
Malam telah datang, Edmund sedari sore telah kembali ke dalam mansion dengan hasil penelitiannya yang rinci. Setelah makan malam, dengan semangat Edmund bergegas ke dalam kamarnya. Di meja kerja yang biasa Arshaka Dean pakai, Edmund bergelut dengan laptopnya, menyalin catatan penting tentang ulat bulu yang tadi ia teliti bersama Robert. Edmund terlalu fokus sehingga ia tidak menyadari kedatangan Albert ke kamarnya.
Albert mendekati Edmund. “Edmund?” panggilnya.
Edmund terperanjat, lalu ia menoleh. “Ah, Paman,” sapanya setelah melihat Albert.
“Ada yang bisa aku bantu, Paman?” tanya Edmund.
“Tidak ada, Edmund. Kau belum mengantuk, Edmund? Ini sudah terlalu larut, kau sudah bekerja keras hari ini, kau butuh istirahat yang cukup, Edmund,” kata Albert.
“Aku masih memindahkan hasil penelitianku, aku akan cepat mengerjakannya, Paman tidak perlu khawatir,” ujar Edmund.
“Jangan terlalu berlebihan, Edmund. Kau masih bisa mengerjakannya besok, kesehatanmu lebih penting,” nasihat Albert.
“Aku tau, Paman. Aku akan segera menyelesaikannya, terima kasih sudah peduli padaku, Paman,” kata Edmund.
“Apa yang kau katakan? Sudah pasti aku akan peduli kepadamu,” kata Albert.
“Aku harus kembali ke bawah, Edmund, jika ada apa-apa kau bisa langsung memanggilku, aku akan segera menemuimu, secepat yang aku bisa,” tambah Albert.
“Baiklah, Paman. Silakan lanjutkan,” jawab Edmund.
“Ingat, Edmund, setelah selesai kau harus segera istirahat, aku akan ke sini lagi, jika kau masih dalam keadaan terjaga, aku tidak akan segan mematikan semua aliran listrik di mansion ini,” kata Albert sedikit mengancam.
Edmund tersenyum. “Tidak perlu seperti itu, Paman. Aku pastikan ketika Paman kembali lagi, aku sudah tertidur degan pulas, mungkin dalam waktu yang lama, aku tidak tau,” kata Edmund, ucapan Edmund ditangkap sebagai isyarat oleh Albert, dan itu membuat dirinya tidak sabar menantikan hari esok.
“Baiklah jika begitu, aku pegang kata-katamu, aku pamit ke bawah dulu, Edmund. selamat malam,” pamit Albert.
“Silakan, selamat malam, Paman. Kau juga pastikan istirahat dengan baik, Paman,” kata Edmund.
“Pasti itu, Edmund,” pungkas Albert, ia lalu tersenyum dan meninggalkan Edmund yang kembali dengan catatan-catatan rumitnya.
Edmund sebenarnya sudah menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ia tidak bisa langsung tertidur begitu saja. Edmund kembali memikirkan kakaknya, Arshaka Dean, ia ingin sekali bertegur sapa seperti layaknya seorang kakak beradik, tetapi mau bagaimana lagi, mereka sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bertemu.
Karena tidak bisa memaksa dengan apa yang terjadi, Edmund yang putus asa karena tidak tau tentang kebenarannya, akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah surat untuk Arshaka Dean. Edmund berpikir dengan begitu dirinya punya harapan lebih besar bahwa ia bisa bertemu dengan Arshaka Dean, entahlah mungkin suatu saat mereka akan dipertemukan dengan jalan yang tidak terduga, kita tidak pernah ada yang tau jalan takdir akan berpihak pada siapa.
Edmund mulai menuliskan surat di selembar kertas yang ia siapkan sebelumnya, kalimat demi kalimat ia tuliskan dengan hati-hati, di dalamnya terkandung ketulusan yang diharapkan akan menggugah hati Arshaka Dean. Edmund telah selesai dengan suratnya, ia melihat-lihat sekitar, mencari tempat untuk menyimpan surat tersebut, dan memastikan akan terlihat oleh Arshaka Dean.
Edmund kini berbaring di tempat tidurnya, sedikit membayangkan kembali tentang kegiatannya dua hari ini, dimulai dari bangun tidur dengan pakaian Arshaka Dean, membuat penangkaran kupu-kupu, hingga meneliti perkembangan mereka. Hati Edmund menghangat, harinya dipenuhi dengan kegiatan yang menyenangkan bersama orang-orang yang peduli dengannya. Hari sudah semakin larut, mata Edmund tertutup, napasnya halus dan damai, Edmund pun tertidur. Esok hari mungkin harapan semua orang akan terkabul, harapan yang dua hari ini selalu mereka doakan setiap detiknya, esok hari akankah waktunya tiba? Entahlah.
