
Sebutir peluru berhasil dikeluarkan dari tubuh Arshaka Dean, berwarna emas dengan darah menyelimutinya. Operasi berjalan dengan baik dan tidak mendapat kendala apa pun, setelah semua dirapikan kembali, peluru itu diserahkan pada Albert. Albert harus meneliti terlebih dahulu datangnya peluru itu, ia harus mencari tau siapa yang sudah Levon sewa untuk menembak Arshaka Dean.
Ruangan operasi kini kosong, tubuh Arshaka Dean dipindahkan ke ruang ICU, untuk melihat perkembangan, jika tidak ada efek samping yang berat, tubuh Arshaka Dean baru akan dipindahkan ke ruang rawat VVIP.
Kita tidak tau sekarang yang sedang tertidur Arshaka Dean ataukah Edmund, meskipun terakhir kali, Edmund yang mengambil alih tubuh Arshaka Dean, tetap saja kita tidak bisa memastikan itu.
“Jika ini terlalu berat untukmu, kita bisa melakukannya sama-sama, Albert,” ujar Chadla, ketika Albert terlihat menatap sendu ke ruangan ICU.
“Aku tidak tau, Chadla,” kata Albert.
“Aku bisa saja katakan yang sebenarnya sekarang juga, tapi aku tidak bisa melakukan itu, aku harus pastikan kau siap, ini semua bukan saja tentang Ars, ini tentang kita semua, Albert. Agatha dan Rumi akan segera menyusul ke sini, jika kau tidak bisa mengontrol emosimu, ada mereka yang siap memberi pengertian pada Edmund, jika perlu, aku bisa juga menghubungi Robert,” jelas Chadla.
“Terima kasih,” jawab Albert.
Suara Albert lemah, juga bergetar, keputusan yang akan diambil, sangatlah beresiko tinggi. Rencana untuk memberitahu Edmund tentang kebenarannya, membuat Albert harus menanggung rasa bersalah yang teramat sakit, mau bagaimana lagi, ini sudah pilihan paling tepat.
“Omong-omong, di mana Watson, Albert? Aku tidak melihatnya dari tadi, apa dia baik-baik saja?” tanya Chadla.
“Dia bilang harus menyelesaikan urusan lain, tapi jangan khawatir, Watson pergi setelah mendapat perawatan, mungkin dia ke perusahaan,” jawab Albert.
“Aku mengerti.”
Setelah menunggu beberapa waktu, Edmund akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Arshaka Dean sepertinya akan lama menyelami dunia mimpi, Edmund masih menguasai tubuh Arshaka Dean. Edmund terbaring sendirian di ruang berfasilitas mewah itu, masih tertutup matanya. Albert tidak meninggalkan Edmund, ia hanya pergi ke ruang dokter untuk mendapat penjelasan tentang kondisi luka tembaknya, ditemani oleh Chadla.
Agatha dan Rumi akhirnya tiba di rumah sakit, mereka berlarian agar segera sampai di ruangan Edmund. Agatha dan Rumi sudah diberitahu jika kemungkinan yang akan terbangun nanti adalah Edmund, Albert juga menjelaskan rencananya pada mereka.
Rumi menyambut itu sedikit cemas, bukan karena tidak suka dengan rencana Albert, tapi ia takut Arshaka Dean tidak pernah kembali lagi. Rumi takut jika Edmund tidak menerima kenyataannya, dan berimbas menahan Arshaka Dean di dalam dirinya.
Kekhawatiran Rumi adalah hal yang wajar, karena kita tidak pernah tau isi pikiran Edmund selama ini, tapi demi kebaikan semuanya, Rumi akan membantu pemulihan Arshaka Dean.
Agatha dan Rumi tidak langsung ke ruangan Edmund, mereka berkumpul terlebih dahulu dengan Albert dan Chadla. Rencana ini, jika ingin berhasil, maka harus dilakukan secara matang dan teratur, dengan begitu, mereka bisa mengantisipasi resiko yang akan ditimbulkan.
Edmund yang terbaring di ranjang rumah sakit, mulai membuka matanya, perlahan ia melihat seluruh isi ruangan itu. Edmund tidak banyak bergerak, perut bagian bawahnya, terasa sangat tidak nyaman. Edmund melihat langit-langit, putih, semua yang Edmund lihat berwarna putih.
Edmund tetap diam, ia menerawang sebentar tentang kejadian di dalam mobil, ia sedikit terluka mendapati semua orang terkejut melihat dirinya. Edmund merasa dirinya seperti tidak diharapkan untuk datang, kemudian ia berpikir, kenapa dirinya bisa ada di dalam mobil itu dalam keadaan terluka? Kenapa dia bisa bersama Albert dan anak buah Arshaka Dean?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh otak cerdasnya itu, saat ini datang silih berganti. Edmund memejamkan mata, air matanya menitik, bingung dengan semua ini, ia berharap ada orang lain yang menjelaskannya, Edmund kembali merenung.
Setelah lama merenung sendiri dan berakhir dengan rasa frustrasi, Albert dan yang lainnya masuk ke ruangan. Satu per satu saling memandang, melihat kondisi tubuh Edmund, yang jauh dari kata baik, meskipun lebam tidak lagi terlihat di wajahnya.
“Edmund?” sapa Albert.
Edmund menoleh. “Paman …,” jawabnya lirih. “Paman, sudah berapa lama aku ada di sini? Paman, situasi ini sangat membingungkan, aku tidak suka seperti ini,” lanjutnya.
