The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 42. Provokasi



Beberapa hari berlalu, setelah saling jujur satu sama lain, Agatha dan Arshaka Dean menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama. Seperti hari ini, Arshaka Dean dan Agatha sedang berbincang asyik ditemani Albert.


Arshaka Dean tak banyak bicara, ia masih tidak menyangka jika adiknya akan menerima kondisinya. Menurut Arshaka Dean, gangguan kepribadian seperti yang dialami dirinya, pasti sangat sulit untuk diterima, karena banyak yang menyangsikan kebenarannya.


Tapi, ketika Agatha mengetahui semuanya, Agatha bisa bersikap biasa saja. Apa yang ditakutkan oleh Arshaka Dean tidak terjadi, ia sempat menyesal tidak memberitahu adiknya dari dulu. Karena Agatha sudah mengetahuinya, Arshaka Dean bisa lebih tenang, bisa lebih fokus lagi.


Setelah kembali sebagai dirinya, Arshaka Dean banyak memandang Rumi, secara diam-diam. Wajah cerah Rumi selalu terbayang di setiap kesempatan, apalagi setelah terakhir kali mereka saling berinteraksi. Wajah merah Rumi, sudah menjadi candu baru untuk Arshaka Dean, ia nyaman melihat reaksi Rumi terhadapnya.


Pertama kali Arshaka Dean merasakan ranum dari seorang perempuan. Arshaka Dean tidak pernah bisa melupakan rasa lembut dan harum ranum Rumi. Terbersit di benaknya untuk mengulanginya lagi, tapi sebelum itu terjadi ia harus meyakinkan dan mencari tau perasaannya sendiri terhadap Rumi.


“Kakak, jika kau seperti ini terus tidak akan ada kemajuan,” ujar Agatha.


Agatha gemas melihat keduanya, jelas-jelas saling menunjukkan ketertarikan tetapi mereka masih diam di tempat. Agatha seratus persen yakin, jika Arshaka Dean sedang jatuh cinta, tapi memang dasarnya dingin, Arshaka Dean lambat dalam bertindak.


“Apa yang kau bicarakan?” tanya Arshaka Dean.


“Rumi. Kakak mencintainya, bukan?” jawab Agatha.


“Dari mana kau tau? Jangan asal bicara seperti itu,” gerutu Arshaka Dean.


“Aku tau sekali, Kakak, tidak perlu ada penjelasan. Albert, kau juga menyadari itu, bukan?” tanya Agatha pada Albert mencari dukungan.


Albert tersenyum. “Kali ini kau tidak bisa menutupinya, terlihat sangat jelas,” ujar Albert.


“Lihat,” pekik Agatha, senang. “Semua orang tau, Kakak, kau payah dalam urusan perempuan,” kata Agatha.


“Kalian—“


“Apa, Kakak?” sambar Agatha memotong perkataan Arshaka Dean. “Jangan sampai menyesal, Kakak, dan jangan terlalu lama, Rumi bisa saja berpaling,” lanjut Agatha, memprovokasi.


Rumi ada pekerjaan hari ini, ia harus mengajar kelas daring. Arshaka Dean memang membebaskan Rumi, tapi tetap harus dalam aturan dirinya. Meski aturannya terbilang nyeleneh, tetapi setidaknya Rumi masih bisa melakukan hobinya.


Rumi pun sama dengan Arshaka Dean, dia tidak bisa melupakan aroma dominan Arshaka Dean. Setelah bertemu dengan Edmund, perasaannya kian menggebu. Tapi hingga saat ini, ia tidak berani menatap mata Arshaka Dean secara langsung, sejak kejadian di depan penangkaran kupu-kupu.


“Hai, Rumi, kau terlihat sibuk sekali, omong-omong aku suka gaya berpakaianmu,” ucap Watson yang baru saja tiba di mansion Arshaka Dean.


“Kau? Aku baru sadar, kau ternyata sering sekali datang ke sini,” ujar Rumi.


Arshaka Dean yang melihat keakraban mereka terlihat terganggu. Dadanya tiba-tiba saja sesak, Arshaka Dean gelisah melihat interaksi Rumi dengan Watson.


“Wah, jika seperti ini, cepat atau lambat Rumi akan berpaling. Lihatlah, Kakak, kau seharusnya contoh temanmu itu.” Agatha melihat ekspresi Arshaka Dean, kian tertekan, itu artinya Agatha berhasil.


“Jika kau tidak ada pergerakan, sepertinya aku terpaksa harus mendukung temanmu,” ucap Agatha, semakin memanas-manasi Arshaka Dean.


“Jaga bicaramu itu, kau tak bisa bandingkan aku dengan orang itu,” kata Arshaka Dean, kesal.


“Membandingkan dengan Kakak? Apa yang harus aku bandingkan, Kakak bahkan satu level di bawah dia.”


