The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 47. Misi Yang Terusik



“Bos, mereka berbelok ke arah utara,” ucap anak buah yang mengemudi.


“Itu untuk mengecoh, lurus saja,” jawab Levon.


Rombongan Arshaka Dean diikuti oleh Levon dari jauh, Arshaka Dean masih belum menyadarinya. Senyum yang tampak sangat mengerikan terlihat dari wajah tegas Levon, ia senang menantikan kekalahan Arshaka Dean di tangannya.


Levon sangat percaya diri, jika dirinya mampu menjatuhkan kekuasaan Arshaka Dean, karena ia sudah mengantongi mata-mata. Levon tidak menyangka, jika dirinya bisa mendapatkan informan dari orang yang terlalu dekat dengan Arshaka Dean.


Siapakah Levon? Levon Lathan adalah mafia kejam, bengis juga tak punya hati. Levon berani melibatkan semua kelicikan, juga nyawa orang lain demi memenangkan sebuah misi. Levon merupakan musuh bebuyutan Arshaka Dean, musuh yang selalu ingin melenyapkan nyawa Arshaka Dean.


Levon tak segan membunuh anak buahnya jika melakukan kesalahan sekecil apa pun, sudah tak terhitung lagi berapa banyak nyawa melayang karena obsesinya dan keserakahannya. Pernah satu waktu, Levon melihat anak buahnya tertidur ketika menjaga pelabuhan, Levon tanpa ampun, saat itu juga ia tembak kepalanya hingga terpecah dan tewas di tempat.


Hingga saat ini, tidak ada yang berani untuk melanggar aturan Levon. Semua harus tunduk dan patuh, jika tidak, jangan harap esok hari bisa bertemu dengan kawan yang lain, dipastikan keberadaannya lenyap bagai ditelan bumi.


Rombongan Arshaka Dean sudah kembali di rute yang sudah dirundingkan. Arshaka Dean sudah merencanakan untuk mengecoh siapa pun yang berniat mencelakainya. Arshaka Dean pastikan bahwa tidak akan ada yang tau tentang rute yang akan dilewati Arshaka Dean, tapi rupanya ada pengkhianat di kubu Arshaka Dean yang sengaja memberitahu musuh.


“Aku merasakan ada yang aneh,” ujar Albert.


“Itu perasaanmu saja,” ucap Watson.


Albert gelisah, risau hatinya, ia tau jika setiap misi pasti akan selalu ada hambatan, tidak akan langsung berhasil begitu saja. Tapi, kali ini berbeda, ia merasakan sesuatu yang kuat akan terjadi. Albert saat itu juga langsung mengaktifkan mode waspada, baginya mencegah lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.


Arshaka Dean menyadari Albert yang tidak nyaman di tempatnya. Rasa antusiasnya sudah membuat dia lengah, jika Albert tidak berkata seperti itu, Arshaka Dean juga tidak akan menyiapkan diri.


“Waspadalah! Informasikan pada semua orang yang berada di belakang!” tegas Arshaka Dean, baginya jika Albert sudah berkata demikian, itu artinya sesuatu akan terjadi.


Arshaka Dean segera menyisir penglihatannya, memastikan semuanya aman dengan mata kepalanya sendiri. Keadaan di dalam mobil tiba-tiba diselimuti ketegangan, meskipun Arshaka Dean terkenal dengan keberhasilan dalam setiap misinya, tetap saja dirinya pun tidak bisa memastikan sendiri keberhasilannya.


Arshaka Dean tidak berani memperhitungkan sebuah kemenangan, sebelum benar-benar ia rasakan sendiri, maka dari itu ia selalu mewanti-wanti untuk waspada dan fokus dengan kemungkinan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.


“Astaga, kalian bisa tenang sedikit, ini masih setengah jalan. Jangan berlebihan seperti itu, Kawan,” ujar Watson.


“Apa kepercayaan dirimu sudah hilang, Ars?” tanya Watson, tersenyum menyindir.


“Ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan diri, ini bentuk pertahanan diri, tidak ada yang bisa melihat ke depan, waspada dibutuhkan. Kau jangan main-main denganku, sekali lagi kau mengacau, aku tak segan-segan menendangmu dari mobil ini,” ancam Arshaka Dean pada Watson.


Mobil yang mereka tumpangi masih terus melaju, ditemani cuaca sejuk dan pemandangan hijau pegunungan. Transaksi kali ini berada di atas tebing, Arshaka Dean akan menyapa seorang informan di sana.


“Ayolah, Kawan, itu hanya perasaan biasa, Albert mungkin sedang ingin ke kamar mandi. Tidak ada yang aneh, jangan seperti ini, kau membuat semua orang ketakutan,” ucap Watson.


