The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 53. Takdir Edmund



Edmund yang antusias dengan apa yang akan dijelaskan oleh Albert dan Chadla, tiba-tiba saja merasa dibodohi dan dikhianati. Meskipun Edmund sudah menguatkan hati, jika dirinya akan menerima setiap penjelasan, tapi tetap saja, ini tidak mudah dicerna untuk Edmund yang tiba-tiba terkena tembakan.


Edmund menutup telinganya, menggeleng-gelengkan kepala. Sebenarnya, dalam kasus ini, Arshaka Dean jauh lebih bisa memahami kondisinya, dibandingkan Edmund. Respons Edmund memang sudah diperkirakan, tujuan adanya video itu, memang untuk menguatkan penjelasan Chadla dan Albert.


“Ini tidak benar!” sentak Edmund.


“Kalian semua berbohong padaku!” Edmund memukul-mukul kepalanya, dan segera ditahan oleh Albert dan Rumi.


“Sampai kapan kalian akan membohongiku?” Albert memegang tangan Edmund, ia berontak, sampai-sampai ingin membuka perban di tangannya.


“Edmund, kau harus kuat,” lirih Rumi.


“Kau berjanji padaku akan menerima semua ini, Edmund,” ujar Albert.


Edmund terdiam sesaat, berusaha mengendalikan emosinya, benar, ini berat sekali, informasi yang masuk terlalu tiba-tiba dan tidak terduga, membuat Edmund menyangkal dan tidak terima semua itu.


Edmund, menutup mata, membayangkan seluruh petualangannya selama ini. Ia bingung, jika dirinya dan Arshaka Dean dalam satu tubuh yang sama, lalu siapa yang selama ini ia lihat? Apakah mungkin ia bisa melihat kehidupan Arshaka Dean? Ataukah Arshaka Dean membagi ingatannya dengan Edmund? Ini semua sulit dimengerti oleh Edmund.


Merasa siap untuk mendengarkan, Edmund menatap kembali video yang tengah berlangsung, meskipun semuanya membuat Edmund sakit kepala. Ia tidak tau jika ini akan rumit, ia pikir, dirinya hanya mengalami amnesia.


Arshaka Dean masih berada di video tersebut, masih tersenyum. “… kita tidak mungkin bertemu, kita menempati tubuh yang sama, kau dan aku, hidup dalam satu raga yang sama,” kata Arshaka Dean dalam tayangan video.


“Maafkan aku yang terus menjadikanmu pelarian dari semua rasa bersalahku, sejujurnya aku tidak tau siapa diriku ini, Edmund.” Arshaka Dean tertunduk. “Aku juga tidak tau dari kapan aku menciptakanmu dan terbiasa menggunakanmu sebagai tamengku.”


Arshaka Dean menatap lagi, ia berkata dengan tulus, seakan ingin menyudahi semua perjalanan susahnya selama ini. “Hariku jauh lebih berat dari siapa pun, juga jauh lebih pendek dari kebanyakan orang yang sering aku temui. Suratmu telah kubaca, kau benar, ketika aku mencoba untuk membuka diri kepada orang lain, ada rasa tenang di sini.” Arshaka Dean menunjuk dada bagian kirinya. “Di sini terasa tenang, Edmund, dan aku ingin merasakan perasaan itu lagi dan lagi. Tapi itu tidak mungkin, bukan? Kau pasti tau maksudku, Edmund,” kata Arshaka Dean.


Agatha yang menyaksikan interaksi itu, terenyuh hatinya, tidak tega mendengar semua keluh kesah kakaknya itu. Agatha yang juga baru tau kondisi Arshaka Dean baru-baru ini, merasakan perasaan yang hampir sama dengan Edmund.


Agatha menatap Edmund dari samping, air matanya menetes, segera saja ia hapus sebelum ada yang melihatnya, kemudian ia lirik Rumi yang masih setia menggenggam tangan Edmund, Agatha bersyukur, akhirnya ada yang peduli pada kakaknya selain orang-orang terdekatnya.


“Bisakah aku bahagia, Edmund? Bisakah aku merasakannya, walaupun hanya sekali? Edmund, aku ingin hidup, ini keinginanku, tidak pernah aku punya keinginan sebesar ini, sekali ini saja, Edmund, aku ingin hidup,” pungkas Arshaka Dean.


Sebelum video itu berakhir, suara denting piano terdengar, suara yang amat kuat, emosi yang sedang disalurkan pada tuts-tuts piano itu terdengar sangat jelas. Tapi kemudian pada menit berikutnya, suara piano mengalun dengan lembut dan menenangkan, perlahan-lahan layar menutup dan Arshaka Dean pun tak terlihat lagi.


Edmund mundur, menyandarkan tubuhnya pada bantal yang menahannya di belakang tubuhnya. Ia ingin menenangkan diri sejenak, ini begitu mengejutkan, mungkin jika perutnya baik-baik saja, ia sudah berlari saat ini juga. Berteriak pada takdir yang terlalu main-main padanya.


