The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 54. Peluru Dari Masa Lalu



Albert memperhatikan layar ponsel dengan serius, peluru itu terdapat motif dan memiliki bentuk yang tidak biasa. Albert terus memperbesar bagian yang dicurigai berulang kali, ia seperti pernah melihat jenis peluru seperti itu.


“Kau tau sesuatu, Albert?” tanya Chadla.


“Aku pernah melihat jenis peluru seperti ini, tapi aku tidak ingat di mana, ini tampak tidak asing,” jawab Albert.


“Apa kau tau Levon sudah dari lama, Albert?” tanya Chadla.


Rumah sakit berangsur-angsur sepi, petugas medis sudah berada di ruangannya masing-masing, sedangkan para pasien, tampaknya sudah beristirahat. Chadla dan Albert berada di ruangan khusus, di sebelah ruang rawat Edmund.


Rumi dan Agatha keluar dari ruangan Edmund, karena Edmund terlihat sudah terlelap. Mereka beranjak dengan hati-hati dan perlahan-lahan agar tidak membangunkan Edmund. Ini waktunya istirahat, dan mereka juga butuh tenaga tambahan untuk menghadapi hari esok yang tidak bisa diperkirakan. Mendengar Albert dan Chadla sedang berdiskusi dengan serius, Agatha dan Rumi masuk ke ruangan khusus, menghampiri Albert.


“Tidak begitu jelas, Chadla. Aku tidak kenal dia, seringkali anak buahnyalah yang berhadapan denganku. Aku hanya tau namanya saja,” kata Albert.


“Kau perhatikan bagian ini, Chadla, apa kau pernah melihat simbol ini?” tanya Albert, memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan hasil pencariannya di internet.


“Aku tidak yakin, tapi ini tampak seperti kupu-kupu, kau lihatlah,” kata Chadla.


“Sepertinya begitu, tapi ini bentuk yang tidak asing, Chadla, tapi di mana aku melihatnya? Ini sungguh membuatku frustrasi, aku ingin segera tau, akan langsung aku musnahkan orang yang mencelakai Ars,” geram Albert.


“Bersabarlah, Albert, coba kau ingat kembali, barangkali kau pernah ke tempat penjualan senjata atau ke tempat lainnya,” kata Chadla.


“Ada apa ini?” tanya Agatha, mengejutkan Albert.


Albert tidak langsung menjawab, ia perhatikan wajah Agatha yang sembab, karena menahan tangis. Bau obat-obatan tak menginterupsi Albert dari pesona Agatha, tapi hatinya tidak bisa ia bohongi, rasanya sakit.


“Kau pernah melihat peluru jenis seperti ini, Agatha?” tanya Chadla, menyadarkan Albert.


“Ah, iya, kau pernah melihatnya? Ini terlihat tidak asing untukku, tapi aku tidak bisa mengingatnya,” kata Albert.


Agatha mengambil ponsel Albert, dilihatnya gambar yang ditampilkan di layar ponsel itu, Agatha perbesar hingga seratus kali. Agatha terlihat fokus, dan di mata Albert, itu sangat menawan, membuat Albert, lagi-lagi teralihkan dari dunianya. Rumi yang berada di samping, Agatha ikut memperhatikan, melihat lurus pada simbol yang sangat jelas di sana.


Tak salah lagi, itu pasti dia, tapi bagaimana mungkin? Apakah pengkhianatnya masih seperti yang dulu. Ah, aku tidak boleh mengambil kesimpulan terlalu cepat. Ibu, aku harus bagaimana, Ars, tertembak, aku takut, batin Rumi.


“Albert, ini dari tempat asal yang sama denganmu, kau tidak mungkin malupakannya, bukan?” Agatha memandang Albert, Albert berpikir keras dengan informasi dari Agatha, ia ambil kembali ponselnya, memperhatikan sekali lagi.


“Astaga!” pekiknya.


“Agatha, ini tidak mungkin!” seru Albert.


“Ternyata orang tua itu, tidak pernah melepaskan Kakak, Albert,” ujar Agatha.


“Ada apa?” tanya Chadla dan Rumi serentak.


“Peluru ini datang dari tempat asal kami,” jawab Agatha.


Kepala Albert hampir meledak, bisa-bisanya ia melupakan tempat asalnya sendiri, ia memang tidak pernah berurusan dengan benda itu, tapi setidaknya ia pernah melihat. Hatinya berdebar, tidak sangka yang ia hadapi ternyata masih dari masa lalu.


“Tapi bagaimana Levon bisa mengenal mereka?” tanya Albert.


“Apa mungkin, Levon salah satu yang mengikuti mereka, Albert?” tanya Agatha.


“Aku tidak bisa menyimpulkan, ini terlalu rumit, sudah sangat lama, dan hari ini dia datang lagi. Apa yang ingin mereka ambil dari Ars, padahal Ars sudah keluar dari sana,” kata Albert.


