The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 34. Ketenangan Yang Direnggut



Merah sudah wajah Rumi, semua orang menatap kepadanya, Rumi sudah seperti terdakwa. Tidak bisa berkutik lagi, malu sudah, reputasinya jatuh seketika, apa yang dikatakan oleh Arshaka Dean adalah kebenaran, ia tidak mampu untuk mengelak.


Sekali lagi, Rumi adalah wanita dewasa, wajar jika ia memiliki fantasi sejauh itu kepada seseorang yang ia kagumi. Tapi Rumi tidak pernah menyangka jika dirinya akan dikepung seperti ini, mau bersembunyi ke mana, tidak bisa, Rumi sudah kalah telak, tuannya memang tidak bisa dikalahkan begitu saja.


Ini semua murni kesalahan Rumi, ia tidak belajar dari kejadian sebelumnya. Arshaka Dean pemain yang ulung, ia lupa jika dirinya sedang berhadapan dengan seorang mafia kelas kakap. Apa boleh buat, Rumi tidak bisa melakukan apa-apa, ia menelan malu setengah mati.


“Ars …,” tegur Albert.


“Aku tidak mengada-ada, Albert. Dia sudah beberapa kali melakukannya, benar bukan, Rumi?” Arshaka Dean menatapnya tajam dengan senyum mengerikan di wajahnya.


“Aku tidak mengerti, Ars. Apa yang kau bicarakan ini?” tanya Albert.


“Kau bisa tanyakan langsung padanya. Aku sudah memakai pakaianku, dia pasti sedang membayangkan kesempurnaan tubuhku tadi,” ucap Arshaka Dean, semakin menjadi.


“Sudahlah, Ars, kau tidak bisa seperti itu kepada perempuan. Mari kita turun, kau belum makan apa pun sejak pagi tadi, kau harus mengisi energimu kembali, Ars,” ajak Albert.


“Akan aku siapkan semuanya, kau turunlah,” lanjut Albert.


“Kau memang selalu mengerti soal perempuan, Albert,” ujar Arshaka Dean.


“Ars, kau harus memakan sesuatu, benar apa yang dikatakan Albert. Segeralah turun, aku akan menyusulmu,” kata Chadla.


Albert hendak turun, ia menghampiri Rumi dan berbisik, “Jangan dipikirkan, Rumi, kau tidak melakukan kesalahan, aku percaya padamu.”


Rumi tidak menjawab, keberaniannya sudah hilang, tetapi ia pantas lega, karena secara tidak langsung, Albert dan Chadla menyelamatkannya dari situasi canggung itu.


Albert sudah turun, Arshaka Dean turun dari tempatnya, ia mendekat ke arah Rumi. “Kau mau ikut makan denganku, Rumi? Atau mungkin … kau ingin segera memakanku?” Arshaka Dean menatap wajah Rumi yang sudah merah padam, menahan marah juga malu.


Tidak ada kata puas bagi Arshaka Dean, dia tidak ada niat menjatuhkan Rumi, ia hanya senang dengan semua respons yang Rumi berikan. Ia tidak pernah berurusan dengan perempuan sebelumnya, ini menjadi pengalaman baru untuknya. Sepertinya akan banyak aksi Arshaka Dean yang akan membuat Rumi semakin terpikat.


Arshaka Dean membiarkan Rumi mencerna kata-katanya, ia tidak menunggu jawaban Rumi, ia langsung keluar dari ruangan Chadla. Ia berjalan menuruni tangga, tersenyum, Arshaka Dean tersenyum! Ia merasa puas melihat wajah Rumi memerah. Arshaka Dean sedikitnya bangga pada Rumi, karena ia bisa menahan emosinya dengan tidak melontarkan umpatan-umpatan kasar padanya. Padahal ia sangat yakin, sudah banyak umpatan-umpatan bersarang di pikiran Rumi, siap dilontarkan padanya.


Di ruang makan, Albert tengah menyiapkan makanan untuk Arshaka Dean. Albert mempunyai keterampilan yang luar biasa. Ia bahkan bisa memasak dan melakukan pekerjaan lainnya, jadi meskipun pekerja di mansion sudah tidak ada yang terbangun, itu tidak menjadi soal bagi Albert.


“Albert, kau sedang memasak?” tanya Arshaka Dean.


“Tidak, aku tidak mempunyai cukup waktu, aku hanya menyiapkan sancocho, untukmu. Kau belum makan apa-apa, sancocho sepertinya bagus untuk lambungmu. Duduklah, Ars, sebentar lagi semua siap,” jelas Albert.


Albert langsung menyiapkan meja, ia siapkan segalanya, dengan menu utama sancocho buatan Albert. Sancocho adalah sup tradisional di berbagai negara Amerika Latin, termasuk Ekuador. Sancocho biasanya terbuat dari berbagai jenis daging, umbi-umbian, juga sayuran, yang disajikan dalam sup.


Albert tidak kesulitan membuat makanan untuk Arshaka Dean, apalagi sancocho, itu bisa dibuat dengan cepat oleh Albert, dibantu dengan bahan-bahan yang memang selalu ada di dalam lemari pendingin. Albert tinggal membuatnya saja.


