
Satu hari sudah, Edmund mengambil alih raga Arshaka Dean, hari ini adalah hari kedua dirinya berada di antara orang-orang yang mengharapkan Arshaka Dean segera kembali. Setelah hari sebelumnya semua orang disibukkan dengan membuat penangkaran kupu-kupu, hari ini Edmund telah resmi memulai penelitiannya terhadap perkembangan berbagai jenis kupu-kupu. Sedari pagi, Edmund sudah berada di dalam rumah kupu-kupu ditemani oleh Robert. Robert hari ini rencananya akan berpamitan dengan Edmund.
“Edmund, aku harus berpamitan denganmu,” ucap Robert tiba-tiba.
Edmund yang sedang berjongkok meneliti ulat bulu di depannya, langsung berdiri, menatap guru pribadinya itu. “Pamit? Meninggalkanku, maksudnya apa Robert?” tanya Edmund, terkejut.
“Aku harus kembali mengajar di sekolah milik profesorku, Edmund, aku harus kembali kepada mereka. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Jika bukan kemanusiaan yang memanggilku, aku juga tidak mau meninggalkanmu, Edmund,” jelasnya.
“Kau memilih mereka daripada aku, Robert?” tanya Edmund, hati Robert merosot ke dasar tubuhnya, tidak pernah sekalipun dirinya membayangkan bahwa Edmund akan bertanya sekritis ini kepadanya.
“Edmund jika aku bisa memilih, aku juga tidak mau meninggalkanmu, meninggalkan kakakmu, aku menyukai tempat ini, tapi Edmund aku juga tidak ingin memutuskan rasa kemanusiaanku. Kumohon mengertilah, Edmund,” jelas Robert kemudian.
“Kenapa kau begitu serius, Robert? Aku hanya bergurau, pergilah Robert, jangan khawatirkan aku, aku bisa menjaga diri, aku juga bisa belajar dari mana saja. Seorang guru tidak harus selalu bertemu dengan muridnya, bukan? Meskipun belajar bersamamu jauh lebih menyenangkan, tetapi jika alasanmu mengutamakan kemanusiaan, aku tidak bisa berbuat banyak. Terima kasih sudah bersamaku selama ini, aku tidak akan melupakanmu, Robert,” hibur Edmund.
“Maafkan aku, Edmund, aku tidak bisa melanjutkan mengajarmu hingga akhir. Aku janji akan membawakan guru pengganti kepadamu,” ucap Robert.
“Tidak perlu buru-buru, aku tidak masalah jika tidak ada yang mengajarku. Aku bisa diam di sini lebih lama,” kata Edmund penuh arti dengan kalimat terakhirnya, secara tidak langung ia menyatakan diri bahwa dirinya bisa lebih leluasa menguasai tubuh Arshaka Dean, yang mana itu akan merugikan Arshaka Dean sebagai pemilik aslinya.
“Aku harap juga begitu.” Jawaban Robert tidak selaras dengan apa yang ada di hatinya, ia cemas, ia mengetahui tabiat Edmund jika tidak ada yang mengarahkan dirinya, ia tau dengan pasti apa yang akan Edmund lakukan jika lengah dari pengawasan. Sekali lagi Robert merasa bersalah dan meyakinkan sekali lagi pada dirinya untuk segera membawa guru pengganti.
“Sudahlah, mari kita lanjutkan penelitian kita. Kau tidak akan bisa melihat ulat-ulat bulu ini lagi nanti,” kata Edmund.
“Ah, tentu saja, di mana lagi aku bisa melihat ulat bulu yang menggeliat seperti ini,” ujar Robert.
“Edmund, apa kau tidak merasa jijik melihat ulat bulu ini? Bagi sebagian orang, ulat-ulat bulu ini pasti menggelikan,” tambah Robert.
“Tidak, Robert, aku menyukainya. Robert apa kepergianmu karena kau tidak ingin melihat ulat bulu ini? Apa kau juga takut dengan mereka, seperti Bibi?” goda Edmund.
“Oh, tidak mungkin, Edmund. Aku tidak takut, aku juga sama sepertimu, penasaran dengan mereka,” ujar Robert.
Edmund tertawa. “Aku hanya bergurau saja, Robert, jangan diambil hati.” Keduanya tertawa, mereka kembali lagi melanjutkan penelitian terhadap ulat bulu yang berjumlah banyak itu. Berbagai jenis ulat bulu mereka teliti, baik yang berwarna terang maupun yang berwarna gelap.
“Edmund, masa hidup kupu-kupu tidak panjang, beberapa dari jenis mereka hanya hidup paling lama satu minggu. Apa yang akan kamu lakukan dengan kupu-kupu yang nanti sudah mati?” tanya Robert.
“Edmund, ternyata kau sudah menyiapkan dengan matang tentang ini, aku bangga padamu,” ujar Robert.
“Aku sudah merencanakan ini dari lama, tetapi masih ragu untuk mewujudkannya, dan sepertinya sekarang sudah waktunya,” kata Edmund.