Agatha sengaja memprovokasi Arshaka Dean lebih jauh lagi, jika tidak ada ancaman yang berarti, Arshaka Dean tidak akan bertindak. Tapi hal ini bukan misi mafia, Arshaka Dean tidak bisa menurunkan anak buahnya.


Ini membuatnya frustrasi, di satu sisi dirinya bingung dengan perasaannya terhadap Rumi, di sisi lain, ia juga tidak suka jika Rumi berinteraksi dengan pria lain.


“Akan aku buktikan padamu, aku lebih baik dari dia,” ketus Arshaka Dean.


“Aku tidak sabar menunggu, tapi aku tidak bisa berharap lebih padamu,” jawab Agatha.


“Mereka sudah beberapa kali bertemu, Ars. Kebetulan setiap kali Watson datang, kau sedang tidak ada di sini,” jelas Albert.


“Kau bisa jauhkan mereka untukku, Albert?” tanya Arshaka Dean menatap tajam pada Albert.


“Halo, Kakak.” Agatha melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Arshaka Dean. “Kau tidak bisa meminta tolong untuk hal ini, kau harus berjuang sendiri, bagaimana mungkin memaksa perempuan seperti itu,” kata Agatha.


“Kau diamlah, kau tidak akan mengerti, ini urusanku,” jawab Arshaka Dean.


“Aku ini perempuan, tentu saja aku tau apa yang Rumi inginkan,” ujar Agatha.


“Lalu apa itu?” tanya Arshaka Dean.


“Cari tau sendiri!” ketus Agatha.


Agatha meninggalkan Arshaka Dean dan Albert, ia harus melarikan diri sebelum kakaknya berteriak padanya. Agatha sudah menyalakan hati Arshaka Dean ke mode perang, tinggal menunggu saja pergerakan yang akan dilakukan Arshaka Dean.


Jika Arshaka Dean berhasil menangkap pesan tersirat yang disampaikan Agatha, Arshaka Dean pasti akan berhasil menaklukkan Rumi. Tapi lihat saja nanti, apa yang akan terjadi pada mereka, Agatha sendiri tidak berani berekspektasi terlalu tinggi.


“Ars…!” teriak Watson begitu melihat Arshaka Dean untuk pertama kalinya.


“Berisik!” bentak Arshaka Dean.


“Kau tau, aku sangat merindukanmu, Ars. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, kau baik-baik saja?” ujar Watson.


“Jangan berlebihan, aku muak melihatmu,” ketus Arshaka Dean.


“Kau jahat,” katanya, sendu.


“Omong-omong, kau sudah melihat dia?” Tangan Watson menunjuk ke arah Rumi. “Dia sangat cantik, aku tertarik padanya. Kau tau, aku langsung jatuh cinta pada pertemuan pertama, dia sulit ditaklukkan, apalagi dia sangat seksi.” Mata Watson tidak berpaling dari Rumi.


“Jika aku mendekatinya, kau akan ijinkan aku, bukan? Aku sangat penasaran padanya, pasti sangat puas menghabiskan waktu dengannya. Kau juga harus ijinkan aku untuk berkencan dengannya, aku tidak sabar tidur dengannya,” aku Watson membuat kepala Arshaka Dean mendidih.


Arshaka Dean mendekati Watson, tanpa aba-aba, tangannya mencengkeram kerah baju Watson. Mata Arshaka Dean terlihat menakutkan, dia seperti siap membunuh Watson saat itu juga.


“Apa-apaan kau ini?” Watson berteriak panik.


Arshaka Dean tidak menjawab, dia mengangkat tubuh Watson ke atas, membuat Watson ketakutan. Albert yang melihatnya panik, ia berusaha melerai Arshaka Dean, tidak bisa, Arshaka Dean sudah di ujung kemarahan. Arshaka Dean tidak terima jika Rumi diperlakukan layaknya objek.


“Hey, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”


“Kau! Jangan pernah berani mendekatinya, atau kau akan tau akibatnya!” tegas Arshaka Dean dan ia lepaskan Watson begitu saja.


“Ada apa denganmu?!” Watson terjatuh dan mengaduh kesakitan, beruntung Albert ada di dekatnya, Albert menolongnya.


Arshaka Dean tidak peduli dengan teriakan marah Watson, ia lebih marah lagi mendengar ucapan Watson tadi. Sepertinya Arshaka Dean memang sudah jatuh cinta, mungkin sudah saatnya ia menyadari perasaannya sendiri.


Ucapan Watson membuat Arshaka Dean berpikir, ucapan Watson semuanya benar. Tapi Arshaka Dean tidak suka mendengar orang lain mengatakan seperti itu tentang Rumi, apalagi perkataan Watson terlalu merendahkan perempuan.


Arshaka Dean berjalan, kemudian mendekati Rumi. Tanpa ribut sapa, maupun peringatan, Arshaka Dean tiba-tiba menarik tangan Rumi yang sedang asyik menulis laporan.


“Aw, sakit ….”


“Ikut denganku!”