The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 23. Rumi Ejaz



“Nona Rumi, ini adalah kisah yang panjang, kami harap Nona bisa memahami semuanya.” Albert memulai kisah, Rumi Ejaz yang berada di hadapannya tidak mengerti dengan keadaan seperti ini.


“Sebelumnya, lebih baik kita duduk saja, agar lebih nyaman. Mari,” saran Albert.


“Silakan, Rumi.” Robert memberi jalan kepada Rumi agar leluasa.


Arshaka Dean tepat di samping mereka, ia tidak menyangka akan mendengar kisahnya langsung. Mendengar segala cerita tentang dirinya dari orang lain dan langsung didengar oleh dirinya sendiri, membuat ia sulit bertingkah. Mulanya ia tidak suka dan membenci saran Albert, tetapi Arshaka Dean memikirkan hal lain, ia tidak tau dengan dirinya sendiri, dengan melibatkan diri begini, Arshaka Dean sedikitnya bisa belajar tentang dirinya dari orang lain secara efektif.


“Rumi, aku akan memulai semuanya dari awal, kuharap kau tidak keberatan,” ujar Robert.


“Ceritakan saja, tidak perlu bertele-tele, jangan membuat aku muak!” tegur Arshaka Dean, marah.


“Maafkan aku, Ars,” sesal Robert.


Robert dan Albert silih berganti menceritakan tentang Arshaka Dean. Robert yang mengawali kisah, ia ceritakan kegagahan Arshaka Dean, kesuksesan Arshaka Dean sebagai seorang mafia dan kisah petualangan hebat lainnya.


Rumi yang mendengar itu sudah pasti, penuh rasa takjub, semakin membuat dadanya bergemuruh. Wajahnya berseri, penuh dengan bayangan-bayangan yang menggembirakan hati. Sesekali Rumi mencuri pandang pada Arshaka Dean, dan sekali lagi hatinya meletup-letup ketika melihat paras rupawan Arshaka Dean dari samping. Rumi tidak menyembunyikan ketertarikannya kepada Arshaka Dean.


Kisah Arshaka Dean berlanjut, mereka sampai pada kisah yang tidak diketahui banyak orang, kisah yang tersimpan hanya di dalam mansion, tersimpan rapat dan rahasia. Kisah yang mengawali cerita ini ada, kisah yang tidak akan membuat siapa pun percaya dengan kenyataannya.


Albert menghela napas panjang, ia mengambil alih cerita, Albert siap untuk menceritakan keadaan Arshaka Dean yang sesungguhnya. Albert berkata dengan hati yang berusaha menahan segala rasa sakit, ia buka cerita tentang tuannya yang mengidap DID (dissociative identity disorder).


Albert berusaha untuk menceritakan secara rinci, tetapi dikemas dengan sangat ringkas. Ia tau, pasti akan menimbulkan reaksi yang seperti ini, Rumi terkejut. Rumi tidak mengada-ada, ia benar-benar terkejut bukan main, ia tak percaya. Albert tidak menggubris reaksi Rumi, ia harus menyelesaikan tugasnya, walaupun berat. Albert memberi tambahan lain tentang keadaan Arshaka Dean, ia menjelaskan jika dalam keadaan tertentu Arshaka Dean akan tertidur sesaat dan tubuhnya diambil alih sementara oleh Edmund.


“Tidak mungkin,” ucap Rumi tak percaya.


“Tidak mungkin, seorang yang sempurna seperti Arshaka Dean mengalami hal seperti itu. Tidak, itu tidak mungkin, kalian pasti bergurau, bukan? Agar aku tidak tahan bekerja di sini, kalian tidak perlu berbohong seperti itu, aku tidak takut,” kata Rumi.


“Aku pun berharap seperti yang kau bilang, Rumi, aku berharap ini semua hanya gurauan saja, aku juga … Rumi kau tau, kami semua begitu berat harus menceritakan ini padamu, aku tidak sampai hati, apalagi Ars mendengar semua pembicaraan kita.” Robert merasa bersalah ketika mendengar Rumi tidak percaya dengan kisah Arshaka Dean yang malang itu, terbersit di pikiran Robert untuk kembali lagi ke mansion, tetapi apa boleh buat, keputusan sudah diambil ia tidak mungkin kembali.


“Aku tidak bisa percaya begitu saja, lihat.” Rumi menunjuk Arshaka Dean dengan tangannya. “Dia sangat sempurna, tampan, tidak mungkin ia bisa berubah seperti itu, kalian berharap aku percaya?” Rumi masih tidak bisa menerima, ia jelas pernah mendengar tentang penyakit yang diderita Arshaka Dean, tetapi ia jelas tidak pernah melihat kasusnya secara langsung. Rumi bukan tidak percaya, hanya saja ia sulit untuk menerima kebenarannya.


“Nona Rumi, apa Anda hanya fokus dengan pesona Ars saja, apa Anda tidak memahami yang sudah kami jelaskan?” tanya Albert, ia sudah tau sejak awal jika Rumi terpesona dengan sosok Arshaka Dean.


Rumi terperanjat, ia tidak menyangka jika dirinya yang diam-diam mengagumi Arshaka Dean tertangkap oleh Albert, padahal ia sudah berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya, tetapi sepertinya Albert lebih dulu menyadari. “Bu-bukan seperti itu, a-aku tidak seperti itu … tapi ….”


