
Malam ini sunyi, mansion sudah sepi dari aktivitas para pekerja, Albert keluar dari mobil, ia baru saja tiba. Ia melangkah gontai, hatinya masih dirundung resah, memikirkan tuannya yang tengah terbaring lemah.
Karena Chadla terlampau bahagia atas kabar yang dibawa oleh Arshaka Dean, dirinya lupa mengabari Albert. Sebelum ia pergi, Albert berpesan kepada Chadla untuk menghubungi dirinya jika sesuatu terjadi pada Arshaka Dean. Chadla terlupa, akan hal itu, jadilah Albert pulang dalam keadaan paling sendu.
Ketika di acara tadi, Albert tidak bisa menikmati kemeriahan acaranya, ia juga hanya berbincang seadanya. Setelah penandatanganan proyek yang tengah digarap, Albert langsung bergegas, ia tidak mengikuti acara perjamuan, ia tidak rela meninggalkan tuannya yang sedang berjuang sendirian.
Albert masuk, mansion besar ini memang selalu sepi, menambah pilu di hati Albert. Semua kemewahan yang ada di dalamnya, tak serta merta mampu menghibur hatinya yang tengah kalut. Ia tidak akan pergi ke mana pun lagi hari ini, begitu ia memasuki mansion, yang menjadi tujuan utamanya adalah kamar Arshaka Dean, ia langsung saja menuju tangga melingkar yang menjadi pijakan untuk mengantarkan dirinya melihat Arshaka Dean.
Harap di hatinya tak pernah berhenti ia ucapkan, hembusan napas kasarnya menandakan jika Albert tengah menahan gejolak sakit di dadanya. Ia tidak tega, jika ia sekali lagi harus melihat tuannya terbaring tak berdaya. Albert kecewa, kecewa pada dirinya sendiri, hembusan napas kasarnya menandakan jika dirinya putus asa pada keadaan, tapi tak mungkin menyerah begitu saja. Baktinya pada Arshaka Dean tidak akan pernah ada batasnya, karena pada akhirnya Arshaka Dean adalah rumahnya.
Ia tiba di depan kamar Arshaka Dean, ia coba menenangkan diri, perlahan ia sentuh pintu besar itu, dengan sekali tarikan napas, Albert membuka pintu.
“Ars!” pekiknya.
Albert panik, Arshaka Dean tidak ada di tempatnya. Tergesa, Albert mencari ke segala tempat di kamar itu, tidak ada, Arshaka Dean tidak ada, ia tidak menemukannya di mana pun. Albert cepat-cepat keluar, ia palingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Arshaka Dean, hingga matanya menangkap sosok perempuan di ujung sana.
“Rumi …!” Ia berteriak, sudah panik, benar-benar panik, napasnya memburu, pikirannya sudah ke mana-mana, Albert berlari.
Rumi menoleh, ia lihat Albert berlari ke arahnya. “Albert?” ucapnya.
“Rumi … apa yang terjadi? Di mana Ars? Cepat kau beritahu aku, di mana dia? Tidak ada hal buruk terjadi, bukan? Rumi, kumohon, jawablah.” Albert memberondong tanya dalam panik yang coba ia kendalikan.
“Wow, wow, tenang, Albert. Tenangkan dirimu, atur napasmu terlebih dahulu,” jawab Rumi.
“Biar saja, Rumi. Cepat katakan di mana Ars berada?” desaknya.
Tangan Rumi menunjuk ke arah pintu ruangan Chadla. “Tenang dulu, Albert. Ars ada di da—“
Belum juga tuntas Rumi memberi penjelasan, Albert sudah lebih dulu membuka pintu ruangan Chadla, kasar.
“Ars!” teriaknya, ia jelas melihat Arshaka Dean di sana. Arshaka Dean dan Chadla serempak menoleh. Mereka sedang berbincang, terpotong oleh teriakan Albert.
“Albert? Kenapa kau berteriak di tempatku?” tegurnya.
“Ars, kau sudah sadar? Kau tidak apa-apa? Apa yang sakit, Ars? Katakan padaku.” Ia lega, hatinya perlahan mulai diterangi sinar terang.
“Albert, kau tidak perlu seperti itu, kau lihat, aku baik-baik saja,” ucap Arshaka Dean.
“Ia baru saja kembali, Albert, jangan khawatir lagi, kau juga sudah boleh tenang,” timpal Chadla dengan senyum hangat seperti biasa.
“Astaga, kenapa kau tidak memberitahuku, Chadla? Kau sudah berjanji padaku, akan terus melaporkan situasi. Kenapa kau tidak memberitahu kabar besar ini padaku?” tanya Albert.
“Maaf, Albert. Aku hendak memberitahumu sebelum kau datang dan menerobos masuk tadi. Tenang Albert, kau pasti akan lebih senang mendengar kabar lainnya,” jelas Chadla.