“Pasti!” tegas Albert.


“Kita harus istirahat, Albert, sejak datang dari pertempuran tadi, kau belum istirahat dengan baik. Semua telah ada titik terang, istirahatlah, biarkan tubuhmu pulih,” kata Chadla, peduli.


“Baiklah, kalian semua, istirahatlah, kita diskusikan besok, aku akan segera memanggil tukang pukul ke sini, jangan khawatir,” kata Albert.


“Terima kasih, Albert,” ucap Agatha.


Hari yang terlalu panjang itu, akhirnya mereka cukupkan dengan informasi yang tidak akan membuat semua orang tenang. Peluru yang datangnya jauh dari masa lalu, kembali akan membuka luka lama yang jelas-jelas ingin semua orang tenggelamkan. Rupa-rupanya, semua hal yang berkaitan dengan Arshaka Dean tidak bisa terkubur begitu saja, sekali lagi, Albert dan Agatha harus berurusan dengan dunia sana yang sudah lama mereka tinggalkan.


***


Seorang pria paruh baya tengah menghisap cerutu di seberang lautan sana, di depannya beberapa anak buah sedang menunduk, takut. Asap mengepul di udara, perlahan-lahan menghilang, menghancurkan rasa tentram di hati anak buahnya. Laporan kegagalan mereka sudah pasti sampai pada bos besar mereka, mau tidak mau, mereka harus menerima setiap amarah yang sebentar lagi akan meledak.


“Jadi, apa yang aku dapatkan dari kerja payah kalian ini?” tanyanya.


“Levon, tidak bisa mengatasi keadaan, kami dipukul mundur,” lapor mereka.


Tanpa aba-aba, pelatuk dari benda meresahkan itu ditarik dan suara tembakan nyaring terdengar. Satu orang pecah kepalanya, tertembak, jatuh dan bersimbah darah di depan semua orang.


“Kalian masih amatiran ternyata,” katanya, terdengar sangat mengerikan, suasana mencekam, malam yang dingin semakin dingin.


“Kami hanya menjalan—“


Tidak sampai jelas bicaranya, nyawanya sudah lebih dulu melayang, membuat mereka yang masih berdiri, menciut nyalinya. Jika tuannya telah murka dan hanya diam seperti ini, siapa pun yang bersuara dan tidak membuat hatinya senang, bersiaplah, karena ajal akan segera mereka temui.


Satu orang berani mendekati ke depan, berhadapan langsung dengan tuannya. Perang tatapan mata, meskipun tubuhnya bergetar dan lidahnya menjadi kelu, ia tetap berdiri di sana.


“Aku … tau kelemahannya …,” ujarnya, jantungnya berdegup kencang.


Moncong senjata di arahkan padanya, kepulan asap cerutu menutupi wajah si tuan. “Terakhir kali, kau juga mengatakan hal yang sama, dan hasilnya sama saja, kau dikalahkan olehnya.” Pelatuk siap ditarik, tapi …


“Aku … aku … tau rahasia terbesarnya, aku punya rencana lebih baik dari Levon,” katanya.


Gebrakan meja dan tembakan yang asal-asalan terdengar saling bersahutan, merah wajah si tuan, kemarahannya semakin memacu jantung. “Ini peluru yang sama, apa kau ingin merasakan juga, seperti yang anak ingusan itu rasakan?” tanya si tuan, beringas.


“Aku sungguh tau kelemahannya, aku bisa membawanya ke sini sekarang juga, kau bisa melenyapkannya di depan matamu,” jawabnya.


“Kau yakin dengan yang kau bicarakan ini? Apa jaminannya?”


“Nyawaku,” jawabnya pasti.


“Aku tidak tertarik, jika hanya itu, sekarang juga aku bisa melakukannya,” kata si tuan.


“Nyawa dia.” Tiba-tiba saja, satu anak buah ini, mengeluarkan foto seseorang dan ia tunjukkan pada si tuan.


“Penawaran yang menarik. Baiklah, aku berikan satu kesempatan padamu, jika tidak, orang yang ada di foto itu, yang pertama kali akan kau lihat kepalanya,” ancam si tuan.


Si anak buah menatap wajah si tuan sebentar, lalu ia mundur, menghembuskan napas. Hatinya lega, tapi juga marah dengan tindakan si tuan, sejenak ada sesal di sana, tapi rasa benci yang sudah membuncah itu, tidak menyurutkan dirinya untuk membalas setiap dendam dari masa lalunya.


Perang sepertinya akan segera tercetus, entah dari arah barat ataupun dari arah timur, semua orang harus segera bersiap. Peluru dari masa lalu, akan kembali menari di udara, dalam hitungan beberapa waktu saja, darah segar akan segera tercium.