The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 8. Cadhla Mativa Sang Dokter Pribadi



Kabar yang akan disampaikan oleh Robert masih tersimpan rapi, mungkin selepas sarapan semua keterkejutan akan terjadi. Sebelum kita mendengar kabar dari Robert, mari kita cari tau kabar dari Albert terlebih dahulu. Selepas tiba di lantai dasar, Albert berpisah langkah dengan Edmund, Albert tidak bisa langsung ke meja makan, dirinya harus menyampaikan keadaan Arshaka Dean kepada dokter pribadinya.


Albert berjalan tergesa, ia ingin segera memberitahu Cadhla tentang Arshaka Dean. Dengan berbekal informasi dari Edmund yang begitu mengejutkan, Albert yakin Cadhla pasti tahu, bagaimana cara untuk segera mengatasi trauma yang diderita Arshaka Dean. Cadhla menempati satu ruangan yang khusus dirancang untuk pemeriksaan Arshaka Dean, di ruangan ini biasanya Chadla dan Ashaka Dean melakukan penelitian menyeluruh tentang penyakit yang dideritanya. Ia dan Arshaka Dean bersama-sama mencari metode yang sesuai untuk pengobatan Arshaka Dean, hingga saat ini, metode yang diusulkan oleh Chadla selalu ditolak oleh Arshaka Dean, itulah yang membuat pemeriksaan Arshaka Dean selalu terhambat.


Cadhla Mativa nama aslinya, ia adalah dokter spesialis kejiwaan atau yang sering kita sebut dengan psikiater. Cadhla direkrut langsung oleh Arshaka Dean, ia psikiater handal yang sudah dikenal di kalangan luas, ia juga dikenal sebagai penjaga rahasia yang sangat andal, itulah kenapa Arshaka Dean berani untuk menjadikan Cadhla sebagai dokter pribadinya. Ia juga penulis buku tentang kejiwaan yang selalu meraih predikat best seller.


Albert sudah sampai di depan ruangan Cadhla, ia mengetuk pintu sebelum masuk.


“Masuklah, Albert, aku tau itu kau.” Suara tenang itu selalu menjadi candu bagi siapa pun yang mendengarnya, itulah mungkin yang orang-orang suka dari Cadhla, pembawaannya selalu tenang, tidak pernah menghakimi.


“Baiklah, aku masuk, Dokter,” jawab Albert.


“Masuklah,” kata Cadhla.


Albert membuka pintu secara perlahan, satu kata yang selalu ada di kepala Albert ketika memasuki ruangan ini, nyaman. Dengan pembawaan Cadhla yang hangat dan ditunjang dengan berbagai perlengkapan di dalamnya membuat semua orang, khususnya Albert merasa nyaman.


“Ada perkembangan, Albert?” tanya Cadhla sesampainya Albert di hadapannya.


“Sepertinya kali ini keadaan Ars semakin mengkhawatirkan, aku ….” Albert berhenti berkata, ada perasaan sakit untuk membahas Arshaka Dean akhir-akhir ini.


“Ada apa, Albert? Kau bisa membaginya denganku, jangan disimpan sendiri, kita sama-sama ingin semuanya jelas, bukan?” tanya Cadhla tenang.


“Baiklah, aku akan mulai.” Albert menarik napas dalam sebelum melanjutkan melaporkan perkembangan Arshaka Dean, hal seperti ini membuat Albert berat hatinya. “Tadi malam, seperti biasa setelah semua kesenangan yang ia rasakan, ia kembali merasa ditinggalkan, padahal dia tau pasti, semuanya telah berhasil. Aku melihat Ars, lebih kesakitan dari sebelumnya, aku tidak tega melihat dia seperti itu, Dokter,” jelas Albert.


“Aku paham, Albert. Tapi sebelum itu, aku sudah bilang, panggil aku hanya dengan nama saja,” pintanya.