“Kabar tentang apa?” tanyanya.
“Ars setuju untuk melakukan terapi, Albert. Dia sudah bersedia, kau bisa tidur dengan nyenyak mulai sekarang,” jelas Chadla.
“Kau bilang apa? Ars ….” Albert gembira, wajahnya ditegakkan, ia tidak mungkin salah dengar.
“Aku setuju, aku akan melakukan terapi, Albert. Kau pasti puas, bukan? Ini permintaanmu dari lama, bukan? Iya, aku setuju, aku ingin hidup lebih lama, Albert,” sela Arshaka Dean.
Albert menitikkan air mata, Albert yang dikenal paling bijaksana, dengan tingginya yang menjulang, tak kuasa menahan rasa yang membuncah di dadanya. Albert hidup kembali, tuannya telah memutuskan sikap.
“Hey, kenapa kau bersikap berlebihan seperti itu, Albert? Ini bukan hal yang besar, kenapa kau menangis? Albert aku masih di sini, aku tidak jadi mati,” ujar Arshaka Dean.
“Aku … merasa … senang, Ars. Aku tidak berlebihan, aku benar-benar gembira,” kata Albert.
“Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, Albert. Ini di luar dugaanku, aku tidak pernah berpikir akan secepat ini, kau berhasil, Albert,” ucap Chadla.
“Tidak,” sanggah Albert. “Ini semua terjadi berkat kau juga, Chadla, terima kasih sudah bersama kami hingga kita sama-sama sampai di titik ini. Kita semua berhasil, Chadla,” ujar Albert.
“Perjuangan kita tinggal tersisa sekali lagi, Albert, dan akan segera mencapai kemenangan. Benar begitu, Ars?” tanya Chadla.
“Kalian semua terlalu berlebihan, ini bukan sesuatu yang harus dirayakan, ini hal biasa.”
Arshaka Dean memalingkan wajahnya. Sesungguhnya Arshaka Dean tidak tau harus menyikapi situasi saat ini seperti apa, hatinya perlahan menghangat. Hati yang selama ini selalu tertutup rapat, bahkan nyaris membeku, sedikit demi sedikit mulai terbuka, tidak lebar, tapi cukup untuk rasakan penerimaan itu masuk ke relung hatinya.
“Albert, aku ingin hidup, sudah lama aku tidak merasakan kehidupanku sendiri. Aku ingin merasakan itu kembali, meskipun tidak akan terasa sama seperti dulu lagi, tapi itu tidak masalah, aku ingin hidup,” kata Arshaka Dean.
“Perlahan-lahan, Ars. Kita tidak bisa melakukannya sekaligus, kau sudah mau mengikuti saranku saja, itu sudah awal yang sangat bagus. Aku tidak akan memaksamu, aku sangat siap jika kau membutuhkanku, kapan pun itu. Kita sama-sama lewati ini dengan tenang, Ars, kau harus siap dengan semuanya,” jelas Chadla.
“Lalu, apa yang bisa kubantu, Ars?” tanya Rumi, ia ada di sana, ia ada sejak Albert memasuki ruangan Chadla. Rumi juga mengikutinya, Rumi mendengar semua ucapan mereka, tetapi tidak ada kesempatan baginya untuk menyela, hingga semuanya hening.
“Rumi? Kau ada di sini? Astaga, maafkan aku Rumi, aku tidak menyadarinya,” seru Albert.
“Apa yang bisa kubantu, Ars? Aku ingin ikut membantumu,” ulangnya.
“Hey, bukankah kau marah padaku tadi? Kenapa tiba-tiba ingin membantuku?” tanya Arshaka Dean, ia belum puas menggodanya, ternyata.
“Marah?” tanya Albert, heran.
“Ah, ti-tidak ….”
“Itu alasannya kau diam di depan pintu, Rumi?” tanya Albert menyadari sesuatu.
“Wah, kau menguping pembicaraan kami, Rumi? Sungguh berani sekali,” timpal Arshaka Dean.
“Tidak! Bukan seperti itu, aku ….”
“Tidak apa-apa, Rumi. Kau tidak dilarang untuk mengetahui semua ini, kau sudah berada di sini, itu artinya kau sudah bagian dari kami, terima kasih sudah mengerti keadaannya. Aku sangat berterima kasih padamu,” ungkap Albert, bijaksana.
“Kau bisa mulai membantuku, Rumi.”
Wajah Rumi yang tadi tertunduk, ia angkat seketika, melihat ke arah Arshaka Dean.
“Kau bisa membantuku, dimulai dengan cara kau menatapku, Rumi. Jangan menatapku seperti … seakan kau hendak menerkam, jauhkan Rumi. Jauhkan pikiranmu yang menggebu-gebu ingin menelanjangiku itu.”
Telak, Rumi kalah telak.