The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 57. Pulang



Albert membereskan ruangan Edmund, tidak mungkin meninggalkan dalam keadaan berantakan, bukan? Meskipun banyak petugas yang nantinya akan membersihkan tempat itu setelah dikosongkan, tapi tetap saja, Albert tidak suka meninggalkan tempat yang sudah dipakainya begitu saja.


Setelah kejadian yang menghebohkan seisi rumah sakit, Edmund terbaring di atas ranjang rumah sakit, ditutupi selimut. Sesekali Albert melihat kaki Edmund, terlihat begitu pucat, padahal pendingin ruangan tidak begitu tinggi. Sesak di dadanya kembali lagi terasa, begitu sangat tiba-tiba, tidak tau harus berbuat seperti apa lagi.


“Edmund?” panggil Agatha dengan riang, hari ini suasana hati Agatha berangsur-angsur membaik.


“Sstt …!” Albert menempelkan tangannya di depan bibir, memberi isyarat pada Agatha agar tidak berisik.


“Dia belum bangun juga? Ini sudah hampir tengah hari, dia harus bangun, Albert,” rajuk Agatha.


“Dia harus istirahat, kau diamlah di sini, temani aku,” kata Albert.


“Kau!” Albert menatapnya tajam, larangan adalah perintah mutlak, semua orang harus menurutinya, tanpa terkecuali Agatha.


“Sudahlah. Apa yang bisa aku bantu?” tanya Agatha menawarkan diri.


“Kau diam saja, temani aku di sini,” jawab Albert.


Agatha tidak menjawab lagi, Agatha berjalan-jalan, mengitari ranjang Edmund, dan melihat wajah Edmund, kali ini entah kenapa wajahnya terlihat lebih tirus dan pucat. Tak berlama-lama memandang wajah Edmund, ia melanjutkan dengan menuangkan air minum ke gelas, memberikannya pada Albert yang sedang sibuk menepuk-nepuk bantal.


Albert melihat Agatha sesaat sebelum menerimanya, ia mengulas senyum di wajahnya, paham dengan gejolak di hatinya. Seiring berjalannya waktu, hati mereka pun sedikit-sedikit mulai bertaut, entah bagaimana mulanya, mereka kini saling merangkul, saling melemparkan senyum.


“Apa kau tidak mau pulang lebih dulu?” tanya Albert.


“Aku di sini saja, menemanimu, biarkan saja Rumi yang mengatur mansion,” jawab Agatha.


Wajah mereka mendekat, tersenyum dengan mata yang berbinar-binar, hatinya berdebar nikmat. Pemandangan di depannya begitu indah, masuk ke matanya dengan lembut, menghiasi langit-langit hati yang sempat tergerus panik.


Hidung Albert dan Agatha bertemu, saling menyapukan, Agatha terkekeh, merasa lucu dengan tingkah mereka. Hidung sudah bertemu, tinggal satu langkah lagi menuju kenikmatan dunia, senyum dari wajah Albert tidak luntur, ia terus mendekat menatap ranum indah di bawahnya, tapi …


“Kalian melakukan itu di rumah sakit!” tegur seseorang dari ranjang.


Tautan tangan mereka langsung terlepas, mendengar teguran yang sangat keras itu. Agatha dengan tak tau malu langsung menyambar pipi Albert dengan kecupan singkat, biarkan saja orang lain melihatnya. Albert terpaku di tempat, serangan Agatha membuatnya lebih terkejut dibandingkan teguran tadi.


“Get a room, please!” serunya.


“Kenapa, kau iri melihat kami? Dan, ini sudah siang, bangun perbanmu harus diganti,” jawab Agatha balik menyerang.


“Haish, kau ini? Apa kau benar adik dari kakakku?” tanyanya.


“Dia kakakku, bukan hanya kakakmu, jangan mengaku seakan-akan hanya milik dirimu saja,” jawab Agatha, tak mau kalah.


“Edmund, kau sudah merasa lebih baik?” tanya Albert.


Keegoisan Edmund di atas rooftop, tidak sampai membuat dirinya melompat dari atas sana. Untunglah kerasnya Edmund bisa diurai oleh Chadla dan Albert dengan pengertian dan kelembutan yang mereka berikan. Meskipun kemarahannya masih belum bisa ia maafkan, setidaknya Edmund sudah menyiapkan hati yang lapang untuk mengatasi semuanya.


Di atas ketinggian itu, Edmund coba berpikir jernih. Mulanya is hanya merenung, tetapi senyuman Arshaka Dean di video tempo hari membuka mata Edmund, ia menyadari senyuman yang terlukis di wajah Arshaka Dean penuh dengan duka dan tekanan. Belum lagi Rumi dan Agatha terus memberitahukan padanya tentang kebahagiaan, yang mana itu juga menjadi pekerjaan rumah yang sulit untuknya. Edmund sudah mengejar itu dari lama, meskipun sempat membuat geger, akhirnya Edmund turun juga dari pembatas rooftop.


“Bilang saja jika kau iri padanya, Edmund,” sahut Agatha.


“Hey, bisakah kau bersikap sopan padaku, aku ini kakakmu,” ujar Edmund.