“Aku tidak bisa, kau adalah dokternya,” tolak Albert.


“Biasakanlah, aku memaksa,” kata Cadhla.


“Baiklah,” jawab Albert.


Cadhla berdiri, ia melangkah menghampiri Albert dan berdiri menghadap jendela di sisi Albert.


“Pertama, Albert. Kita harus menyegerakan terapi untuk Ars, bagaimanapun caranya, kita harus segera mengambil tindakan,” ungkap Cadhla.


“Tapi ia pasti akan menolak lagi, Cadhla.” Kali ini Albert menuruti keinginan Cadhla untuk memanggil namanya.


Cadhla menatap lurus mengikuti garis cahaya yang masuk dari jendela. “Albert, untuk kasus, DID. Kebanyakan pasien tidak menyadari tentang kondisinya yang tiba-tiba bertukar kepribadian, dokter yang menanganinya selalu kesulitan akan hal itu, tetapi Albert, sebenarnya kasus Ars jauh lebih sulit. Ars, menyadari dirinya mempunyai jiwa lain di dalam raganya, dan itu membuat dia selalu bisa melarikan diri dari situasi sulitnya. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memberi pengertian lebih kepada Ars untuk segera melakukan terapi dan melanjutkan pengobatan lainnya, kita harus segera mencari tau akar masalahnya,” jelas Cadhla.


“Itu akan sangat sulit, karena ada fakta yang mengejutkan dari Edmund pagi ini, Cadhla,” ucap Albert.


Cadhla menoleh, menatap mata Albert penuh selidik. “Edmund, memberitahuku bahwa dia melihat Ars dipukuli ayahnya, ia juga berkata bahwa mungkin Ars tidak akan bertahan lama. Aku tidak tau maksudnya apa, Cadhla, tapi aku rasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi,” ungkap Albert.


“Dipukuli? Aku akan mencerna ini, tetapi Albert, apa kau tidak mengetahui hal ini, tentang hubungan Ars dan ayahnya?” tanya Cadhla.


“Aku memang sudah lama bekerja dengan keluarga mereka, Cadhla, tetapi aku tidak tau lebih jauh tentang hubungan mereka. Dulu aku sibuk dengan keberlangsungan hidupku sendiri, sibuk mempertahankan hidupku sendiri. Dulu aku hanya menjalankan perintah saja, tidak sedekat seperti sekarang dengan Ars,” jelas Albert.


“Hidupmu pasti penuh petualangan, Albert. Untuk Ars, sepertinya kita hanya bisa berharap pada informasi Edmund dan sebisa mungkin kita juga harus segera meminta Ars untuk melakukan terapi,” kata Cadhla.


“Baiklah, aku akan memastikan Ars agar dirinya bersedia melakukan terapi.”


“Kita akan segera meraih kemenangan itu, Albert. Percayalah, Ars jauh lebih kuat dari itu, aku tidak bisa memastikan dekat-dekat ini, tetapi aku yakin Ars akan menemukan bahagianya sendiri tanpa melarikan diri lagi, percayalah pada kesungguhan Ars, Albert. Aku yakin harapan kita semua sama,” hibur Cadhla.


“Baiklah, Cadhla, aku akan menunggu itu. Aku harus menemui Edmund, aku sudah terlalu lama meninggalkannya. Kau juga harus sarapan, Cadhla,” pungkas Albert.


“Ayo keluar bersama-sama, Albert. Aku juga belum sarapan,” katanya.


Albert dan Cadhla melangkah bersama, mereka memutuskan mengakhiri percakapan berat itu. Mereka keluar dari ruangan itu, langsung menuju meja makan yang sudah ada Edmund dan Robert di sana. Albert dan Cadhla sama-sama melihat interaksi hangat antara Edmund dan orang-orang sekitar, hati mereka menghangat, setidaknya mereka bisa tau fisik Arshka Dean baik-baik saja meskipun psikisnya tidak.


