The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 20. Perdebatan Alot



Arshaka Dean masih dalam pelukan perempuan yang datang tiba-tiba ke mansion-nya, ia tidak tau apa yang terjadi, tetapi sukses membuat kepalanya sakit. Permasalahan ini tidak akan selesai, jika dia tidak segera menanyakan tujuannya datang ke mansion.


“Lepaskan!” seru Arshaka Dean tetapi tidak digubris oleh perempuan itu.


“Lepaskan! Apa kau ingin membuatku mati!” Pelukan perempuan itu semakin dalam, hingga sulit bagi Arshaka Dean untuk bergerak.


“Tidak akan! Aku sudah lama merindukanmu, biarkan aku tetap seperti ini,” tolak perempuan itu, tidak ada cara lain, Arshaka Dean melepaskan pelukannya dengan sedikit memaksa tetapi tidak menyakitinya.


“Apa-apaan ini? Dari mana kau?” tanya Arshaka Dean penuh selidik.


“Kakak …,” ucapnya lirih.


Kedua orang yang mematung melihat interaksi mereka, saling bertukar pandang, lalu kembali lagi fokus dengan kedua orang di depannya. Watson mendekati Albert, ia sepertinya tidak punya ide tentang siapa yang sedang berhadapan dengan Arshaka Dean ini.


“Albert?” panggil Watson pelan.


“Iya, ada yang bisa kubantu?” jawab Albert.


“Tidak, aku hanya penasaran saja,” ujar Watson.


“Tentang apa, Watson? Jika aku tau, aku pasti akan membantumu,” jawab Albert.


“Siapa?” tunjuk Watson dengan tangannya. “Dia siapa, Albert? Kekasih, Ars?” tanya Watson penasaran, pasalnya ia belum pernah sekalipun melihat sosok perempuan misterius ini.


“Tidak mungkin, Watson. Ars, sedang tidak dekat dengan perempuan mana pun. Apa … kau tidak pernah melihatnya, Watson?” Sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan Watson, Albert harus memastikan sesuatu untuk meyakinkan dirinya sendiri, di mansion ini informasi sedikit pun, harus dipastikan keamanannya. Tidak heran jika Albert melakukan penyelidikan secara cepat.


Watson tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah polos, ia benar-benar tidak tau.


Jika begini, Albert yakin bahwa Watson memang tidak tau tentang perempuan itu, Albert tersenyum. “Dia adiknya.” Albert menatap lagi kedua kakak beradik itu, ia tidak tau saja jika Watson terkejut bukan main dengan berita ini.


“Adik?!” pekiknya nyaris berteriak, untung saja tidak disadari oleh Arshaka Dean.


“Iya, kau tidak salah dengar, Watson,” jawab Albert masih dengan senyuman di wajahnya. Dari sekian banyak hari, ini hari paling istimewa, di mana Albert tampak lebih sering tersenyum dibanding hari-hari biasanya.


Kedua kakak beradik ini masih disibukkan dengan saling tolak menolak, adik perempuannya yang terus memaksa memeluk Arshaka Dean, sedangkan Arshaka Dean yang tidak kenal lelah untuk menolaknya. Bila diperhatikan tanpa melihat latar belakang mereka, interaksi mereka sangatlah menggemaskan.


Agatha Aguilina Dean namanya, ia terpaut tujuh taun dengan Arshaka Dean, ia merupakan adik perempuan Arshaka Dean, adik kandung satu-satunya yang masih berada di pihaknya. Agatha Aguilina memang perempuan, tetapi jangan salah, ia salah satu alasan yang membuat kepala Arshaka Dean pening dengan kedatangannya. Agatha perempuan yang jauh dari kata anggun, hidupnya adalah masalah, hampir setiap hari ia selalu menemukan bahan untuk dijadikan sebuah permasalahan.


“Ada apa dengan sikap manismu ini? Kau bermasalah dengan siapa lagi kali ini?” cecar Arshaka Dean.


“Kakak, bisakah kau bersikap sedikit peduli terhadapku?” protes Agatha.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Arshaka Dean tegas.


“Kakak, kali ini, sungguh … aku … bolehkah aku ….” Agatha berhenti berkata, ia menautkan kedua jari telunjuknya, bersikap seperti anak kucing. “Bolehkah, aku tinggal di sini?” tanya Agatha dengan suara sendu.


“Apa?!” Arshaka Dean terkejut hingga membuat suaranya meninggi tanpa sengaja.


“Aku mohon,” kata Agatha.


“Tunggu … tunggu dulu, biarkan aku tenangkan diri dulu,” ujar Arshaka Dean.