\*\*\*
Chadla berada di kamar Arshaka Dean sejak pagi tiba, ini sudah hari ketiga, biasanya Arshaka Dean akan menempati raganya kembali. Chadla tak sendirian, dia ditemani oleh Albert yang semalam secara rutin memeriksa keadaan Edmund yang tertidur. Albert tidak keberatan jika Arshaka Dean marah kepadanya karena ulah Edmund, asalkan Arshaka Dean kembali dan tidak memanggil Edmund lagi untuk menggantikan perannya.
“Aku senang melihat Ars tidur nyenyak seperti itu, Chadla, tetapi aku lebih takut jika yang bangun itu masih Edmund. Ini sudah hari ketiga, aku takut sekali ia tidak kembali, saat seperti ini adalah, saat di mana aku dalam situasi yang paling cemas, aku khawatir dan takut sekali,” ucap Albert kepada Chadla yang sedang menunggu Arshaka Dean terbangun, Chadla duduk di antara meja kerja Arshaka Dean yang menghadap ke arah tempat tidur Arshaka Dean.
Ketika mereka asyik bercengkerama, Arshaka Dean membuka matanya secara perlahan, ia fokuskan penglihatannya pada satu arah cahaya. Ia sudah lama tidak berada di dunianya, ia butuh untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, ia sekali lagi melihat-lihat di sekitar kamarnya. Arshaka Dean hendak beranjak dari tempat tidurnya, ia merasakan kelelahan yang tidak biasa, saat itu ia melihat Albert dan Chadla.
“Albert…?” panggil Arshaka Dean dengan suara serak khas bangun tidur.
Albert menoleh ke arah Arshaka Dean, hatinya lega bukan main, Chadla langsung beranjak dari tidurnya, mereka segera menghampiri Arshaka Dean yang baru kembali.
“Ars!” seru Albert.
“Albert, bantu aku bangun,” pinta Arshaka Dean.
Ia bergegas dan langsung membantu Arshaka Dean, Albert membantu Arshaka Dean untuk duduk di tempat tidurnya. Albert senang sekali mendengar Arshaka Dean memanggil namanya lagi, tuannya telah kembali.
“Kau bisa diam di sana dulu, Ars, aku harus memeriksamu,” ucap Chadla.
Arshaka Dean tertawa getir. “Kau masih mau mengurusku, Chadla, setelah terakhir kali kita bertemu,” ujar Arshaka Dean, terakhir kali mereka bertemu, Arshaka Dean sedang tidak bisa mengendalikan dirinya, ia memaki-maki Chadla karena terus menerus memeriksa keadaannya hampir setiap satu jam sekali, membuat Arshaka Dean berang, rupanya Arshaka Dean mengingat kali terakhir mereka bertemu.
“Kau masih mengingatnya, Ars? Jika kau bertanya seperti itu, dengan senang hati aku akan selalu memastikan kau baik-baik saja, aku tidak keberatan jika kau berontak nantinya, aku akan tetap pada janjiku, aku berusaha menyembuhkanmu, aku pasti akan melakukan apa pun, meskipun kau menolak,” jelas Chadla.
“Ternyata kau masih keras kepala dan banyak bicara, lakukanlah sesukamu, Chadla, aku tidak peduli,” katanya acuh.
“Albert, berapa lama aku mati?” tanyanya.
“Kau tidak mati, Ars, kau hanya tertidur,” jawab Albert sembari menatap mata Arshaka Dean. “Kau tertidur selama tiga hari Ars, terima kasih sudah kembali,” lanjut Albert.
“Lama juga anak itu bertahan. Kuharap anak itu tidak membuat masalah yang besar, aku sudah lelah berurusan dengannya. Oh iya, Chadla, karena aku tidak mau melakukan ini dan itu, kenapa kau tidak matikan saja anak itu, kau pasti bisa, bukan?” ucap Arshaka Dean.
“Tidak harus seperti itu, Ars. Aku pasti menemukan metode pengobatan yang sesuai untukmu, bersabarlah,” jawab Chadla.
“Kesabaranku sudah mati dari lama, Chadla,” ujarnya.
“Albert, apa Watson ada mencariku?” tanya Arshaka Dean.
“Ada, Ars, dia kemarin hendak menemuimu, tetapi ia hanya bertemu dengan Edmund,” jawab Albert.
“Aku tidak ingin mendengar anak itu disebut, Albert! Sudah kuberitahu, kenapa masih saja kau ulangi, Albert!” bentak Arshaka Dean, Albert tidak lagi terkejut dengan sikap Arshaka Dean, ia justru bersyukur, dengan begini itu artinya tuannya telah kembali sepenuhnya.
“Maafkan aku, Ars,” sesal Albert.
“Sudahlah, siapkan semua keperluanku, aku harus pergi ke perusahaan hari ini,” titah Arshaka Dean.
“Tapi, kau baru kembali, Ars,” ucap Arshaka Dean.
“Jangan membantahku! Kau tidak perlu repot-repot pedulikan aku, siapkan segera, Albert!”