The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 31. Godaan Lain



Malam pun tiba, kamar Arshaka Dean masih saja sepi, tuannya mansion masih belum sadarkan diri. Arshaka Dean masih terbaring, ia ditemani Rumi, ia tak beranjak sedikit pun setelah menyantap makan malam.


Meskipun dalam keadaan genting, kita tidak boleh melewatkan makan, orang yang sedang kita pikirkan membutuhkan kita, maka kita tidak boleh tumbang jika ingin terus bersama mereka. Panik boleh, asal tidak berlebihan dan melupakan tugas kita, apalagi melupakan kesehatan kita, karena jika begitu, akan membuat mereka yang sedang kita perhatikan akan merasa bersalah. Jangan menciptakan beban baru pada mereka yang sedang bertaruh hidup.


Malam ini, Rumi seorang yang menemani Arshaka Dean, ia diberi tugas oleh Albert, karena Albert harus menggantikan Arshaka Dean menghadiri acara penandatanganan sebuah proyek besar. Terpaksa Albert harus pergi ke acara tersebut seorang diri, tetapi hal ini sudah biasa terjadi. Jika Arshaka Dean sedang dalam misi mafianya, Albert yang akan menggantikan Arshaka Dean, maka tidak akan ada yang menanyakan perihal ketidakhadiran Arshaka Dean, jadi Albert tidak perlu repot-repot menjelaskan.


Di mansion masih ada Chadla, ia tidak serta merta meninggalkan Arshaka Dean. Ia tengah menganalisis perkembangan Arshaka Dean, sehingga ia tidak berada di kamar Arshaka Dean. Chadla tengah mencatat kronologi yang terjadi pada Arshaka Dean hari ini. Dari awal Arshaka Dean membenturkan kepalanya ke tembok, hingga delusinya, tak luput ia catat dengan teliti dan detail.


Tinggallah Rumi seorang di kamar Arshaka Dean, bukan hanya karena tugas, tetapi Rumi juga tidak tega jika harus meninggalkan Arshaka Dean seorang diri, meskipun Arshaka Dean sedang tidak sadarkan diri.


Rumi duduk di dekat Arshaka Dean, ia perhatikan lekat-lekat wajah tegas Arshaka Dean. Mata Rumi bergulir menelusuri lekukan tegas wajah Arshaka Dean. Matanya berjalan, memperhatikan satu per satu, ia lihat dahi Arshaka Dean yang terlihat bersinar, lama mata Rumi menatap di sana. Rumi lanjutkan penjelajahan, ia turunkan penglihatannya ke bawah, melihat kedua pelupuk mara Arshaka Dean, indah, meskipun tertutup.


“Luar biasa, sangat sempurna,” gumamnya.


Tak berhenti di kedua mata saja, Rumi teruskan, matanya turun lagi untuk mengagumi hidung Arshaka Dean yang tegak sempurna dan tepat berada di tengah. Puas melihat hidung mancung Arshaka Dean, Rumi kini mengagumi bagian berwarna ranum merah muda nan kenyal dari Arshaka Dean, ia melihatnya penuh dengan pemujaan, sampai-sampai Rumi mengatupkan bibirnya. Tak berhenti di sana, Rumi juga tak kuasa menahan diri untuk tidak melihat rahang tegas sang mafia, desir di hatinya terasa begitu tulus.


“Aku tidak tahan lagi,” gumam Rumi kembali.


Rumi sudah tak bisa menahan lagi, pesona Arshaka Dean sungguh memikat meskipun dirinya sedang tidak sadarkan diri. Rumi memeriksa sekeliling, setelah dirasa aman, ia bawa tangannya untuk menyentuh wajah Arshaka Dean. Awalnya ia ragu, tetapi secara perlahan, ia beranikan diri untuk menyentuh dahi Arshaka Dean.


“Astaga!” pekiknya, Rumi samar membayangkan dirinya yang tengah memberi kecupan pada dahi Arshaka Dean.


Dahi sudah ia sentuh, ia lalu membelai pipi sebelah kiri Arshaka Dean, bisa ia rasakan betapa lembut dan halus wajahnya, sangat terawat. Sebelum melanjutkan aksinya, ia terdiam sejenak, ragu untuk menyentuh bagian yang sangat ia kagumi itu. Pelan-pelan ia dekatkan tangannya, tapi…


“Ada apa denganku? Tidak, tidak. Rumi kau tidak boleh seperti ini.” Rumi menarik diri, ia urung untuk melanjutkan aksinya.


Ia tersadar, hal itu tidak baik. Apa yang dilakukan Rumi adalah perbuatan yang salah, Arshaka Dean sedang tidak sadarkan diri, tidak baik memperlakukan seseorang seperti itu. Rumi hanya tidak bisa menahan kagum, mungkin aksinya bisa dimaklumi, mudah-mudahan.


