
“Wah, kau berhasil membawa Rumi kembali, hebat juga,” celetuk Agatha, ketika Arshaka Dean dan Rumi baru saja keluar dari mobil.
“Berisik, Agatha!” sentak Arshaka Dean, sembari membuka kaca mata hitamnya.
“Rumi, kau harus berterima kasih padaku, jika bukan karena aku, dia tidak akan bergerak, dia sungguh payah, kenapa kau mau dengan kakakku?” sindir Agatha.
“Kau tidak usah ikut campur!” bentaknya pada Agatha, dengan mata yang membola sempurna.
Arshaka Dean merasa panas, ia malu juga, jika Rumi harus mengetahui kebenarannya dari Agatha. Harga dirinya mau di taruh di mana, dia baru saja memungutnya akibat kesalahpahamannya ketika melihat Rumi dengan Thomas di kampus.
“Hey, itu yang sebenarnya terjadi, kau juga mengganggu acara panasku dengan Albert, kenapa aku tidak boleh mengganggumu?!” Agataha tak mau kalah, sepertinya Agatha masih menyimpan dendam karena kegiatan menyenangkannya dengan Albert terganggu waktu itu. Tapi, seharusnya Agatha berterima kasih dengan kepergian Arshaka Dean, karena dengan begitu dirinya bisa puas menyatukan diri dengan Albert.
“Apa?!” Rumi terkejut. “Kau dan Albert?” Rumi baru satu minggu keluar dari mansion itu, tapi sudah tertinggal banyak informasi.
“Kenapa kau terkejut, Rumi, kupikir kau sudah mengetahuinya.” Agatha tersenyum, tengil. “Aku hebat, bukan?” lanjut Agatha.
“Masuklah, Rumi, jangan hiraukan dia,” ajak Arshaka Dean.
Rumi tersenyum pada Agatha, ia merasa bersyukur dengan adanya Agatha, meskipun mungkin mengesalkan bagi Arshaka Dean, tapi setidaknya, Arshaka Dean bisa tersadar dengan perasaannya sendiri. Rumi masuk ke dalam mansion, para bibi menunggu di dalam untuk menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang kembali, Nona Rumi,” sambut hangat para bibi penuh senyuman.
Para penghuni mansion sudah heboh lebih dulu ketika Arshaka Dean mengabarkan kepulangannya. Arshaka Dean sangat menakutkan ketika Rumi tidak berada di mansion, jadi mereka sangat senang Rumi bisa kembali lagi.
“Terima kasih, aku juga senang bisa kembali lagi,” jawab Rumi, hatinya terasa hangat, tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu.
Rumi melihat sekeliling, kemudian tersenyum, dirinya sudah berada di mansion lagi, hatinya senang, bisa merasakan kebersamaan dengan orang-orang hebat. Keadaan mansion tidak banyak berubah, Rumi tidak perlu beradaptasi lagi, kecuali statusnya dengan Arshaka Dean, yang mungkin akan membuat sedikit canggung.
Seperti saat ini, Arshaka Dean tiba-tiba menautkan jemarinya pada jemari Rumi, membuat para bibi berbisik seru. Rumi menundukkan wajahnya malu, sedangkan Arshaka Dean hanya mengulas senyum, sembari menatap Rumi dengan tatapan ingin segera menerkam.
“Ikut aku, Rumi.” Arshaka Dean tiba-tiba menarik tangan Rumi, dan berjalan bersama menuju lantai dua.
Riuh semua orang menyaksikan Arshaka Dean yang sudah berani menunjukkan cintanya, membuat para penghuni mansion tak segan melempar gurauan. Rumi tak bisa menolak, wajahnya memerah, hatinya panas, terbakar oleh cinta yang diberikan Arshaka Dean padanya.
“Hey, kalian, setidaknya tunggulah orang-orang tertidur!” teriak Agatha, dengan senyuman jahil, menggoda dua sejoli itu.
“Bukan urusanmu!” balas Arshaka Dean, seraya terus berjalan dan membawa Rumi bersamanya.
Mereka menaiki tangga, hati Rumi berdebar-debar, sudah tau apa yang akan Arshaka Dean lakukan, karena sesungguhnya Rumi pun menantikan hal itu, semenjak di perjalanan tadi. Arshaka Dean mungkin terburu-buru, tapi itu wajar saja, mereka sudah sah sekarang, sudah tau perasaan masing-masing, dan ini adalah tempatnya, jadi Arshaka Dean bisa lebih leluasa.
“Ars?” panggil Rumi, ketika mereka sudah sampai di depan pintu milik Arshaka Dean, Rumi menatap Arshaka Dean, seakan bertanya, haruskah secepat ini? Dia ingin tapi juga malu.
“Rumi,” ucapnya, serak, gairah sudah menyelimuti seluruh tubuhnya. Sejak dari rumah Birdella ia menahan diri, maka jangan heran, jika kali ini Arshaka Dean terlalu memburu.
