
Stamina Arshaka Dean sudah menipis, tapi tak ada waktu untuk sekadar mengistirahatkan diri. Kabar mengejutkan baru saja Arshaka Dean terima, ia harus segera pergi dari tempat penuh darah itu.
“Cepat! Kubilang cepat, Albert!” sentak Arshaka Dean di dalam mobil, padahal mobil melaju dalam kecepatan tinggi.
“Ars, kau yakin dengan ini?” tanya Albert, Albert tidak mengada-ada, dirinya skeptis dengan sikap Arshaka Dean.
“Jangan banyak bertanya, Albert, cepatlah!” sentak Arshaka Dean.
Perjalanan dari hutan belantara hingga rumah sakit memanglah jauh, membutuhkan waktu perjalanan hampir dua jam. Arshaka Dean gelisah, pasalnya rumah sakit tempat Edmund dirawat tidak pernah menghubungi dirinya, biasanya Arshaka Dean lah yang menghubungi pihak rumah sakit sekadar menanyakan perkembangan Edmund, maka dari itu Arshaka Dean sangatlah cemas.
Rumi yang berada di sampingnya, sebisa mungkin membersihkan luka-luka di tubuh Arshaka Dean. “Kemarilah, ini bisa infeksi,” kata Rumi, ketika Arshaka Dean menolak.
“Edmund, dalam keadaan darurat, Rumi. Aku takut …,” lirih Arshaka Dean.
Rumi merangkul tubuh Arshaka Dean, memberi ketenangan, tangan Rumi mengelus dada Arshaka Dean. “Dia pasti akan baik-baik saja, kita sedang berusaha, bersabarlah sebentar saja,” bujuk Rumi.
Rumi terus mendekap, membuat Arshaka Dean bisa lebih tenang. Arshaka Dean sudah kehilangan hidupnya, ia tidak ingin kehilangan Edmund, dia sudah berusaha untuk merawat Edmund hingga detik ini. Sedikitnya, Arshaka Dean berharap keajaiban untuk perkembangan Edmund.
Alasan Arshaka Dean tidak ingin menjalani terapi, karena Arshaka Dean yakin Edmund akan kembali padanya. Tapi sebelum itu terjadi, ia ingin merasakan keberadaannya, meskipun itu merenggut setengah kehidupannya, jika ia melakukan terapi dan dirinya pulih, itu artinya ia benar-benar kehilangan Edmund, ia tidak ingin itu terjadi.
Akhirnya setelah menembus hutan dan jalanan terjal, mereka sampai di rumah sakit tempat Edmund dirawat. Rumah sakit ini terletak di pedalaman, tapi fasilitas medis di rumah sakit ini sangatlah lengkap. Rumah Sakit ini sengaja dibangun di tempat sepi, untuk memberi ketenangan pada pasien yang memang sudah berat kondisinya, seperti Edmund.
***
“Edmund kritis, Tuan Ars,” ucap dokter yang merawat Edmund, begitu Arshaka Dean tiba di ruangan.
Arshaka Dean diarahkan ke ruangan khusus, Albert yang melihat seseorang terbaring dengan alat-alat medis di tubuhnya, menjatuhkan diri di lantai rumah sakit. Hatinya terguncang bukan main, ternyata Edmund benar-benar ada.
Ini kehidupan yang berbeda dengan yang Albert bayangkan, kecurigaan dan keraguan yang sempat Albert tujukan pada Arshaka Dean, ia tarik kembali. Edmund ternyata bukan hanya jiwa lain yang tercipta dari trauma masa lalu Arshaka Dean, Edmund ternyata memang hidup di dunia ini.
“Albert.” Rumi mendekati Albert, ia juga sama terkejutnya dengan Albert, tapi masih bisa ia kendalikan.
“Ars, apa semua ini?” tanya Albert lirih.
Arshaka Dean sedang berdiri, mengintip Edmund yang sedang diberi tindakan medis oleh beberapa dokter dan tim medis, dari jendela. Wajah dan tubuhnya masih lebam, belum semua diobati, Arshaka Dean memaksa ingin segera bertemu dengan Edmund.
Albert butuh penjelasan, ia sudah lama hidup dengan Arshaka Dean, tak sedikit pun tau tentang keadaan kelam ini. Pantaslah Arskaha Dean mengalami trauma yang tidak berkesudahan, karena siapa pun tidak akan sanggup menanggung semua kejadian kelabu ini seorang diri.
Di dalam sana dokter dan tim medis sedang berusaha yang terbaik untuk mengembalikan Edmund ke keadaan yang stabil. Semua orang terlihat serius dan fokus, tidak terganggu dengan kedatangan Arshaka Dean, meskipun sesekali terdengar teriakan dokter meminta alat-alat medis khusus.