“Kau terlalu cekatan untuk ukuran laki-laki, Albert. Kau seharusnya sudah mengurus keluargamu sendiri, hidup bersama istri dan anak-anakmu, dilayani oleh mereka.” Arshaka Dean meneguk air putih yang sudah Albert siapkan sebelumnya. “Apa kau tidak bosen mengurusku dari lama? Kau tidak punya keinginan untuk keluar dari sini, Albert? Berkencan seperti anak muda di luar sana?” lanjutnya. Arshaka Dean sedang melemparkan pujian pada kesetiaan Albert, ia tidak pernah bertemu dengan manusia sejenis Albert sebelumnya. Menurutnya, Albert terlalu setia dan terlalu berbakti.


“Itu ada waktunya, Ars, kau tidak usah khawatir tentang itu, aku bisa mengaturnya sendiri,” jawab Albert, tersenyum.


“Silakan nikmati makananmu, Ars,” katanya setelah selesai menghidangkan sancocho di meja makan.


Makanan telah dihidangkan, saatnya Arshaka Dean menyantap makanannya. Tenang, hati Albert penuh, Albert sedari tadi sudah beribu-ribu kali mengucap rasa syukur.


“Albert …!”


Seseorang berteriak memasuki mansion, pintu mansion bahkan dibuka secara paksa. Albert yang tengah tersenyum, langsung berlari ke depan, mencari tau apa yang sedang terjadi. Arshaka Dean yang sedang menyendok makanannya seketika menjatuhkan sendoknya. Satu hal yang ada di pikirannya, mereka dikepung! Mansion Arshaka Dean dikepung!


“Albert …!”


“Agatha!” seru Albert.


“Kenapa dia?” tanya Albert.


“Ada apa, Albert?” tanya Arshaka Dean. setelah mendengar keributan itu, Arshaka Dean tidak menunggu lama, ia langsung bergegas.


“Agatha!”


Para pengawal membawanya masuk, Agatha memberontak.


“Lepaskan aku! Aku tidak ingin pulang, lepaskan aku! Biarkan aku bersenang-senang,” racau Agatha.


“Dia mabuk parah, Albert. Dia terlibat pertengkaran dengan seorang pemuda, ia bahkan mengacaukan bar, semuanya kacau, Albert,” lapor salah satu pengawal.


“Astaga, tidak bisakah aku tenang sehari saja?” gerutu Arshaka Dean sembari mengusap wajahnya. “Bawa dia masuk, Albert, siram dia dengan air, buat dia tersadar, cepat, Albert!” Arshaka Dean berseru marah.


Albert segera mendekati Agatha, ia membantunya berjalan.


“Jangan sentuh aku! Kau laki-laki kurang ajar, aku tidak ingin dekat-dekat denganmu!” racaunya.


“Agatha!” sentak Arshaka Dean.


“Siapa itu yang memanggilku?” Agatha berjalan ke arah Arshaka Dean, terhuyung-huyung, sesekali Albert membantunya, tetapi ditepis dengan kasar oleh Agatha.


“Oh, kau kakakku, kau kakakku yang paling tampan. Kakak, aku di sini, aku sudah pulang, aku adik yang baik, bukan,” kata Agatha.


“Berhenti di sana! Jangan coba-coba mendekatiku!”


“Kakak, kau sudah tidak sayang padaku, kau ….” Agatha terjatuh. “Kau kejam, Kakak ….” Agatha bangkit lagi, berjalan lagi.


“Kakak, kau tidak boleh menjadi seperti dia, kau tidak boleh kejam. Kakak aku sayang padamu, jangan tinggalkan aku, kau harus tetap bersamaku,” racaunya.


Agatha memeluk leher Arshaka Dean, dengan mata sayu, ia terus melihat kakaknya. Arshaka Dean hanya mendengus kesal, sudah sejak lama ia mengetahui tabiat adiknya yang sulit diatur ini, yang ia tidak sangka, ia kini harus tinggal dengannya, yang pasti akan membuat hidupnya dua kali lebih melelahkan.


“Kakak, kau tampan sekali,” kata Agatha, ia hendak mencium Arshaka Dean, langsung ditepis saja olehnya.


“Seberapa banyak yang kau minum? Kau selalu saja seperti ini, bisakah ini jadi yang terakhir? Aku muak dengan sikapmu ini, berhentilah berbuat sesukamu, dan mulai dengarkan kakakmu ini,” gerutu Arshaka Dean.


“Kakak, kau tau aku tidak suka dengan orang tua itu, aku ingin di sini.” Agatha menggerakkan tangannya acak di dada Arshaka Dean. “Kakak, kau yang terbaik,” lanjutnya.


“Sudah cukup, Agatha!” sentaknya.


Arshaka Dean tiba-tiba menggendong adiknya, membawanya pergi dari orang-orang yang sedang memperhatikannya. Merasa melupakan sesuatu, ia menoleh lagi dan menatap Albert.


“Albert, pastikan kau bereskan semua kekacauan yang dia perbuat, jangan sampai ada permasalahan lain yang muncul, ganti rugi semuanya,” perintah Arshaka Dean.


“Segera, Ars.”