Wajah Arshaka Dean mendekat pada sisi leher Rumi, kemudian ia mengendus bagian itu dengan rakus. Arshaka Dean melanjutkan aksinya, ia mengecup leher Rumi, menyapukan ranum miliknya di kulit halus Rumi.
Rumi menggelinjang, menahan diri agar tidak terjatuh, sensasi yang diberikan Arshaka Dean melelehkan dunia Rumi seketika, mata Rumi terpejam menikmati setiap sentuhan Arshaka Dean.
Puas dengan sisi kiri, Arshaka Dean pindah ke sisi lainnya, memperlakukan bagian indah itu dengan adil. “Ars … ash … ah ….” Suara Rumi tertahan, tak sadar mengucapkan suara mengundang tepat di telinga Arshaka Dean, membuat Arshaka Dean bergidik, nikmat.
Arshaka Dean membuncah, bagian selatannya terasa sesak terbungkam kain yang menutup. Arshaka Dean kemudian pindah ke atas, menatap wajah Rumi. “Kau benar-benar.” Suaranya semakin serak, menandakan gairah itu datang begitu hebat.
Arshaka Dean tiba-tiba menyapukan ranum miliknya dengan ranum Rumi, menyesapnya dengan kuat. Arshaka Dean tersenyum di depan ranum Rumi, ia mulai mencium dan terus bergerak dengan lihai, kali ini Rumi membalas.
Rumi menggerakkan kepalanya ke mana pun Arshaka Dean membawa, keringat mereka mulai bercucuran, dinginnya AC tak lantas membuat mereka menyejuk, malah semakin panas saja, dengan gerakan mereka yang semakin intim.
Arshaka Dean membawa tubuh Rumi ke tempat tidur, tanpa melepaskan tautan. Perlahan-lahan mereka merebahkan diri, mencari kenyamanan, kini tangan Arshaka Dean mengelus punggung Rumi dengan lembut, membuat Rum terpaksa membusungkan tubuhnya.
Ciuman mereka tidak berhenti, Arshaka Dean semakin memperdalam, bergerak tak beraturan, hingga suara kecupan itu mengalun indah mengisi kamar Arshaka Dean. Arshaka Dean menghentikan diri, membuat Rumi membuka mata, heran. Mata mereka saling mengunci. “Rumi, kau sungguh indah, bolehkah?” tanya Arshaka Dean, dengan wajah yang diselimuti gairah.
Arshaka Dean membawa tangannya pada kancing baju Rumi, mencoba membukanya, membuat Rumi tersentak sesaat karena tangan dingin Arshaka Dean membangunkan eforia yang lainnya. “Tapi, di bawah banyak orang,” ucap Rumi, berat.
“Aku tidak peduli,” ucap Arshaka Dean. Tangannya mengelus bagian dalam tubuh Rumi. “Aku sudah tidak bisa menahannya lagi,” ucapnya jujur. Arshaka Dean memegang dagu Rumi, kemudian memberikan senyuman pada Rumi. “Kau juga menginginkannya, bukan?” Arshaka Dean menerjang lagi ranum Rumi yang sudah merah dan membengkak itu.
Rumi menerimanya dengan senang hati, benar, Rumi juga menginginkannya, ia juga sudah di puncak gairah. Rumi memeluk leher Arshaka Dean, memperdalam ciumannya, merasakan semua yang ada di dalam sana. Bagian selatan Arshaka Dean semakin mengembung, terasa di perut Rumi, membuatnya tak karuan.
Sudah tidak bisa main-main lagi, Arshaka Dean membuka bajunya, melemparnya ke sembarang arah. Rumi yang berada di bawahnya terpukau dengan tubuh Arshaka Dean yang sempurna itu. Arshaka Dean membuka kancing baju Rumi satu persatu, sesekali meraba bagian indah itu, membuat Rumi menahan napas. Arshaka Dean terlihat serius, sisi dominannya terlalu kuat, Rumi pusing melihatnya.
Arshaka Dean mendekatkan wajah pada tubuh bagian depan Rumi, menghirup aroma Rumi yang begitu memabukkan, Rumi terpejam matanya, satu tangannya meremas selimut dengan keras, menyalurkan rasa nikmat yang diberikan Arshaka Dean padanya.
Arshaka Dean menyelusupkan tangannya pada tubuh bawah Rumi yang terasa hangat itu, perlahan memainkannya membuat Rumi terpaksa menjepitkan kakinya, rasanya luar biasa dan membuat seluruh tubuhnya meremang.
“Aku sudah siap, Rumi,” ucap Arshaka Dean dengan suara serak dan berat.
Rumi menganggukkan kepala, tak sanggup menjawab, Arshaka Dean segera membuka bagian itu, tapi tiba-tiba saja …
“Ars, kita dikepung!” teriak seseorang dari luar.
Arshaka Dean seketika menghentikan segala geraknya, wajahnya panas, gairah yang sudah di puncak nikmat itu tiba-tiba menguap. Wajahnya merah, bukan lagi akibat menahan gairah, tetapi kemarahan. Marah karena aktivitas panasnya terganggu, juga marah karena dia tidak menyangka perlawanan akan secepat ini datang.
“Brengsek!”