Arshaka Dean terlihat tegang juga gelisah, ia mundur dari jendela, tidak sanggup melihat tubuh Edmund dipenuhi alat-alat medis seperti itu, meskipun selama ini hidup Edmund ditopang oleh alat-alat medis tersebut.
“Dok?”
Dokter buru-buru membuka masker medis yang dikenakannya. “Syukurlah, Edmund masih bertahan, Tuan Ars. Edmund bisa melewati masa kritis ini,” ucap dokter memberi senyuman pada Arshaka Dean.
“Tuan Ars bisa mengunjungi Edmund setelah kami selesai observasi, Edmund pasti senang bertemu dengan saudara-saudaranya.” Dokter itu melihat ke arah Albert dan Rumi dengan tersenyum hangat. “Baru kali ini, Tuan membawa mereka.”
“Terima kasih, Dok, aku akan sabar menunggu,” jawab Arshaka Dean.
“Sebelum itu, sebaiknya Tuan Ars, mengobati luka-luka itu. Mari ikuti saya,” ajak dokter itu.
***
“Kau siap bercerita, Ars?” tanya Albert.
Arshaka Dean, Rumi dan Albert sudah berada di ruang tunggu, mereka memutuskan beristirahat sebentar setelah perjalanan jauh. Arshaka Dean sedang merebahkan diri setelah mendapat perawatan untuk luka-luka di tubuhnya. Albert tidak bisa menunggu lagi, ia sudah penasaran.
“Kau tidak sabaran, Albert,” ujar Arshaka Dean, tersenyum.
“Maafkan aku, Ars,” ucap Albert.
“Baiklah, akan aku ceritakan semuanya, ini adalah rahasia sebenarnya yang aku sembunyikan, dan aku memutuskan untuk menelannya sendiri. Jadi Albert, Edmund adalah saudaraku, kami terlahir kembar,” jelas Arshaka Dean.
Arshaka Dean menceritakan semuanya, dari mulai masa kecilnya yang bahagia bersama ibu dan kembarannya, lalu perceraian orangtuanya, dan berakhir penyiksaan demi penyiksaan dari ayah Arshaka Dean, hingga Edmund berakhir koma, sampai detik ini. Berbagai keterkejutan mewarnai ruangan itu, menjadi pelengkap dari kisah suram Arshaka Dean.
“Tapi, Ars, kenapa Agatha tidak mengetahui hal itu?” tanya Albert.
Benar juga, kenapa Agatha tidak mengetahui, padahal mereka pasti pernah hidup bersama. Arshaka Dean menatap langit-langit, kisah itu kembali lagi di ingatannya, Arshaka Dean juga tidak menyangka dirinya bisa membawa orang lain pada Edmund.
“Agatha hadir setelah Edmund mengalami koma, Agatha tidak pernah bertemu dengan Edmund. Ibu tengah hamil ketika meninggalkan kami di tempat itu, dan setelah melahirkan, ibu menyerahkan Agatha. Kami merawatnya dengan baik, semua orang terlibat, orang tua itu sedikit melunak ketika kehadiran Agatha. Agatha sempat merasakan dimanja olehnya, berbeda sekali denganku,” tutur Arshaka Dean.
“Jadi foto ini ….” Albert teringat dengan satu lembar foto yang Edmund temukan di ruang baca, ia kemudian menyerahkan foto itu pada Arshaka Dean.
Arshaka Dean tersenyum. “Ah, Edmund terlihat senang, bukan? Itu menjadi foto terakhir yang diambil oleh ibu untuk kami, ibu selalu suka bermain dengan kami, tapi orang tua itu, tidak memperlakukan ibu dengan baik. Aku tidak pernah marah pada ibu, aku tau kesakitan yang ia derita, tapi sayangnya sampai detik ini orang tua itu tidak pernah mengijinkan kami untuk bertemu dengan ibu,” jelas Arshaka Dean.
Arshaka Dean melihat lamat-lamat foto itu, kerinduan sarat terlihat di wajah Arshaka Dean. Masa kecil yang tidak ingin ia ulangi lagi, masa kecil yang ingin ia hapus dalam ingatannya, tapi masa kecil itu juga yang akhirnya menyambung kehidupan Arshaka Dean hingga detik ini.
“Sekarang, biarkan aku yang bertanya.” Arshaka Dean melirik ke arah Rumi yang sedang melamun mendengar kisah Arshaka Dean. “Rumi, siapa kau sebenarnya?”