Setelah menyesali perbuatannya, Rumi kembali pada posisinya, ia duduk dengan tegak kembali. Setelah semua yang ia perbuat, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia malu dengan perbuatannya sendiri.


“Kenapa aku tidak bisa menahan diri? Apa yang telah aku perbuat?” gumamnya.


Sesal sudah ia dapat, tetapi ia masih belum berani melihat lagi ke arah wajah Arshaka Dean. Ia memilih untuk menundukkan diri, melihat ke arah lain dan sesekali melihat tangan Arshaka Dean yang terpasang cairan infus.


Rumi perhatikan lagi, mencoba memfokuskan diri. Tak sengaja Rumi melihat tangan Arshaka Dean bergerak kecil, Rumi lega, tetapi terkejut. Ia pastikan sekali lagi, jika itu benar pergerakan dari Arshaka Dean. Untuk lebih memastikan lagi, Rumi melirik wajah Arshaka Dean, benar, Arshaka Dean tersadar, Rumi melihat gerak mata Arshaka Dean. Ia lega, hatinya berdebar ribut, sang pujaan hati telah kembali lagi padanya.


“Ars …,” lirihnya lembut.


Arshaka Dean mengejapkan mata beberapa kali, lalu perlahan-lahan ia membuka matanya. Arshaka Dean menoleh pada suara yang memanggilnya.


“Kau …,” ucapnya lemah.


“Ars, hati-hati! Jangan memaksakan diri!” seru Rumi melihat Arshaka Dean hendak bangun, tetapi sepertinya tubuhnya masih lemah, hingga ia terbaring kembali.


Arshaka Dean menepis tangan Rumi, ia menolak untuk ditolong. “Jangan peduli padaku! Enyahkan semua kepedulianmu, aku tidak butuh!” ketusnya. Arshaka Dean masih menolak orang lain, atau mungkin ini bentuk dirinya mengais kembali harga dirinya yang tadi sempat terjatuh begitu dalam.


“Aku hanya ingin membantumu. Apa kupanggilkan Chadla saja?” kata Rumi.


“Tidak perlu, ia pasti akan segera datang, kamar ini dilengkapi kamera pengawas, kau tidak perlu repot-repot,” jawab Arshaka Dean, ia memutuskan untuk mendudukkan diri di tempat, kepalanya sedikit terasa nyeri.


“Apa?!” jerit Rumi, ia langsung tersadar dengan apa yang tadi ia lakukan terhadap Arshaka Dean. Jika benar ada kamera pengawas di kamar Arshaka Dean, habis sudah reputasi Rumi di mata Arshaka Dean.


“Kenapa kau begitu terkejut? Ada apa denganmu?” Arshaka Dean melihat wajah Rumi yang sudah memerah. Rumi malu bukan main, hatinya bukan hanya berdebar karena pesona Arshaka Dean, ia juga berdebar karena perbuatannya.


Aku harus mencari ruang pengawas, perbuatanku harus dimusnahkan, tidak, tidak boleh ada yang mengetahui perbuatanku. Mati sudah, punah sudah, rutuknya dalam hati.


“Apa jangan-jangan kau ….” Arshaka Dean semakin tajam menatap Rumi. “Kau tidak kebetulan melakukan hal senonoh terhadapku, bukan?” goda Arshaka Dean.


Mati sudah, tidak mungkin dia tau, tidak mungkin, batinnya menjerit.


“Tidak!” bentak Rumi, mencoba menyembunyikan kebenaran.


“Wow, baiklah,” kata Arshaka Dean.


Arshaka Dean turun dari tempat tidur, ia berjalan ke arah pintu.


“Mau ke mana kau?” tanya Rumi seraya berdiri.


“Menemui Chadla,” jawabnya singkat.


“Kau bilang tadi—“


“Tenang saja, aku hanya bergurau tadi. Aku tidak akan mengijinkan siapa pun memasang benda seperti itu di kamarku,” potong Arshaka Dean.


Apa?! Untuk apa aku terkejut tadi? Dia mempermainkan aku, tunggu saja pembalasanku, Ars, tunggu saja, geramnya yang hanya bisa ia teriakan dalam hati.


“Sudahlah, jangan ribut! Kau menambah beban di kepalaku!” ketus Arshaka Dean.


Arshaka Dean berjalan keluar, dengan perlahan Arshaka Dean melangkah menuju ruangan Chadla. Rumi diam-diam mengikuti dari belakang, ia ragu dengan sikap kuat Arshaka Dean, ia tidak mungkin membiarkan orang baru sadar berjalan sendirian, meskipun di tempatnya sendiri.


Arshaka Dean telah sampai di depan pintu ruangan Chadla, ia tidak sibuk mengetuk pintu, langsung saja dirinya membuka pintu dan masuk ke dalam. Chadla yang sibuk dengan kertas-kertas di tangannya, tersentak, bahkan kacamata yang ia kenakan sampai terjatuh.


“Ars …!” seru Chadla.