
Suara alat medis terdengar di tengah heningnya malam, pasien-pasien darurat yang datang pada jam malam sudah dipindahkan ke ruang rawat. Menyisakan petugas keamanan yang tengah berjaga di depan rumah sakit.
Albert yang sudah habis energinya, telah terlelap, lebamnya sudah hampir tak terlihat. Chadla menemani Albert, sudah lebih dulu istirahat, Chadla butuh tenaga untuk esok hari, ia harus kembali meneliti perkembangan Arshaka Dean melalui Edmund.
Rumi meringkuk di sofa, juga Agatha yang terbaring di tempat tidur yang sudah disediakan di ruangan khusus itu. Gurat lelah terukir jelas di wajah mereka, hari-hari yang panjang itu, begitu menyulitkan, tapi mereka tak gentar untuk terus melanjutkan perjuangan Arshaka Dean.
Motivasi terbesar mereka hanya satu, sebuah deklarasi dari Arshaka Dean yang ingin hidup, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka terus mendorong diri mereka sendiri untuk tetap bertahan. Semuanya ingin sampai pada titik itu, titik di mana mereka melihat Arshaka Dean tersenyum kembali, tapi sepertinya itu akan lebih berat ketika Edmund sudah mengetahui jati diri sebenarnya.
Suara gemeretak tempat tidur terdengar, Edmund diam-diam terbangun dan beranjak dari sana, melepas infus yang menancap di tangan kanannya. Meski tertatih-tatih, Edmund coba melangkah dengan berani, memegang bekas operasi di perutnya.
Edmund berjalan dan berhenti tepat di depan cermin, menatap dirinya. “Jadi, wajah ini juga yang dimiliki dia? Kita hidup di tubuh yang sama, katanya.” Edmund tertawa, menertawakan takdirnya yang terdengar seperti gurauan itu.
“Katanya ingin hidup, tapi kenapa hal kecil seperti ini saja, kau tidak bisa mengatasinya sendiri. Kau ini sebenarnya siapa? Benarkah aku yang kau ciptakan dari rasa sakitmu itu? Ataukah itu hanya akal-akalan saja, agar bisa hidup bebas terhindar dari rasa sakit, lalu kau tumpahkan semuanya padaku?” tanya Edmund pada cermin yang memantulkan sosok dirinya.
“Harusnya kau usir aku lebih dulu, kenapa terus-menerus memanggilku? Kau seperti ingin menyerahkan kehidupanmu padaku, kau tau, aku dari dulu ingin sekali mati, kenapa kau ingin hidup di dunia yang keji ini?” Edmund tertawa lagi, ruangan Edmund dilengkapi dengan peredam suara, sehingga dentuman sekeras apa pun tidak akan terdengar, apalagi hanya tawa Edmund.
“Akan aku perlihatkan bagaimana itu hidup, aku bahkan tidak tau pekerjaanmu itu apa, kau terlalu banyak berbohong padaku,” katanya.
“Tapi dari luka yang aku rasakan ini, sepertinya kau bukan orang sembarangan,” katanya.
“Aku bisa simpulkan, kau ini ketua gangster, tapi kenapa kau masih punya hati? Itukah kelemahanmu, Ars. Ah, aku bisa memanggilmu Ars, hubungan kita tidak jelas, meskipun kau kakakku, tapi aku tidak perlu memanggilmu Kakak lagi, bukan?” katanya.
“Kau ingin hidup, akan kuberikan itu semua,” pungkas Edmund.
Edmund berjalan keluar, membuka pintu perlahan-lahan, ia melangkah, mencoba terlihat seperti pasien lainnya. Lorong rumah sakit dalam keadaan sepi, memudahkan Edmund untuk menjauh dari ruangannya. Ia terus berjalan, menekan tombol lift paling atas, pintu lift tertutup dan mulai berjalan, membawa Edmund ke tempat yang jauh dari jangkauan orang lain, ia terus ke atas.
Suara khas lift berbunyi, tanda Edmund sampai di lantai tujuannya. Edmund tidak langsung keluar dari sana, ia terlihat merenung, hatinya tak karuan, ia merasakan perubahan besar pada dirinya sendiri. Ia tidak seharusnya marah pada Arshaka Dean, ia bahkan tau bagaimana masa lalu Arshaka Dean, tapi sungguh sulit untuknya menerima semua itu.
Semua luka yang dia terima memang sakit, tapi luka yang dirasakan Arshaka Dean jauh lebih sakit dari dirinya. Ia tau, sangat tau, karena beberapa kali mimpi Arshaka Dean, juga datang ke mimpinya. Semua masa lalu yang Edmund ceritakan pada Albert dan Rumi, itu berasal dari mimpi Arshaka Dean.
Menyangkal seperti apa pun, fakta bahwa dirinya dan Arshaka Dean adalah orang yang sama, tidak akan pernah bisa terbantahkan, tapi kenapa baru sekarang? Kenapa dirinya dibiarkan hidup dengan kebohongan seperti itu?
