
Teriakan seseorang membuyarkan pembicaraan mereka, seketika suasana menjadi penuh dengan kepanikan. Pintu mansion sudah terbuka dengan lebar, perempuan itu masuk, ia berjalan dengan anggun, tak lantas membuat orang-orang terpesona melihatnya, terutama bagi Albert.
Kedatangannya kali ini bagaikan bencana, Arshaka Dean masih belum sadarkan diri, tidak mungkin Albert memberitahu yang sebenarnya. Satu kata yang ada di pikiran orang-orang yang tengah berdiri ini, panik.
“Albert, sepertinya doamu langsung dikabulkan,” ujar Watson melihat perempuan cantik memasuki mansion. Watson sepertinya menjadi satu-satunya yang melihatnya dengan cara yang berbeda, Watson tidak tau saja kepanikan seperti apa yang sedang menjalar di dalam mansion.
“Maksudmu?” tanya Albert, sebenarnya Albert tidak peduli dengan ucapan Watson, ia hanya menjawab spontan saja.
“Pendamping hidup yang aku inginkan sedang berjalan ke arah kita,” kata Watson.
Albert enggan menjawab, tidak semuanya harus dijawab, bukan? Albert masih terus menatap orang yang baru saja sampai ini, ia panik dan khawatir. Ia bahkan tidak punya waktu untuk mengagumi sosoknya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum-sebelumnya.
“Aku pulang …! Tidak ada yang menyambutku? Kaku sekali orang-orang di mansion ini,” ujarnya sembari memasuki mansion.
“Agatha …,” lirih Albert.
Benar, Agatha, adik dari Arshaka Dean baru pulang, sudah dua hari lamanya ia tidak pulang, kenapa ia harus hari ini ia kembali. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk dirinya datang. Hati Albert bergetar, bukan, bukan karena ia terpesona, melainkan karena ia takut Agatha menanyakan keberadaan Arshaka Dean.
“Ah, kalian menyambutku. Lihat aku, Albert.” Agatha berputar, maksud hati ingin pamer dengan keanggunan gaun yang ia kenakan saat ini. Albert hanya melihatnya sekilas, ia tidak terlalu antusias kali ini. “Indah, bukan? Aku baru membelinya, bagaimana?” tanya Agatha.
“Bukan hanya indah, tapi kau benar-benar mengagumkan.” Ini Watson yang memberi pujian, rupanya Watson ingin merubah haluan setelah mendapat penolakan telak dari Rumi.
“Oh, kau berada di sini. Halo teman Kakak,” sapa Agatha.
Agatha menyadari seseorang tengah memperhatikannya. “Kau membawa kekasihmu kali ini. Kenapa kau membawanya kemari? Di sini suasananya sangat suram. Kau pasti tidak akan berlangsung lama menjalin hubungan jika kau berkencan di tempat ini. Bawalah kekasihmu ke kota, ajak keliling berbelanja.” Agatha menghampiri Watson, dan berbisik di telinganya. “Dia pasti tidak akan keberatan, jika kau ajak tidur bersama,” lanjutnya, tersenyum jahil.
Watson tidak bisa mencerna perkataan Agatha sekaligus, ia terkejut, tentu saja. Pertama kali melihatnya ia sudah terpikirkan untuk mendekati Agatha, tetapi langsung ditampar realita ketika Agatha memanggilnya “teman Kakak” ia tertolak lagi. Tiba-tiba saja Agatha memberikan saran berkencan kepadanya, itu sungguh di luar dugaan.
“Dia … bukan kekasihku …,” kata Watson sendu.
“Jangan malu-malu begitu, teman Kakak,” jawab Agatha, menggodanya.
“Aku pekerja baru di sini,” sahut Rumi, ia mengulurkan tangan. “Perkenalkan, Aku Rumi. Senang bertemu dengan Anda,” kata Rumi.
“Pekerja baru?” Agatha terlihat heran.
“Dia yang akan membantuku, Agatha. Mulai dari kemarin ia bekerja di sini, membantu kakakmu dan juga aku, ia juga tinggal bersama kita, kamarnya tepat di sebelah kamarmu. Kuharap kedepannya kau bisa berteman baik dengannya,” jelas Albert.
“Ah, baiklah, aku mengerti. Oh, hey, kenapa kau tinggal di sini? Kau tidak ketakutan dengan orang-orang di sini, terutama kakakku, hidupmu pasti suram jika berurusan dengan dia,” kata Agatha.
“Agatha …,” tegur Albert.
“Ah, aku lupa, di sini ada orang yang berada di pihak Kakak. Di mana dia sekarang, Albert?” tanya Agatha membuat Albert terkejut.
“Dia … ada di atas, apa perlu kupang—“
“Tidak perlu memanggilnya, Albert. Lagi pula aku tidak akan lama di sini, aku akan keluar lagi, mungkin dua hari lagi baru aku pulang, aku ingin bersenang-senang sampai puas. Sampaikan salamku pada manusia dingin itu, Albert. Aku tidak ingin menemuinya, dia pasti akan melarangku lagi,” ujar Agatha panjang lebar.