Rumi tidak melanjutkan pembelaannya, wajahnya sudah memanas karena malu. Arshaka Dean melirik Rumi, ia perhatikan tingkah Rumi, dari atas wajahnya, terus hingga ke bawah melihat gerak acak kakinya. Arshaka Dean menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan perilaku Rumi, ia tidak paham dengan perasaan perempuan.


“Kami sudah berusaha menceritakan semuanya, itu semua adalah kebenaran, jujur dan tidak ada yang ditutup-tutupi, jika Anda keberatan Anda bisa menolaknya. Kami serahkan semua keputusan kepada Anda, Nona Rumi,” kata Albert.


“Aku tidak peduli dengan pendapatmu, jika kau memang tidak percaya dengan semua ceritaku, kau bisa lupakan semuanya dan silakan tinggalkan tempat ini. Aku bisa mencari yang lain, yang lebih bisa menerima keadaanku, aku tidak akan menambah beban baru. Jadi silakan tinggalkan tempat ini,” tegas Arshaka Dean.


“Rumi, maafkan aku tidak menceritakan ini dari awal, jika sudah seperti ini aku tidak bisa memaksa, semua keputusan aku serahkan padamu, ini murni kesalahanku, maafkan aku,” sesal Robert.


Di tengah kepungan ragu yang menyelimuti mereka di ruang tamu, Chadla turun dari ruangannya. Chadla heran, dahinya berkerut, ia menangkap sesuatu yang salah dari keadaan mereka.


“Ars, apa ada yang salah?” tanya Chadla.


“Chadla, kuharap kau diam, jika tidak aku bisa saja meledak saat ini juga, aku sudah menahannya, jangan biarkan aku meledak,” ujar Arshaka Dean memperingatkan.


“Oh, baiklah, sepertinya sesuatu sedang terjadi, aku tidak bisa mengganggu kalian.” Ada wajah familiar di antara Albert dan Arshaka Dean yang baru ia sadari. “Hey, Robert, akhirnya kau kembali? Apa kabar? Dan siapa yang bersamamu?” tanya Chadla.


Rumi awalnya tidak peduli dengan Chadla yang baru saja datang, ia menyangka Chadla salah satu tukang pukul yang dari tadi berlalu lalang di mansion itu, tetapi mendengar Chadla menyapa Robert, terpaksa membuat ia menoleh. Sekali lagi Rumi terkejut, ia melihat sosok laki-laki dengan jubah dokter, berwibawa dan bersahabat, membuat ia semakin penasaran dengan kebenaran Arshaka Dean.


“Dia ….” Rumi ragu untuk bertanya, Albert yang menangkap gelagat Rumi mendapat pencerahan, ia harus mengenalkan Chadla kepada Rumi, dengan begitu Rumi bisa mempertimbangkan lagi.


“Ah, Nona Rumi, perkenalkan dia dokter pribadi Ars, Chadla, ia tinggal di sini. Jika Anda bersedia mengajar Edmund, Anda juga akan lebih sering bertemu dengannya. Apa Anda mengetahui Dokter Chadla, Nona?” jelas Albert, semangat.


“Apa yang kau bicarakan, Albert? Aku bukan selebritis, pasti dia tidak akan mengenalku.” Robert tersipu malu.


“Aku tau!” Rumi tidak sadar jika dirinya berteriak, nyaring sekali.


“Wow, aku tidak menyangka ada yang tau tentang aku, Albert,” ujar Chadla, tersenyum ramah.


“Anda Dokter itu, Anda Dokter Chadla, psikiater hebat, Anda … Anda benar-benar Dokter Chadla?” Rumi menutup mulutnya tak percaya.


“Anda benar, dia Dokter Chadla yang sangat terkenal itu,” ujar Albert.


“Ah, kalian membuatku malu. Omong-omong ada apa ini?” tanya Chadla.


“T-tapi bagaimana bisa Anda berada di sini, Dokter?” tanya Rumi polos.


“Anda tidak tau siapa yang duduk di sampingku? Ia lebih terkenal daripada aku, dia jauh lebih hebat dariku? Semua bisa ia lakukan, termasuk memanggilku ke sini,” jelas Chadla.


“Jadi, apakah benar Arshaka Dean itu, mengidap DID? Aku sungguh tidak bisa percaya begitu saja, Dokter,” kata Rumi.


“Chadla, sepertinya kau bisa meyakinkan keadaan Ars kepadanya, kami sudah mengatakan semuanya, tetapi sepertinya Nona Rumi butuh bukti yang lain, mungkin jika kau yang mengatakannya ia akan percaya,” kata Albert.


“Kau tidak perlu seperti itu, Albert. Jika dia tidak mau, cari orang lain saja, aku tidak butuh validasi dari orang seperti dia,” tegas Arshaka Dean.


“Ars, biarkan aku menjelaskan semuanya sekali lagi.”


Chadla menatap Rumi penuh kelembutan. “Siapa namamu tadi? Rumi …? Benar?” tanya Chadla memastikan.


Rumi tidak menjawab pertanyaan Chadla ia hanya membalas dengan anggukan saja, Rumi sudah tidak sabar mendengar Chadla bercerita. Baru kali ini, Rumi merasakan guncangan hebat, bukan, bukan karena keadaan Arshaka Dean, tetapi karena penghuni mansion. Ia menyadari, jika di mansion ini tidak ada orang sembarangan di dalamnya, ia menyesali keraguan yang sempat ia lontarkan tadi. Harusnya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bukan?