seperti ini padaku? Hey, c’mon, Man! Aku ini temanmu,” ujar Watson.
“Kau!” Arshaka Dean menunjuk ke arah Watson dengan tatapan benci. “Jangan sembarangan di tempatku, sadarlah kau bertamu, jangan membuatku muak seperti ini!” tegas Arshaka Dean.
Ruangan tempat bekerja Arshaka Dean tiba-tiba terasa panas, Arshaka Dean sedang dirundung banyak masalah, sehingga ia sangat mudah terpancing emosi oleh siapa pun.
Sementara itu di luar ruangan, terdengar riuh oleh para tukang pukul yang menahan seseorang untuk masuk. Permasalahan sepertinya akan mulai bertambah dan sedikit lebih pelik, seseorang datang dengan membawa koper berbagai ukuran, tengah dihadang oleh para tukang pukul.
“Maafkan kami, Nona. Anda tidak bisa langsung masuk, kami harus menanyakan terlebih dahulu kepada, Ars,” ujar salah satu tukang pukul.
“Tidak perlu, itu terlalu lama, aku bisa masuk langsung, aku adiknya, kau tidak perlu takut, aku bukan musuhnya,” balas si perempuan itu.
Di tengah permasalahan di mansion ini, seorang perempuan cantik, berambut panjang datang secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan kepada mereka. Meskipun, perempuan cantik itu mengaku sebagai adik dari Arshaka Dean, mereka tidak bisa langsung membiarkannya masuk begitu saja. Di tengah kealotan itu, datanglah Albert, menjadi penengah.
“Ada apa ini?” seru Albert.
“Nona in—“
“Di mana, Ars, aku ingin bertemu dengannya, aku tau dia ada di dalam, jangan halangi aku,” kata perempuan cantik itu.
“Agatha? Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Albert.
“Kau tidak perlu banyak bicara, aku ingin bertemu dengan, Ars, di mana dia?” tanyanya lagi.
“Biarkan aku masuk.” Tidak ada yang bisa mencegahnya lagi, ia masuk sedikit terburu-buru.
“Jangan seperti ini, Agatha,” cegah Albert, ia mengikutinya langkah Agatha.
“Diamlah, di mana dia?” serunya.
“Dia sedang menemui tamu, kau—“ Lagi-lagi perkataan Albert terpotong.
“Ah, aku tau ia ada di mana, aku bisa tanpa kau,” ketusnya.
Perempuan itu langsung menuju ruangan kerja Arshaka Dean, ia terburu-buru ingin menemui Arshaka Dean. Ia membuka pintu setengah memaksa, dan terbukalah. Agatha disambut dengan tatapan Arshaka Dean yang siap membunuh.
“Kau …!” sentak Arshaka Dean.
“Kakak!” Ia berlari dan langsung memburu Arshaka Dean lalu memeluknya dengan erat, Arshaka Dean tidak bisa berbuat apa-apa, juga tidak membalas pelukan perempuan itu.
“Apa-apaan ini!”