Meskipun perkataannya terpotong oleh Agatha, setidaknya ada lega di hatinya. Albert tadi hanya berbasa-basi saja, ia tidak mungkin memanggil Arshaka Dean yang masih belum tersadar itu, ia mencoba bersikap seperti biasanya agar Agatha tidak curiga.
“Hendak ke mana kali ini?” tanya Albert, ia merasa harus tau, selain Agatha adalah adik dari tuannya, ia juga harus memastikan belahan hatinya aman, bukan?
“Bersenang-senang. Sudahlah, aku bisa telat jika terus berbincang dengan kalian. Aku harus membawa sesuatu, ada yang tertinggal kemarin, aku tidak bisa membeli di tempat biasa, itu aku dapatkan sangat jauh, tidak mungkin aku membelinya secara online. Ah, aku terlalu banyak bicara, aku pergi dulu. Bye,” kata Agatha.
“Baiklah, senang bertemu denganmu,” jawab Rumi.
Agatha berlalu, ia tidak ke kamarnya, melainkan pergi ke satu ruangan di mana satu koper (yang sengaja ia tidak bawa ke kamarnya) berada. Ia membuka koper itu, lalu membawa sesuatu yang tidak jelas bentuknya, juga membawa semacam jurnal dan beberapa lembar cek, entah untuk apa. Setelah semua yang ia butuhkan didapat, ia kembali menutup kopernya lagi, lalu berjalan ke arah Albert dan lainnya berada.
“Sudah kudapatkan, aku pergi dulu,” pamitnya.
“Hati-hati …!” teriak Albert.
“Kau tidak perlu repot-repot, aku tau kau menugaskan anak buahmu untuk membuntutiku,” jawabnya tidak menoleh sama sekali.
“Dia lucu, Albert. Aku akan mendekatinya mulai sekarang, aku juga akan meminta ijin, Ars. Apa dia akan memberiku ijin, jika adiknya kudekati, Albert?” tanya Watson, ia masih setia menatap kepergian Agatha, sekali tiga uang dengan Albert. Para pengagum rahasia ini berkumpul.
“Sebelum kau meminta ijin, pastikan dulu Ars bangun dari tidurnya, Watson. Kau tidak bisa meminta ijin kepada Edmund,” jawab Albert.
“Di sini gelap sekali,” kata Watson.
“Dia ceria sekali, sangat berbeda dengan Ars. Aku bisa merasakan suasana langsung cerah ketika ia berada di mansion, ia tidak main-main,” ujar Rumi.
“Benar, dia—“
“Karena itulah, aku langsung tertarik padanya,” potong Watson.
“Kurasa dia sudah jelas-jelas menolakmu, Watson,” ucap Rumi.
Watson menoleh. “Kau kejam sekali, Rumi. Aku menyesal sempat terpesona padamu,” katanya.
“Aku tidak perlu minta maaf, memang itulah faktanya,” balas Rumi.
“Benar-benar kejam,” dengusnya.
“Albert, kau mau menemaniku bermain golf?” tanya Watson putus asa.
“Aku tidak punya tenaga untuk itu, Watson. Pikiranku sedang berkecamuk, aku takut bukan hanya bola golf yang aku pukul, aku juga takut jika aku salah melampiaskan,” jawab Albert, menolak ajakan Watson.
“Kau juga menolakku, Albert? Ada apa dengan hari ini? Semua orang begitu kejam padaku,” kata Watson.
“Maafkan aku, Watson. Untuk kali ini aku tidak bisa membantumu, aku harus fokus pada Ars. Aku harus memastikan Ars tersadar dengan mata kepalaku sendiri, dengan begitu aku bisa tenang. Aku juga tidak tau apakah Edmund atau Ars yang akan bangun, kuharap kau mengerti, Watson,” jelas Albert.
“Aku mengerti, tapi bukankah kau juga harus mengalihkan perhatianmu, kau juga butuh bersenang-senang, Albert. Ars, pasti baik-baik saja, di atas sana ia ditemani Chadla. Ayolah,” ajaknya.
“Maafkan aku, Watson,” tolak Albert.
“Aku tidak bisa memaksa, Albert?”
“Aku harus melihat Ars, aku pergi ke atas dulu, Watson. Bersenang-senanglah,” pungkas Albert.
“Dia meninggalkan aku.” Ia berpaling pada Rumi. “Rumi, maukah kau ikut denganku bermain golf?” tanyanya.
Rumi tidak menjawab, ia membuang muka dan mulai berjalan naik mengikuti Albert. Watson mematung, seketika waktunya terhenti, baru kali ini ada perempuan yang berani menolakkan terang-terangan seperti itu.
“Lebih baik aku pergi saja,” ucapnya pada dirinya sendiri.