“Lalu, aku ini apa, Chadla?” tanya Edmund, kini ia yakin harus bertanya pada siapa.


Chadla tersenyum, seperti biasa memberi ketenangan terlebih dahulu, menatap Edmund penuh perhatian. “Edmund, kau tentu tau jika di dunia ini telah banyak penelitian tentang gangguan kepribadian pada manusia.” Edmund tidak mengatakan apa-apa, ia menatap Chadla dengan sendu, sesungguhnya Edmund merasa sangat lelah, jadi selesaikan saja segera, sudah tanggung, biarkan saja dirinya tau semua ini.


“Dan gangguan kepribadian itu bercabang dengan banyak kondisi, sayangnya salah satunya adalah yang diderita oleh Ars. Aku yakin kau mengerti apa yang akan kujelaskan ini, Edmund. Ars, menderita DID, dia mengalami banyak trauma di masa lalu, ia tidak kuat menerima itu sendirian, hingga jiwa Ars terpecah dan menciptakan jiwa yang baru, dan itu kau, Edmund,” jelas Chadla.


Edmund membuka lembaran demi lembarannya, dilihatnya semua grafik juga keterangan di dalamnya. Perasaan Edmund campur aduk, dan tentunya sangat membuat sakit bagian dadanya. Dengan otak cerdasnya, Edmund paham betul dengan apa yang dibicarakan Arshaka Dean di akhir video tadi. Tapi untuk mempercayai seutuhnya tentang hidupnya yang bukan hanya miliknya seorang, sedikitnya membuat ia membenci Arshaka Dean. di tengah fokusnya pada jurnal milik Chadla, tiba-tiba saja dari hidungnya keluar darah segar, mengalir hingga mengotori jurnal yang ada di pangkuannya.


“Edmund!” pekik Rumi panik.


“Panggil dokter!” seru Agatha.


“Edmund, kau bertahanlah …,” ucap Rumi.


Chadla langsung menghampiri Edmund, menegakkan kepala Edmund, agar darah tidak terlalu banyak keluar. Albert langsung berlari keluar mencari dokter, padahal di ruangan terdapat tombol yang bisa langsung menghubungkannya dengan ruangan dokter, tapi ia lupa akan hal itu, ia panik.


Tak perlu menunggu lama, Albert dan dokter masuk dengan berlari ke ruangan Edmund. Dokter langsung memeriksanya dengan teliti, semuanya diam, tidak ada yang bersuara. Edmund terlihat memegang kepalanya, sepertinya sakit kepalanya kembali menyerang. Edmund kembali dibaringkan, setelah darah yang keluar dari hidungnya berhenti.


“Edmund, harus istirahat, ini bukan hal yang serius, kalian tidak perlu terlalu khawatir,” kata dokter.


“Baik, Dok, terima kasih,” ucap Albert, lalu mengantar dokter itu keluar.


Agatha mengusap kening Edmund, memijatnya dengan lembut, di dalam hatinya terucap doa-doa, meminta kebaikan untuk keduanya. Rumi dengan penuh perhatian, menyelimuti Edmund, kemudian membelai wajah Edmund, dan memegang kembali tangan Edmund.


“Aku akan istirahat sebentar, aku tidak akan ke mana-mana, Rumi, kau boleh melepas tanganku,” ujar Edmund.


“Tidak apa-apa, Edmund, aku tidak keberatan,” jawab Rumi.


“Aku yang keberatan, Rumi. Kalian boleh meninggalkanku, pergilah makan, kalian belum mengisi perut kalian sejak tadi. Aku tidak apa-apa, aku akan tidur,” kata Edmund.


Rumi dengan berat hati melepas tangan Edmund, membiarkannya tidur dengan tenang. Mereka tidak langsung keluar, mereka harus pastikan Edmund tertidur terlebih dahulu, mereka tidak ingin sesuatu terjadi, Edmund tidak mudah ditebak.


Edmund terlihat menutup matanya, Rumi dan Agatha duduk kembali, menunggunya di samping kiri dan kanan ranjang. Albert dan Chadla lebih dulu keluar, sebelum tadi masuk ke dalam, Albert menerima laporan tentang peluru yang sudah menembus perut Arshaka Dean.


“Aku sudah menerima laporan,” ucapnya pada Chadla.


“Tentang peluru?” tanya Chadla.


“Kau benar, tapi ada yang membuatku heran, peluru itu memiliki motif dan bentuk yang unik, aku tidak melihat peluru seperti itu,” jelas Albert.


“Apa mungkin sebenarnya Levon tidak menyewa mereka, ini seperti dari sebuah organisasi Albert,” kata Chadla, ketika melihat motif dari ponsel Albert.


“Masuk akal, ini bukan dari penembak jitu biasa, ini semua saling berhubungan, tapi organisasi apa tepatnya?” tanya Albert, ia memperbesar gambar di layar ponselnya, Albert perhatikan baik-baik. “Ini ….”