Selama ini jelas ia curiga dengan semua orang, apalagi setiap dirinya ada, Arshaka Dean tidak pernah menemuinya. Tapi kecurigaannya bisa ia simpan, karena selama ia tertidur, Arshaka Dean selalu terlihat kepayahan. Ia bahkan berpikir kembali, siapakah yang dulu disiksa oleh ayahnya itu, apakah Arshaka Dean ataukah dirinya?
Ia sempat terlibat langsung dengan ayah Arshaka Dean. Mungkin saat itu Arshaka Dean sedang tidak stabil kondisinya, sehingga Edmund keluar, dari sanalah Edmund melihat Arshaka Dean benar-benar hidup di ujung pelatuk ayahnya. Apa mungkin itu semua yang sebenarnya terjadi pada keduanya?
“Ketika kau tersiksa seperti itu, kenapa kau tidak lari saja dari sana? Kenapa kau membiarkan tubuhmu dibantai seperti itu? Itu ayahmu, kenapa kau takut padanya, dia tidak seharusnya memperlakukanmu seperti itu, Kakak. Aku tidak tahan bersikap seperti ini, Kakak, kau ingin hidup, bukan?” kata Edmund, melihat ke bawah, pemandangan indah di atas sana tidak sepenuhnya menghibur Edmund.
“Kakak, kenapa kau tidak menepisnya? Kenapa kau selalu mendengar kata-katanya yang justru membuatmu semakin terkubur dalam-dalam, seharusnya waktu itu, kau perjuangkan hidupmu, Kakak. Dengan keluar dari tempat itu, tidak akan membuatmu hidup, justru menambah kehancuran lainnya, Kakak,” katanya.
Edmund terus mencari jawaban yang tepat atas keinginannya, hidup itu tidak mudah, kenapa Arshaka Dean ingin hidup? Apakah surat yang dulu ia tinggalkan untuk Arshaka Dean, begitu membekas di hatinya, sehingga ia benar-benar membuka diri pada orang lain? Hal itu memang baik, tapi ini membingungkan untuk Edmund, jika Arshaka Dean ingin hidup, itu tandanya, Edmund harus …
Rumi menggeliat, tidur seperti itu di sofa membuat dirinya diserang rasa pegal. Rumi lihat jam di dinding, masih terlalu gelap untuk keluar, tapi ia merasakan hal yang tidak mengenakkan akan terjadi. Rumi melihat Agatha tertidur sangat lelap, ia tidak mungkin membangunkan Agatha, tak sampai hati.
Ia putuskan untuk keluar ruangan sendiri, langsung saja ia ketuk pintu ruangan Edmund, tidak ada sambutan, Rumi menyangka Edmund tertidur. Rumi dorong pintu itu, langsung melihat tempat tidur Edmund yang kosong, Rumi terkejut.
“Edmund!” pekiknya, sedikit tertahan karena takut mengganggu orang lain.
Tidak ada, Edmund tidak ada di mana-mana, panik, Rumi langsung menekan tombol darurat di ruangan Edmund. Agatha, Albert dan Chadla terbangun, kaget dengan suara keras, buru-buru mereka keluar.
Petugas keamanan dan beberapa petugas medis berlarian di depan mereka, bertambahlah kepanikan di lorong itu. Rumi di ruangan Edmund keluar, dadanya terlihat berdebar dan tubuhnya gemetar.
“Edmund tidak ada di ruangan ini, Edmund menghilang!” lapor Rumi.
“Apa?”
“Berpencar, dan periksa kamera CCTV, percepat!” tegas seorang dokter yang baru saja tiba.
“Baik,” jawab mereka serempak.
“Bagaimana bisa terjadi, Rumi?” tanya Albert, panik.
“Aku tidak tau, Edmund sudah tidak ada di sini sejak aku masuk,” jawab Rumi.
Albert langsung berlari, memeriksa ruangan satu per satu, sedangkan Chadla langsung menuju ke ruang keamanan. Rumi dan Agatha berlarian tak tentu arah, mencari ke mana saja. Keheningan tadi, berubah jadi kepanikan, orang-orang berlarian, mencari keberadaan Edmund, tanda bahaya diaktifkan, memberitahu setiap petugas.
Di bawah sana semua orang tengah mencarinya, panik, Edmund yang masih berdiri di atas pembatas rooftop, mulai berjalan. Menyusuri setiap tempatnya, terus berjalan, hingga ia tepat di tengah-tengah. Ia berdiri di sana, melangkah maju dengan ragu-ragu, satu langkah, dua langkah, hingga ia sampai di ujung, pembatas. Edmund melihat ke bawah, kakinya ia ayunkan ke udara, hingga tergantung di sana. Edmund berpikir, jika Arshaka Dean ingin kehidupan, ia akan berikan dengan caranya sendiri, kakinya terus di sana, tinggal satu langkah lagi dan …