“Baiklah, lanjutkan Edmund, aku akan mendukungmu,” ucap Robert.
Mereka tertawa bersama lagi, menghabiskan waktu yang tersisa bersama dengan hijaunya dedaunan dan geliat ulat-ulat bulu, mereka berada di bagian perkembangbiakan sehingga hanya tumbuhan tanpa bunga yang berjajar di sekitar mereka. Edmund meneliti dengan seksama, ia juga sesekali menulis di jurnal penelitiannya. Mereka akan tinggal lama di dalam rumah kupu-kupu itu, menghabiskan waktu dengan meneliti dan mencatat setiap pergerakan ulat-ulat bulu itu.
***
Sementara itu di dalam mansion, tepatnya di ruangan Chadla, Albert terlihat fokus melihat catatan penting yang sedang Chadla pelajari. Mereka masih mendiskusikan tentang perkembangan mental Arshaka Dean. Dari hasil pengamatan keduanya, mereka masih belum bisa menemukan celah yang bisa mereka masuki untuk mengungkap penyebab dari terpecahnya kepribadian Arshaka Dean, saat ini mereka masih menduga-duga.
“Ini semua masih asumsiku, Albert. Sepertinya, penyebab utamanya adalah trauma masa lalu, entah itu Ars pernah mengalami kekerasan, pelecehan atau yang lebih buruk lagi dari praduga kita. Jika bukan dari Ars sendiri yang mengatakannya, kita tidak akan mendapat apa-apa. Praduga tetaplah praduga, Albert,” jelas Chadla.
“Tapi, Chadla. Edmund pernah mengatakan jika dia pernah melihat Ars dipukuli ayahnya, bisakah kita asumsikan jika Ars, mengalami trauma karena hal itu,” kata Albert.
“Itu pun kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja, seperti yang kita lihat Ars tidak pernah mengingat apa-apa ketika dirinya dikuasai oleh Edmund, bagaimana bisa Edmund melihat kenangan, Ars? Aku tidak tau dengan kebenaran dari Edmund, aku juga tidak yakin jika Ars membagi kenangannya dengan Edmund,” jelas Chadla.
“Kau benar, itu tidak masuk akal. Ars tidak sadarkan diri ketika dirinya merasa senang, jadi tidak mungkin trauma karena kekerasan, tapi apa pemicunya, Chadla?” tanya Albert.
“Jika kita lihat, Ars akan kesakitan jika dirinya terlalu gembira dan membuat dirinya memanggil Edmund untuk keluar, sedangkan untuk Edmund, kemarin kita sama-sama melihat, Edmund merasa senang, tetapi tidak sampai membuat Ars keluar. Yang bisa aku katakan adalah, bisa saja mereka berdua mengalami hal yang berbeda. Mungkin saja pemicu yang menyebabkan Ars bukan kekerasan, dan mungkin juga kekerasan yang Edmund ingat adalah milik dirinya sendiri,” jawab Chadla.
“Maksudmu, Ars dan Edmund mengalami trauma yang berbeda satu sama lain, begitu?” tanya Albert.
“Tepat, Albert. Aku melihatnya mereka sepertinya mempunyai masa lalu yang berbeda satu sama lain, bisa saja Ars mengalami hal ini karena rasa bersalah, ataupun akibat dari doktrin yang terus menerus ditekankan pada Ars, sehingga ia merendahkan dirinya sendiri yang akhirnya berlindung dari pribadi lain yaitu Edmund, dan untuk kisah Edmund, aku masih abu-abu, aku tidak mengerti dan harus segera kita cari tau, Albert.” Chadla berhenti sejenak, dirinya menciptakan gambaran sendiri tentang masa lalu Arshaka Dean. Chadla bernapas gusar, tidak sanggup membayangkan lebih jauh lagi, ia menatap Albert. “Albert, jika kebenarannya terungkap, aku yakin semua orang tidak akan ada yang tega mendengar ceritanya, Ars sungguh malang,” lanjutnya.
“Aku mengerti, Chadla, sebelum semua terkuak, sepertinya kita harus sama-sama menguatkan diri masing-masing, biar bagaimanapun, Ars hanya mempunyai kita, jika kita sama-sama terpuruk, siapa yang akan menjadi sandarannya?” kata Albert.
“Kau benar,” jawab Chadla, dirinya kembali lagi merenung.
Rencana terbaik sedang mereka susun demi kesembuhan Arshaka Dean, meskipun tidak mudah mengatur dan mengajak Arshaka Dean untuk segera pulih, tetapi setidaknya mereka bisa menekankan pada Arshaka Dean jika dirinya diterima dan berhak mendapatkan kemenangan. Kedua orang ini, ingin Arshaka Dean mengakui dirinya hebat, tanpa harus mengingat masa lalunya, Arshaka Dean berhak hidup dengan bahagia, sebagaimana dirinya memberikan kebahagiaan bagi Albert dan Chadla. Mereka berharap Arshaka Dean bisa mengerti dengan perhatian yang mereka berikan.