“Maafkan aku, Edmund.”
Agatha dan Rumi menghampiri Edmund. Rumi meraih tangan Edmund dan memegangnya, ia tidak peduli jika saat ini bukan Arshaka Dean yang ada di hadapannya, ia hanya ingin menggenggam tangannya saja, untuk menyalurkan rasa khawatirnya.
“Kau harus tau, Rumi, aku bukan Kakak,” ujar Edmund, hati Rumi tertampar begitu keras, ia juga tau fakta itu, tapi maafkan, Rumi tidak bisa menahan setiap kerinduannya pada Arshaka Dean. Rumi tidak menggubris, ia tetap memegang tangan Edmund dengan erat.
“Paman, kau pasti tau sesuatu, bukan?” tanya Edmund.
“Kau harus dirawat dalam beberapa hari ke depan, Edmund, maafkan aku,” kata Albert.
“Sesungguhnya aku tidak peduli dengan luka ini, Paman, tapi pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang, tidak bisa aku cegah, aku ingin tau semuanya, Paman,” kata Edmund.
“Edmund, percayalah kami akan selalu bersamamu,” ujar Agatha.
“Aku tau, dan percaya semua itu, tapi tidak bisakah aku mengetahui semuanya?” desak Edmund.
“Edmund, kau baru saja tersadar, aku pasti akan menjelaskan semunya,” ucap Chadla.
Edmund bangun, ia mencoba untuk duduk, tapi rasa sakit di perutnya, menghambatnya untuk segera bangun. Rumi berinisiatif menaikkan ranjangnya, sehingga Edmund bisa sedikit tegap tanpa harus bangun.
Edmund lalu melihat ke arah Albert, ia menunjukkan kesiapannya untuk mendengar semuanya. Rasa bimbang dan bingungnya tidak bisa membuat ia tenang, setidaknya meskipun ia tidak tau kenapa dirinya tertembak, ia ingin tau apa yang terjadi.
“Aku siap dengan semua penjelasan kalian, aku tidak keberatan,” kata Edmund.
Edmund sudah siap, tapi Albert masih dirundung bimbang, dengan mengatakan semuanya, itu artinya, Albert akan melanggar janjinya sendiri. Albert menatap Edmund, melihatnya mulai dari wajah, hingga ke seluruh tubuhnya.
Itu tubuh Arshaka Dean, sudah semestinya ditempati oleh jiwa Arshaka Dean, dengan tekad itu, meskipun penuh ragu, Albert siap menjelaskan semuanya pada Edmund. Sebentar lagi kepribadian lain dari Ashaka Dean, akan mengetahui rahasia paling kelam dalam hidupnya, ini akan menjadi hari paling sakit dibandingkan hari-hari lainnya.
“Kau benar-benar ingin mengetahuinya, Edmund? Bagaimana jika ini tidak sesuai dengan yang kau inginkan?” tanya Chadla.
“Apa pun itu, Chadla, aku sudah bilang, aku siap, Apa pun itu,” tegas Edmund.
“Aku harap kau tidak menyesal setelah mengetahui ini,” kata Chadla.
“Walaupun itu akan membuatku terbunuh sekalipun, aku akan tetap memaksamu, aku tidak ingin mati dalam keadaan penasaran,” tekadnya.
“Edmund, sebelum aku mengatakan sesuatu, aku ingin kau melihat ini terlebih dahulu.” Chadla menyiapkan meja untuk laptop yang ia bawa, sebelum semua terang menjadi sendu, Chadla akan memberikan sebuah video terlebih dahulu.
Edmund duduk menyandar, Chadla memutar sebuah video untuknya. Video itu dimulai dengan ruangan gelap, lalu tiba-tiba berubah suasana menjadi sangat ceria, dilihatnya Arshaka Dean tengah memandang sebuah foto di sana. Penampilan Arshaka Dean persis sama dengan Edmund, dia seolah-olah sedang menyaksikan dirinya sendiri, dan itu memang benar.
Dalam video itu, Arshaka Dean membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Edmund. Arshaka Dean menyapa, Edmund melihatnya antusias sekali, baru kali ini dirinya bisa melihat Arshaka Dean berhadapan dengannya, meskipun hanya melalui pesan video.
“Hai, kepada diriku yang lain yang mungkin sedang melihat video ini,” sapa Arshaka Dean dalam video.
Edmund tersentak. “Apa?” lirihnya, ia seketika menghentikan videonya, menatap Albert, meminta penjelasan.
“Lihatlah, Edmund, kau akan tau semuanya,” kata Albert.
Video kembali lagi diputar, Arshaka Dean terlihat tersenyum dari video itu, wajah Arshaka Dean disorot lebih dekat. “Kau pasti terkejut, bukan? Aku, Arshaka Dean, tanpa sadar, atau mungkin aku sebenarnya tersadar, tapi aku menyangkal semua itu. Ah, lupakan saja, kepada diriku yang ada di depanku, yang menamai diri dengan Edmund.” Hati Edmund berdebar.
“Pertama-tama, aku minta maaf, karena kau tidak bisa menemuiku.” Arshaka Dean tersenyum lagi. “Bagaimana mungkin, kita bisa bertemu, jika kita hidup di tubuh yang—“
“Apa ini?!” Edmund terlihat marah, juga bingung.
“Apa semua ini?!” sentak Edmund.