“Sarapan itu penting karena ini merupakan makanan paling awal yang kita makan setelah bangun tidur dan kehabisan energi, apalagi otak kedua kita berada di usus.” Tipikal Edmund yang cerdas, sudah pasti ia akan mengawali semuanya dengan wawasan yang ia tau, seperti pagi ini, di tengah sarapannya ia sudah membahas tentang ilmu yang jarang orang ketahui.


Albert dan Cadhla bergabung dengan mereka. “Apa maksudmu, Edmund?” tanya Albert yang tidak sengaja mendengar penuturan dari Edmund.


“Ah, dari mana saja, Paman?” Edmund menjawab dengan pertanyaan lain.


“Aku berbincang sebentar dengan Cadhla, Edmund,” jawab Albert.


“Kau baik-baik saja, Edmund, aku dengar kau baru bangun tidur?” tanya Cadhla.


“Ah, Dokter, aku baru saja turun, iya aku telat sekali bangun, tapi Albert bilang aku sepertinya mabuk,” jawab Edmund.


“Kau pernah mabuk, Edmund?” tanya Cadhla.


“Aku tidak ingat, tapi sepertinya aku semalam mabuk parah, aku juga tidak mengerti,” jawabnya.


“Aku masih penasaran Edmund, apa maksudmu dengan otak kedua? Bukankah kita memang memiliki dua otak? Otak sebelah kanan dan otak sebelah kiri, bukan?” Albert mengalihkan pembicaraan.


“Ah itu, yang Paman katakan itu memang benar, kita memiliki dua belah otak, tapi aku sedang membahas usus. Banyak orang tidak tau tentang itu, otak kedua kita itu berada di usus, itulah kenapa perilaku kita ditentukan dengan apa yang kita makan,” jelas Edmund.


“Aku baru tahu itu, Edmund,” ujar Robert.


“Bukankah kau seorang guru, Robert, sulit sekali mempercayai itu,” canda Edmund.


“Aku serius, Edmund,” akunya.


“Aku juga seorang dokter, dan baru mengetahui hal ini darimu, Edmund,” aku Cadhla.


Bohong apa yang dikatakan dokter dan guru pribadi itu, semuanya bohong. Mereka sangat terpelajar, tidak mungkin abai dengan pengetahuan dasar itu, mereka melakukan itu agar fokus Edmund tetap satu, agar Edmund tidak terpengaruh lagi dengan ingatan-ingatan yang lainnya.


“Aneh sekali di sini ada seorang guru hebat, juga dokter yang jauh lebih pintar dariku, kenapa hal seperti ini baru kalian ketahui? Ah, intinya, otak kedua itu ada di usus, lebih tepatnya saluran pencernaan, usus dan otak saling berkomunikasi untuk kelangsungan hidup kita, jadi mulai sekarang jagalah cara berkomunikasi kalian dengan keduanya,” jelas Edmund.


“Ah, baiklah, Edmund. Terima kasih untuk informasinya, ini pengetahuan baru untukku,” kata Albert.


“Untuk sekarang, marilah kita sarapan dengan santai,” ucap Edmund.


Sarapan kali ini beda dari biasanya, sekarang kehangatan bisa dirasakan oleh semua orang, biasanya ketika Arshaka Dean ada di sisi mereka, sarapan tak ubahnya seperti medan pertempuran, penuh ketegangan. Bukan hal mudah bagi penghuni mansion untuk berbaur seperti ini, ada percikan keseganan ketika Arshaka Dean hadir, ditambah dengan wibawa yang diperlihatkan Arshaka Dean, tidak bisa ditaklukkan dengan mudah.


Mereka melanjutkan berbincang dengan seru dan penuh informasi-informasi yang bermanfaat. Semuanya menikmati sarapan dengan nyaman, tetapi tidak dengan Robert yang sejak tadi menahan rasa gelisah. Robert harus secepatnya memberitahu Albert tentang dirinya.