“Kami tidak takut, Watson, sudah seharusnya dalam situasi yang tidak menentu ini untuk terus waspada, kita tidak tau musuh akan keluar dari jalan yang mana,” ucap Albert, bijaksana.


“Kau sudah lama bersamaku, Watson, kenapa masih seperti ini pemikiranmu?” geram Arshaka Dean.


“Hey, aku hanya memberitahumu, kenapa kalian menyerangku?” tanya Watson.


“Roger, Ars ada satu mobil yang mengikuti kita,” lapor salah satu tukang pukul, memotong perkataan Albert.


“Apa?!” sentak Arshaka Dean.


“Apa kau yakin itu bukan salah satu rombongan kita?” Albert mengambil alih komando, jika sudah seperti ini Arshaka Dean akan banyak emosi, jadi sulit untuk berkomunikasi secara baik-baik.


“Aku sudah pastikan, dan tidak ada yang membawa mobil berwarna silver hari ini,” jawabnya.


“Kau paling belakang?” tanya Albert lagi.


“Benar, apa yang harus kami lakukan, Ars?”


“Tetap waspada, jangan biarkan mereka lolos, kau bisa menahannya?” Masih Albert yang menjawab, Arshaka Dean tengah mengutuk diri, ia sudah membuat strategi paling aman, tapi kenapa bisa ada penyusup?


“Kami bisa menahan mereka jika masih satu mobil saja, tapi sepertinya mereka menyiapkan sesuatu, aku tidak dapat memastikannya. Kami siap menerima komando, Ars.”


Arshaka Dean terlihat merenung. “Lurus, ikuti perintahku, giring mereka mendekat, dan pastikan kalian aman,” kata Arshaka Dean.


“Kau ingat rencanaku?” tanya Arshaka Dean pada pengemudi mobil.


“Paham, Ars,” jawabnya.


“Baiklah, bersiaplah!” tegasnya.


Arshaka Dean melihat ke luar jendela, selalu ada rencana cadangan jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Satu-satunya untuk menghadapi penguntit adalah dengan cara menghadapinya secara langsung, itulah yang akan dilakukan Arshaka Dean. Rencana ini hanya diketahui olehnya dan salah satu tukang pukul yang sekarang sedang mengemudi.


“Ars, mereka berhasil lolos, maafkan kami!” lapor rombongan paling belakang.


“Tancap gas!” titah Arshaka Dean mutlak.


Seketika mobil melaju kencang, mobil-mobil lainnya pun langsung mengikuti kecepatan mobil yang berada di depan mereka. Beberapa tukang pukul yang mengendarai motor, sudah lebih dulu berada di lokasi untuk mengamankan di sekitar tempat transaksi berlian. Mereka sepertinya akan menunggu lama, karena tiba-tiba musuh datang menyerang. Suasana tegang tak terelakkan, Watson berpegangan sangat kencang.


Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun, mereka fokus. Tapi ada satu hal yang menjadi pertanyaan di benak Albert. Arshaka Dean membuat strategi dengan rute perjalanan yang tidak biasa, juga tidak pernah dilewati oleh orang-orang di rute itu. Tapi kenapa rencana Arshaka Dean bisa terlacak begitu mudah?


Seperti hal-hal lainnya, Albert selalu menaruh curiga terhadap siapa pun. Apakah ada yang berkhianat di dalam tubuh kami? Tapi, itu mustahil terjadi, mereka sangat setia pada Ars, tidak mungkin mereka berkhianat, batin Albert.


Albert mengingat semua tukang pukul Arshaka Dean, ia juga mengingat rapat tertutup di mansion tempo hari. Albert yakin, tidak melihat adanya kecurangan, tidak pula ada yang mencurigakan pada mereka. Jika memang ada yang berkhianat di antara mereka, siapa yang berani mengkhianati Arshaka Dean?


Albert melihat ke depan, lalu ia menggelengkan kepala. Tidak, itu tidak mungkin, elaknya dalam hati.


Saat ini, mobil tengah melaju dengan sangat cepat, tapi tidak mempengaruhi Albert yang sedang berpikir keras. Hambatan-hambatan seperti ini memang sudah biasa, pengkhianatan pun wajar terjadi. Tapi yang tidak masuk akal bagi Albert adalah rencana ini benar-benar rahasia dan tertutup, bahkan Arshaka Dean sengaja menggunakan kode-kode yang hanya dimengerti beberapa orang saja ketika ia menjelaskan. Jadi rute yang terlacak ini tidak masuk akal, kecuali ada seseorang yang dengan sengaja membocorkan rahasia ini.


Di tengah pikiran gusar dan teramat fokus, Albert tak sengaja menangkap bayangan di kaca mobil yang gelap di seberang mereka, seketika Albert tersadar.