“Oh, baiklah.” Rumi mendekati Edmund, lalu menangkup kedua pipi Edmund. “Kakakku, kau ternyata imut sekali, kenapa aku baru tau jika kau menggemaskan seperti ini,” kata Agatha, memainkan pipi Edmund, Edmund hanya menatapnya malas.


Hari ini jadwal Edmund untuk mengganti perban di perutnya, setelah itu, Edmund dan yang lainnya akan segera kembali ke mansion. Dokter datang dan memeriksa jahitan, kemudian mengganti perbannya.


“Kau tau berapa lama, kakakku membuat otot-otot itu di tubuhmu,” ucap Agatha.


“Aku tidak mau tau, tapi sebelum aku tau kondisiku, aku pernah berpikir jika otot-otot ini aku bawa dari lahir. Aku tidak pernah suka olahraga, tapi badanku sangat atletis, sangat bagus untuk dipamerkan,” jawab Edmund, dengan tingkat percaya diri yang paling tinggi.


“Tidak ada yang membawa otot sebagus itu dari lahir, Edmund, berterima kasihlah pada alat-alat olahraga di ruangan penyiksaan itu,” kata Agatha.


“Ruang penyiksaan?” Edmund mengernyitkan kening.


“Itu ruang penyiksaan, Edmund, Kakak akan terus berada di sana ketika ia tengah memikirkan strategi untuk perang dengan musuh, dan setelahnya ia akan keluar dengan sangat kepayahan. Aku suka melarangnya, tapi Kakak malah menyuruhku masuk dan berakhir melatihku, hingga badanku tersiksa,” adu Agatha.


Edmund tertawa keras, membayangkan sikap tegas Arshaka Dean pada Agatha, sedangkan Agatha membelalakkan matanya, tidak terima, ia merasa sedang diolok-olok oleh dua orang sekaligus. Albert yang melihat itu, saling berpandangan dengan Chadla, ia merasa lega, akhirnya bisa melihat tawa khas itu kembali. Tawa dari Edmund selalu dinantikan oleh orang lain, terutama Robert sang guru pribadinya dulu.


Setelah pemeriksaan telah selesai, Edmund dan Agatha keluar, berjalan-jalan di taman rumah sakit. Melempar canda satu sama lain, Agatha seperti bertemu lagi dengan masa lalunya, di mana Arashaka Dean masih bersikap ramah kepada semua orang. Agatha merasa senang, tapi tak bisa dipungkiri, jika dirinya menginginkan Arshaka Dean kembali. Ini sudah lama, rindu di hati Agatha pada Arshaka Dean sudah ia tahan sedalam mungkin.


Edmund dan Agatha bermain lempar bola dengan anjing berwarna putih milik rumah sakit. Orang-orang yang tidak tau keadaan keduanya, pasti akan mengira mereka sedang berkencan di taman rumah sakit, membuat semua orang memimpikan hal yang mereka perbuat hari ini.


“Kita harus kembali,” seru Agatha.


Edmund menoleh. “Tunggu sebentar saja, di sini menenangkan,” sahut Edmund.


“Kau lupa, hari ini kita pulang,” kata Agatha.


“Ah, sudah waktunya?” tanya Edmund.


“Penangkaran kupu-kupu itu pasti sudah terbengkalai ditinggal pemiliknya,” ejek Agatha.


“Tidak akan, Paman tidak akan membiarkan tempatku berantakan,” balas Edmund.


“Kenapa kau begitu percaya padanya, padahal kau sudah dibodohi,” kata Agatha, memancing reaksi Edmund.


“Aku selalu percaya pada Paman, meskipun aku sempat marah padanya, tapi Paman tidak pernah membuatku merasa terabaikan. Paman selalu membuat aku nyaman dan selalu menemaniku, semua hal yang aku inginkan selalu dituruti olehnya. Aku merasakan ketulusannya sejak pertama kali aku bertemu dengannya, hatiku mengatakan jika dengannya aku akan aman, dan dia pria yang bersih,” jelas Edmund, membuat Agatha terkagum-kagum mendengarnya, ia mengangguk-anggukkan kepala, mengerti dengan segala informasi dari Edmund ini.


Albert dan Chadla sudah membereskan administrasi di rumah sakit, barang-barang mereka pun sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka kembali ke mansion. Cerita kali ini begitu menguras emosi, dan pulang tidak hanya bermakna satu, tapi penuh dengan pengertian.


Keluarnya Edmund dari rumah sakit ini, memberikan sebuah gambaran yang sangat besar, dalam artian Arshaka Dean tidak akan datang dalam waktu dekat ini. Tapi setidaknya tubuh mereka sudah kembali pulih, tinggal luka-luka di hati mereka saja yang sulit untuk diobati.


Semoga dengan terbukanya pemikiran Edmund, akan mampu memulihkan kondisi Arshaka Dean, tentu saja atas persetujuan Edmund. Hari ini, kisah dari rumah sakit yang penuh ketegangan akhirnya berakhir, semoga tidak ada hal darurat lagi yang akan membawa mereka kembali.