Albert yang mendengar hal itu, tertarik dan mencoba untuk ikut serta dengan perbincangan kedua adik kakak ini, Albert mendekat. “Kenapa kau ingin tinggal di sini, Agatha? Maksudku, kenapa dengan tempat tinggalmu?” tanya Albert hati-hati.


“Kau! Astaga, aku tidak sanggup berkata-kata lagi, tapi aku menolak rencanamu itu, kau bisa cari tempat lain, kenapa harus ke tempatku,” tolak Arshaka Dean.


“Kau tega kepadaku? Aku adikmu? Kau ingin aku berkeliaran di jalanan? Kau tidak punya hati, jahat!” katanya sedikit membentak.


“Kau tau, aku sudah tidak ingin berurusan dengan masalahmu lagi, kau sudah dewasa, cobalah hidup sendiri,” kata Arshaka Dean masih keberatan dengan permintaan Agatha.


“Mansion ini besar, banyak kamar, tidak bisakah aku tempati salah satunya, kau benar-benar ingin membuangku?” geram Agatha.


“Di sini memang banyak kamar, semuanya sudah terisi, tak ada lagi yang bisa kau pakai, kau carilah apartemen, atau kucarikan saja rumah untukmu, biarkan aku yang bayar semuanya,” kata Arshaka Dean.


“Bohong! Pasti ada salah satu yang masih kosong, kau benar-benar membuangku? Aku tidak butuh uangmu, aku bisa membiayai hidupku sendiri, aku hanya tidak ingin tinggal seorang diri, aku masih adikmu, bukan?” Agatha semakin tidak sabaran.


Arshaka Dean bukan membuang Agatha, hanya saja banyak yang dirinya pertimbangkan ketika harus menerima orang lain di tempat tinggalnya. Salah satu faktor terbesarnya, adalah tidak ada seorang pun yang tau tentang dirinya yang mengidap DID (dissociative identity disorder), termasuk Agatha, ia menyembunyikannya dengan rapat.


“Tidak ada kamar kosong untukmu, Agatha!” tegas Arshaka Dean.


“Satu kamar di sebelahmu tidak ada yang menempati, Ars,” ucap Albert menghantam kepala Arshaka Dean, membuat Agatha yang mendengarnya kegirangan.


“Albert!” geram Arsahaka Dean.


“Mulai sekarang kau menjadi kakakku, Albert,” ujar Agatha dengan senyum mengembang di wajahnya, sedang Arshaka Dean menatap Albert dengan tatapan membunuh. Watson yang melihat itu hanya tersenyum tak bisa berkata apa-apa.


“Kau benar-benar mafia yang kejam, kau tidak punya hati.” Agatha memalingkan wajahnya, ia menyilangkan tangannya di depan dada.


“Hatiku sudah lama mati, kau tidak perlu repot dengan itu!” Suaranya meninggi.


“Ars, tidak bisakah kau memberi ijin kepadanya, ia sudah membawa barang-barangnya di luar,” ujar Albert.


“Albert, kau ada di pihak siapa? Kenapa kau mendukungnya, kau tau, masalah seperti apa yang harus aku hadapi ketika bersamanya, kau bahkan tak akan menyangka dengan apa yang sudah ia perbuat,” jelas Arshaka Dean.


“Aku berjanji tidak akan berulah di tempat ini, aku mohon, Kakak. Aku tidak ingin berurusan dengan orang tua itu,” kata Agatha.


“Ars?” panggil Albert ketika Arshaka Dean hanya termenung.


“Kakak, aku mohon, aku tidak mau tinggal sendirian, Kakak. Sekali ini saja, bantu aku.” Agatha tak henti memohon, tangannya ia gunakan kembali untuk menggenggam tangan Arshaka Dean.


“Sekali? Aku sudah sering terlibat dengan masalahmu, sudahlah, bawa saja barang-barangmu ke atas, aku sudah muak,” pungkas Arshaka Dean.


“Apa aku diijinkan tinggal di sini?” tanya Agatha memastikan.


“Terserahlah.” Arshaka Dean menghempaskan tangan Agatha.


“Mari aku bantu kau membawa barang-barangmu, Agatha, kau sudah mendapat ijin,” kata Albert.


“Benarkah?” Agatha tersenyum, anggukan Albert menjadi jawabannya.


“Yes!” Agatha memeluk Arshaka Dean. “Terima kasih banyak, Kakak.” Ia mencium kedua pipi Arshaka Dean. Belum sempat Arshaka Dean bertindak, Agatha sudah lebih dulu berlari keluar diikuti Albert, menyisakan Arshaka Dean dan Watson. Watson diam-diam tersenyum, mengamati perubahan sikap Arshaka Dean sungguh sangat menarik.


“Aku tidak menyangka kau akan kalah oleh seorang wanita,” goda Watson, tersenyum puas.


“Kau! Diamlah, tutup mulutmu itu!”